Selamat Pagi Neng

Tulisan kali ini saya dedikasikan untuk penjual tanaman hias pinggir jalan di Selatan Jakarta yang selalu bersemangat memulai harinya. Jakarta selatan dapat dikategorikan sebagai Jakarta yang paling manusiawi, lebih bersahabat jika dibandingkan daerah lainnya di Ibu Kota. Namun, Jakarta tetap Jakarta, begitulah.

Pinggir Jalan - Selatan Jakarta

Pinggir Jalan – Selatan Jakarta

Pagi ini adalah hari terakhir saya bekerja di daerah ini, resign? tidak, hanya pindah tugas ke kantor pusat. Setiap pagi, bapak penjual tanaman hias ini selalu menyapa saya dengan kalimat serupa lengkap dengan senyumnya, orang tua yang bersahaja. Sama halnya dengan pagi ini, dari nada bicaranya saya yakin bapak ini asli dari Tanah Pasundan, sunda pisan. Karena ini adalah hari terakhir, saya mampir sebentar ke gubuk sederhananya, dan berbincang singkat, berpamitan.

[Bapak: Selamat pagi, jalan neng? ke kantor yah, semangat neng] – [Wenty: Pagi Pak, semangat Pak nyiram bunganya] — lalu kami tertawa lepas bersama.

Bapak ini tinggal di Warung Jati, setiap pagi anak lelakinya mengantar sang ayah ke ‘kantor’ sederhananya. Aktivitas pagi, diawali dengan menyiram tanaman hias, menyapu jalanan, membuat kopi, lalu bersantai menikmati hari. Kegiatan ini berlangsung hingga senja menyapa Jakarta, terulang setiap harinya, dan beliau bahagia.

[Bapak: Bahagia itu apa adanya neng, bersyukur atuh dengan apa yang gusti Allah berikan]

Kantor Sederhana

Kantor Sederhana

Percakapan kami tidak lama, jam masuk kerja membatasi saya dan bapak untuk berbincang lebih panjang. Ada banyak pembelajaran melalui pesan-pesan singkat yang bisa didapatkan dari kehidupan bapak ini, meskipun usia sudah lanjut, semangatnya jauh melampaui anak muda. Singkat kata bahagia itu bukan hanya tentang hal-hal terhitung, bahagia itu pola pikir. Saya menyimpulkan sendiri nilai moral dari perjumpaan singkat setiap pagi dengan beliau;

Manusia dilahirkan ke dunia dari pembuahan sel telur oleh sperma terpilih, kemudian berkembang menjadi darah dan daging yang disempurnakan dengan akal pikiran, tanpa apa-apa.

Jika ternyata lahir di keluarga yang punya apa-apa, itu rejeki yang Tuhan titipkan, itu amanah. Jika terlahir lebih sederhana itu juga rejeki dari Tuhan, lebih bernilai karena diberi kesempatan untuk membuktikan kebenaran firman-Nya;

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ”

Untuk Bapak yang selalu bersemangat menjalani harinya; “Semoga Allah memberikan keberkahan hidup, kelancaran menjalani aktivitas dan selalu dalam lindungan-Nya, aamiin. Sampai jumpa lain waktu, Pak Mamat, sayonara“.

Selamat pagi Pak Mamat!

Totalitas Hari Tua

Juni 2015, beres-beres pindah kantor.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Sosial and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s