Paket Wisata Nostalgia (Kenangan dalam Kerangka ‘Kapitalis’)

“Memory Trips” or “Personal Memory Tourism” menjadi konsep teoritis yang membuka tulisan kali ini. Hal ini saya dapatkan pada sebuah Jurnal International: An International Jounal of Tourism Space, Place and Environment.

Pada jurnal tersebut mengkombinasikan beberapa disiplin ilmu dalam mendefinisikan ‘memory’. Salah satunya, ‘Episodic Memory’ atau lebih dikenal ‘Mental Time Travel’, merupakan kondisi ketika ingatan mengulang kejadian-kejadian atau pengalaman yang pernah terjadi dalam kehidupan kita di masa lalu. Dalam hal ini ‘Memory Trip’ dianggap sebagai simbiosis antara ‘actual travel’ dan ‘mental time travel’ yang akan menghasilkan memory baru dari trip yang dilakukan, past and new experience. Intinya terjadi rekonstruksi memori dalam sebuah perjalanan untuk menghasilkan memori baru.

Contohnya, ketika saya melakukan pendakian kedua kalinya ke Gunung Lawu. Pada saat itu, kejadian yang terjadi tidak benar-benar membawa saya pada kondisi yang sama seperti pendakian yang pertama. Namun, terjadi rekonstruksi ingatan tentang pendakian pertama dan konstruksi ingatan baru tentang pendakian yang kedua. Sehingga, menghasilkan memori tentang pendakian baru (kombinasi past – new experience). Kurang lebih begitulah pemahaman singkat saya tentang jurnal tersebut. Meskipun demikian, penelitian jurnal dilakukan pada sample dengan usia 40thn-an.

Karena jurnal ini juga saya berencana, suatu hari nanti, akan melakukan sejumlah perjalanan ke tempat-tempat yang saya anggap penting dalam hidup saya. Lalu, berfoto di lokasi-lokasi yang sama dengan lokasi ketika foto diambil pada perjalanan sebelumnya, sayangnya sejumlah foto-foto saya hilang dilahap virus di hard-disk. Saya beruntung beberapa sudah diunggah pada sejumlah media sosial.

Saya membayangkan kelak di Indonesia (atau mungkin sudah), sejumlah Tour and Travel layaknya lembaga konseling, menyediakan paket perjalanan nostalgia. Awalnya, konselor (tour and travel) melakukan interview tentang tempat-tempat di masa lalu yang akan dijadikan paket perjalanan nostalgia klien-nya. Intinya, ada sesi curhat sebelum paket perjalanan dibuat, jadi paketnya akan sangat subjektif dan variatif.

Paket ini sangat cocok untuk target market usia dewasa akhir sampai manula, mungkin bisa menjadi jawaban bagi Indonesia yang sebentar lagi akan menghadapi “Aging – Booming”.  Sejumlah hal perlu diperhatikan, misalnya terkait aksesibilitas bagi mereka yang sudah berusia. Atau diberi batasan kondisi fisik dalam membuat paket perjalanan. Ada banyak variabel yang dapat membuat paket perjalanan nostalgia menjadi luar biasa variatif.

Sebagai penutup, tulisan teman saya yang satu ini sangat menarik, salah satunya kesimpulan yang dibuat: “Komsumerisme Kenangan” (baca disini). Jika dalam tulisannya, teman saya lebih kritis dan bersikap anti, secara kontradiktif saya mengambil sudut pandang si-kapitalis, saya memaknai hal ini sebagai ‘kesempatan’ yang patut untuk diperjual-belikan. Terlepas dari dunia pendidikan yang terlalu mengajarkan saya (atau kita) untuk bersikap netral.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Jalan-Jalan, Sosial. Bookmark the permalink.

One Response to Paket Wisata Nostalgia (Kenangan dalam Kerangka ‘Kapitalis’)

  1. Arsiya Erlinda says:

    Good writing Wenty ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s