Groningen dan Masakan India

God created the earth, but the Dutch created the Netherlands.- Anonymous

img_6356

Martini Tower

Sejak 1970-an, Groningen sudah dikutuk sebagai bicycle city. Cerita bermula pada periode 1960-an, ketika jumlah kendaraan bermotor khususnya mobil semakin meningkat, seorang politis muda berusia belum genap 24 tahun (Max van Den Berg) berhasil menciptakan konsep kota yang mengutamankan hak pejalan kaki dan pengendara sepeda. Dewasa ini, Groningen dikenal sebagai kota yang paling bersahabat untuk kaki dan sepeda. Selain itu, berdasarkan data statistik pemerintahan lokal (red: municipality / gementee) jumlah populasi didominasi oleh generasi muda produktif, jadi buat yang sedang berkuliah di Belanda, dan (maaf) masih (aja) sendiri, mungkin kota ini bisa jadi pilihan, biar cita-cita punya pasangan tercapai.

img20161203142623

Dimakah Masakan India?

 

Tujuan utama kami adalah mencari restauran india! Karena sejak penulis mulai jago masak chicken curry (cie), kami ingin menyicipi cita rasa asli, sehingga diharapkan dapat menambah khasanah menu tradisional dan meningkatkan kemampuan memasak. Singkat cerita, siang itu kami tidak menemukan yang dicari, alhasil kami makan ayam panggang dan bakso ayam yang rasanya sulit untuk dilupakan, gurih. Tidak cukup dengan menu tanpa nasi, kami menjauh dari ayam, pindah ke ikan, sedikit (banget) udang dan kerang. Open markt disini sangat lengkap dan jauh lebih besar dari yang ada di Wageningen, selain itu, harga hewan lautnya lebih murah dan beragam. Sebagai penutup makan siang, kami menyantap waffel lengkap dengan slagroom dan jus jeruk.

img20161203143008

Martini Statue (mungkin)

Lokasi pasar dekat Menara Martini, salah satu gereja tua dengan menara yang dilengkapi dengan 300 anak tangga, merupakan lokasi terbaik untuk menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Sejak pengalaman dan perjuangan menelusuri ratusan anak tangga di Jerman, kami sama sekali tidak tertarik untuk mencoba Martini, tidak mau lagi. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengelilingi gereja tua ini, tanpa tangga, tanpa lelah dan keluh.

Sejauh ini, menjadi minoritas adalah pengalaman berharga yang kami dapatkan dalam peratauan, sulitnya mencari lokasi yang ‘tepat’ untuk menjalankan shalat adalah salah satunya. Dari  open markt kami berjalan lebih dari 2.7 km untuk mencapai Masjid Uyup Sultan Camii, lokasinya yang berada dekat gereja mengajarkan kami tentang tenggang rasa dan toleransi beragama, ukurannya yang tidak besar namun bersahaja mengingatkan kami akan kebesaran Yang Maha Kuasa.

img20161203152607

Mungkin, cara paling bijak mengajarkan toleransi beragama adalah menjadi minoritas.

Setelah beribadah, kami memutuskan untuk naik bus menuju Martini, tujuan kami tidak lain adalah melanjutkan pencarian tempat makan india. Kali ini kami sudah mendapatkan informasi dari seorang kenalan asal Malaysia, yang merekomendasikan Restauran Spices. Kami segera bergegas menuju lokasi, karena sudah lebih dari 3x gagal mencoba masakan india di Belanda dengan beragam alasan klasik, mungkin kebab lebih enak dan kenyang. Drama berlanjut, setibanya di lokasi, ternyata harus melakukan reservasi, dengan sedikit memelas, akhirnya kami mendapatkan meja, porsi lengkap masakan dan teh india. Beberapa detik berselang, akhirnya kami sadar kenapa Tuhan selalu mempersulit jalan kami untuk makan masakan india, rasanya sungguh diluar dugaan, rempahnya sangat kuat, tidak asin, tidak pedas, tidak enak dan mahal! Yasudahlah ….

img20161203155914

Danau Dekat Masjid

Semakin malam, semakin dingin, sejumlah toko mulai tutup, namun lampu-lampu khas natal mulai benderang, seperti tanda bahwa kehidupan malam kota baru dimulai. Perjalanan singkat kami di ujung utara belanda ditutup dengan sepenggal cerita dan kenangan masa muda yang akan dengan bangga kami ceritakan ke generasi penerus nantinya, bahwa kami pernah menghabiskan masa muda di negara yang memiliki keterikan sejarah dengan nusantara. Alhamdulillah.

Wageningen; jam 1 dini hari, tanggal 6 bulan 12 tahun 2016.

 

 

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Eropa, Jalan-Jalan. Bookmark the permalink.

9 Responses to Groningen dan Masakan India

  1. journe says:

    hahaha.. mirip masakan aceh?

  2. diteraskata says:

    Wen, pake kamera apa fotonya? Warnanya bagus deh.

  3. Arsiya Erlinda says:

    good writings. .. Wenty..I always love to read them all (sekalian stalking) my little sister nun jauh di sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s