Ah Sudahlah

Menjadi diri sendiri adalah sebuah utopis, ketidakmungkinan tanpa batas. Bagaimana bisa menjadi diri sendiri ketika hidup dikekang oleh banyaknya konstruksi sosial budaya, ada banyak batasan, kebosanan dan kejenuhan, dibungkus dengan apik dalam bentuk norma dan aturan, formal tidak formal, semua dipaksa untuk patuh. Kita terbiasa mencontoh, imitasi, tidak punya jati diri yang jelas, bingung, dan akhirnya menjadi sesuatu yang ‘buatan’.

Pada akhirnya, kita menjalankan hal serupa dengan yang ‘mereka’ kerjakan, kita menjadi apa yang ingin ‘mereka’ lihat, menjadi manusia yang haus apresiasi dan reward. Saya membayangkan kehidupan tanpa tujuan, rencana dan batasan, hanya menjalankan apa yang ditemukan pagi hari lalu melupakannya saat malam datang. Namun, saya khawatir, ketika imajinasi ini menjadi kenyataan, kemudian berulang menjadi rutinitas, dan dikerjakan oleh komunal, saling mengingatkan dan mencontoh. Siklus kembali terulang. Menjadi diri sendiri itu, — ah sudahlah.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Jalan-Jalan. Bookmark the permalink.

One Response to Ah Sudahlah

  1. journe says:

    well, i disagree. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s