ALHAMDULILLAH

LPDP

Have nothing to say, ALHAMDULILLAAAAAAH

Advertisements
Posted in Beasiswa | Tagged , , , , , | 6 Comments

Tentang LPDP 2016 – Essay LGD dan Wawancara

1455711527935

Sunset Bintaro – Captured by Geraldine Fakhmi Akbar

Akhirnya jadwal final untuk seleksi substansi keluar H-2. Saya mendapatkan jadwal essay (13.50 – 14.20 WIB), LGD (14.40 – 15.30 WIB) dan verifikasi (14.00 – 15.00 WIB) pada 17 Februari 2016 dan wawancara pada 18 Februari 2016 (08.00 – 08.45 WIB).

Pelaksanaan seleksi ini sangat rapi, terjadwal dan sangat sistematis. Absensi hanya butuh waktu sekitar 5 detik dengan scan barcode, kemudian verifikasi berlangsung sangat nyaman, tidak berdiri dan berebutan. Sangat mencerminkan bahwa proses yang berlangsung dipersiapkan dan dilakukan oleh orang-orang cerdas dan berpendidikan.

1455882343814

Petugas Verifikasi: Jiwo Damar Anarkie (FISIP UI 2009)

Tahun ini on the spot essay menggunakan bahasa inggris, persis seperti IELTS Writing task 2. Kita diberikan 2 pilihan topik essay, dan mendapatkan waktu 30 menit untuk menyelesaikan tulisan (setuju, tidak setuju, atau 2 sisi) dalam selembar kertas bergaris. Dalam lembar tersebut ada 3 poin yang dinilai; konten tulisan, koherensi dan grammar. Saya mendapatkan 2 tema yang asik:

  1. considering the high potential rainfall in Indonesia, people who live in mountainous areas should prepare to face the flash floods and landslides (saya memilih topik ini)
  2. Tax amnesty (saya lupa kalimat lengkapnya, karena saya sama sekali tidak paham topik ini)

Awalnya saya berfikir akan muncul topik terkini, seperti; LGBT, TPP, turunnya harga minyak, teroris atau kereta cepat Jakarta – Bandung. Hal ini cerdas, karena mayoritas peserta pasti mempersiapkan dan memprediksi hal yang sama, kenyataanya topik yang keluar adalah isu-isu umum dan tidak kekinian. Saya tidak punya tips unik untuk seleksi bagian ini, tapi 1 hal yang perlu diketahui, ruangan untuk mengerjalan essay sangat panas sekali, jadi disarankan untuk menggunakan pakaian yang mudah menyerap keringat dan jangan pakai baju hitam.

20160219_185244

Belajar Essay (16 Februari 2016, jam kerja)

20160219_185234

Belajar Essay Ketika Jam Kantor – Hidup itu Pilhan, kan?

Leaderless Group Discussion, juga dilaksanakan dengan bahasa inggris. Tahapan seleksi ini sangat seru, merupakan bagian yang paling saya sukai. Karena saya berkumpul dengan 8 orang yang punya ide-ide kritis dan terbuka, dengan kemapuan berbahasa inggris formal yang, menurut saya keren. Sebelum LGD berlangsung, kami menyempatkan diri untuk saling mengenal dan mendiskusikan sedikit skenario yang bisa dijalankan saat LGD berlangsung. Menurut saya hal ini penting, untuk membangun diskusi yang konstruktif dan tidak ada dominasi, selain itu untuk menghemat waktu.

1455882329105

LGD – Kelompok 7 C (Wenty, Vivi, Monika, Bayu, Stephanie Angka, Stephanie, Ary, Panji, Wina)

Pada kesempatan tersebut kami mendapatkan topik PHK buruh Ford Mobil Indonesia, kami dikondisikan dalam sebuah diskusi untuk mencari konsep, solusi dan implemantasi yang ideal dari sisi; pemerintah, swasta, pengusaha, pebisnis. LGD berlangsung 40 menit lengkap dengan solusi. Berikut adalah kronologisnya:

  1. Dengan ‘sukarela’ stephanie angka menjadi note taker dan Bayu menjadi time keeper
  2. Disetujui 5 menit pertama untuk membaca artikel dan mempersiapkan poin diskusi
  3. Setiap orang berbicara 2 menit pada giliran pertama (searah jarum jam) dan 1 menit untuk menambahkan poin setelah giliran berbicara pertama selesai
  4. Jangan memotong pembicara lain dan sampaikan disagree dengan sopan seperti; I have another statement
  5. Sisakan 5 menit diakhir diskusi untuk note taker menyampaikan solusi dan kesimpulan
1455803464910

Verifikasi Data

Wawancara pagi itu asik, kita tidak menghabiskan waktu lama untuk menunggu, jadi masih segar. Saya menghabiskan waktu 60 menit dalam sesi wawancara, menurut saya itu lama, karena beberapa teman saya hanya menghabiskan waktu sekitar 25 – 30 menit. Ada 2 pewawancara; seorang perwakilan dari LPDP sebagai ketua, diapit oleh 1 professor ahli dan 1 psikolog. Pertanyaannya apa saja? Saya rasa sudah banyak penulis dunia maya yang menceritakan hal ini, dan pertanyaan yang saya dapatkan serupa. Namun, ada 1 pertanyaan unik yang disampaikan sebagai penutup, berikut adalah cuplikannya:

Do you believe that, earth is, hmm still feasible for human being? Or we need to, move to, hmm Mars maybe, or another planet? Please tell me your opinion,- Professor Ahli.

