Wisata Akhir Pekan di Palembang (Kita, Kota dan Cuka)

Jembatan Ampera

Jembatan Ampera (Captured by Kumiw, 2011)

Jumat, 7 Agustus 2015.

Berawal dari kejenuhan atas rutinitas tanpa batas, kami memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan di sebuah kota yang tidak menjadi tujuan utama pariwisata. Awalnya saya dan Qonita (red: Qoni) berwacana ke Timur Indonesia, ternyata harga tiket pesawat mahal tak terjamah. Akhirnya, kami memutuskan ke Barat Indonesia, singkat cerita, mendaratlah maskapai singa berbatik di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II, sesuai jadwal — tumben.

Pada tulisan kali ini, saya tidak akan menceritakan sejarah panjang Kota Palembang, kondisi geografis ataupun hal-hal umum lainnya, karena bisa dicari dengan sangat mudah di dunia maya. Cerita ini saya dedikasikan untuk rekan-rekan yang berhasil menjadi bagian dari kenangan masa muda berkesan di Palembang; Qonita, Faris, Maol dan Harry.

Di Cafe (yang katanya) Paling Gaul di Palembang

Di Cafe (yang katanya) Paling Gaul di Palembang

Hari Pertama, 8 Agustus 2015.

Jembatan ampera menjadi persinggahan pertama, kami duduk di sebuah tempat makan cepat saji yang tidak sehat namun diminati, ka-ef-ci. Tujuan kami adalah Pulau Kemaro, untuk menuju pulau ini kami harus pintar memilih kapal dengan harga yang masuk akal. Meskipun akhirnya kami mengalami konflik dengan salah satu pemilik kapal, karena kami tidak jadi menggunakan jasanya. (Saya: “kok bayar sih Ris?” || Faris: “kalau kita tidak bayar, dikejar, malas ribut”). Kejadian ini menyadarkan saya; “sekarang gue tau kenapa Pariwisata di Sumatera susah maju, ternyata bukan karena infrastruktur, tapi watak dan karakter orang-orangnya susah kompromi, keras.

Pintu Masuk Pulau Kemaro

Pintu Masuk Pulau Kemaro

Di Pulau ini tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan selain berfoto. Kami pun mencoba beberapa gaya foto yang tidak lazim digunakan, salah satunya adalah kayang. Siang itu, matahari menyinari Palembang tepat 90 derajat, panas dan berangin, kami bertiga berjalan acak masuk pulau. Ada legenda cinta yang sempat saya baca di pintu masuk menuju tempat sembayang. Intinya, ada pengorbanan cinta yang berujung pada kematian kedua sejoli (kisah lengkapnya bisa browsing ya).

Kayang di Kemaro

Kayang di Kemaro

Satu hal yang saya simpulkan dari banyaknya legenda cinta, seperti kisah Romeo Juliet ataupun kisah Siti Fatimah dan Tan Bun Ann di Pulau Kemaro; jangan pernah mempersulit keadaan jika memang sudah menemukan cinta, jangan drama dan jangan kebanyakan teka-teki, cukup sampaikan dan abadikan dalam ikatan yang jelas. Karena penundaan kerap kali menghasilkan pembelajaran dan pengalaman yang tidak menyenangkan, berpisah sebelum sempat bersatu, misalnya — hehe.

Qonita, Faris dan Saya di Pagoda

Qonita, Faris dan Saya di Pagoda

3600 detik berlalu dengan asik, kami berfoto akrobatik, bercerita lepas dan ketawa tanpa makna, yang pasti menyenangkan, meskipun panas. Pejalanan kami lanjutkan dengan wisata sejarah ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, berlokasi tepat dipinggir sungai dengan panjang 460 km yang membelah Provinsi Sumatera Selatan dari Timur ke Barat, Sungai Musi. Kami ditemani oleh seorang sejarawan renta, namun ilmu yang ia sampaikan sangat informatif dan edukatif. Hampir 90 menit kami habiskan di bangunan bergaya belanda itu, sejarah mengalir dari terklasik sampai kontemporer, lengkap.

Tourist Guide di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Tourist Guide di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Kriuk kriuk kriuk — kami lapar, sesuai rencana kami menyantap martabak yang sudah berdiri sejak 7 Juli 1947, Martabak Har, rasanya sangat unik, yang pasti enak, susah untuk menarasikannya, yang pasti sekali mencoba mau lagi, lagi dan lagi. Tidak lama, bergabunglah 1 lagi rekan perjalanan, Maol Siloam. Pertama kali melihat sosoknya, sebuah lagu spontanitas berputar di benak saya:

Buffalo soldier dreadlock rasta || There was a buffalo soldier in the heart of America || Stolen from Africa, brought to America || Fighting on arrival, fighting for survival — Buffalo Soldier, Bob Marley.

