Kita di Jogjakarta

1451725301865

Borobudur dari Pethuk Setumbu

Akan tiba suatu masa ketika teman-teman yang biasa diajak ‘ngebolang’ berkurang; mungkin ada yang sibuk mempersiapkan lamaran atau resepsi pernikahan, ada juga yang menjaga istri menanti lahiran anak pertama, atau mungkin menghabiskan liburan dengan keluarga barunya. Dan ketika masa itu tiba, don’t be panic! Just don’t. Selalu ada cara untuk menghabiskan masa muda dengan – asik dan cihuy.

1451725283164

Keraton Ratu Boko

23 Desember 2015. Keputusan untuk liburan singkat ke Jogjakarta yang tiba-tiba dan tergesa ini, diawali dengan menikmati padatnya tol cikampek, dan menghabiskan 5 jam 30 menit perjalanan dari Jakarta menuju Bandung. Eits ini belum seberapa, perjalanan panjang sesungguhnya baru dimulai, tepat jam 8 malam kami bertiga berangkat menuju kota pelajar melalui jalur selatan.

24 Desember 2015. Geraldine Fakhmi Akbar yang biasa disapa Kumiw (never judge a man by his name, namanya aneh tapi orangnya kasep kok! haha) dan Nadya Nuur Fitrya (Ciko adalah burung beo yang biasa menyapanya, Ade) adalah kakak – adik yang menemani saya berasik-asik cihuy di Jogjakarta. Kami menikmati kebersamaan dalam 82.800 detik perjalanan darat Bandung – Jogjakarta.

Dimulai dengan padatnya Tol Cileunyi, merayap menuju Tasikmalaya, melompat-lompat di Cilacap karena jalan berlubang tanpa akhir, mengejek signage RM Pringsewu yang banyak banget, menyantap bebek 2 porsi, hingga bersabar dengan banyaknya lampu lalu lintas di Jogjakarta Ring Road. Alhamdulillah dapat kami lewati dengan ceria dan aman. Setibanya di Sleman kami hanya istirahat, karena akan melanjutkan perjalanan dini hari menuju Magelang.

1451720589613

Gapura Utama

25 Desember 2015. Berdasarkan informasi senior-guide, kami seharusnya sudah di Pethuk Setumbu 4.30 pagi, jika ingin melihat matahari terbit. Namun, kabut menyelimuti Magelang, akhirnya kami memutuskan untuk shalat subuh di musholla dekat Borobudur. Kemudian melanjutkan jalur menuju Pethuk Setumbu yang kecil dengan lahan parkir yang tidak luas.

IMG_1489

Borobudur dari Pethuk Setumbu

Untuk menuju lokasi pandang kita harus melewati jajaran tangga, beberapa titik cukup terjal, sangat direkomendasikan menggunakan sandal atau sepatu beradial sehingga tidak licin. Sangat disayangkan, pagi ini kami belum diberi kesempatan untuk melihat pesona mentari pagi, cukup dengan Borobudur berkabut. Tapi saya yakin, kumiw cukup puas melihat pesona lain dibalik rok hitam panjang, tak berpuring, super tipis dan menerawang yang dikenakan bule perancis pagi itu, ya kan? man is a man, its normal. haha

Candi Borobudur saat itu ramai sekali, sehingga kami memutuskan untuk melewatkan candi dan bergegas menuju Pasar Beringharjo dan Taman Sari. Matahari siang itu panas membara, seolah cahayanya tidak terfilterisasi dengan sempurna. Saya berkhayal menyeruput cendol manis bergula merah, ketika sadar itu hanya khayalan, kepala saya langsung berdenyut. Saya tidak yakin akan menyelesaikan objek wisata ini seluruhnya, saya hanya penasaran dengan kolam mandi utama untuk selir-selir raja.

