Terjerat Rutinitas

Menjelang malam di perbatasan antara Jakarta Pusat dan Jakarta Utara

Seperti biasa, mobil jemputan kantor sudah siap mengantarkan para pekerja ke stasiun kereta terdekat. Seperti biasa, saya memilih kursi pojok  kiri paling belakang, tempat terasing. Bukan tidak mau bersosialisasi, saya lebih suka menghabiskan waktu untuk sedikit merenung, memikirkan banyak hal secara acak.

Seperti hari ini, bulan tidak sabit tidak purnama, tidak juga bulat sempurna, sekilas melihat, saya tidak berminat.

Saya mengalihkan pandangan ke ufuk barat, masih jingga hampir gelap, sekilas melirik, saya tidak tertarik.

15 menit berlalu, tibalah saya di peron kereta stasiun jayakarta. Saya sengaja menghitung jumlah anak tangga, total 48 anak tangga yang dibagi menjadi 3 bagian, 16 anak tangga untuk setiap bagiannya. Beberapa kali saya sering melihat orang tua renta, ibu hamil dan orang – orang dengan kebutuhan khusus, menapaki satu per satu anak tangga, melihatnya saja sudah lelah. Namun begitulah negeri ini, aksesibilitas terbatas.

Setelah di kereta tantangan lainnya menanti untuk dilewati; antrean signal masuk stasiun gambir, kereta berhenti tanpa alasan pasti, dan rusuhnya penumpang yang memaksa (atau terpaksa) untuk masuk gerbong. Saya masih harus terpaksa (atau dipaksa) bersyukur karena sudah keluar dari ‘gerbong sarden’ di stasiun cikini, tepat di stasiun yang paling suram, dimana ratusan orang berebut tempat.

Biasanya, saya berkontemplasi sedikit di stasiun cikini, sepintas memperhatikan orang-orang yang dengan beragam profesi, yang lelah, yang jenuh, yang bosan, yang masih saja bertahan dengan rutinitas ‘terkutuk’. Apa yang mereka (kami) cari? Bahagiakah mereka (kami)?

10 menit berlalu, perjalanan saya masih ‘panjang’, saya harus berkutat dengan kopaja modern (kopaja ac). Berjalan perlahan di jalur khusus, membiarkan bus trans jakarta mendahului, dan berhenti lama di beberapa titik, menanti penumpang dalam ketidakpastian.

Total waktu yang saya habiskan dalam perjalanan pulang ibadah (kataNya kerja adalah ibadah) tidak kurang dari 90 menit. Saya kalkulasikan; “wah gawat juga kalau masa muda gue, harus habis dijalanan ibu kota, dengan pendapatan yang tidak seberapa“.

Lagi lagi keluhan, semoga dari banyaknya keluhan akan lahir banyak solusi dan ide-ide cemerlang untuk menjalani hidup lebih berwarna, bermakna dan bermanfaat. –sebenarnya ini bukan keluhan, ini hanya cerita lepas, jadi, mungkinkah lahir ide? –ah sudahlah.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Sosial. Bookmark the permalink.

4 Responses to Terjerat Rutinitas

  1. journe says:

    ada minat jadi penulis? entah cerpen atau novel, krn kurasa kamu berbakat. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s