Telaga Jernih dan Bangkai Anjing

“Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Ali Imran: 185)

Kisah ini saya dapatkan dari sebuah buku pemberian kakak, beberapa kisahnya banyak yang memberikan pembelajaran tentang kehidupan, sudah pasti keseluruhannya sarat akan nilai dan pesan agama. Berikut salah satu kisahnya, semoga bermanfaat:

Di suatu kampung yang kecil ada sebuah telaga warna yang jernih airnya. Seluruh penduduk kampung menjadikan ini sebagai sumber penghidupannya, untuk mencuci masak, mandi, wudhu, dsb. Namun, suatu hari ditemukanlah bangkai seekor anjing yang telah mencemari telaga itu. Habislah sudah sumber penghidupan yang mereka andalkan selama ini. Selain najis oleh bangkai anjing, rasa, warna dan baunya juga berubah. Sementara di kampung kecil itu tidak ada sumber air lainnya kecuali telaga yang telah tercemar tersebut.

Dalam keadaan krisis air tersebut, warga bermusyawarah dan memutuskan untuk melaporkan hal ini kepada seorang Kiyai. Akhirnya datanglah mereka ke kediaman Kiyai tersebut, dan Kiyai yang telah mereka percayai itu mempelajari kisahnya dan kitab-kitab yang selama ini ia pelajari.

“Tidak perlu khawatir, InsyaAllah airnya akan jernih kembali, caranya dengan membuang 50 ember air dari telaga itu” saran Kiyai.

Maka bergegaslah warga melaksanakan saran Kiyai. Tetapi setelah membuang 50 ember air dari telaga, tidak ada perubahan sama sekali, rasa, baud an warna telaga itu tetap kotor.

“Tidak mungkin!” jawab Kiyai.

Ia pun mebolak-balik lagi kitab-kitab yang diperlajarinya, dan tetap pada kesimpulan, solusi yang sama.

“Kitab-kitab saya ini berpendapat yang sama, kalian harus membuang 50 ember air dari telaga, cobalah sekali lagi” kata Kiyai.

Warga kampung itu kembali bergegas untuk ke telaga menjalankan saran Kiyai, tetapi baru beberapa langkah saja, Kiyai itu memanggil mereka;

“Maaf, sebelumnya saya mau bertanya, apakah sebelum kalian membuang 50 ember air
sudah membuang bangkai anjing itu dari telaga?” tanya Kiyai.

“Tidak Kiyai, bukankah dari kemarin kami hanya diperintahkan untuk membuang 50 ember air dari telaga saja?” jawab Warga.

“Aduh, kalian ini benar-benar bebal! Sudah tahu yang menjadi sumber najisnya adalah bangkai anjing. Mengapa tidak kalian buang bangkai itu dahulu yang kalian buang, baru airnya. Sudah buang sana bangkainya baru lanjutkan dengan airnya” perintah Kiyai.

Akhirnya mereka melaksanakan perintah kiyai itu. Mereka membuang bangkai anjing, kemudian melanjutkan dengan 50 ember air telaga. Alhasil, telaga memancarkai air baru yang jernih, bening, suci dan tidak berbau, kembali seperti sebelumnya, dapat diandalkan menjadi sumber kehidupan. Mereka pun bersuka cita atas keberhasilan tersebut.

Pembelajaran:

Hati manusia asalnya jernih dan bening seperti telaga dalam cerita ini. Namun, dinamika kehidupan manusia telah banyak merubah hati menjadi kotor dan najis karena bangkai besar bernama “hubbud dunya” (cinta berlebihan terhadap dunia). Sumber kebeningan dari mata air fitrah masih terus mengalir dari dasar sanubari, namun terus terkotori oleh bangkai busuk bernama “hubbud dunya”. Maka hati seperti itu tidak akan pernah membawa manfaat dan tidak akan pernah menunjukkan kita kepada jalan yang lurus.

