life is never flat

Pegunungan merupakan tempat tekuat dimuka bumi dan menuntut penghormatan tertinggi – Eric Weihenmeyyer

Hijau adalah warna yang mendominasi pemandangan dari gunung dan hutan, yang dalam filososfi jawa warna hijau memberikan kesegaran dan kesejukkan bagi siapa saja yang memandangnya. Berdasarkan pemahaman singkat saya, hal inilah yang kemudian selalu membuat kita tidak pernah merasa bosan, meskipun berada dalam ‘pelukan’ hutan dan dinginnya pegunungan.

Apa yang sebenarnya saya rasakan dalam setiap pendakian tidak bisa benar-benar dapat saya ceritakan, seperti udara, lewat begitu saja, sulit dinarasikan dalam kata dan cerita. Sekaligus persiapan dari perjalanan yang kalau sekedar dibayangkan mungkin menyusahkan dan merepotkan bagi sejumlah orang, namun sangat menyenangkan bagi saya. Beratnya keril beserta isinya, seperti menyatu dengan raga, sehingga beratpun terasa ‘biasa’.

Kita tentu sering mendengar : packing is the art. Kalau saya boleh menambahkan, bahkan dalam persiapan tersirat begitu banyak makna tentang kehidupan. Misalnya, ketika kita harus memutuskan barang-barang apa saja yang sangat dibutuhkan sehingga harus disertakan dalam keril, menjadi analogi yang pas saat kita harus menentukan prioritas, setiap dihadapkan pada pilihan dalam hidup. Kita juga harus mampu, meninggalkan barang yang sudah tidak dibutuhkan untuk memasukkan barang baru saja kita temukan. Namun, kehidupan sudah pasti tidak se-sederhana ini, bukan?.

Kemudian selama pendakian, kita terkadang dihadapkan pada jalur pendakian yang datar, curam, terjal, berbatu, licin dsb. Semua itu harus kita hadapi untuk benar-benar sampai titik triangulasi. Mungkin pada saat yang bersamaan kita merasakan hasrat untuk sampai di puncak, namun disisi lain ada perasaan untuk berhenti dan turun karena lelah. Karena itu, dalam setiap pendakian kesiapan fisik juga harus disertai dengan kesiapan mental, karena jika mental sudah lemah, semua akan terasa berat.

Sama halnya dengan kehidupan, kita akan selalu diberikan jalan kehidupan yang tidak sekedar datar tanpa tantangan (saya sengaja untuk tidak menyebutnya sebagai hambatan), namun membutuhkan perjuangan, pengorbanan dan terampil dalam mengambil keputusan. Kita juga diharuskan untuk dapat beradaptasi dengan jalan yang sedang ada dihadapan, dengan tetap berpedoman pada prinsip untuk sampai di puncak kehidupan (red: sukses) dengan selamat. Mental harus terus kuat dalam setiap situasi, menjadi nilai mutlak yang harus ada, disamping kesabaran dan kedewasaan dalam bertindak, karena lelah fisik dapat terselesaikan dengan adanya mental pemenang, mental yang tidak mudah mengeluh, mental tidak mudah menyerah.

Titik klimaks dari segala hal ini adalah sampai di tanah tertinggi pendakian, semua lelah fisik lenyap dengan sambutan indahnya pemandangan alam ciptaan Tuhan, kita dibisukan dalam renungan betapa manusia begitu kecil dihadapan Tuhan, kita disadarkan bahwa bersyukur adalah kewajiban, bukan sekedarnya. Dan kembali disadarkan untuk tidak cepat puas karena kita ternyata tidak benar-benar berada di bagian tertinggi, masih ada puncak-puncak lainnya, masih ada langit yang ternyata juga berlapis ketinggiannya, dan ini menyadarkan akan dua hal, tidak mudah puas, dilain sisi tidak boleh tinggi hati. Subhanallah.

Kemudian, ada saatnya kita harus meninggalkan titik triangulasi untuk turun kembali ke posisi dimana kita mulai mendaki. Hal ini tidak saya analogikan, bahwa kehidupan setelah mencicipi kesuksesan maka kita harus turun lagi ke posisi awal. Namun, hal ini saya maknai sebagai flash back dari apa yang sudah kita perjuangkan selama pendakian, sehingga diharapkan untuk menambah semangat dan pengetahuan untuk pendakian lainnya. Bahwa apa yang kita rasakan sulit menjadi mungkin jika kita tetap fokus pada tujuan dan yakin bahwa semua pasti akan ada hikmahnya. Dan semua selalu dimulai dari bawah, orang akan selalu melewati pos pertama sebelum merasakan titik triangulasi.

Sama halnya dengan kehidupan, untuk membangkitkan semangat kita juga harus mampu melihat ke masa sebelumnya, bahwa kita pernah berada pada jalan yang tidak mudah dan tidak datar, dan kita mampu. Hal ini yang seharusnya menjadi api semangat untuk sampai pada cita dan harapan. Tidak lengkap rasanya jika kita sampai di puncak kesuksesan dengan instant, pemberian dan bukan pencapaian.

Untuk sampai di puncak, kita membutuhkan beberapa persiapan, baik fisik, mental, materi pendakian, keuangan, dan perlengkapan pendakian, toh  tidak jauh berbeda dengan kehidupan, banyak hal yang perlu dipersiapkan sebagai syarat utama melewati jalur kehidupan, dan sekali lagi, bahwa kesuksesan tidak dengan mudah didapatkan, tanpa perjuangan dan pengorbanan, maka dimana makna kehidupan? Semangat itu harus datang dari diri sendiri, motivator eksternal mungkin dibutuhkan, namun motivator paling ampuh tetap berada dalam internal pribadi manusia, dan tidak melupakan bahwa manusia berusaha dan Tuhan juga yang menentukannya, berdoa dan tawakal menjadi pelengkap.

God’s 3 answer to our prayers:

  1. YES
  2. NOT YET
  3. I have something better in mind.

Dan itu makna pendakian bagi saya, lalu bagaimana dengan anda?

6 Responses to life is never flat

  1. mantap.
    btw, image yang ada di headernya itu di mana yah? bagus gtu…..

    saya newbie dalam hal daki-mendai 🙂

  2. kapan nih saya di ajak daki. orang depok juga tante?? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s