1455882318886

Detik – detik menuju masa depan 🙂

Wawancara ini menjadi sangat berkesan karena pertanyaan tersebut, dan saya puas dengan jawaban yang bisa saya berikan. Saya sangat bersyukur karena mendapatkan kesempatan untuk mengisi masa muda dengan pengamalan yang seru seperti ini. Kelak kisah akan menjadi cerita yang pasti akan saya sampaikan ke anak cucu, bahwa nenek pernah ikut beasiswa yang canggih pada zamannya, hahaha. Hasilnya akan diumumkan pada tanggal 10 Maret 2016, apapun hasilnya saya yakin, adalah yang terbaik yang Allah persiapkan, InsyaAllah memuaskan dan bahagia, aamiin.

1455806973797

Ekspresi setelah menjawab “I believe” pada pertanyaan “Earth vs Mars”

 

Posted in Beasiswa | 29 Comments

Tentang LPDP 2016 – Periode 1

Akhirnya setelah lebih dari 1 tahun memantaskan diri, saya submit aplikasi LPDP tahun ini. Menurut saya prosesnya sangat rapi, pengumuman lulus seleksi administrasi dan jadwal seleksi substansi disampaikan via email dan SMS, selain itu kita bisa juga cek di status pendaftaran pada laman pendaftaran online LPDP.

LPDP email

LPDP email 1

Untuk jadwal detail seleksi akan disampaikan paling lambat H-1 hari seleksi. Tahun ini lebih menantang, terutama untuk yang mengajukan beasiswa luar negeri. Sesi LGD dan esaay wajib menggunakan bahasa inggris. Menurut saya ini tantangan yang sangat menggairahkan, semakin sulit syarat yang diberikan semakin bernilai beasiswa yang diberikan.

LPDP 2

Jika saya berhasil mendapatkan beasiswa ini, kesempatan ini merupakan prestasi terbesar sepanjang hidup. Saya sendiri masih dalam tahap persiapan seleksi substansi yang akan dilaksanakan di STAN pada tanggal 17, 18 dan 19 Februari 2016. Saya berjanji, jika saya lolos seleksi substansi (Awardee) saya akan membantu sebanyak mungkin orang untuk berhasil mendapatkan beasiswa ini juga, minimal 2 orang, semangat. Bismillah.

Posted in Beasiswa | 3 Comments

Kita di Jogjakarta

1451725301865

Borobudur dari Pethuk Setumbu

Akan tiba suatu masa ketika teman-teman yang biasa diajak ‘ngebolang’ berkurang; mungkin ada yang sibuk mempersiapkan lamaran atau resepsi pernikahan, ada juga yang menjaga istri menanti lahiran anak pertama, atau mungkin menghabiskan liburan dengan keluarga barunya. Dan ketika masa itu tiba, don’t be panic! Just don’t. Selalu ada cara untuk menghabiskan masa muda dengan – asik dan cihuy.

1451725283164

Keraton Ratu Boko

23 Desember 2015. Keputusan untuk liburan singkat ke Jogjakarta yang tiba-tiba dan tergesa ini, diawali dengan menikmati padatnya tol cikampek, dan menghabiskan 5 jam 30 menit perjalanan dari Jakarta menuju Bandung. Eits ini belum seberapa, perjalanan panjang sesungguhnya baru dimulai, tepat jam 8 malam kami bertiga berangkat menuju kota pelajar melalui jalur selatan.

24 Desember 2015. Geraldine Fakhmi Akbar yang biasa disapa Kumiw (never judge a man by his name, namanya aneh tapi orangnya kasep kok! haha) dan Nadya Nuur Fitrya (Ciko adalah burung beo yang biasa menyapanya, Ade) adalah kakak – adik yang menemani saya berasik-asik cihuy di Jogjakarta. Kami menikmati kebersamaan dalam 82.800 detik perjalanan darat Bandung – Jogjakarta.

Dimulai dengan padatnya Tol Cileunyi, merayap menuju Tasikmalaya, melompat-lompat di Cilacap karena jalan berlubang tanpa akhir, mengejek signage RM Pringsewu yang banyak banget, menyantap bebek 2 porsi, hingga bersabar dengan banyaknya lampu lalu lintas di Jogjakarta Ring Road. Alhamdulillah dapat kami lewati dengan ceria dan aman. Setibanya di Sleman kami hanya istirahat, karena akan melanjutkan perjalanan dini hari menuju Magelang.

1451720589613

Gapura Utama

25 Desember 2015. Berdasarkan informasi senior-guide, kami seharusnya sudah di Pethuk Setumbu 4.30 pagi, jika ingin melihat matahari terbit. Namun, kabut menyelimuti Magelang, akhirnya kami memutuskan untuk shalat subuh di musholla dekat Borobudur. Kemudian melanjutkan jalur menuju Pethuk Setumbu yang kecil dengan lahan parkir yang tidak luas.