Banyak orang berpendapat, untuk membersihkan telaga hati itu adalah dengan berzikir, membaca Al-Qur’an, shalat malam dll. Semua itu mutlak benar dan tidak salah sama sekali. Namun, ada satu hal yang harus kita sadari adalah membongkar bangkai busuk bernama “hubbud dunya” dan mengeluarkannnya dari dalam hati. Barulah setelah itu dilakukan upaya untuk pembersihan telaga hati.

Jika hati kita masih kotor, tidak ada ibadah yang dapat kita nikmati. Menjalankan shalat fardhu jiwa tertekan dan meronta, membaca Al-Qur’an hati berat, berpuasa jiwa tersiksa, berzikir bagai mengunyah duri dalam mulut. Sebaliknya, hal-hal duniawi terasa begitu nikmat, meninggalkan shalat, berjudi, berdansa sampai pagi di night club, melalaikan janji, durhaka kepada orang tua, menyekutukan Allah, dan dosa lainnya. Hal ini disebabkan karena yang ada dalam hati itu adalah bangkai “hubbud dunya”, maka baud an kotoranlah yang mewarnai pikiran, jiwa dan raga. Jika telaga hati kita bersih, seharunya pikiran, jiwa dan raga kita menikmati semua perintah Allah.

Demikianlah sebuah kisah pada zaman Rasulullah SAW, dalam sebuah peperangan saidina Ali bin Abi Thalib r.a, terkena panah pada kakinya. Ketika hendak dicabut ia mengeluh kesakitan. Akhirnya ia berkata kepada sahabat yang lain; “Biarkanlah aku shalat, lalu cabutlah panah itu ketika aku khusyuk menyembah Allah”. Dan ketika beliau shalat, panah itu dicabut dan ia tidak merasakan apa-apa”.

Solusinya:

Penyakit “hubbud dunya” tidak adakan pernah berhasil kita bongkar melainkan dengan menanamkan di dasar sanubari kita lawan antagonis dari “hubbud dunya” yaitu dengan “hubbullah” (keyakinan dan kecintaan kepada Allah). Jika “hubbullah” telah tertanam dalam hati kita, maka “hubbud dunya” akan sirna dengan sendirinya.

Hubbullah” dimulai dengan memasukkan kebesaran Allah ke dalam hati dan membuang kebesaran dunia. Kita harus senantiasa memperbaharui keyakinan bahwa Allah merupakan sumber segala kebahagiaan dan perlindungan. Mulailah dengan berbuat segala sesuatu untuk Allah dan bukan untuk makhluk Allah. Caranya dengan menghidupkan dalam jiwa cahaya “Muraqabatullah” (kesadaran tinggi dalam hati bahwa Allah senantiasa melihat dan menilai perbuatan setiap saat). Sebuah keinsafan bahawa sebelum tangan kita terhulur untuk melakukan sebuah perbuatan, pandangan Allah sudah terlebih dahulu melihat tangan itu. Setelah semua ini terlaksana, pada saat itu, shalat, berzikir, tahajud, puasa, membaca Al-Qur’an, sedekat dan ibadah lainnya yang kita lakukan bermanfaat dalam pembersihan telaga hari dan terasa nikmat.

Yang perlu kita ingat dan kita sadari untuk menghilangkan “habbud dunya” dan memasukkan “hubbullah” ke dalam hati merupakan proses yang panjang, merupakan operasi besar-besaran yang sangat menyakitkan. Hanya orang-orang yang mau berkorban saja yang berhasil melakukannya. Namun kita juga harus yakin, Allah sangat sayang kepada hamba-Nya, dengan banyak cara Ia akan membantu hamba-Nya untuk dapat melepaskan itu semua, dan segera kembali berteduh kedalam naungan cinta kasih Allah.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Islam, Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Telaga Jernih dan Bangkai Anjing

  1. Zie Ahmadi says:

    Luar biasa arsiyaaa..
    Ternyta g cuma hoby berpetualang, melainkn jg luas pemahanya ttg agama islam.
    Kagum banget..
    Syukron ilmunyaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s