Gunung Semeru via Ayek-Ayek

Informasi Sejarah

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terletak di 4 Kabupaten; Probolinggo, Pasuruan, Malang dan Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Kawasan ini awalnya merupakan satu gunung besar yaitu Gunung Tengger dengan 2 puncak; Puncak Tengger dan Puncak Meru. Puncak Tengger awalnya lebih tinggi dari Puncak Meru, namun karena sejumlah aktivitas vulkanik terbentuklah kawah dan gunung-gunung kecil, antara lain; Gunung Bromo, Gunung Batok, Gunung Kursi, Gunung Watangan, Gunung Widodaren, dan Gunung Pananjakan.

Puncak Meru yang sampai sekarang masih aktif dan menjadi ‘Atap Pulau Jawa’ ini dikenal dengan Gunung Semeru (3676 mdpl). Sedangkan Gunung Bromo dikenal dengan Crater in Crater karena Kawah Gunung Bromo terletak di Kawah Tengger. Dasar dari Kawah Tengger dikenal dengan ‘Segara Wedhi’ yang merupakan hamparan lautan pasir.

Jalur Ayek-Ayek

Orang pertama (1945) yang mendaki Semeru melalui jalur ini adalah seorang ahli botani berkebangsaan Belanda yaitu Junhuhn. 68 tahun kemudian, tepatnya tahun 2013, 10 orang pribumi dengan beragam keahlian mencoba jalur yang katanya lebih kece ini. Secara umum jalur ini lebih berat dibandingkan Jalur Watu Rejeng.

Kondisi fisik jalur yang cenderung vertikal tanpa bonus ini dilengkapi dengan debu dan hutan kering khas Jawa Timur. Pendakian dimulai dengan tanjakan ke arah Pondok Pendaki yang tepat di seberang Pos Informasi. Melewati perkebunan penduduk adalah santapan pertama pendakian, dilanjutkan dengan pintu masuk hutan pinus.

Kondisi Fisik Jalur Masuk Ayek-Ayek

Kondisi Fisik Jalur Masuk Ayek-Ayek

Jalur ini awalnya membingungkan karena belum ada petunjuk jelas yang dibuat oleh pihak TNBTS, sehingga sangat disarankan melakukan pendakian pada siang hari, untuk memudahkan orientasi medan dan dapat bertanya ke penduduk yang berada di perkebunan. Saat masuk hutan jalur sangat jelas, kecil, menanjak dan berdebu. Ketika sampai di Puncak Gunung Ayek-Ayek jalur akan berganti menjadi turunan dengan kondisi jalur tanah basah.

Jalur ini akan berakhir di Sabana Pangonan Cilik merupakan kawasan padang rumput di Lembah Gunung Ayek-Ayek. Perjalanan dari Sabana ini menuju Danau Ranu Kumbolo yang juga merupakan pertemuan jalur Ayek-Ayek dan Jalur Watu Rejeng menghabiskan waktu normal 10 menit. Setelah itu jalur pendakian menuju Puncak Semeru (Mahameru) dapat dibaca pada Catatan Perjalanan Gunung Semeru tahun 2012.

Sabana Pangonan Cilik

Sabana Pangonan Cilik

5 Days of Summer in Semeru

Pernah jatuh cinta?! Saya yakin semua manusia normal pernah merasakan hal serupa. Objeknya bisa apa saja, manusia, binatang peliharaan, benda-benda pemberian, atau mungkin tempat-tempat berkesan. Ranu Kumbolo adalah Danau Vulkanik pertama yang membuat saya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, dinginnya, bintangnya, sunrise nya, semuanya.

Ranu Kumbolo dari Puncak Tanjakan Cinta

Ranu Kumbolo dari Puncak Tanjakan Cinta

Saya pernah mencoba membandingkan dengan Danau Sagara Anak di Rinjani, Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Taman Hidup di Argopuro. Sayangnya tidak satu pun dapat membuat saya berpaling dari Danau yang satu tahun lalu membuat saya berjanji untuk menghabiskan waktu lebih lama di kawasan ini, terlaksana hingga total 4 hari 3 malam.

2400 mdpl

17 Agustus 2013 – Ranu Kumbolo

Toga Berpasir adalah awal dari semua cerita ini, kira-kira 6 bulan yang lalu, ketika saya dan sejumlah teman berencana untuk membawa Jubah Akademis kami ke Atap Pulau Jawa. Singkat cerita, berbekal tiket kereta bisnis promo ceban dan tiket kereta pulang ‘gratis’ saya menyelesaikan cerita ini pada hari kemerdekaan di 2400 mdpl, ganti judul — Toga Berair.

'Jubah Akademis'

‘Jubah Akademis’

13 – 14 Agustus 2013: Jakarta – Surabaya – Malang

Kereta Api adalah transportasi massal yang efektif dan ekonomis untuk menjelajahi Pulau Jawa. Bergerak lancar Kereta Lokal dari Depok menuju Stasiun Jakarta Kota, dilanjutkan dengan kereta ekonomi yang berjalan perlahan menuju Stasiun Cikampek dan ditutup dengan Kereta Bisnis super nyaman menuju Stasiun Pasar Turi. Saya sudah berkali-kali mencicipi beragam jenis kereta di Pulau Jawa, kali ini jelas berbeda, menikmatinya bukan karena ‘kemana tujuan akhirnya’, namun semua indah karena ‘bersama siapa menjalaninya’ — #eh.

