Pendakian Gunung Argopuro via Baderan – Bremi

Besok kumpul di geo pukul 9.00 WIB ya teman teman buat yang mau berangkat bareng, kalo ada yg lgsg stasiun juga boleh. jangan lupa bawa ktp asli. terima kasih. (@sadewaarya, 20 jan 2013) – Sebuah pesan singkat yang membuka 2013 dengan kenangan baru yang tidak akan pernah terlupakan. Pengalaman, pembelajaran, teman-teman dan cerita baru lainnya, di penghujung bulan ini, Januari.

Menuju Puncak Rengganis

Menuju Puncak Rengganis

Sejarah Lokal: Dewi Rengganis merupakan selir yang paling disayangi Raja Majapahit, namun Sang Raja harus mengasingkan Dewi Rengganis ke sebuah puncak gunung, karena ramalan seorang Empu, yang menyatakan bahwa Kerajaan Majapahit akan jatuh ke tangan Dewi Rengganis. Akhirnya sebuah istana dibangun lengkap dengan fasilitas bala tentara, dayang-dayang, dan juga hewan ternak di sebuah puncak yang kini di kenal dengan Puncak Rengganis. Hal ini yang kemudian menjadi asal nama Gunung Argopuro, arged artinya “tertinggi” dan puro adalah “istana”, sehingga Argopuro berarti “Istana Tertinggi“.

Gunung Argopuro memiliki ketinggian 3088 mdpl merupakan puncak tertinggi Pegunungan Hyang, dengan 2 puncak utama, yaitu Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro, dan 1 puncak ‘tambahan’ dikenal dengan Puncak Arca. Gunung ini terletak di 3 kabupaten, yaitu Kabupaten Purbolinggo, Jember dan Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan referensi terpercaya sampai tahun 2007 terdapat 3 jalur resmi untuk dapat menikmati indahnya panorama penggunungan ini, antara lain: Baderan (Besuki), Bremi (Probolinggo), dan Badean (Jember).

Kegiatan ini berlangsung selama 10 hari dengan komposisi 3 hari perjalanan pulang pergi (Depok – Argopuro) dan 7 hari pendakian, diikuti oleh 14 pendaki yang dibagi menjadi 3 tim kecil untuk memudahkan koordinasi. Kaki yang masih lelah karena pendakian akhir tahun bersama Geologi UNPAD ke Gunung Slamet dan Bukit Sikunir tidak menyurutkan niat saya untuk mempersiapkan diri dalam perjalanan kali ini. Jalur pendakian paling panjang se-Jawa menjadi ‘santapan’ berikutnya, swimming tanpa jogging saya lakukan dengan malas-malasan selama 14 hari full tanpa jeda. Lelah? yes!

21 – 22 Januari 2013: Depok – Besuki.

725 Km adalah jarak yang harus ditempuh kereta tua dan ringkih yang mengantarkan kami dari Ibu Kota menuju Kota Pahlawan. Kereta ekonomi yang selalu mengajarkan saya makna kehidupan yang sebenarnya. Kereta ini Jendela Indonesia yang sesungguhnya, selalu ada persinggungan ekonomi, sosial dan budaya bahkan politik didalamnya. Kereta ini seperti dunia yang berjalan, di setiap gerbongnya akan ada kombinasi perjuangan, pengorbanan, dan jalinan persahabatan yang tercipta dari interaksi dan relasi selama 15 jam perjalanan, berkutat dengan banyak hal untuk menghilangkan kebosanan.

360 menit berikutnya kami berpindah dari Kota ke Desa, hingga tibalah kami di Resort KSDA Pegunungan Yang Timur. Disini kita diwajibkan untuk memenuhi persyaratan administratif pendakian, masih ditempat yang sama kami menghabiskan penantian dengan membersihkan diri, bertukar cerita, canda dan tawa, atau sekedar diam – bengong tanpa makna.

23 Januari 2013: Resort KSDA – Mata Air I.

Shelter III

Shelter III – Dewa, Arga, Dibba, Rindang, Gibran Ratry, Raju, Agri, Mae, Aming, Jepe, Ulfa, Baydon (GMC UI)

Malam berganti pagi, pendakian dimulai dengan naik ojeg menuju Shelter III selama 37 menit. Sepanjang perjalanan pemandangan di kanan jalan menjadi obat penenang, punggung yang sakit karena hentakan antar tulang menjadi tidak mutlak terasa. Tujuan utama kami hari ini adalah Pos Mata Air I, waktu tempuh dari Shelter III adalah 4 jam 45 menit, terletak di kiri jalur pendakian kita dapat menemukan mata air yang dapat ditempuh selama 5 menit. Di gunung ini kita akan ditemani beragam Polypoda dengan jumlah yang sebanding dengan banyaknya alat gerak ‘menempel’ pada tubuh mereka.

