Serba Ibu

Wuaaaat wuatita wuaaat

Anak berusia tidak lebih dari 36 bulan berlari ceria, di sebuah tempat makan di Selatan Jakarta. Berlari sesuka hati, berceloteh tanpa makna, tertawa lepas tanpa beban. Ibunya, duduk santai, makan bakmi, minum teh manis, menggoyangkan kaki, sesekali melirik anaknya. Jika anak sudah jauh dari jangkauannya, sesorang berbaju seragam akan bergegas, menjalankan tugas. Ibu Muda di Ibu Kota, berkecukupan.

Nymmm huaaaachi haaaatchi

Anak berusia tidak lebih dari 3 tahun, bereaksi spontan atas debu yang bertebaran di jalanan. Berwajah biasa saja, tidak tertawa, tidak juga berduka, ia hanya lelah dengan kondisi yang terpaksa ia terima. Ibunya, dengan segera membersihkan hidung anaknya yang mulai dialiri cairan asin, menggendong penuh cinta, sesekali diusap dan dicium pipi dan kening anaknya. Ibu Muda di Ibu Kota, secukupnya.

Pergeseran peran atau penyangkalan? Tapi, apasih peran ibu? Siapa yang menentukan? Konstruksi sosial, bawaan budaya, atau ajaran agama? –ah sudahlah, toh yang berceloteh ini juga belum pernah jadi ibu.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Jalan-Jalan. Bookmark the permalink.

One Response to Serba Ibu

  1. journe says:

    haha..ribet ya klo dipikirin, krn konsep ibu tiap org mungkin beda-beda. ya sepakat, mungkin saat kelak nanti kamu jadi ibu, akan byk proses menghapus dan menulis ulang konsep dan definisi yg kamu yakini skr.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s