IMG_1489

Borobudur dari Pethuk Setumbu

Untuk menuju lokasi pandang kita harus melewati jajaran tangga, beberapa titik cukup terjal, sangat direkomendasikan menggunakan sandal atau sepatu beradial sehingga tidak licin. Sangat disayangkan, pagi ini kami belum diberi kesempatan untuk melihat pesona mentari pagi, cukup dengan Borobudur berkabut. Tapi saya yakin, kumiw cukup puas melihat pesona lain dibalik rok hitam panjang, tak berpuring, super tipis dan menerawang yang dikenakan bule perancis pagi itu, ya kan? man is a man, its normal. haha

Candi Borobudur saat itu ramai sekali, sehingga kami memutuskan untuk melewatkan candi dan bergegas menuju Pasar Beringharjo dan Taman Sari. Matahari siang itu panas membara, seolah cahayanya tidak terfilterisasi dengan sempurna. Saya berkhayal menyeruput cendol manis bergula merah, ketika sadar itu hanya khayalan, kepala saya langsung berdenyut. Saya tidak yakin akan menyelesaikan objek wisata ini seluruhnya, saya hanya penasaran dengan kolam mandi utama untuk selir-selir raja.

1451720857639

Taman Sari

Sebuah kolam yang merepresentasikan sejarah patriarki-feodal yang kental di keraton. Saya bahkan membayangkan apa yang akan terjadi jika pada saat itu feminisme sudah berkembang. Mungkin, untuk menjaga kesetaraan akan dibangun kolam mandi raja, dimana seorang permaisuri menyaksikan sejumlah raja-raja mandi, sebelum akhirnya memilih salah satu untuk disetubuhi.

Objek wisata ini menarik, gang kecil yang harus dilewati untuk menuju kolam utama mirip dengan labirin. Mungkin sebagai simbol kebersamaan antara bangsawan dan rakyatnya. Wisatawan ‘dipaksa’ untuk menyatu dengan budaya lokal, melewati rumah warga yang berantakkan, meskipun cukup bersih untuk dicap sebagai slum area. Seharusnya ada pertukaran informasi, budaya dan tradisi dalam labirin ini, salah satunya dengan interaksi. Sayangnya, labirin ini hanya berfungsi sebagai jalur lalu lintas minim manfaat.

Kami sempat beristirahat di Café Taman Sari sebelum melanjutkan perjalanan mengejar matarari terbenam di Keraton Ratu Boko. Satu pasang kekasih yang berencana menghabiskan liburan di Malang bergabung dengan kami. Singkat cerita Anissa (Ica) dan Andra (entah siapa nama asli Andra, saya lupa, apalah arti sebuah nama, ya kan? Hmm) adalah teman kampus Kumiw. Kami berlima, kelaparan, akhirnya terdampar di Gudeg Yu Djum yang populer, sayangnya makanan khas jawa yang manis ini bukan selera kami, alhasil makan asal kenyang.

1451720600347

Keraton Ratu Boko

Pintu Nirwana adalah sebutan lain untuk Gapura Utama di kawasan ini, konon matahari terbenam yang terlihat ditengah pintu gapura adalah pintu masuk menuju nirwana. Sayangnya, kabut sore menyertai kedatangan kami, cahaya jingga matahari senja luput dari harapan. Suatu hari saya akan kembali, menghabiskan waktu lebih lama untuk menelusuri satu per satu bebatuan yang tersusun indah. Mencari informasi sejarah dan mitos selengkap-lengkapnya karena masing-masing titik menawarkan sensasi sejarah yang penting pada masanya. Kawasan candi ini juga tidak begitu ramai, bersih dan hijau.

1451720871243

Taman Kawasan Ratu Boko

Malam harinya kami mengantarkan Ica dan Andra ke Stasuin Tugu menuju Malang. Setelah itu, Saya dan Kumiw menuju Malioboro untuk bertemu rombongan dari Bandung. Tidak jauh berbeda dengan objek wisata lain, Malioboro penuh dengan wisatawan domestik. Akhirnya, kami hanya berbincang sedikit dipinggir jalan dibawah lampu. Kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat untuk perjalanan esok hari, pulang menuju Bandung.

1451720595656

Sayonara Jogjes

26 Desember 2015. Sayonara Jogjes! Perjalanan panjang dalam liburan singkat ini sangat asik dan seru, cukup bermanfaat untuk saling mengenal. Namun, saya (masih) tetap percaya pendakian ke gunung tinggi adalah cara yang tepat untuk melihat karakter dan sifat asli seseorang. Tujuannya bukan untuk menilai dan membatasi diri, hal ini penting untuk mengenal dan menyadari sejak dini, peran dan respon apa yang harus dijalankan untuk menghadapi perbedaan, berdamai dengan ketidaksesuaian, dan tetap bertahan. Finally, everybody is unique, so are we! Selamat tahun baru 2016.