Mata Air I

Mata Air I

24 Januari 2013: Mata Air I – Cikasur

Sendiri … sendiri ku diam, diam dan merenung
Merenungkan jalan yang kan membawaku pergi
Pergi tuk menjauh, menjauh darimu
Darimu yang mulai berhenti, berhenti mencoba
Mencoba bertahan, bertahan untuk terus bersamaku. (Cakra Khan – Harus Terpisah) – Hits#1

Lagu yang menjadi Hits#1 pendakian ini berputar tanpa nada, mengganti lelah menjadi lelucon, yang gundah jadi bahagia, yang galau … makin galau (#eh – haha).

Sabana Kecil

Sabana Kecil (Alun-Alun Kecil)

Jalur mulai menanjak perlahan dari Mata Air I menuju Sabana Kecil dengan ‘Kaki Seribu’ yang masih setia menemani, vegetasi hutan hujan tropis dan hutan sisa kebakaran menjadi panorama sepanjang jalur pendakian, 3 jam 35 menit. Sabana Kecil ini juga dikenal dengan nama Alun-Alun Kecil, merupakan Sabana yang terlihat pertama kali dalam pendakian. Jalur menjadi sangat landai dan santai selama 80 menit menuju Sabana Besar (red: Alun-Alun Besar), hingga akhirnya kabut tipis menyambut kedatangan kami.

Kabut Tipis - Makan Siang - Sabana Besar (Alun-Alun Besar)

Kabut Tipis – Makan Siang – Sabana Besar (Alun-Alun Besar)

3600 detik berikutnya jalur pendakian mulai variatif – dari yang landai sampai tanjakan kelas menengah, hingga nyeri karena ‘kecupan’ vegetasi aneh bernama Jancuk hinggap tanpa izin di kaki, pengalaman pertama, pembelajaran utama. Pertemuan lanjutan dengan si-Jancuk lainnya berakhir dengan selamat, Alhamdulillah. Jalur ini ‘berakhir’ ketika sebuah Bangunan Eksekusi terlihat dan gemericik air mulai terdengar, pertanda kita sudah tiba di Cikasur. Selain mata air tempat ini juga dilengkapi dengan Selada Air yang dapat dikonsumsi, dan indahnya pemandangan sisa lapangan terbang Zaman Penjajahan Nippon di Bumi Pertiwi.

Menyantap Semangka - Pondok Pendaki Cikasur

Menyantap Semangka – Pondok Pendaki Cikasur – Arga, Mae, Ulfa, Baydon, Rindang, Raju, Jepe, Aming, Dewa, Gibran.

Di Cikasur jika beruntung kita bisa melihat Burung Merak, daerah ini juga merupakan sunrise spot terbaik di Pegunungan Yang, namun sayang pada kesempatan kali ini kabut menyembunyikan indahnya mentari pagi, mungkin ini kode untuk datang kembali, ya mungkin begitu.

Sungai Cikasur (Sungai Kolbu)

Sungai Cikasur (Sungai Kolbu)

Dari Cikasur saya mulai mengenali karakter masing-masing teman pendakian, 13 orang dengan beragam setting kehidupan, menjadi ‘keluarga’ baru yang seru dan luar biasa. Banyak orang bilang, asli-aslinya manusia bisa dilihat di gunung, mereka semua unik, baik dan punya cita rasa yang ‘beda’ satu sama lain, kemudian disatukan dalam minat yang sama. Dalam teori Tingkah Laku Manusia (3 sks nih, haha), karakter terbentuk dari pengalaman dan pembelajaran hidup, merupakan hasil interaksi berulang antara pikiran, tindakan dan kebiasaan. Menurut saya, kita tidak bisa —, tidak boleh mengkategorisasi karakter manusia dalam baik-buruk atau hitam-putih, karena saya percaya, Everybody is unique, isn’t it?

