Benua Biru di Penghujung Tahun 2016

“Happy easter, Wenty! Where are you going this (long) weekend?”,-

“I have no plan, but I should finish my group work and thesis research design, and you?”,-

“Well, we are going to …. (some places in Europe),-

Cuplikan percakapan dengan teman asal the republic of cyprus ini mendorong saya untuk melanjutkan catatan perjalanan selama di Eropa. Tulisan ini akan mendeskripsikan secara singkat perjalanan saya dan suami pada liburan musim dingin; Desember 2016. Pada penghujung tahun tersebut, kami mengunjungi 4 negara, 7 kota: Italia (Roma, Vatikan, Milan), Yunani (Thessaloniki dan Athens), Budapest dan Berlin.

Saat membuat itinerary kami tidak menentukkan lokasi mana yang akan kami kunjungi, ‘kiblat’ kami adalah skyscannerfrom netherlands to everywhere, kemudian kami memilih kota (selain Eropa Utara, karena kawasan ini akan dikunjugi pada musim panas 2017) yang biaya pesawatnya paling murah.

Roma dan Vatikan, 25 – 27 Desember 2016 

Sepanjang perjalanan, imajinasi saya berkelana ke masa sekolah dasar, saat itu setiap siswa harus menghapal 7 keajaiban dunia, sayangnya saya tidak memiliki buku pengetahuan umum (RPUL) seperti kebanyakan siswa lainnya, tapi saya punya atlas dunia, yang kemudian membimbing saya untuk memimpikan lokasi-lokasi yang jauh dari jangkauan. Di kota ini, ada satu keajaiban dunia; Colloseum sebagai simbol kompetisi, kesenangan dan penderitaan.

IMG_6453

Kami tidak berniat untuk masuk kedalam ‘gedung’ bersejarah ini, jadi kami hanyak berkeliling, ada patung kuda dan lambang perdamaian dunia ‘Arch de Triump‘, dan ada banyak sekali orang asia! Selain Colloseum, kami juga mengunjungi sederet lokasi turisitik; Roman Forum, Trevi Vountain, Campidoglio Square, Patheon, Piazza Novona, Campo de Flori, dan Ponte Fabricio. Perjalanan hari itu cukup padat, untungnya lokasi wisata di kota ini terpusat, sehingga tidak menghabiskan dana untuk gonta-ganti moda transportasi.

IMG_6553

Somewhere in Rome

Melihat Pope Francis ceramah secara langsung di St. Peter Basilica adalah tujuan kami berikutnya, sayangnya hari itu bukan jadwal beliau pidato. Kami memutuskan untuk berkeliling 3 jam di Museum Vatikan, hingga akhirnya keputusan ini juga yang membuat kami berkomitmen untuk tidak mengunjungi museum lainnya di Eropa, terutama yang isinya penuh dengan patung. Setelah berjam-jam berkeliling Vatikan, kami kembali menuju kota untuk berkunjung ke rumah 2 teman baik, hal ini yang kemudian menjadi added value dari sebuah perjalanan, bertambahnya teman dan kerabat. Pasangan Itali ini kemudian berjanji untuk membalas kunjungan kami ke keluarga mereka dengan liburan ke Indonesia, deal!

IMG_6813

St. Peter Basilica – Vatican

 

Milan, 28 – 29 Desember 2016

Tujuan utama kami ke Milan adalah San Siro, saya pribadi bukan penggemar bola, namun sayang, jika sudah ke Milan tapi tidak silaturrahmi ke lokasi impian para Milanisti dan Internisti ini. Ternyata, semua pernak-pernik bola disana (atau mungkin seluruh dunia) itu mahal harganya, untung saya tidak suka bola, dan lebih beruntungnya, suami saya adalah penggemar Persib bukan klub-klub bola eropa — haha.

IMG_7004

Milan tidak seramai Roma, saya pribadi lebih suka kota ini, tepat lain yang sempat kami kunjungi, antara lain; Dumo di Milano, Galleria Victono Novecento, Castello Sforzesco, dan Parco Sempione. Sayonara kami ditutup dengan menikmati China Town, sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi peradaban tua eropa, Yunani.

Thessaloniki, 30 – 31 Desember 2016

Kami terdampar disebuah kota kecil pinggir pantai Yunani, nama airportnya bagus: Macedonia. Kedatangan kami ke kota ini seperti Vasco da Gama yang berasumsi sudah sampai Daratan Hindia, kenyataannya hanya sampai Kalkuta, karena tujuan utama kami adalah Athens. Seharian kami keliling pantai, bahasa menjadi batasan kami, karena di lokasi ini semua petunjuk jalan dan informasi dalam aksara yunani, berupa sederetan simbol-simbol fisika. Selain itu, sangat sulit mencari orang yang bisa berbahsa inggris. Meskipun demikian, Thessaloniki punya lokasi wisata kota yang bisa dikunjungi, seperti; Roman Forum (mungkin ada keterkaitan sejarah dengan Roma), White Tower, dan Aristotles Square.

