Connecting The Dots

Connecting The Dots

Connecting The Dots

Again, you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backward. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future. You have to trust in something — your gut, destiny, life, karma, whatever. This approach has never let me down, and it has made all the difference in my life,- Steve Jobs.

Pidato Steve Jobs di Stanford selalu membuat saya bersemangat memulai hal-hal baru, dalam segala hal. Kali ini adalah tentang menggapai cita-cita yang sudah direncanakan sejak pertama kali mencicipi pendidikan di Perguruan Tinggi. 2010 adalah tahun pertama saya mengenal IELTS, dimulai dengan IELTS Preparation di FIB UI. Singkat, jelas dan benar-benar menguras pikiran. Karena tugas mata kuliah di tahun pertama bukan hal yang ringan. Test terakhir, band 6, cukup lumayan untuk sebuah permulaan.

5 tahun berlalu, ternyata rasa penasaran saya tidak berkurang, terlebih sudah banyak teman-teman yang berpergian ke seluruh penjuru dunia untuk sekolah lanjutan, post graduate. Akhirnya saya memilih, IALF Jakarta sebagai jembatan untuk “connecting the dots“, kali ini targetnya band 7 dan tidak ada score dibawah 6.5 untuk setiap sesinya, Insyaallah. Kelas yang saya ikuti adalah IELTS Preparation 20, dimulai dari 24 Februari 2015 sampai 27 Maret 2015, 50 jam yang sangat memuaskan.

Simon Hotchkiss

Simon Hotchkiss – Teacher

Persiapan ini lebih banyak fokus di Academic Writing, contoh soal dan jawaban yang diberikan juga tidak sesedehana yang saya bayangkan. Namun, tidak sesulit jurnal-jurnal internasional yang biasa digunakan saat kuliah, meskipun demikian 2 tahun bolos dari kegiatan menulis dan membaca membuat saya menunda tes ini dari April ke Juni, the more you study, the more you learn, but the less you confident — postpone!

Tulisan kali ini, bukan untuk membahas materi ataupun hal-hal yang berkaitan dengan IALF Jakarta dan kegiatan bisnis pendidikannya. Saya akan mendedikasikan cerita singkat ini untuk teman-teman yang selama 50 jam selalu membuat saya berfikir; everybody is unique. Untuk memudahkan dimulai dari foto dibawah ini.

Hari Terakhir di IALF Jakarta

Hari Terakhir di IALF Jakarta

Wintri. Terima kasih kepada Pak Wintri yang sudah memberikan tumpangan sampai Mampang dengan selamat, saya baru tahu nama Bapak pada minggu-minggu terakhir di IALF, hehe. Selain itu, untuk cerita tentang keluarga, pendidikan dan beberapa hal tentang pekerjaan dan cita-citanya untuk melanjutkan kuliah ke New Zealand, semoga dilancarkan, terima kasih sudah berbagi cerita. Kesimpulan dari kisahnya, wanita itu lebih dewasa berfikir dari pria-pria seusianya, jadi kalau mau cari pasangan yang lebih tua ya Pak? hahaha #intermezzo

Rima. Hallo kakak ternyata kamu teman Kak Asty ya? Pertama kali membaca namanya di absensi, saya yakin pasti anak ketiga (Gayatri: Gaya – Tri). Orangnya baik, ceria dan bersemangat, meskipun semangatnya fluktuatif — hehe. Good luck buat rencana studi ke UK nya. Semoga dilancarkan proses menuju kampus impiannya, beasiswa dan semua tentang kehidupan kedepannya, aamiin. Faris, ganteng ya, tapi sayang masih kecil hahahah

Aziz. Beberapa kali melakukan pendakian ke gunung-gunung di Pulau Jawa bersama anak-anak FT UI saat kuliah membuat saya men-generalisir bahwa semua cowok teknik itu ceplas ceplos, berantakkan dan semau-mau. Ternyata ada juga yang ramah, sopan dan santun — eitts. Jangan lupa kalau  anterin ibu-nya ke Thamrin City, bawain oleh-oleh jilbab haha. Semoga lancar ke US atau ke UK nya.

Elvira. Setiap jumat ke selasa, saya mengamati gerak-gerik sejumlah teman-teman di kelas, yang satu ini tidak pernah ketinggalan untuk berfoto dan mengirimkannya ke — mungkin orang terkasih, hehe. Orang pertama yang tertawa mendengar beberapa kali lelucon aneh saya adalah Elvira, lelucon apa aja dia pasti ketawa, entah leluconnya yang emang lucu, atau sense of humor dia yang sulit dikategorisasi, ya begitulah — haha. Semoga segera dihalalkan hubungan dengan yang terkasih, jadi kalau mau belanja bisa lebih bebas, mau apa aja okeeeh, hahaha. Lancar buat rencana studi ke UK nya, aamiin.

Oliv. Hal pertama yang telintas dibenak saya ketika mendengar nama ini adalah tokoh kartun Popeye. Dari semua anggota IELTS prep 20, Oliv adalah yang paling unik, cara berbicaranya yang apa adanya, gaya merekok yang khas dengan kadar ’emisi’ rokok lebih banyak yang dibuang dari yang dihisap, hehe. Sampai hari terkahir, perbincangan di Busway saya tidak juga mengetahui apa tujuan Oliv mengambil IELTS Prep, ya apapun goals nya semoga dilancarkan pencapaiannya. Good luck, Oliv.