'Mantan' Lapangan Udara - Cikasur

‘Mantan’ Lapangan Udara – Cikasur

25 Januari 2013: Cikasur – Cisentor

Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
Meski kau tak cinta… kepadaku
Beri sedikit waktu biar cinta datang
Karena telah terbiasa. (Dewa 19 – Risalah Hati) – Hits#2

Dari 2279 mdpl (Pondok Pendaki Cikasur) kami bergerak menanjak – naik turun punggungan menuju Cisentor. Perjalanan normal, santai dilengkapi santap siang kami habiskan selama 4 jam 5 menit, vegetasi yang mendominasi adalah Pohon Cemara. Sebelum tiba di Pondok Pendaki Cisentor kita akan melewati turunan curam dan menyebrangi sungai kecil. Cisentor merupakan pertemuan dua jalur, yaitu Jalur Baderan dan Jalur Bremi.

Pondok Pendaki Cisentor

Pondok Pendaki Cisentor

26 Januari 2013: Cisentor – Puncak Argopuro

A B C lima dasar … S: Semua yang kurasakan tak mungkin dapat kuhapuskan
Walau kau bersamanya menjalinkan kisah nyata
Dan terluka. (Club Eighties – Cinta dan Luka) – Hits#3.

Persimpangan Puncak - Gibran dan Raju: Kami Cinta Argopuro ... kalau Kamu?

Persimpangan Puncak – Gibran dan Raju: Kami Cinta Argopuro … kalau Kamu?

Pendakian kali ini merupakan summit attack ter-siang yang pernah saya jalankan – haha. 1 jam 17 menit kami tiba di Rawa Embik dan terdapat sungai kecil di kanan jalur pendakian. Waktu tempuh berikutnya adalah 30 menit menuju Persimpangan Puncak, sebuah sabana yang menjadi simpang menuju Puncak Rengganis dan Puncak Argopuro.

Takraw ... yaseek

Takraw … yaseek

Di simpang ini kami begitu santai, bahkan sempat bermain Bola Takraw, akhirnya Puncak Argopuro dan Puncak Arca menjadi pilihan pertama. Jalur pendakian vertikal kelas moderate, menanjak tidak serius, haha. Selain itu untuk menuju Puncak Arca, kita tidak perlu turun dari Puncak Argopuro karena terdapat Saddle yang menghubungkan keduanya. Karena kabut dan kelalaian dalam Orientasi Medan saya dan 2 teman pendaki (Arga dan Dibba) salah memilih jalur, namun ini menjadi kesempatan penting untuk saya melihat sebuah kaldera luas di Pegunungan ini, semua hal pasti ada hikmahnya.

Puncak Argopuro

Puncak Argopuro

Saddle - Puncak Argopuro menuju Puncak Arca

Saddle – Puncak Argopuro menuju Puncak Arca

Puncak Arca Dewi Renggani yang Telah Rusak

Puncak Arca Dewi Rengganis yang Telah Rusak

Karena waktu dan cuaca tidak memungkinkan untuk menuju Puncak Rengganis, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke Pondok Pendaki Cisentor, ini kode kedua yang menjadi kode lainnya untuk kembali menggontaikan kaki ke Pegunungan Yang, mungkin suatu hari, nanti.

Hikmah Salah Ormed - hahaha

Hikmah Salah Ormed – hahaha

27 Januari 2013: Cisentor – Danau Taman Hidup

Perjalanan turun via Bremi juga sama menguras tenaga, terlebih pertemuan kesekian kalinya dengan si-Jancuk, yang tidak sengaja saya duduki ketika makan siang di Jalur pendakian sebelum Cemoro Limo. Jalur pendakian ini juga dilengkapi dengan menyebrangi Kaliputih (Aeng Poteh), Hutan yang panjang tanpa akhir, hingga tibalah di Simpang Taman Hidup.

Danau Taman Hidup

Danau Taman Hidup

Konon disini kita harus mengakhiri aktivitas sebelum jam 9 malam – cerita lokal.

Menurut pendapat saya, secara logis hal ini penting karena kondisi fisik Taman Hidup yang merupakan sumber air dan dikelilingi oleh hutan hujan tropis, menjadi tempat ‘istirahat’ untuk sejumlah binatang malam, mungkin buas dan membahayakan pendaki. Hal ini juga dimaksudkan agar kita tidak mengganggu satwa yang akan mengkonsumsi air dsb di taman hidup ini. Sama halnya dengan larangan untuk menggunakan alat pengeras suara, pemutar musik dll pada malam hari, peraturan ini dapat ditemukan dengan mudah di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Alasan lainnya, yang juga logis agar kita sebagai pendaki dapat menjaga stamina untuk meneruskan pendakian esok harinya, 🙂

Namun, tidak ada salahnya menghormati Budaya dan Cerita Lokal.