1451714084940

Pose of the year: Meliuk

Posted in Jalan-Jalan | 5 Comments

Rumah Masa Depan

Ditengah jam kerja yang menjenuhkan, saya tiba-tiba berfikir instant; “jadi ibu rumah tangga asik juga, mungkin ya.” — “wah boleh juga, apalagi kalau rumahnya asik, gue rela deh, jaga rumah, ngurus anak, baca buku, dll yang asik.” — “ah, harus tetap produktif, diam di rumah, tapi juga menghasilkan sesuatu.” — monolog ini berakhir dengan, rencana untuk menuliskan rumah seperti apa yang saya idam-idamkan. Berikut adalah rinciannya.

Desain-Rumah-Kayu-Minimalis-600x399

Rumah Idaman

Konsepnya rumah kayu minimalis, dinding tetap dari bata dan semen, namun dilapisi kayu atau dicat sedemikian rupa sehingga mirip kayu. Karena biaya untuk membuat rumah kayu sangat mahal!

Untuk mempermudah visualisasi, mari kita mulai dari pintu pagar depan rumah. Seperti yang terlihat digambar, rumah ini cukup berpagar tanaman. Memaskui halaman rumah kita disambut dengan rumput tak beraturan, cukup untuk lokasi barbecue party, dan jarak antar pohon cukup untuk menggantung hammock.

hammock

Untuk Bersantai

Menuju pintu masuk rumah, ada tangga yang juga tersusun dari bebatuan, tidak seperti gambar, nantinya saya akan meletakkan banyak pot tanaman dipinggiran tangga atau dikombinasikan merata dengan rerumputan, tanaman hijau tentunya.

Tepat disebelah kanan, akan ada meja dan tempat duduk nyaman untuk membaca. Sebelah kiri adalah 2 kursi dan 1 meja diantaranya. Kursi ini nantinya akan menjadi lokasi bersenda gurau bersama pasangan hidup, berbincang apapun, atau sekedar duduk santai menanti buah hati pulang ke rumah.

kursi

Senda Gurau

Masuk ke dalam rumah, akan ada ruang tamu minimalis, terdiri dari sofa-sofa berwarna kayu, karpet macan tutul dan sejumlah foto keluarga. Masih di lantai satu, terdapat ruang baca sekaligus ruang santai keluarga. Oh ia, ada ruang makan juga dan dapur bersih. Ada gemericik air mengalir di dinding, dengan kolam kecil berisi ikan-ikan air tawar. Saya selalu membayangkan sebuah rumah yang berpusat pada satu poros, yaitu taman dalam rumah lengkap dengan kolam ikannya.

kolam mungil 6

Kolam Ikan Minimalis

Seperti terlihat digambar, lokasi ini bisa menjadi tempat bersenda gurau, makan lesehan, membaca buku, atau sekedar tempat bediam diri, dekat lokasi ini juga akan ada musholla kecilnya. Alangkah asiknya, membaca Ayat Suci dalam suasana rumah yang seperti ini, kan?

Kamar anak ada dilantai pertama ini, 2 kamar anak dengan 1 kamar mandi, dan jika cukup 1 kamar tamu yang lengkap dengan kamar mandi di dalam. Karena diawal cerita saya berniat menjadi ibu rumah tangga, jadi tidak perlu kamar pembantu, ya. Oh ia, pencahayaan dalam rumah serba warm white, sehingga terasa lebih nyaman. Aplikasinya dapat dilihat digambar.

Area-bawah-tangga-dimanfaatkan-sebagai-taman-minimalis

Pencahayaan dan Design Tangga

Dari semua ruangan, lantai 2 adalah lantai utama. Akan ada 1 kamar tidur utama lengkap dengan kamar mandi, ruang kumpul keluarga inti yang juga merupakan perpustakaan pribadi. Di lantai 2 ini, merupakan lantai khusus keluarga inti, yang bisa naik ke lantai 2 tidak sembarangan orang, karena aktivitas diluar keluarga inti dikerjakan di lantai 1.

Contemporary-Old-Custom-Home-Library-Design(1)

Perpustakaan Pribadi

Sejak kecil saya selalu memimpikan sebuah ruangan pribadi yang nyaman dengan buku bertebaran rapi di setiap dindingnya. Di ruangan itu juga, saya bisa membaca bebas, dimanapun. Dalam ruangan itu juga, saya bisa menghabiskan banyak waktu tanpa diganggu, membaca semau-mau, atau tertidur karena bahan bacaan mulai membosankan.

Demikianlah, rumah idaman versi seorang karyawan swasta yang sedang terjebak bosan tanpa kerjaan. Semoga kelak bisa menjadi kenyataan, aamiin.

Posted in Sosial | 8 Comments

Menuju 1/4 Abad

Usia 24 tidak lagi masuk kategori dewasa awal, ini adalah usia matang dalam banyak hal, setidaknya demikian konstruksi sosial yang berkembang di tanah air. Ada banyak hal yang sudah direncanakan jauh sebelum usia ini akhirnya resmi dirayakan. Ada banyak hal diluar dugaan terjadi, hingga akhirnya saya membiarkan alam semesta berjalan apa adanya, baru tahun ini saya menjalani hidup di luar timeline, ternyata asik juga. Hidup menjadi lebih santai, woles cuy yang penting hepi.