Pientha. Guru matematika kadang judes ya — kalau kata Simon ini yang disebut dengan over-generalized. Sekilas lebih mirip guru kesenian daripada guru mata pelajaran eksakta ter-membosankan sejagat raya haha. Awalnya saya kira Pienta adalah guru les biola atau kelas vokal, karena suaranya rentan bangus kalau dilatih, atau mungkin memang hobi menyanyi. Selamat berjuang untuk rencana studinya Ibu, guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, semoga selesai menempuh paska sarjana, bisa tetap mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa dalam bidang matematika, yeaaaay. Good Luck.

Rima - Pientha - Elvira dan Pak Niko

Rima – Pientha – Elvira dan Pak Niko

Mba Mel. Orangnya sistematis, beberapa kali sekelompok, dia tidak akan melewatkan satu pun pertanyaan tanpa penjelasan; “kamu nemuin jawaban itu di paragraf berapa? aku jawab ini, karena di paragraf …dst”. Kedepannya jika bertemu lagi, orang yang akan paling lama saya ajak berbicara adalah Mba Mel, entahlah, penasaran aja hehe 🙂

Mba Nur. Semangat belajarnya sangat kuat, meskipun dalam setiap pertemuan Mba Nur adalah yang paling lelah, hal ini terlihat sepintas dari wajahnya. Setiap sekelompok akan selalu ada nasihat yang keluar dari setiap perbincangan, tentang cara belajar, tentang sekolah dan tentang hidup. Semoga rencana studi lanjutannya bisa berjalan lancar sesuai harapan, tahun depan ya Mba? — Kalau kata Dian Sastro, anak yang cerdas hanya dihasilkan dari Ibu yang cerdas. Good luck Mba.

Jefri. “IELTS yang Cambridge aja, ESOL cukup itu — sample answer simon ini bagus dipelajarin pattern nya — lo rekapitulasi ya apa semua jenis writing udah diajarin sama Simon” — sejumlah cuplikan-cuplikan singkat perbincangan dengan Jefri yang membuat saya semangat melahap IELTS Cambridge 1-9, dari semangat sampai jenuh, muak dan akhirnya bosan haha. Ini serius, saya pernah seketika mual (red: Butterfly Effect) ketika melihat lembaran-lebaran IELTS test. Overall, semangat buat Jerman nya, kirain lanjut buat Monash, hehe, good luck Jeffffff.

Pak Adri. Meskipun sudah bapak-bapak tapi perbicangan dengan Pak Adri selalu bernuansa anak muda, beberapa kali leluconnya meskipun tidak lucu, tetapi tetap bisa membuat saya tertawa. Semoga segera menjadi permanent resident di negara tujuan, jika suatu hari bertemu lagi, jangan lupa teraktir lagi ya Pak hahaha.

ILETS Prep 20 - IALF Jakarta

ILETS Prep 20 – IALF Jakarta

Pak Niko. Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang Pak Niko, karena hampir setiap berkelompok dengan Pak Niko adalah sesi writing, jadi saya lebih serius dengan materi hehe. Semoga Pak Niko dan istri segera dikaruniai buah hati dan lancar semua rencana pendidikannya, aamiin.

Pak Mandiro. Sama dengan Pak Niko, tidak banyak interaksi yang bisa saya amati tentang Pak Mandiro. Yang pasti semangat belajar Pak Mandiro untuk materi reading dan listening harus ditingkatkan, heheh. Semangat Pak.

Luthfi. Kadang lucu kadang jayus, giant — tinggi-nya mungkin hampir 180cm komposisi yang pas untuk orang-orang yang bekerja di bagian keuangan, kalau tidak berhati-hati bisa buncit hahah. Biasanya orang seperti ini enak buat diajak bercerita, meskipun orangnya susah fokus, akan banyak distraksi-distraksi, mungkin ya haha. Good luck buat OJK dan segera menemukan alasan yang jelas kenapa ikut IELTS Preparation, traktirnya tetap jadi pembahasan yang belum terselesaikan, ya! hahaha

Dinner Dinner Dinner

Dinner Dinner Dinner

Jovi & Kaniya. Untuk 2 orang yang sulit saya amati dan jelaskan, karena interaksi dengan kalian terhitung sedikit dalam 50 jam kemarin. Semoga ada kejelasan untuk semua isu-isu dan kabar yang beredar hahaha, semangat adik-adik, kalian muda liar dan unyu — apasih hahaha. Good luck for … everything 🙂

Do What You Love and Love What You Do

Do What You Love and Love What You Do

Sebagai penutup tulisan ini, berikut (lagi) cuplikan pidato Steve Jobs yang juga menjadi penyemangat untuk mengejar mimpi-mimpi. Stay Hungry! Stay Foolish!

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking. Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary,- Steve Jobs.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Beasiswa, Sosial and tagged , . Bookmark the permalink.

One Response to Connecting The Dots

  1. hanna maria says:

    mba… fb nya ngga bs kbuka yaah… bisa minta pin / wa nya?hihiiii
    makasi ya… sy baca travelingnya…manteeep 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s