Antara Dosa dan Kecerdasan

“Dan bertawakalah kepada Allah, dan (niscaya) Allah yang mengajarimu (ilmu pengetahuan)” (Al-Baqarah: 282).

Tulisan ini saya buat dari hasil pembelajaran sebuah kisah dalam buku yang belakangan ini sering saya baca, hal ini erat kaitannya antara dosa dan kecerdasan manusia, sangat penting untuk kita semua, terutama untuk yang sedang berjuang dalam dunia pendidikan. Dan beberapa cerita dalam tulisan ini juga saya masukkan beberapa pengalaman pribadi sebagai refleksi diri.

“Ilmu adalah cahaya Allah, dan cahaya Allah tidak akan menyinari jiwa yang banyak berbuat dosa” – (cuplikan kalimat dalam buku).

Awalan:

  • Jika ia seorang pelayar maka ia akan menjadi pelayar yang unggul (Vasco da Gama tidak akan pernah menjadi manusia eropa pertama yang sampai ke India kalau bukan karena menyandera pakar pelayaran muslim bernama Ibnu Majid yang pada saat itu mengarang 3 kitab ilmu pelayaran).
  • Jika ia menekuni ilmu kedokteran maka ia akan menjadi dokter yang tiada tanding (Ibnu Sina dengan The Canon of Medicine).
  • Jika ia pakar matematika maka ia akan mampu mengungkap misteri angka dan bentuk yang tidak akan habis dipelajari sepanjang zaman (Al-Khawarizmi dengan Trilogi Matematika – Al-Jabar, Aritmatika dan Logaritma).

Saya pernah merasakan tidak konsentrasi belajar ketika menghadapi UAS (Ujian Akhir Semester) karena sebuah materi yang menurut saya sangat sulit untuk dipahami. Ternyata barulah saya sadari bahwa hal ini erat kaitannya dengan kelalaian saya dalam mengerjakan shalat dengan tidak menyegerakannya. Solusi yang saya temukan adalah dengan istighfar, wudhu, doa, dan nazar demi kelancaran konsentrasi dan UAS, Alhamdulillah semua bermanfaat, materi sampai ke nalar dengan baik, nilai yang didapatkan juga bagus.

Setelah saya membaca buku ini, saya akhirnya paham, Allah membuka sedikit celah pengetahuan untuk dapat memahami peran ketaqwaan dalam melejitkan kemampuan nalar seorang muslim. Berikut intisari buku itu:

Sel-sel otak manusia berjumlah sekitar 100 milyar. Banyaknya sel ini tidak berarti apa-apa, sebab yang menjadi kepintaran dan kebijaksanaan manusia adalahnya banyaknya interaksi yang terjalin antara AXON pada suatu sel otak dengan DENDRITE pada sel otak lainnya, yang biasa dikenal dengan interaksi arus listrik atau ELECTRICAL IMPULSE (Lam Peng Kwan dan Eric YK Lam, 2003).

Studi empiris pernah membuktikan bahawa dari 100 milyar sel otak manusia itu, kapasitas interaksi arus listrik dalam rata-rata orak seorang manusia modern hanya berkisar antara 6 – 8 % saja, sedangkan sisanya adalah daerah gelap bagaikan rimba belantara yang tidak pernah terjelajahi. Hal ini kemudian dikenal dengan istilah banhwa otak manusia adalah raksasa yang tidur atau wilayah terbesar dunia yang belum dijelajahi (Collin Rose dan Malcolm J. Nicholl, 1997).

Jika manusia modern sekarang menamakan interaksi arus listriak antara axon dan dendrite dengan istilah electrical impulse, maka ratusan tahun lalu Imam Syafi’I dan gurunya Imam Waki’ mengistilahkannya sebagai Nurullah” (Cahaya Allah). Beliau percaya dan yakin bahwa dasar dari penyerapan yang kuat terhadap ilmu pengetahuan adalah Cahaya Allah yang menerangi hati dan pemikiran. Singkat kata, prosentase electrical impulse pada sel-sel otak manusia dapat dilejitkan dengan cara meningkatkan kapasitas Cahaya Allah dalam hati dan pemikiran kita.

Dalam Al-Qur’an orang yang diterangi oleh Allah hati dan pemikirannya digelari sebagai Ulil Albab. Albab merupakan bentuk plural daril Lubb yang salah satu maknanya adalah akal, maka Ulil Albab adalah orang-orang yang memiliki kemampuan akal yang tinggi (Ibrahin Anis, 1972).