1451720857639

Taman Sari

Sebuah kolam yang merepresentasikan sejarah patriarki-feodal yang kental di keraton. Saya bahkan membayangkan apa yang akan terjadi jika pada saat itu feminisme sudah berkembang. Mungkin, untuk menjaga kesetaraan akan dibangun kolam mandi raja, dimana seorang permaisuri menyaksikan sejumlah raja-raja mandi, sebelum akhirnya memilih salah satu untuk disetubuhi.

Objek wisata ini menarik, gang kecil yang harus dilewati untuk menuju kolam utama mirip dengan labirin. Mungkin sebagai simbol kebersamaan antara bangsawan dan rakyatnya. Wisatawan ‘dipaksa’ untuk menyatu dengan budaya lokal, melewati rumah warga yang berantakkan, meskipun cukup bersih untuk dicap sebagai slum area. Seharusnya ada pertukaran informasi, budaya dan tradisi dalam labirin ini, salah satunya dengan interaksi. Sayangnya, labirin ini hanya berfungsi sebagai jalur lalu lintas minim manfaat.

Kami sempat beristirahat di Café Taman Sari sebelum melanjutkan perjalanan mengejar matarari terbenam di Keraton Ratu Boko. Satu pasang kekasih yang berencana menghabiskan liburan di Malang bergabung dengan kami. Singkat cerita Anissa (Ica) dan Andra (entah siapa nama asli Andra, saya lupa, apalah arti sebuah nama, ya kan? Hmm) adalah teman kampus Kumiw. Kami berlima, kelaparan, akhirnya terdampar di Gudeg Yu Djum yang populer, sayangnya makanan khas jawa yang manis ini bukan selera kami, alhasil makan asal kenyang.

1451720600347

Keraton Ratu Boko

Pintu Nirwana adalah sebutan lain untuk Gapura Utama di kawasan ini, konon matahari terbenam yang terlihat ditengah pintu gapura adalah pintu masuk menuju nirwana. Sayangnya, kabut sore menyertai kedatangan kami, cahaya jingga matahari senja luput dari harapan. Suatu hari saya akan kembali, menghabiskan waktu lebih lama untuk menelusuri satu per satu bebatuan yang tersusun indah. Mencari informasi sejarah dan mitos selengkap-lengkapnya karena masing-masing titik menawarkan sensasi sejarah yang penting pada masanya. Kawasan candi ini juga tidak begitu ramai, bersih dan hijau.

1451720871243

Taman Kawasan Ratu Boko

Malam harinya kami mengantarkan Ica dan Andra ke Stasuin Tugu menuju Malang. Setelah itu, Saya dan Kumiw menuju Malioboro untuk bertemu rombongan dari Bandung. Tidak jauh berbeda dengan objek wisata lain, Malioboro penuh dengan wisatawan domestik. Akhirnya, kami hanya berbincang sedikit dipinggir jalan dibawah lampu. Kami memutuskan untuk pulang dan beristirahat untuk perjalanan esok hari, pulang menuju Bandung.

1451720595656

Sayonara Jogjes

26 Desember 2015. Sayonara Jogjes! Perjalanan panjang dalam liburan singkat ini sangat asik dan seru, cukup bermanfaat untuk saling mengenal. Namun, saya (masih) tetap percaya pendakian ke gunung tinggi adalah cara yang tepat untuk melihat karakter dan sifat asli seseorang. Tujuannya bukan untuk menilai dan membatasi diri, hal ini penting untuk mengenal dan menyadari sejak dini, peran dan respon apa yang harus dijalankan untuk menghadapi perbedaan, berdamai dengan ketidaksesuaian, dan tetap bertahan. Finally, everybody is unique, so are we! Selamat tahun baru 2016.

1451714084940

Pose of the year: Meliuk

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Jalan-Jalan. Bookmark the permalink.

5 Responses to Kita di Jogjakarta

  1. journe says:

    hahaha, yu djum enaaak. 😀

  2. Linda Kanda says:

    good job! everybody is unique so are we.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s