Martabak Legendaris

Martabak Legendaris

Bercengkrama singkat dan santai, akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Bukit Siguntang. Faris dan Maol yang sudah sejak lahir di Palembang, pun belum pernah berkunjung ke lokasi bersejarah ini, saya semakin penasaran dibuatnya. Setibanya disana, ternyata bukit ini adalah taman tempat anak-anak remaja pacaran, duduk berdua-duan di bangku taman, dan lokasi untuk foto prewed. Taman ini tidak terawat, kusam dan panas, akhirnya kami langsung ke tujuan utama, menuju ke makam kerajaan melayu kuno, total terdapat 8 makam. Setelah puas mendengarkan cerita juru kunci, kami memutuskan untuk duduk dan berfoto, kemudian muncul ide lainnya, yaitu berjoget ditengah keramaian Jembatan Ampera. Kapan lagi kan, once in a life time, toh tidak ada yang mengenali kami, kan?

Bukit Siguntang

Bukit Siguntang

Romansa kota begitu terasa karena keliling kota kali ini dilakukan bersama vespa angkatan 65, korosi dan unik. Berjalan perlahan menuju lokasi makan pempek, sambil diselingi ketawa ketiwi lepas, big thanks to Maol & Faris. Sambil menunggu malam minggu tiba kami menyantap sekenyang mungkin makanan tradisional khas Palembang ini, cukanya enak dan pedas.

Keliling Kota dengan Vespa Angkatan 45

Keliling Kota dengan Vespa Angkatan 65

Selepas menjalankan ibadah maghrib, kami sempat melewati Kantor Walikota Palembang atau lebih dikenal dengan Kantor Ledeng. Bangunan yang sejak 1821 – 1931 digunakan sebagai menara air ini sangat antik dan pencahayaan malam hari menambah kesan tua dan klasik. Sayangnya, saya tidak sempat mengabadikan dalam camera, karena prinsipnya apa yang enak dimata tidak semua harus diabadikan dalam camera, kan.

Vespa Angkatan 65

Vespa Angkatan 65

Malam minggu di sekitar Benteng Kuto Besak (BKB) ternyata ramai sekali, bahkan ada beberapa satpol pp yang sengaja berada di pelataran pinggir sungai untuk menjaga ketertiban. Disanalah, saya dan Qoni beraksi, kami izin ke satpol pp dengan alasan rekayasa, tugas seni dari kampus, yaitu joget berlatar jembatan ampera. Berbekal urat malu yang sudah putus, kami joget asal tanpa musik ditengah keramaian, direkam dan berdurasi tidak lebih dari 5 menit. Maol juga berkontribusi, menjadi batu ditengah, tanpa joget, tanpa ekspresi, hanya diam berdiri ditengah. Faris? seperti biasa, juru kamera, yang siap merekam apa saja yang kami mau, dia sih apa aja mau, hehe.

Siap Gerak - Satpol PP Jembatan Ampera

Siap Gerak – Satpol PP Jembatan Ampera

Karena kami tidak tahan dengan hiruk pikuk pesta rakyat, kami memutuskan untuk segera kembali ke hotel dan beristirahat. Bayangkan, malam minggu, jam 20.30 WIB sudah duduk cantik siap tidur di hotel, kalau di Jakarta, ini baru keluar rumah — gaya, haha. Hari pertama yang melelahkan dan sangat berkesan, di penghujung hari, saya yang asik bercerita ternyata ditinggal tidur oleh Qoni, si pelor, nempel molor, sebel.

Hari Kedua, 9 Agustus 2015.

Hari ini dimulai cukup siang, saya dan Qoni bermanja-manja di hotel, sarapan, nonton tv dan sibuk dengan gadget masing-masing. Tiba-tiba, pesan singkat dari Faris mengingatkan bahwa liburan kami harus segera dilanjutkan (jadi dia yang semangat ya). Karena Maol ada kesibukkan di bengkel, kami kurang 1 kendaraan, keberuntungan berpihak, teman saya 1 lagi bergabung, Harry. Kami berkumpul di Mie Celor 26, mie dengan rasa yang sangat khas, enak sekali, saya hampir saja menyantap 2 porsi. Sebelum melanjutkan perjalanan kami mampir di Pempek Aan, untuk membeli oleh-oleh, rasa cukanya enak, jauh lebih enak dari yang sebelumnya kami coba, dan harganya masuk akal.