Dermaga yang Melegenda - Danau Taman Hidup

Dermaga yang Melegenda – Danau Taman Hidup

Selama di Danau Taman Hidup saya memandangi Danau Vulkanik ini hampir 2 jam lamanya, saya mulai membandingkan dengan Ranu Kumbolo di Gunung Semeru, Sagara Anak di Gunung Rinjani dan Danau Toba di Sumatera Utara. Sayangnya kita tidak bisa membangun tenda tepat menghadap danau karena akan terendam air yang pasang saat hujan. Sejauh ini, tidak ada yang bisa membuat saya lebih jatuh cinta dan berpaling dari suatu tempat yang dingin dan romantis pada malam hari, indahnya pesona sunrise di pagi hari, Ranu Kumbolo, tetap menang, ga ada lawan!

28 Januari 2013: Danau Taman Hidup – Basecamp Bremi

Dari Danau menuju Basecamp kita akan melewati hutan hujan tropis dengan jalur pendakian yang terlihat jelas, secara normal dibutuhkan waktu sekitar 3-4 jam, namun karena kami terhambat oleh hujan, perjalanan menjadi lebih panjang. Hujan deras menemani perjalanan turun, saya 3 teman pendaki akhirnya membuat sebuah cerita fiktif untuk mengisi ‘kekosongan’. Cerita ini berjudul Cinta dan Luka, belum tamat dan masih bersambung sampai season#3, yang entah kapan diketahui akhir ceritanya, haha.

Cinta Terlarang - Danau Taman Hidup

Cinta Terlarang – Danau Taman Hidup

Begitu sampai di Peradaban, bukan mandi yang terbayang, adalah bakso yang menjadi harapan sepanjang perjalanan turun, 2 porsi dilahap habis, dan 1 piring mie, dan sejumlah kerupuk, teh hangat, surga itu sederhana!

29 – 30 Januari 2012: Surabaya – Depok 

Perjalanan ini belum berakhir, karena masih ada berjam-jam lamanya untuk sampai di Depok dengan ceria. Hari berikutnya dihabiskan menanti kereta tua yang menjadi pujaan, kali ini kasta kami naik 1 kelas, Ekonomi AC. Sepanjang perjalanan ada hujan, bahkan pelangi, makanan dan minuman yang berlimpah, kenyang, nyenyak! Alhamdulillah.

Stasiun Lenteng Agung — Perpisahan di Gerbong Commuter menjadi penutup perjalanan panjang ini, perjalanan boleh berakhir, namun mungkin kisah dan cerita masih akan dan baru dimulai, Januari tahun ini penuh makna, banyak belajar dan banyak bersyukur.

Prinsip #1 pendakian, done!: Kerjakan Kebaikan, banyak berbagi, lalu Lupakan.

Foto paling sip selalu ada di Akhir cerita haha :)

Foto paling sip selalu ada di Akhir cerita haha 🙂

Itinerary :

Perjalanan Menuju Baderan

  • St. Jatinegara – St. Pasar Turi: KA Kertajaya
  • St. Pasar Turi – Terminal Bungur: Bus P 5 – 45 menit : Rp 5 K
  • Terminal Bungur – Terminal Banyuangga: Bus Probolinggo – 2 jam: Rp 25 K
  • Terminal Banyuangga – Alun Alun Situbondo: Bus AKAP – 2 jam: (Bus tidak bayar – karena ‘titipan’ bus sebelumnya)
  • Alun Alun Situbondo- Besuki: Angkot – 1 jam: Rp 15 K (Bisa dipesan via Resor KSDA)

Pendakian:

  • Resort KSDA – Shelter III: Ojeg – 37 menit: Rp 25 K (Samhaji – 081234591445)
  • Shelter III – Mata Air I: 4 jam 45 menit
  • Mata Air I – Sabana Kecil: 3 jam 35 menit
  • Sabana kecil – Sabana Besar: 1 jam 20 menit
  • Sabana Besar – Cikasur: 1 jam
  • Cikasur – Cisentor: 4 jam
  • Cisentor – Persimpangan Puncak: 2 jam
  • Persimpangan Puncak – Puncak Argopuro: 1 jam
  • Puncak Argopuro – Puncak Arca: 30 menit
  • Persimpangan Puncak  – Puncak Rengganis: 1 jam
  • Cisentor – Danau Taman Hidup: 6 jam
  • Danau Taman Hidup – Basecamp Bremi: 5 jam