Namun, kebiasaan untuk hidup teratur tidak bisa saya lepaskan begitu saja, cita-cita dan mimpi yang sudah dibangun sejak bangku SMA tidak saya biarkan mengalir tanpa arah. Saya mulai mengejar beberapa prioritas yang sempat di-nomor-sekian-kan, mungkin tepatnya bukan lagi mengejar, tetap berjalan ke tujuan, perlahan dan tidak grasak-grusuk. Tuhan selalu punya cara untuk menjawab retorika manusia, satu per satu hal-hal yang keluar dari rencana mulai terjawab. Saya semakin membiarkan semua berjalan apa adanya.

Menuju usia 25, saya tidak banyak bercita-cita, mengubah yang bisa dirubah, mengejar yang bisa dikejar, melakukan hal-hal sederhana, dan bahagia tanpa alasan, bebas tanpa syarat. Akhir pekan di penghujung oktober saya habiskan bersama mereka, sebuah keluarga yang baru saya kenal, namun begitu cepat membuat saya nyaman. Alur perkenalannya pun atas kehendak Tuhan, unpredictable. Dan alur kedepannya juga saya serahkan kepada Yang Maha Kuasa, kita berencana baik dan berfikir sepostitif mungkin. Bismillah ….

Posted in Jalan-Jalan | Leave a comment

The Invisible Hand – Cacar – Paru dan WU

MSc Urban Environmental Management

Akhirnya, 22 September 2015 saya mendapatkan LoA dari Wageningen University (WU), ternyata prosesnya tidak serumit yang saya bayangkan. Langkah berikutnya adalah mencari beasiswa pasca sarjana, pilihan saya sampai saat ini ada di LPDP dan Stuned. Deadline LPDP tahun ini adalah 19 Oktober 2015, 1 hari sebelum usia saya genap 24 tahun.

Semua dokumen sudah saya dapatkan, namun, saya kembali dihadapkan pada kondisi yang tidak bisa saya kontrol, istilah sederhananya the invisible hand – ‘tangan tuhan’. Ada yang bermasalah dengan organ paru-paru saya (sampai saat tulisan ini dibuat, saya belum cek lab lanjutan), sehingga harus menjalankan rangkaian tes medis, singkat cerita prioritas saya kali ini adalah mengembalikan fungsi paru-paru, baru mengejar hasrat untuk melanjutkan sekolah. Selain itu, tertanggal 28 September – 9 Oktober 2015 saya terserang virus Varicella simplex atau lebih dikenal dengan cacar air. Manusia bisa berencana, Allah juga yang menentukan hasilnya.

Dari awal tahun 2015 saya dihadapkan pada sejumlah situasi yang membuat bertambahnya kepercayaan saya kepada Allah. Saya yakin rencana Allah pasti yang terbaik, yang bisa saya lakukan adalah bersabar dan menjalankannya dengan selalu berfikir positif. Manusia, pasti ada saja keluh kesahnya, saya bersyukur Allah mendampingi saya dalam banyak cara, salah satunya ia kirimkan orang-orang yang selalu membuat saya bersemangat memulai hari. Saya sangat yakin, rencana dan doa saya sedang dalam proses pencapaian, dan Allah telah mempersiapkan waktu yang tepat. Perjalanan ini kelak akan saya kenang sebagai momentum yang membentuk saya di hari depan dan akan menjadi cerita hari tua yang berkesan untuk anak cucu kelak, InsyaAllah.

Posted in Beasiswa | Tagged , , , , | 32 Comments

Dari Sheffield ke Wageningen

4 Agustus 2015, mendapatkan surat elektronik dari Department of Geography, yang mengingatkan bahwa saya harus segera mengunggah hasil IELTS, menjadi pintu gerbang untuk membuka kesempatan baru, mengambil keputusan untuk pindah tujuan studi, IELTS saya kurang 0,5 point. Karena malas mengambil tes IELTS untuk kedua-kalinya, saya memutuskan untuk pindah haluan ke Wageningen University (WuR). Alasan paling mendasar memilih universitas ini karena The City of Life Sciences (julukan untuk Wageningen) memiliki kualitas ilmu lingkungan yang lebih baik dari University of Sheffield (UoS).

Selain itu, mata kuliah yang diberikan juga lebih sesuai dengan minat dan kebutuhan saya. Namun, UoS memberikan saya waktu untuk berfikir, mereka memberikan kesempatan untuk ikut dalam program studi tahun 2016, sungguh baik! Begitulah seharusnya pendidikan, dari awal tidak memberatkan calon didikannya. Indonesia harus mencontoh hal ini, harus!

LoA 2016 - Defer

15 September 2015, proses pendaftaran ke WuR lebih lancar, mungkin karena saya sudah memiliki pengalaman melakukan hal serupa, selain itu tidak mensyaratkan surat rekomendasi yang membutuhkan waktu 2 minggu. Pertama, kita mengisi online application form, lalu mengunggah semua persyaratan yang dibutuhkan. Dari proses ini saya mendapatkan nomor registrasi. Kedua, menuggu 3 hari untuk mendapatkan nomor file dan password untuk login ke STARS (Student Tracking Admission Registration System). Ketiga, berdasarkan cerita teman, saya harus menunggu tidak lebih dari 2 minggu untuk mendapatkan LoA Unconditional dari WuR (Bismillah, semoga segera mendapatkan kabar gembira ini, hehe).