Kita mungkin pernah mendengar istilah God Spot atau Titik Tuhan yang ditemukan oleh 2 Neuropsikolog Persinger dan Rachmachandran. Mereka menyebutkan bahwa ada sebuah area di sekitar Lobus Teporal otak yang bersinar saat seseorang diajak untuk berdiskusi dan merenungkan hal-hal yang bersifat ketuhanan. Area ini juga menunjukkan peningkatan aktivitas  saat seseorang menerima wejangan rohani atau renungan ketuhanan (Martin, Antony Dio, 2003).

Mari kita kembali ke pelajaran biologi masa sekolah, kesuluruhan pengalaman yang diterima oleh panca indera manusia merupakan rangsangan (impulse) yang diterima oleh saraf penerimaan (receptor neurone) selanjutnya dianalisa oleh saraf sensor (sensory neurone). Semua proses ini karena adanya electrical impulse sel-sel otak manusia sehingga mampu membentuk analisa atau melakukan respon fisik (motoric neurone).

Ilmu pengetahuan merupakan kumpulan dari pengalaman panca indera (penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba) manusia, semakin besar interaksi pada lectrical impulse semkin besar juga daya penyerapan pengetahuan dalam otak kita. Maka wajar akan ada perbedaan sudut pandang antara orang cerdas dan orang awam, terutama kemampuan dalam menganalisa apa yang dilihat, dirasa dan didengarnya.

“Perbandingan dua golongan itu seperti orang buta dan orang tuli dengan orang yang dapat melihat dan dapat mendengar. Apakah kedua golongan itu sama keadaan dan sifatnya? Maka tidakkah kamu mengambil pelajaran?” (Hud: 24).

Dari ayat diatas jelas bahwa fungsi panca indera sebagai penyerap ilmu pengetahuan. Tentu yang dimaksud dengan penglihatan dan pendengaran pada ayat ini bukan sekedar kemampuan mata dan telinga, namun kadar kemampuan sel-sel otak manusia dalam menganalisa yang dapat dideteksi oleh indera-indera tersebut.

“Jika hambaKu senantiasa mendekatkan diri kepadaKu dengan melakukan hal-hal yang Sunnah, maka ia akan Aku cintai (dan jika demikian) maka Akulah yang menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, Aku menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya, Aku menjadi lidah yang aku bertutur dengannya, dan Aku menjadi akal yang ia berfikir dengannya. Jika ia berdoa kepadaKu niscaya Aku perkenankan. Jika ia meminta kepadaku, niscaya Aku kurniakan. Dan jika ia memohon pertolongan kepadaKu pasti Aku tolong. Ibadahnya yang paling Aku cintai adalah kewajiban yang ditunaikannya untukKu” (Hadist Qudsi at-Thabrani dalam kitab al-Kabir dari Abu Umamah).

Dari hadist diatas kita dapat mengambil pembelajaran penting, bahwa pengerjaan amalan Sunnah dapat begitu signifikan mempengaruhi pengalaman panca indera kita dan Cahaya Allah kepada kita. Bayangkan pada ulama zaman silam mendapatkan Cahaya Allah dalam pengalaman panca inderanya, sehingga hasil pengamatannya, bacaannya, pendengarannga dan hasil karya pikirannya dapat dimanfaatkan hingga sekarang, semuanya karena menggunakan kekuatan Cahaya Allah. Renungan terbutlah yang dapat membentuk pribadi unggul dalam setiap bidang yang ditekuninya.

Cuplikan dari buku:

“Kita hidup sebagai umat akhir zaman, tidak perlu melakukan proses try and error dalam menciptakan keunggulan manusia. Tumpuan kita sudah jelas, meningkatkan Cahaya Allah dengan melakukan semua perintahNya dan menjauhi laranganNya. Mengerjakaan ibadah wajib dan sunnah, melantunkan Al-Qur’an, terdiam dalam sujud-sujud panjang shalat, puasa, dan ibadah lainnya yang dapat meningkatkan kecintaan Allah kepada kita. Inilah inti dari kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) yang merupakan motor penggerak terhadap kecerdasan intelektual (Intellectual Quotient) dan kecerdasan emosional (Emotional Quotient)”.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Islam, Sosial and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Antara Dosa dan Kecerdasan

  1. rudist says:

    Reblogged this on @rudist87.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s