Perjalanan dari Bremi:

  • Bremi – Terminal Banyuangga: Angkot – 2 jam: Rp 15 K
  • Terminal Banyuangga – Terminal Bungur: Bus – 2 jam: Rp 15 K
  • Terminal Bungur – St. Pasar Turi: Damri AC – 30 menit: 5 K
  • St. Pasar Turi – St. Jatinegara: KA Kertajaya

Terima Kasih:

  • Allah SWT
  • GMC UI
Geographical Mountaineering Club - Universitas Indonesia

Geographical Mountaineering Club – Universitas Indonesia

  • Teman-teman seperjalanan: Dewa, Raju, Jepe, Aming, Rindang, Mae, Ulfa, Baydon, Agri, Arga, Gibran, Ratry, Dibba.
  • Nazha, Ibu dan Bapak di Surabaya.
Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Gunung Hutan. Bookmark the permalink.

78 Responses to Pendakian Gunung Argopuro via Baderan – Bremi

  1. Dewa says:

    yaseeekk… lari teruuusss! hehe ada 1 kearifan lokal lagi yang lupa gw beritahukan (gatau masih berlaku atau ga) di jalur menuju mata air 1 dari shelter, kita ketemu pohon besar yang ada bekas kebakarnya (ada di sebelah kanan) nah disitu harus meninggalkan rokok atau permen. begitu kata penduduk 2 tahun silam.

  2. baguuuussszzz. jago juga bikin kata-kata selain nyanyi lagu galau hahhaahahaha. inget cerita season 3 belum selesai, harus dilanjutkan! hahahahaha. eh iya itu yg foto di shelter 3 keterangan namanya ada angga sama raju, kan sama. kesian arga ga kesebut hehehehe. kapan-kapan daki bareng lagi yeps 😀

    • arsiyawenty says:

      yaseek, makasi ya Emil (red: Emil + Dewi = Aming + ?) hahaha 🙂
      iyak cerita Cinta dan Luka pending sampai pendakian bersama berikutnya.
      wess bener juga, arga sih pake acara lari ke lombok, jadi ilang dari caption.
      ayoook mendaki ……..skripsi -___-“

  3. spiritofriza says:

    finally you went there, dude!!
    haha… gue kangen ke rengganis… cerita lokal yg lw tuliskan (walo belum baca semua, *kepanjangan dan ini waktu kerja* 😀 ) sering banget jadi pengantar di tiap malam perjalanan disana… mantab, berarti lw ke rengganis n argopuro langsung wen? mantab gila dah! 😉

    next trip kemana? kalo weekend, mau donk…. kenalin ama anak GMC 😀

    • arsiyawenty says:

      ke puncak argopuro dan puncak arca, belom sempet ke puncak rengganis soalnya telat waktu dan cuaca kabut bgt.. next ke perpus pusat, skripsi-ing hahaha
      hayuk kapan2 naik bareng aja 🙂

      • spiritofriza says:

        nge-skripsyong, cin? hayo2 diselesaikan segera, terus kita tapaki bersama tiap bumi Allah ini yang begitu luas dan indah 🙂
        sampe akhir Maret gue kere nih pdhl pengen ke gunung salak…
        “hayuk”-nya beneran nih, broo… I’ll wait your invitation! 🙂

  4. savealgie says:

    indak terasa sesepuh wenty sebentar lagi akan meninggalkan bangku perkuliahan..

  5. betty says:

    gagah banget singgasananya :p

  6. handuk says:

    argopuro cita-citaku yang belum kesampaian 😥

  7. abdiarizali says:

    bikin mupung aja -,-

  8. hadehh…mbak pake batere apa to?

