Sekilas Cerita

Sore hari menjelang maghrib, tahun 1997.

Saat itu, saya diantar oleh Abah untuk liburan ke Jakarta, satu koper besar berisi baju dan satu tas jinjing berisi bekal makanan menjadi ‘beban’ kami. Di sebuah wartel di pinggir jalan super macet, mungkin itu Pancoran atau Cawang UKI, saya tidak begitu ingat. Kami menunggu kakak perempuan saya datang untuk menjemput. Cukup lama dalam penantian, saya yang saat itu masih berusia 6 tahun, berinisiatif menelpon lewat wartel. Saya masih ingat nomor telpon yang sengaja saya hapalkan sebelum kami berangkat ke Jakarta saat itu, 021 9166 174.

(Intermezzo: Dari dulu saya begitu suka mengahapal hal-hal yang informatif, misalnya nama jalan, nomor penting, nama orang, atau apapun yang membuat saya lebih banyak tahu informasi dibandingkan orang lain. Saya begitu menyukai kondisi ketika orang lain tidak tahu dan menjadi tahu karena saya yang memberi tahu. Ada kepuasan tersendiri ketika informasi yang diberikan menjadi solusi untuk orang lain)

Tidak lama kemudian yang ditunggu akhirnya datang. kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus berwarna hijau, lusuh dan penuh, Kopaja. Hari itu menjadi hari pertama saya mengenal ‘wajah’ Jakarta yang sebenarnya. Untuk naik bus, kami harus setengah berlari, itupun bus sama sekali tidak berhenti, tidak peduli yang mau naik perempuan ataupun anak kecil. Asap kendaraan, asap rokok, debu dan bau keringat menjadi pelengkap untuk saya menyimpulkan bahwa Jakarta itu kejam. Orang-orang sibuk dengan kegiatannya masing-masing, setiap mata memandang penuh curiga, yang terlihat rapi mungkin copet, yang terkesan lusuh mungkin orang baik.

Cuplikan singkat itulah yang menjadikan saya begitu menghindari Jakarta. Hingga akhirnya malam ini, 15 Februari 2015, tepat tujuh hari saya benar-benar menjadi penghuni Jakarta. Bekerja dan tinggal di Jakarta, hidup di Jakarta. Ada banyak hal yang tumpang tindih dalam pikiran saya, singkat kata: “kenapa sih gue di Jakarta”. Menurut kakak, saya jauh lebih beruntung merasakan Jakarta yang sekarang. Sudah banyak perubahan, Jakarta yang sekarang lebih nyaman dan lebih manusiawi. Namun, kesan pertama selalu melekat paling lama. Jika ada kesempatan merekayasa kehidupan, mungkin akan lebih nyaman tinggal di Surakarta, mungkin.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Sosial. Bookmark the permalink.

3 Responses to Sekilas Cerita

  1. Ipunk Capunk says:

    Jika ada kesempatan merekayasa kehidupan, mungkin akan lebih nyaman tinggal di Surakarta, mungkin.
    ::::Lho kok tidak berpikir lebih nyaman tinggal di kampung halaman??

  2. hanna maria says:

    mba… bisa minta pin bb/ wa nya kah… aq suka baca2 blog iniii…fb nya mba ngga bs dibuka 🙂 mkasi ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s