Rekam Jejak Aplikasi

Saatnya menunggu, bersabar, dan banyak berdoa. Jika Allah sudah berkehendak, semua akan lancar dan mudah saja, kan?! —

Posted in Beasiswa | Tagged , , | 15 Comments

Ah Sudahlah

Menjadi diri sendiri adalah sebuah utopis, ketidakmungkinan tanpa batas. Bagaimana bisa menjadi diri sendiri ketika hidup dikekang oleh banyaknya konstruksi sosial budaya, ada banyak batasan, kebosanan dan kejenuhan, dibungkus dengan apik dalam bentuk norma dan aturan, formal tidak formal, semua dipaksa untuk patuh. Kita terbiasa mencontoh, imitasi, tidak punya jati diri yang jelas, bingung, dan akhirnya menjadi sesuatu yang ‘buatan’.

Pada akhirnya, kita menjalankan hal serupa dengan yang ‘mereka’ kerjakan, kita menjadi apa yang ingin ‘mereka’ lihat, menjadi manusia yang haus apresiasi dan reward. Saya membayangkan kehidupan tanpa tujuan, rencana dan batasan, hanya menjalankan apa yang ditemukan pagi hari lalu melupakannya saat malam datang. Namun, saya khawatir, ketika imajinasi ini menjadi kenyataan, kemudian berulang menjadi rutinitas, dan dikerjakan oleh komunal, saling mengingatkan dan mencontoh. Siklus kembali terulang. Menjadi diri sendiri itu, — ah sudahlah.

Posted in Jalan-Jalan | 1 Comment

Wisata Akhir Pekan di Palembang (Kita, Kota dan Cuka)

Jembatan Ampera

Jembatan Ampera (Captured by Kumiw, 2011)

Jumat, 7 Agustus 2015.

Berawal dari kejenuhan atas rutinitas tanpa batas, kami memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah kota yang tidak menjadi tujuan utama pariwisata. Awalnya saya dan Qonita (red: Qoni) berwacana ke Timur Indonesia, ternyata harga tiket pesawat mahal tak terjamah. Akhirnya, kami memutuskan ke Barat Indonesia, singkat cerita, mendaratlah maskapai singa berbatik di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, sesuai jadwal — tumben.

Pada tulisan kali ini, saya tidak akan menceritakan sejarah panjang Kota Palembang, kondisi geografis ataupun hal-hal umum lainnya, karena bisa dicari dengan sangat mudah di dunia maya. Cerita ini saya dedikasikan untuk rekan-rekan yang berhasil menjadi bagian dari kenangan masa muda berkesan di Palembang; Qonita, Faris, Maol dan Harry.

Di Cafe (yang katanya) Paling Gaul di Palembang

Di Cafe (yang katanya) Paling Gaul di Palembang

Hari Pertama, 8 Agustus 2015.

Jembatan ampera menjadi persinggahan pertama, kami duduk di sebuah tempat makan cepat saji yang tidak sehat namun diminati, ka-ef-ci. Tujuan kami adalah Pulau Kemaro, untuk menuju pulau ini kami harus pintar memilih kapal dengan harga yang masuk akal. Meskipun akhirnya kami mengalami konflik dengan salah satu pemilik kapal, karena kami tidak jadi menggunakan jasanya. (Saya: “kok bayar sih Ris?” || Faris: “kalau kita tidak bayar, dikejar, malas ribut”). Kejadian ini menyadarkan saya; “sekarang gue tau kenapa Pariwisata di Sumatera susah maju, ternyata bukan karena infrastruktur, tapi watak dan karakter orang-orangnya susah kompromi, keras.

Pintu Masuk Pulau Kemaro

Pintu Masuk Pulau Kemaro

Di Pulau ini tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain berfoto. Kami pun mencoba beberapa gaya foto yang tidak lazim digunakan, salah satunya adalah kayang. Siang itu, matahari menyinari Palembang tepat 90 derajat, panas dan berangin, kami bertiga berjalan acak masuk pulau. Ada legenda cinta yang sempat saya baca di pintu masuk menuju tempat sembayang. Intinya, ada pengorbanan cinta yang berujung pada kematian kedua sejoli (kisah lengkapnya bisa browsing ya).

Kayang di Kemaro

Kayang di Kemaro

Satu hal yang saya simpulkan dari banyaknya legenda cinta, seperti kisah Romeo Juliet ataupun kisah Siti Fatimah dan Tan Bun Ann di Pulau Kemaro; jangan pernah mempersulit keadaan jika memang sudah menemukan cinta, jangan drama dan jangan kebanyakan teka-teki, cukup sampaikan dan abadikan dalam ikatan yang jelas. Karena penundaan kerap kali menghasilkan pembelajaran dan pengalaman yang tidak menyenangkan, berpisah sebelum sempat bersatu, misalnya — hehe.

