Social Tourism di Eropa (Review)

social tourism

Tourism for All

Bekerja di perusahaan berbasis nasional ternyata memberikan banyak waktu luang untuk saya mengerjakan hal-hal yang seru dan penting, misalnya membaca dan menulis, yang merupakan hobi paling seru setelah jalan-jalan. Ketertarikan saya dengan Dunia Pariwisata dimulai tahun 2009, dan pada tahun yang sama saya sangat tertarik dengan konsep Welfare State.

Seiring berjalanya waktu, saya mencoba berimajinasi bagaimana kegiatan pariwisata berlangsung di sejumlah negara-negara yang mengaku sebagai Welfare State. Lebih dari itu, saya membayangkan program seperti apa yang dijalankan negara-negara tersebut untuk memberikan kesempatan berwisata yang sama bagi semua warga negaranya. Mungkin artikel ini bisa menjadi salah satu jawaban, meskipun demikian, saya masih belum puas dengan definisi dan implemantasinya. Mungkin suatu hari, harus riset langsung ke negara-negara tersebut, sekalian jalan-jalan – hidden agenda!

 What is social tourism? Lynn Minnaert , Robert Maitland & Graham Miller (2011) What is social tourism?, Current Issues in Tourism, 14:5, 403-415, DOI: 10.1080/13683500.2011.568051

Artikel ini menerangkan definisi dan implementasi dari konsep Social Tourism di Eropa. Dalam tulisan kali ini saya akan berbagi pemahaman terkait hal tersebut. Konsep ini banyak dijalankan di Welfare State.

Ada banyak cara yang dijalankan Welfare State untuk memberikan pelayanan maksimal ke seluruh warga negaranya. Namun, hal ini ternyata menimbulkan permasalahan lain dalam kaitannya dengan anggaran sosial, hingga akhirnya pemeritah (UK) memberikan kesempatan kepada Local Communities untuk menggunakan pendekatan apapun dalam menyelesaikan permasalahan sosial di komunitasnya.

Singkatnya kebijakan ini memberikan keleluasaan komunitas local untuk mendefinisikan dan menyelesaikan masalah sosialnya sendiri, sehingga peran pemerintah akan sangat minim, hal ini juga dapat menghemat anggaran sosial sekaligus memastikan bantuan yang diberikan tetap sasaran sesuai kebutuhan.

Definisi dan Interpretasi

Rekreasi sudah menjadi kebutuhan pokok dan menjadi salah satu indikator kesejahteraan setiap individu di sejumlah welfare state, sehingga kebutuhan ini juga masuk dalam anggaran sosial. Di Eropa, kebutuhan rekreasi dan kegiatan pariwisata untuk warga negaranya menggunakan konsep Social Tourism yang diinterpretasikan ke dalam 4 model, yang akan lebih mudah jika dilihat pada bagan berikut;

Bagan - Social Tourism Model

Bagan – Social Tourism Model

Participation Model Pendekatan ini untuk meningkatkan partisipasi masyarakat low-income dan disadvantaged-people dalam pariwisata. Contohnya adalah Center for Holiday Participation di Flanders, Belgia. Lembaga ini menurukan tarif akomodasi dan biaya objek wisata dalam bentuk diskon, kerjasama yang dilakukan berbasis sukarela dari sektor swasta sebagai bagian dari CSR. Program ini terbatas untuk produk standart untuk para wisatawan dari low-income group yang telah diverifikasi oleh social member organization.

Example: Participation Model

Example: Participation Model

Inclusion Model Pendekatan ini berlaku untuk semua golongan masyarakat, contohnya adalah Cheque Vacances (Holiday Voucher) di Perancis. Perusahaan memberikan kesempatan kepada karyawannya melakukan regular saving untuk kegiatan liburan. Selain itu, perusahaan dan organisasi sosial memberikan pengurangan pajak dan social contribution sebagai bentuk subsidi dari negara.

Example: Inclusion Model

Example: Inclusion Model

Adaptation Model  Pendekatan ini berlaku untuk disadvantaged-people dan orang-orang berkebutuhan khusus (disabilities). Contohnya adalah Break di UK, program ini memberikan keringanan biaya untuk keluarga yang memiliki anak dengan kebutuhan khusus, setengah dari biaya liburan akan ditanggung oleh lembaga amal. Contoh lainnya adalah National Benevolent Fund for the Aged di UK untuk para lansia, Fondation de France di Perancis untuk orang-orang dengan penyakit menahun (long-term illness), One Parent Families di UK untuk single parent, dan  Teenage Parent di Belgia.

Example: Adaptation Model

Example: Adaptation Model

Stimulation Model  Pendekatan ini yang paling khusus dari semua pendekatan yang ada, contohnya adalah IMSERSO di Spanyol. Program ini didedikasikan untuk para lansia dengan membayar 70% dari biaya liburan, sedangkan 30% ditanggung pemerintah. Selain itu pendekatan ini juga yang akhirnya memberikan interpratasi baru tentang Social Tourism; ‘Tourism for All’ dan ‘Solidarity Tourism’.

Example: Stimulation Model

Example: Stimulation Model

Dari semua pendekatan diatas, artikel ini menyimpulkan definis Social Tourism;

Tourism with an added moral value, of which the primary aim is to benefit either the host or the visitor in the tourism exchange

Justifikasi

Social tourism a right or a luxury? Setelah munculnya definisi Social Tourism yang memberikan nuansa nilai moral, ada sejumlah perdebatan apakah Social Tourism sebagai a right atau a luxury. Perdebatan ini didasarkan kepada adanya perbedaan peran pemerintah dalam 2 kategori besar Society di beberapa welfare state; (1) Individualized Society dan (2) Socialized Society.

Potential impact; socio-economic Dalam artikel ini dijelaskan bahwa social tourism memberikan manfaat baik bagi penerima bantuan maupun host communities yang menjadi lokasi liburan. Secara sosial meningkatkan kepercayaan diri, mempererat relasi sosial. Sedangkan pada sisi ekonomi, memberikan manfaat berkelanjutan untuk pekerjaan semua pihak di lokasi wisata pada low season dan memberikan generate income.

Kesimpulan

Artikel akademis ini sudah menjelaskan banyak tentang definisi dan implementasi dari social tourism di Eropa. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan dan perbedaan pada interpretasi dan motivasi dari social tourism. Untuk penerima bantuan (the beneficiaries) dari program social tourism, apakah untuk masyarakat yang menikmati liburan (tourist) atau untuk masyarakat di lokasi liburan (host-communities). Akhirnya, hal ini menjadi kesempatan dalam industri pariwisata untuk tetap menjaga dan meningkatkan pendapatan pariwisata pada low season, dilain pihak menjadi nilai positif untuk pemerintah dalam kaitannya dengan anggaran sosial, yang lebih penting menjadi solusi alternatif untuk targeted group menikmati liburan dan berekreasi sebagai salah satu indikasi kesejahteraan hidup.

World Tourism

World Tourism

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Beasiswa, Sosial and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s