Mie Celor 26 dan Bewok

Mie Celor 26 dan Bewok

Hari ini kami membebaskan diri, karena tujuan wisata sudah ‘dihabisi’ hari pertama. Jadwalnya ke Museum Balaputera Dewa, namun hari sudah terlalu sore, museum tutup tepat jam tiga sore. Saya mencoba menelpon sepupu yang sudah berdomisili belasan tahun di Palembang, sebelum ke rumahnya, kami mampir di Outlet Nyenyes, sebuah toko baju yang menjual baju dengan design modern dan kreatif. Saya membeli baju kaos lengan panjang yang terkesan promosi diri; “Calon Menantu Ideal adalah Wong Palembang” — hipotesa asal: Saya Wong Palembang, jadi Saya Calon Menantu Ideal. Semoga dengan membeli baju ini, saya bisa jadi — ya begitulah, hahaha.

Outlet Nyenyes; Calon Menantu Ideal adalah Wong Pelembang - hehe

Outlet Nyenyes; Calon Menantu Ideal adalah Wong Pelembang – hehe

Menjelang senja, kami berkunjung ke rumah sepupu saya, bertukar cerita, mendengrkan banyak wejangan, dan menghabiskan makanan yang disediakan. Ada banyak pesan kehidupan yang kami dapatkan, dan sepertinya ada banyak rencana yang ingin teman saya kerjakan, ya kan Harry? Sedikit berkisah, Harry adalah tetangga saya, teman dari orok, kami TK, SD, dan SMA ditempat yang sama. Kemudian dia melanjutkan kuliah di Bandung dan kerja di Palembang, pertemuan kali adalah yang pertama sejak kelulusan SMA, itung-itung reuni.

Harry Kurniawan

Harry Kurniawan

60 menit sebelum maghrib kami menuju ulu, untuk shalat maghrib di Masjid Ceng Ho, sebuah tempat ibadah umat muslim yang bergaya arsitektur khas Cina. Awalnya kami berencana ke Stadion Jakabaring, sebuah tempat olah raga modern, sengaja dibangun untuk menyambut Sea Games tahun 2018, yang menyebabkan sejumlah pejabat terlibat kasus dan mendekam di penjara. Rencana ini kami tunda, karena sudah gelap. Kami mengalihkan tujuan ke Taman Pelangi, sebuah taman yang dihiasi banyak lampu-lampu, yang katanya hanya ada 2 di Indonesia, satu lagi ada di Makassar. Setibanya di pintu masuk, kami ‘ditolak’, taman ini tutup karena renovasi, sedikit kecewa.

Masjid Ceng - Ho

Masjid Ceng – Ho

Untuk mengobati kekecewaan kami, Harry merekomendasikan tempat makan pindang enak dengan harga miring, sesampainya di pintu masuk, kami kembali ‘ditolak’, rumah makan itu tutup. Alhasil, terdamparlah kami dengan rasa lapar tingkat dewa, di sebuah tempat makan legendaris, Pindang Musi Rawas. Jika saya lukiskan dalam 1 kata, pidang disini itu surga, kuahnya? Meraba lidah dengan cita rasa khas Sumatera, menjalar ke sistem pencernaan dengan sangat mulus, saya rasa tempat ini akan sangat saya rindukan nantinya.

Pindang Musi Rawas

Pindang Musi Rawas

Perjalanan belum berakhir, kami menuju Cafe and Resto yang katanya paling gaul se-Palembang. Disana kami menguasai panggung, karena tempat ini menyediakan live music. Harry yang memang berbakat dengan suara indahnya berhasil menyanyikan tidak kurang dari 5 lagu, 1 lagu duet dengan Qoni — nambah lagi diusir sih, fixed. Menjelang tengah malam, Maol kembali bergabung. Kami berlima, anak muda yang bebas tanpa beban, tertawa lepas tanpa batas, cerita ini itu, bahagia dan lupa waktu. Saya dan Qoni sengaja, totalitas di hari terkahir, besok senin? bodo amat, besok kerja? ia terus kenapa?

Judulnya saja wisata akhir pekan, jadi ketika pekan sudah berakhir, begitu pula wisata kami. Perpisahan singkat, dengan 3 teman yang sudah rela (rela ga sih? rela dong ya!) menemani, mengawal dan sabar menghadapi keanehan kami ditutup dengan rencana untuk berjumpa lagi disuatu tempat, yang entah dimana dan entah kapan, biarkan mengalir apa adanya, jika ada kesempatan kita pasti berjumpa lagi, kan ya?

No Caption Needed

No Caption Needed, Palembang 2015

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Jalan-Jalan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Wisata Akhir Pekan di Palembang (Kita, Kota dan Cuka)

  1. Yangga says:

    Di Alinea ke 5 lo curcol yah wen… wkwkwkwkwkwk

  2. journe says:

    hahahaha…so much fun. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s