Serba Serbi Pernikahan (bagian 1)

Setelah sekian lama ‘berhenti’ menulis rekam jejak pendakian gunung-gunung di Indonesia. Muncul ide baru untuk juga menuliskan rekam jejak pendakian (namun) bukan gunung, bukit atau hutan, kali ini pendakian untuk menempuh jenjang kehidupan lanjutan, Pernikahan.

Pada serial tulisan bersambung ini saya tidak akan menceritakan alasan kenapa ingin menikah, ini itu terkait rasa atau perasaaan, atau apapun tentang dialektika filosofis tak berujung. Intinya semua adalah rekam jejak teknis pelaksanaannya, tujuan dari penulisan ini adalah sebagai pengingat hari esok dan semoga dapat menjadi bahan bacaaan referensi untuk anak muda lainya yang ingin segera menyempurnakan agamanya.

Setelah pacaran ratusan hari dan pembicaraan non-formal berulang, akhirnya kami benar-benar memulai semuanya dengan serius. Tepatnya pada Juli 2014, tabungan bersama pun dimulai. Semua hal teknis mulai dipersiapkan, salah satunya adalah Wedding Checklist dan Timeline & Budgeting.

Karena sudah terbiasa dengan breakdown acara, saya memulai semuanya dari awal, detail dan runut. Awalnya cukup membingungkan dan menyebalkan karena saya mempersiapkannya sendirian, namun belakangan akhirnya sadar juga dan membantu memberikan saran ini itu — akhirnya. hehe

Wedding Checklist. Catatan ini awalnya didapatkan dari salah satu situs jejaring sosial terkemuka (http://www.kaskus.co.id) yang kemudian dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kebutuhan. Kesimpulannya acara lamaran dan resepsi akan berlangsung di rumah saya, di Lampung. Acara tambahannya adalah di Tangerang & Depok untuk keluarga dan teman yang tidak bisa hadir pada resepsi. Berikut beberapa hal yang coba saya simpulkan terkait dokumen ini:

  1. Tempat : Lamaran, Akad & Resepsi
  2. Dekorasi
  3. Makanan
  4. Salon / Make Up
  5. Pakaian Adat
  6. Transportasi
  7. Dokumentasi
  8. Kartu Undangan
  9. Entertain
  10. Catatan Sipil
  11. Seserahan Lamaran
  12. Seserahan Pernikahan

Selanjutnya 12 poin diatas dijabarkan detail sesuai dengan kebutuhan. Dan sudah disepakati menggunakan Adat Sunda. Sama halnya dengan mendaki gunung, selain kesiapan fisik dan mental, kesiapan dana adalah kunci kelancarannya, jadi mulailah kami menabung serius setiap bulannya.

Timeline & Budgeting. Untuk yang satu ini adalah inisiatif saya pribadi, mengingat pernikahan adalah seremonial sekali seumur hidup jadi harus meriah namun, tidak boleh memberatkan dan tidak boleh berlebihan. Karena kehidupan yang sesungguhnya dimulai setelahnya.

Jika semua persiapan teknis selesai, barulah kita menyampaikan niat baik ini ke orang tua masing-masing. Menurut saya, penting untuk menyiapkan semua hal teknisnya sebelum meminta restu orang tua. Hal ini bertujuan untuk memberikan gambaran kalau niat menikah bukan sekedar pembicaraan sekali lewat. Namun sudah masuk ke permintaan restu dan diskusi prihal teknis secara umum. Jadi orang tua juga akan merespon dengan serius rencana kita.

Singkat cerita, setelah diskusi singkat setelah makan sore itu (21 Septermber 2014) hal pertama yang akan dilakukan pada Awal Bulan Kelahiran kami berdua (lahir bulan oktober) adalah mencari cincin lamaran.  Rencananya minggu pertama atau bertepatan dengan hari Idul Adha atau mungkin minggu berikutnya.

Untuk spesifikasinya, cincin ini adalah logam mulia 24 karat seberat 5 gram, menurut penjelasan mamah eh tante eh (sudah boleh kah memanggil mamah? haha) — hal ini sudah menjadi kebiasaan dalam rangkaian seremonial lamaran. Lamarannya sendiri InsyaAllah akan dilaksanakan pada 10 Januari 2015. Tahunnya mungkin berbeda namun dalam hitungan bulan, tidak akan lama lagi. Ibarat pos dalam pendakian mungkin lamaran sama halnya dengan Puncak Banyangan, pos terakhir sebelum titik triangulasi. hoho … (bersambung)

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Sosial. Bookmark the permalink.

6 Responses to Serba Serbi Pernikahan (bagian 1)

  1. nuril says:

    ciye kakaaa 😀
    eiy setau gw (dan sepengalaman, hahahahaha) cincin ini hampir ga ada yang bisa bikin 24 karat, karena itu berarti cincinnya lembek (?), ga bisa dibentuk. Monggo ditanyakan ke seantero toko cincin yang biasa bikin cincin kawin dkk. Biasanya mereka bikin cincin menggunakan emas dengan kadar 75% atau 18 karat, jadi emasnya dicampur dengan logam lain sehingga bisa dibentuk. Demikian sekilas info.

    Oh yaa, gw pun terbuka untuk diajak diskusi =)))) sampai jumpa di gunung berikutnya :p

    • arsiyawenty says:

      Hallo haha,

      kalau yang untuk lamarannya yang model biasa aja, buat yang customize design sendiri itu nanti buat cincin nikahnya jadi yg 70 persen, haha.

      Terima kasih informasinya, ayo bagi-bagi info lainnya dong 🙂

  2. pullunk_kreation says:

    Hiks.. hiks…. aku patah hatiiiiiiiiii baca post ini!!!!!!

  3. Arya Sadewa says:

    ohhh jadi ini niiih hot trit kali ini. mantap lah. gak ada perjalanan dulu lagi sama gw nih selagi masih perawan? nanti udah istri orang mah jalannya sama suami terus haha selamat ween~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s