  9. muhid says:

    ijIN posting fotonya di page GN Argopuro, Thanks, @[363284580359198:]

  10. Wisnu says:

    numpang nanya’ mbak… utk perijinan di baderan ribet nggak?? konon katanya harus bawa surat ijin dari BKSDA atau surat jalan dari RT/RW tempat domisili ya?? atau hanya cukup fotocopy KTP aja?? matur tengkyu.. 😀

  11. abdi says:

    salam…salam lestari.
    catatan perjalanan yang menarik, rasanya pengen juga merasakan trekking di sana. Lain waktu kalo teman2 ada rencana ngetrek lagi ke Argopuro atau tempat2 lain, mungkin saya boleh ikut.
    tengkyu.

    salam
    Abdi (Makassar)

  12. nice, informatif banget tulisannya mbae :), kebetulan saya ada rencana ke Argopuro pertengahan tahun ini, thnx info nya :))

  13. PanjiL says:

    perjalanan yang keren, cuacanya pas enak ya keliatannya, padahal bulan Januari bisa cerah gt. Aku tahun kemarin ke Argopuro bulan Mei, hampir hujan setiap hari :D, kebanyakan berkabut deh, dan jadinya agak terlambat, dan ga bisa dapet view di Taman Hidup, karena udah kemaleman dan kehabisan stok makanan, hehehe….

  14. Beta Apri Kartika says:

    Wah ni gunung salah satu impian temenku. Insyaalloh Juli mau ke sana 🙂
    nice info ya buat catatan perjalanannya.

    • arsiyawenty says:

      hallo salam kenal 🙂 terima kasih, semoga pendakiannya cerah dan sukses 3 puncaknya, soalnya aku belum sempet ke Rengganis, selain faktor waktu, kalau lagi “dapet” kata warga lokal ga boleh ke Puncak Rengganis hehe

      • ariep kecenk says:

        wiiiihh…”romantis” bgt pendakiannya..kyk baca buku..keren2..sumpah hbs baca aku lsg ambil album foto(maklum wkt itu msh blm dunia digital hehe..) lsg liat2 foto pas naik argopuro smbl inget2 capek+seneng nya.. Wkt itu rejeki liat segerombol burung merak lg makan,kita sampai liat smbl tiarap biar g terbang..haha..btw daun jancuk itu sapa yg kasih nama mbk? Aku bilang nya daun blidur…

  15. Hsnura says:

    Mantap. Jadi Inget waktu itu gak jadi ikut karena rumah lagi banjir. padahal mau nostalgia pendakian 3 tahun yang lalu.hhaha

  16. arsiyawenty says:

    terima kasih mas ariep kecenk hehe 🙂 itu nama jancuk juga ga tau darimana asalnya mas, tau dari temen2 pendakian aja haha kasar ya namanya

  17. ariep kecenk says:

    haha.. ya plg rata2 kalo kena daun itu lsg reflek misuh “jancuk…!” hahaha.. eh ntar sore aku mau brgkt ke semeru kangen sm ranu kumbolo yg katamu romantis ga ada lawan hehe…smbl mrasakan penyesalan yg selalu hadir ketika menaiki tanjakan cinta haha… ikut yuk?! 🙂

  18. Aditya P.C says:

    mbak persyaratan administratif pendakian itu seperti apa saja?
    ribet apa enggak perijinannya?
    soalnya mau mendaki sehabis hari raya
    mohon dibales

    • arsiyawenty says:

      hallo salam kenal aditya 🙂
      mudah kok, hanya memberikan foto kopi ktp, isi database pendaki, terus bayar tiket deh, lupa berapa, tapi ga sampe 10 ribu. Good luck ya, lancar cerah pendakiannya.

      • Aditya P.C says:

        salam kenal juga, dipanggil apa nih?(bingung)

        katanya temenku harus bawa simaksi yang di urus di(materai Rp 6000, fotokopi ketua rombongan sama ngasih data selama perjalanan dari berapa hari, ngecamp dimana dan turun dimana)apa seperti itu?

  19. arsiyawenty says:

    Wenty 🙂
    jadi nanti ketua rombongan kan isi data2, barang bawaan, sama rencana pendakian, naik dr mana kapan dan turunnya juga, sama aja seperti simaksi gunung-gunung pada umumnya hehe

  20. Aditya P.C says:

    dari besuki ke karangmalang/sumbermalang(kalo gak salah namanya) kan naik angkot
    la dicatatan atas bisa pesen via resor KSDA, cara pesennya gimana?

  21. sheta says:

    salam cah ayu,,,kami berencana mengadakan pendakian ke argopura nanti habis lebaran,,,apakabarnya? aku butuh informasi lebih kalau berkenan watsap ja ke sini thx nya cah ayu 081519116449

    • Aditya P.C says:

      wih mbaknya situ juga mau ke argopuro juga habis lebaran?
      saya juga mau kesitu dari tgl 12-18 agustus

  22. yudhi says:

    aditya P.C bagi CP nya dong,gua juga mau ke argopuro.abis lebaran berangkatnya gua.