Athens, 31 Desember 2016 – 2 Januari 2017

Yunani merupakan salah satu negara berkembang di Eropa, kami masih melihat dampak krisis ekonomi global, bertebaran para homeless di sudut jalan kota dan jobless usia produktif banyak terlihat menghabiskan waktu sia-sia di pusat kota, lebih dari itu kami melihat banyak pengemis di beberapa lokasi. Dari paras, mereka ‘asli’ eropa, bukan kulit hitam ataupun para refugee. Awalnya kami berharap di pusat kota ada kegiatan seru akhir tahun, sayangnya yang kami temui adalah pusat kota yang mati, seakan tidak ada foya-foya akhir tahun, bahkan kami tidak menemukan kembang api ataupun perayaan lain khas tahun baru. Akhirnya kami berkesimpulan bahwa tahun baru tidak lewat Yunani, dan memutuskan untuk menghabiskan akhir tahun dalam kamar penginapan.

IMG_7244

Acropolis adalah lambang peradaban tua di Eropa, kemegahannya sangat terasa saat beberapa pentunjuk jalan berlabel European Heritage Label selalu diakhiri dengan kalimat Europe starts here!. Sayangnya saat itu kami tidak bisa masuk melihat Parthenon karena libur tahun baru. Tidak jauh dari lokasi epik ini, kami mengelilingi kota dan menjumpai beberapa lokasi wisata, seperti: ErechtheionTempel of Olympian Zeus, Plaka Neighborhood, dan Ancient Agora of Athens. Jika ada kesempatan untuk kembali berkunjung ke kota ini, saya pribadi memilih untuk membaca lebih dulu sejarahnya, sehingga saat melihat beragam artefak sejarah, bertambah pula ilmu dan pengetahuan.

Budapest, 2 – 5 Januari 2017

Ibukota Hungaria ini lebih megah saat malam hari, cahaya kuning yang digunakan untuk menyinari setiap gedungnya membuat setiap ornamen terlihat ‘mahal’ dan berkilau.

IMG_7475

Hungarian Parliament

Budapest menjadi kota bersejarah untuk kami berdua, karena di kota ini kami melihat salju untuk pertama kalinya. Saat orang-orang masuk restoran atau kafe saat hujan salju, kami memilih untuk ‘mandi salju’, foto-foto dan merekam sejumlah fenomena, maklum segala yang pertama selalu berkesan. Tidak lebih dari 30 menit, kami mulai kedinginan; ok sajlu memang asik, tapi dingin. Sejak saat itu, dari yang awalnya selalu menanti hujan salju, menjadi: “ini salju kapan sih berhentinya, udah dong ah dingin”.

IMG_7577

Budapest juga bersejarah untuk kami, karena kota ini sangat murah jika dibandingkan kota-kota lain yang sudah kami kunjungi. Makanan murah, souvenir murah, apa-apa murah, karena mereka masih menggunakan mata uang HUF bukan euro. Kota ini juga yang membuat kami berfikir dua kali untuk beli ini itu di kota-kota eropa lainnya, seakan menjadi standard harga. Lokasi wisata yang sempat kami datangi di Buda dan Pest, antara lain: Hungarian Parliament, Heroes Square, Vaci Ultra Steet, Chain Bridge, Buda Castle, Opera House, Szent Istvan Bazilika, dan Market hall.

IMG_7506

Berlin, 5 – 7 Januari 2017

Saat SMA, Hitler dan BJ Habibie adalah dua tokoh yang menginspirasi saya untuk bermimpi kuliah di Jerman. Beberapa hal saya lakukan untuk mewujudkan impian ini, salah satunya, belajar serius untuk bisa kuliah di ITB, karena saat itu saya yakin kalau mau dapat beasiswa kuliah di Jerman, saya harus jadi Insinyur. Meskipun, impian itu akhirnya tidak tercapai, Allah menggantinya dengan kesempatan berbeda, yang lebih seru dan asik.

IMG_7585

German Parliament

Hujan salju berhari-hari menemani perjalanan kami di Berlin. Tidak banyak yang kami lakukan di kota ini, karena kami mulai bosan melihat keseragaman lokasi wisata di Eropa; centrum, cathedral, arch de triumph dan castle, itu lagi itu lagi. Jadi, perjalanan kami di Berlin tanpa tujuan yang pasti, meskipun demikian kami sempat mendatangi lokasi penting di Berlin, seperti: German Parliament, Brandenburg Gate, dan Holocoust and Jewish Memorial.

Setelah 14 hari jalan-jalan, akhirnya kami kembali ke Belanda. Kembali menjalani rutinitas harian, sembari menunggu datangnya 11 hari berikutnya, untuk kembali berkeliling kota-kota di Eropa. Pada tulisan berikutnya, akan berisi tentang kenangan kami selama 11 hari, menghabiskan hari-hari di Daratan Andalusia dan satu kota di Afrika, mencicipi romantisme sejarah Islam di Eropa dan Afrika.

Intermezzo sebagai penutup: “suatu hari perjalanan kami akan ditentukan berdasarkan perputaran globe, teknisnya sederhana, salah satu dari kami akan memejamkan mata kemudian memutar bola dunia, dalam hitungan 10 detik, jari telunjuk kami akan berhenti pada suatu titik yang akan menjadi lokasi liburan kami berikutnya! Bagaimanapun caranya, kami harus berusaha untuk meninggalkan jejak di lokasi tersebut, karena tujuan hidup tidak lain adalah untuk merealisasikan impian dan menciptakan kebahagian.”

Musim Semi di Wageningen, 14 April 2017.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Eropa, Jalan-Jalan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Benua Biru di Penghujung Tahun 2016

  1. saadfajrul says:

    wush numpang lewat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s