Qonita, Faris dan Saya di Pagoda

Qonita, Faris dan Saya di Pagoda

3600 detik berlalu dengan asik, kami berfoto akrobatik, bercerita lepas dan ketawa tanpa makna, yang pasti menyenangkan, meskipun panas. Pejalanan kami lanjutkan dengan wisata sejarah ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, berlokasi tepat dipinggir sungai dengan panjang 460 km yang membelah Provinsi Sumatera Selatan dari Timur ke Barat, Sungai Musi. Kami ditemani oleh seorang sejarawan renta, namun ilmu yang ia sampaikan sangat informatif dan edukatif. Hampir 90 menit kami habiskan di bangunan bergaya belanda itu, sejarah mengalir dari terklasik sampai kontemporer, lengkap.

Tourist Guide di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Tourist Guide di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Kriuk kriuk kriuk — kami lapar, sesuai rencana kami menyantap martabak yang sudah berdiri sejak 7 Juli 1947, Martabak Har, rasanya sangat unik, yang pasti enak, susah untuk menarasikannya, yang pasti sekali mencoba mau lagi, lagi dan lagi. Tidak lama, bergabunglah 1 lagi rekan perjalanan, Maol Siloam. Pertama kali melihat sosoknya, sebuah lagu spontanitas berputar di benak saya:

Buffalo soldier dreadlock rasta || There was a buffalo soldier in the heart of America || Stolen from Africa, brought to America || Fighting on arrival, fighting for survival — Buffalo Soldier, Bob Marley.

Martabak Legendaris

Martabak Legendaris

Bercengkrama singkat dan santai, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Siguntang. Faris dan Maol yang sudah sejak lahir di Palembang, pun belum pernah berkunjung ke lokasi bersejarah ini, saya semakin penasaran dibuatnya. Setibanya disana, ternyata bukit ini adalah taman tempat anak-anak remaja pacaran, duduk berdua-duan di bangku taman, dan lokasi untuk foto prewed. Taman ini tidak terawat, kusam dan panas, akhirnya kami langsung ke tujuan utama, menuju ke makam kerajaan melayu kuno, total terdapat 8 makam. Setelah puas mendengarkan cerita juru kunci, kami memutuskan untuk duduk dan berfoto, kemudian muncul ide lainnya, yaitu berjoget ditengah keramaian Jembatan Ampera. Kapan lagi kan, once in a life time, toh tidak ada yang mengenali kami, kan?

Bukit Siguntang

Bukit Siguntang

Romansa kota begitu terasa karena keliling kota kali ini dilakukan bersama vespa angkatan 65, korosi dan unik. Berjalan perlahan menuju lokasi makan pempek, sambil diselingi ketawa ketiwi lepas, big thanks to Maol & Faris. Sambil menunggu malam minggu tiba kami menyantap sekenyang mungkin makanan tradisional khas Palembang ini, cukanya enak dan pedas.

Keliling Kota dengan Vespa Angkatan 45

Keliling Kota dengan Vespa Angkatan 65

Selepas menjalankan ibadah maghrib, kami sempat melewati Kantor Walikota Palembang atau lebih dikenal dengan Kantor Ledeng. Bangunan yang sejak 1821 – 1931 digunakan sebagai menara air ini sangat antik dan pencahayaan malam hari menambah kesan tua dan klasik. Sayangnya, saya tidak sempat mengabadikan dalam camera, karena prinsipnya apa yang enak dimata tidak semua harus diabadikan dalam camera, kan.

Vespa Angkatan 65

Vespa Angkatan 65

Malam minggu di sekitar Benteng Kuto Besak (BKB) ternyata ramai sekali, bahkan ada beberapa satpol pp yang sengaja berada di pelataran pinggir sungai untuk menjaga ketertiban. Disanalah, saya dan Qoni beraksi, kami izin ke satpol pp dengan alasan rekayasa, tugas seni dari kampus, yaitu joget berlatar jembatan ampera. Berbekal urat malu yang sudah putus, kami joget asal tanpa musik ditengah keramaian, direkam dan berdurasi tidak lebih dari 5 menit. Maol juga berkontribusi, menjadi batu ditengah, tanpa joget, tanpa ekspresi, hanya diam berdiri ditengah. Faris? seperti biasa, juru kamera, yang siap merekam apa saja yang kami mau, dia sih apa aja mau, hehe.

Siap Gerak - Satpol PP Jembatan Ampera

Siap Gerak – Satpol PP Jembatan Ampera

Karena kami tidak tahan dengan hiruk pikuk pesta rakyat, kami memutuskan untuk segera kembali ke hotel dan beristirahat. Bayangkan, malam minggu, jam 20.30 WIB sudah duduk cantik siap tidur di hotel, kalau di Jakarta, ini baru keluar rumah — gaya, haha. Hari pertama yang melelahkan dan sangat berkesan, di penghujung hari, saya yang asik bercerita ternyata ditinggal tidur oleh Qoni, si pelor, nempel molor, sebel.

Hari Kedua, 9 Agustus 2015.