  23. Pingback: Gunung Semeru via Ayek-Ayek | Penghuni Malam ….

  24. M.W says:

    Cerita yg bagus mbak. Saya jd pengen ke Argopuro. Tp sama siapa ya? Ga mungkin sendiri ya?
    Total track berapa km ya?

  25. ivan says:

    wah seru bener ni perjalanannya hehe sama sama org depok 😀 ,thx infonya mbanya januari dengan tanggal pendakian yg sama kaya mbaknya saya mau kesana bertepatan pas hari kelahiran mudahan sukses hehee
    salam lestari …….

    • arsiyawenty says:

      hallo ivan salam kenal 😉
      wah waktu yg tepat, karena air banyak kalau musim hujan, kan pegunungan jadi metode perjalanan panjang. Ditunggu kisah seru dan sukses summit nya 🙂 Lestari.

  26. Wah ada bekas lapangan udaranya ya di sana? Perjalanan lumayan bersejarah juga berarti ke Argopuro ya. Kalau bekas istana Dewi Rengganis di sana ada yg pernah lihat ga ya? Atau hanya cerita legenda saja?

  27. wah ada foto kocaaknya hahaha, keren keren banget artikelnya…

  28. soul2k3l48u says:

    Hi, numpang ngopi beberapa potonya ya. Pernah kesana juga tahun 99 tapi poto2nya ada dijakarta. Gpp kan? Makasih sebelumnya.

  29. cari referensi argopuro, ketemu gadis rantau, nyimak trus jadi tertantang adrenalinnya….keren mbak….referensi ini menjadi pelajaran sekaligus cambuk buat kesana…matur nuwun njeh….

  30. Nur Samsu says:

    rute bisa dikoreksi … dari Terminal Bayuangga Probolinggo tidak perlu sampai Alun-Alun Situbondo, itu kebablasan sekitar 30 – 40 km atau lebih … mestinya berhenti saja di Terminal Besuki … kalau rute yang diceritakan di atas – berarti sampai Alun-Alun Situbondo, Anda balik lagi ke Besuki untuk menuju Baderan (arah Selatan Besuki) … Anda dan rombongan kehilangan atau buang waktu 45 menit – 1 jam

  31. Nur Samsu says:

    saya sedikit kenal rute-rute wilayah ini karena tempat tinggal saya di Paiton, ujung Timur Probolinggo (jarak sekitar 15 km sebelah Barat Besuki)

  32. Mantap……..jadi teringat masa-masa manis saat mendaki Argopura lewat Baderan – Bermi. Di Si-Kasur berebutan bulu merak unruk oleh-oleh. Di Bermi pesan suisu sapi panas diminum bareng-bareng 15 an orang teman………..hemmmm perut mual….so mencret semua……. Selama perjalanan Baderan – Bermi Karakter teman-teman semuanya manis menarik…………….ingin rasanya masa-masa itu terulang lagi. Namun itu tak mungkin…………satu satu sahabat pergi dan tak akan mungkin kembali lagi…………..hemmmmmm

    • arsiyawenty says:

      Salam kenal Pak Gatot 🙂
      Benar sekali, semua kenangan di perjalanan panjang dan pendakian adalah pembelajaran dalam hidup yang tidak akan pernah dilupakan.

      Oleh karena itu juga saya menuliskan rekam jejaknya 🙂

  33. Fadli Agung says:

    Wah keren banget! Struktur kata tersusun rapi, komplit, saya pengen banget kesana nih semoga kesampaian musim kemarau tahun depan hehe. Lengkap nih makasih 🙂

  34. liez says:

    Semangat untuk semuanya….
    Aku baca tulisan Anda dari awal sampai akhir.
    Aku salut pada anda semua,yang datang jauh2 dari Ibu Kota dengan tujuan menikmati keagungan Allah SWT di puncak Argopuro.Aku saja yg asli Besuki Situbondo belum pernah nyampek ke sana.Smg Anda semua slalu di beri kesehatan shg dpat melanjutkan petualangan selanjutnya..
    Trim’s

    • arsiyawenty says:

      Hallo salam kenal 🙂

      Aamiin terima kasih atas doanya, semoga kamu juga berkesempatan menikmati keindahan alam Indonesia.

      Semoga juga ada kesempatan berjumpa ya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s