14 Agustus 2013: Surabaya -Ranu Pane

Kehabisan tiket kereta menuju Malang membuat Saya dan — [sedikit intermezzo, mari saya perkenalkan tokoh yang kemungkinan besar akan sering muncul dalam catatan-catatan pendakian saya selanjutnya, Haekal a.k.a Esa, siapa dia? ya begitulah] — mengalami keterlambatan mencapai Tumpang dan menyebabkan pendakian harus dimulai pada hari berikutnya, yaitu 15 Agustus 2013. Semua benar ada hikmahnya, kami dapat menikmati istirahat malam bersama teman-teman di Pondok Pendaki Ranu Pane, dan keesokkan harinya dapat mencapai Ranu Kombolo melewati jalur yang — terjal.

Jatuh Cinta Pada --- Sunrise Ranu Kumbolo :)

Jatuh Cinta Pada — Sunrise Ranu Kumbolo 🙂

15 Agustus 2013: Pos Informasi – Ranu Kumbolo

Bertambahnya kerabat dan kawan adalah nilai berkah dari sebuah perjalanan, kali ini saya mendapatkan 8 orang yang luar biasa, semuanya menjadi cerita masa muda yang ceria. Tim ini terdiri dari 3 skrikandi dan 7 arjuna (pasangan srikandi apasih?). Sepanjang perjalanan saya habiskan dalam diam dan senyum-senyum sendirian, bengong atau pura-pura menikmati debu dan tanjakan. Sabana kering adalah angin segar perjalanan merupakan pertanda sudah dekat dengan tujuan pertama, Ranu Kumbolo.

Edelweis ?

Vegetasi Kering Sabana

16, 17, 18 Agustus 2013: Ranu Kumbolo

Berhari-hari di satu tempat yang sama bersama dengan orang yang sama, secara logika harusnya membosankan, kenyataannya tidak selalu begitu, ternyata ada suatu kondisi ketika logika tidak bisa menjelaskan apa-apa. Sepanjang hari di tanggal 16 hanya dihabiskan dengan menikmati pemandangan sekitar, malam tertidur karena kedinginan, pagi terbangun juga karena dingin menusuk sampai tulang rusuk.

Oro-Oro Ombo

Oro-Oro Ombo

Hari Kemerdekaan adalah waktu yang sangat tidak tepat untuk menikmati Ranu Kumbolo, sangat ramai. Untungnya saya sempat berkeliling ke sejumlah spot terbaik untuk melihat danau vulkanik ini, tidak melanjutkan perjalanan menuju Kalimati menjadi keputusan yang tepat. Hari terakhir akhirnya kami mendapatkan pemandangan yang menjadi primadona danau ini, ada yang spesial setiap sunrise di Bulan Agustus di Ranu Kumbolo, matahari terbit tepat ditengah antara 2 bukit.

Golden Sunrise Ranu Ku

Golden Sunrise Ranu Kumbolo

18, 19 Agustus 2013: Sayonara Semeru

Perjalanan kali ini ditutup dengan peristiwa hampir tertinggalnya salah satu dari teman kami di Stasiun Malang, hingga keanehannya disempurnakan dengan pembagian gelang — gelang persahabatan?. Perjalanan mungkin berakhir namun pengalaman dan pembelajaran akan selalu menjadi kenangan dan sejarah dalam cerita kehidupan kita masing-masing.

“Now I see the secret of making the best person, it is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.
” -Walt Whitman

Warna-Warni Masa Muda

“Now I see the secret of making the best person, it is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth.
” -Walt Whitman

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Gunung Hutan. Bookmark the permalink.

16 Responses to Gunung Semeru via Ayek-Ayek

  1. M Bayu Rizky Prayoga says:

    Sadaaap. Larirus.

  2. johanesjonaz says:

    keren ey perjalanannya… Ranu Kumbolo memang top!!!
    Crowded banget ya pas 17an? fiuh…

  3. Harrio Dwiyanu says:

    mba bro Oktober besok (tepatnya libur idul adha 12-14 Oktober) ke bromo yuk, rencana aku sama temen”, tapi belum ada yang punya catatan sejarah pernah ke bromo, hehehe.

  4. ranu kumbolo memang sangat indah, nggak akan bosan, wah jalur gunung ayek2 kelihatan sngat mnantang, kmarin lewat jalur rejeng..
    bener bnget, ane muncak pas 16 agsts kena badai, untung sampai..salam lestari sobat

  5. july says:

    haai salam kenal yaa..seneng deh baca blognyaa..aku juga sukaaa bgt naek gunung 🙂 dan semeru memang kereen, pengen lagi kesanaa…:D

  6. Kayaknya menarik juga kalau lain kali pas ke Semeru lewat jalur Ayek-ayek ini

  7. andriyanto says:

    ranu kumbolo itu beneran danau vulkanik ya?

  8. Pingback: Cerita Dari Ranu Kumbolo | callharis.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s