Negeri Air dan Angin

665 hari yang lalu, 14.374 kilometer dari lokasi tulisan ini dibuat, secara fisik saya sedang menunggu kopaja di depan Kedutaan Australia, sedangkan pikiran saya berkelana ke tanah yang jauh, antara benua hijau yang identik dengan kangguru dan benua biru dengan seluruh kemegahan sejarahnya. Hingga akhirnya, usaha dan nasib membawa saya terdampar di negara yang lokasinya “dibawah permukaan laut”, banyak air dan angin. Tulisan kali ini bertujuan untuk memberikan gambaran sederhana tentang kelana dan upaya menghapus jenuh dalam menjalani perkuliahan.

Wageningen

Menurut saya, lokasi ini identik dengan perkebunan dan peternakan, ada banyak kuda, ayam, sapi dan babi. Modernisasi hanya terlihat dari bangunan kampus. Belanda membagi-bagi wilayahnya berdasarkan fungsi, contohnya; Nijmegen sebagai Health Valley dan Wageningen sebagai Food Valley. Merupakan bentuk centralisasi, berkumpulnya produsen makanan dan kampus yang berbasis penelitian dan pengembangan berskala international, sehingga memudahkan koordinasi antara sektor bisnis dan pendidikan untuk berinovasi.

Secara kasat mata, area ini dihuni oleh mayoritas lansia (jangan disamakan dengan lansia di Indonesia, disini mereka lebih ‘fresh’ dan mandiri). Untuk mereka yang menyukai suasana tenang dan damai, untuk mereka yang melarikan diri dari kepenatan kota, Wageningen bisa jadi solusi. Selain itu, biaya hidup disini relatif lebih murah, tidak banyak godaan untuk belanja.

Pasar tradisional menjadi pilihan untuk mendapatkan sayur-mayur dan buah segar dengan harga yang terjangkau. Lokasinya di centrum (sebutan untuk pusat kota, yang biasanya selalu ditandai dengan keberadaan gereja), yang hanya buka pada hari rabu dan sabtu. September lalu saat musim panas, secara tidak sengaja saat sedang jogging sore saya melintasi sebuah perkebunan apel dipinggir jalan, tanpa pagar dan pengaman. Tidak jauh dari lokasi tersebut ada perkebunan pir dan jeruk, kalau bukan karena iman dan taqwa mungkin saya sudah kenyang makan buah tanpa izin, hehe.

Untuk saat ini, tidak banyak yang bisa saya gambarkan tentang desa ini, karena disini saya lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan dan kamar. Jadi, untuk menghilangkan jenuh, solusi utamanya adalah berbincang dengan suami tercinta, ketawa ketiwi atau olah raga, selebihnya berkelana ke kota-kota terdekat. Oh ia, ada satu hal yang wajib dimakan jika berkunjung kesini, kebab di samping Jumbo! Enak, dagingnya banyak dan porsinya juga aduhay – udah gitu aja.

Ede

Minggu pertama kedatangan, kami bersepeda dari Wageningen ke Ede jaraknya kurang lebih 10,5 kilometer. Sepanjang perjalanan, rumah-rumah tersusun rapi dilengkapi dengan taman berbunga, selain itu hanya hamparan rumput dan teriknya matahari musim panas. Stasiun kereta terdekat berada di Ede, karena alasan ini juga, kami tidak begitu tertarik untuk menjelajahinya secara detail, karena kedepannya lokasi ini akan sering kami datangi.

 

Arnhem

Merupakan tempat belanja yang (mungkin) paling sering didatangi mahasiswa/i Indonesia dari Wageningen. Awal November 2016, saya mengunjugi sebuah lokasi bekas pelatihan militer (ekskursi mata kuliah: Urban Planning), area ini lebih terlihat seperti ladang gandum dan peternakan dibandingkan tempat berlatih ‘perang’, ternyata 72 tahun yang lalu lokasi ini adalah basecamp tentara jerman yang dibangun sebagai bentuk kamuflase untuk mengelabui pasukkan inggris saat perang dunia kedua. Keterikan sejarah ini menjadikan Belanda ‘tergantung’ pada militer jerman.

img_20161106_221958

Kamuflase Perang Dunia Kedua

 

A: “kami tidak punya perlengkapan militer yang memadai, seperti pesawat perang ataupun tank” || Saya: “kalau kedaulatan negara kamu terancam, atau misalkan ada perang, bagaimana?” || A: “kami punya Jerman — dst.”

Eindhoven

Kota ini mengingatkan saya pada ayam panggang hangat ditengah kutukan angin musim dingin. Pagi itu, disalah satu pasar dekat TU Eindhoven, salah satu foodtruck menjual ayam panggang berlabel halal yang sangat murah dan lezat! Sebelumnya, saya sempat mengelilingi kampusnya yang terletak tidak jauh dari Eindhoven Centraal, singkat kata tampilan kampus ini tidak menarik, jarak antar gedung yang terlalu dekat sangat membosankan, selain itu alurnya tidak jelas, meskipun tidak berantakkan. Kota ini menjadi lebih menarik saat kunjungan kedua kalinya, karena sedang berlangsung event tahunan, Glow in Eindhoven.

Glow adalah festival pencahayaan yang diselenggarakan di 13 negara, salah satunya Eindhoven. Kota disulap menjadi wahana pesta rakyat, semua orang berkumpul, berjalan mengikuti alur secara teratur, menikmati kombinasi pengatuhan, teknologi dan imajinasi. Decak kagum saya terhadap festival ini ditutup dengan sebuah retorika “ini kota abis duit berapa buat menyelenggarakan festival megah selama seminggu?”. Disisi lain, nurani saya berkelana ke desa-desa tertinggal tanpa listrik di Indonesia, ketika pencahayaan masih bersifat temporal dan natural.

Roermond

Kawasan ini terkenal sebagai pusat belanja “murah” barang mahal, hampir semua barang kelas menengah atas mendapatkan potongan harga yang menarik, apalagi jika dibandingkan dengan harga di Indonesia. Kerapihan dan keteraturan kota-kota di Belanda membuat kejenuhan tersendiri untuk saya, karena cenderung seragam; open markt, centrum, gereja, kanal, kincir angin dan sepeda. Selain itu, keseragaman kondisi sosial budaya, menjadikan Belanda tidak lebih dari wisata sejarah bangunan tua. Tradisi harian mereka pun tidak banyak yang unik, kecuali kebiasaan olah raga di cuaca dingin malam hari.

Maastricht

Maastricht berada di ujung selatan Belanda, lebih dekat dengan Jerman dan Belgia. Kunjungan saya ke Maastricht tidak begitu berkesan, karena dikerjakan setelah lelah keluar masuk toko di Roermond, malam hari dan dingin, singkat cerita saya hanya melintasi jembatan besar diatas air menuju gereja besar di centrum. Mungkin karena Belanda adalah kampunya Philips, penerangan disebagian besar lokasi sangat indah, disesuikan pada warna dan suasana.

**Bersambung: Randstad (Utrecht, Rotterdam, Amsterdam), Leiden dan Delft. Penulisnya mau masak.

Musim Dingin di Benua Biru, 2016.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Eropa, Jalan-Jalan. Bookmark the permalink.

2 Responses to Negeri Air dan Angin

  1. goetzp says:

    Di salah satu gambar ada orang yang nyelip tu mbak. Penulis favorit mbak. Bung Pitor.
    Bener ngak mbak?

    Yang sedang menggenggam botol bir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s