Hari ini dimulai cukup siang, saya dan Qoni bermanja-manja di hotel, sarapan, nonton tv dan sibuk dengan gadget masing-masing. Tiba-tiba, pesan singkat dari Faris mengingatkan bahwa liburan kami harus segera dilanjutkan (jadi dia yang semangat ya). Karena Maol ada kesibukkan di bengkel, kami kurang 1 kendaraan, keberuntungan berpihak, teman saya 1 lagi bergabung, Harry. Kami berkumpul di Mie Celor 26, mie dengan rasa yang sangat khas, enak sekali, saya hampir saja menyantap 2 porsi. Sebelum melanjutkan perjalanan kami mampir di Pempek Aan, untuk membeli oleh-oleh, rasa cukanya enak, jauh lebih enak dari yang sebelumnya kami coba, dan harganya masuk akal.

Mie Celor 26 dan Bewok

Mie Celor 26 dan Bewok

Hari ini kami membebaskan diri, karena tujuan wisata sudah ‘dihabisi’ hari pertama. Jadwalnya ke Museum Balaputera Dewa, namun hari sudah terlalu sore, museum tutup tepat jam tiga sore. Saya mencoba menelpon sepupu yang sudah berdomisili belasan tahun di Palembang, sebelum ke rumahnya, kami mampir di Outlet Nyenyes, sebuah toko baju yang menjual baju dengan design modern dan kreatif. Saya membeli baju kaos lengan panjang yang terkesan promosi diri; “Calon Menantu Ideal adalah Wong Palembang” — hipotesa asal: Saya Wong Palembang, jadi Saya Calon Menantu Ideal. Semoga dengan membeli baju ini, saya bisa jadi — ya begitulah, hahaha.

Outlet Nyenyes; Calon Menantu Ideal adalah Wong Pelembang - hehe

Outlet Nyenyes; Calon Menantu Ideal adalah Wong Pelembang – hehe

Menjelang senja, kami berkunjung ke rumah sepupu saya, bertukar cerita, mendengrkan banyak wejangan, dan menghabiskan makanan yang disediakan. Ada banyak pesan kehidupan yang kami dapatkan, dan sepertinya ada banyak rencana yang ingin teman saya kerjakan, ya kan Harry? Sedikit berkisah, Harry adalah tetangga saya, teman dari orok, kami TK, SD, dan SMA ditempat yang sama. Kemudian dia melanjutkan kuliah di Bandung dan kerja di Palembang, pertemuan kali adalah yang pertama sejak kelulusan SMA, itung-itung reuni.

Harry Kurniawan

Harry Kurniawan

60 menit sebelum maghrib kami menuju ulu, untuk shalat maghrib di Masjid Ceng Ho, sebuah tempat ibadah umat muslim yang bergaya arsitektur khas Cina. Awalnya kami berencana ke Stadion Jakabaring, sebuah tempat olah raga modern, sengaja dibangun untuk menyambut Sea Games tahun 2018, yang menyebabkan sejumlah pejabat terlibat kasus dan mendekam di penjara. Rencana ini kami tunda, karena sudah gelap. Kami mengalihkan tujuan ke Taman Pelangi, sebuah taman yang dihiasi banyak lampu-lampu, yang katanya hanya ada 2 di Indonesia, satu lagi ada di Makassar. Setibanya di pintu masuk, kami ‘ditolak’, taman ini tutup karena renovasi, sedikit kecewa.

Masjid Ceng - Ho

Masjid Ceng – Ho

Untuk mengobati kekecewaan kami, Harry merekomendasikan tempat makan pindang enak dengan harga miring, sesampainya di pintu masuk, kami kembali ‘ditolak’, rumah makan itu tutup. Alhasil, terdamparlah kami dengan rasa lapar tingkat dewa, di sebuah tempat makan legendaris, Pindang Musi Rawas. Jika saya lukiskan dalam 1 kata, pidang disini itu surga, kuahnya? Meraba lidah dengan cita rasa khas Sumatera, menjalar ke sistem pencernaan dengan sangat mulus, saya rasa tempat ini akan sangat saya rindukan nantinya.

Pindang Musi Rawas

Pindang Musi Rawas

Perjalanan belum berakhir, kami menuju Cafe and Resto yang katanya paling gaul se-Palembang. Disana kami menguasai panggung, karena tempat ini menyediakan live music. Harry yang memang berbakat dengan suara indahnya berhasil menyanyikan tidak kurang dari 5 lagu, 1 lagu duet dengan Qoni — nambah lagi diusir sih, fixed. Menjelang tengah malam, Maol kembali bergabung. Kami berlima, anak muda yang bebas tanpa beban, tertawa lepas tanpa batas, cerita ini itu, bahagia dan lupa waktu. Saya dan Qoni sengaja, totalitas di hari terkahir, besok senin? bodo amat, besok kerja? ia terus kenapa?

Judulnya saja wisata akhir pekan, jadi ketika pekan sudah berakhir, begitu pula wisata kami. Perpisahan singkat, dengan 3 teman yang sudah rela (rela ga sih? rela dong ya!) menemani, mengawal dan sabar menghadapi keanehan kami ditutup dengan rencana untuk berjumpa lagi disuatu tempat, yang entah dimana dan entah kapan, biarkan mengalir apa adanya, jika ada kesempatan kita pasti berjumpa lagi, kan ya?

No Caption Needed

No Caption Needed, Palembang 2015

Posted in Jalan-Jalan | Tagged , , , | 3 Comments