Horas Sumatera Utara

DSCN4704

Cuaca cerah manyambut kedatangan saya untuk pertama kalinya di Medan, sebuah kota yang terletak di jantung Sumatera Utara. Dari Bandar Udara Polonia ini saya berjalan kaki menyusuri Jalan Imam Bonjol – Jalan Sudirman dan dibuat sedikit berkeliling tanpa tujuan. Akhirnya langkah kaki terhenti di depan sebuah Istana yang tidak begitu besar bangunannya, Istana Maimoon. Tidak jauh dari istana tersebut terdapat Masjid Raya Medan, disanalah saya akhirnya menghabiskan waktu sore sebelum akhirnya bermalam di hotel tertua di Kota Medan, Tiara Hotel.

Malam hari menjelang pagi, sekitar pukul 02.00 dini hari saya memutuskan untuk keluar kamar, meminjam mobil hotel, keliling Kota Medan dan singgah di tempat penjualan durian yang sudah terkemuka, Durian Medan Bang Ucok. Menjelang pagi saya kembali ke hotel untuk beristirahat, karena tujuan utama saya ke Sumatera Utara bukan untuk menikmati kuliner ataupun keramaian kotanya. Saya akan bergerak menuju tempat yang jauhnya 1.200 kilometer dari Selat Sunda, sebuah gunung api raksasa yang terakhir meletus 74.000 tahun lalu, Toba.

Istana Maimoon

Istana Maimoon

Masjid Raya

Masjid Raya

Danau Toba memiliki panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer merupakan kaldera gunung api raksasa yang pernah meletus hebat ribuan tahun silam. Danau kaldera terbesar di dunia ini memiliki kedalaman 500 meter yang dikelilingi tebing-tebing dengan ketinggian rata-rata 1.200 meter, memiliki sejarah letusan yang maha dahsyat, bahkan letusan Gunung Tambora (1815) dan Gunung Krakatau (1883) tidak ada apa-apanya.

Menurut catatan seorang geolog dari Eastern Illnois University dan Michigan Technology University (dalam Ekspedisi Cincin Api Kompas) danau ini diperkirakan terbentuk melalui empat fase letusan besar, hingga akhirnya menjadi danau kaldera seperti sekarang, letusan terakhir yang tercatat adalah 74.000 tahun lalu, yang kemudian dikenal dengan Young Toba Tuff (YTT). Letusan ini menghasilkan magma dengan volume 2x volume gunung tertinggi di dunia – Everest, dan letusan ini mendapat peringkat pertama sebagai letusan terhebat dalam dua juta tahun terakhir.

Perjalanan saya menuju Danau Toba dimulai dengan menikmati durian khas medan (lagi) yang kecil dan manis di Deli Serdang. Siang itu terasa begitu panas, karena kandungan zat dalam durian memicu tubuh saya menghasilkan keringat lebih banyak dari biasanya dan pusing pada kepala, pertanda saya harus berhenti saat itu juga, menikmati buah berduri.

Durian Medan

Durian Medan

Waktu yang dibutuhkan dari Kota Medan untuk sampai di Parapat atau tepatnya di Pantai Bebas adalah sekitar 6 jam, dan di kapal boat kapasitas 100 orang itulah saya terpana, terdiam dan sangat terpesona atas keindahan alam yang ada di depan mata, Danau Toba dan Pulau Samosir menjadi kesatuan panorama tanpa celah, indah dan menyejukkan mata. Saya bahkan tidak sempat banyak mengabadikan keindahannya dalam kamera karena seketika itu juga terdiam atas ciptaan Tuhan yang satu ini, saya sibuk dengan ketenangan dan kedamiaman dalam jiwa dan pikiran, tidak ada kata yang tepat kecuali pujian untuk sang pencipta, Subhanallah.

Bercengkrama di Danau

Bercengkrama di Danau

Perjalanan membutuhkan waktu 40 menit dari Pantai Bebas untuk sampai di Carolina Resort, tempat dimana saya akan menghabiskan 15 jam singkat di Pulau Samosir. Air danau yang jernih seperti kaca ini sangat memanjakan mata dan jiwa, pancaran sinar matahari senja yang mulai menjemput malam menjadi teman menghabiskan sore di salah satu kursi di ruang makan, menatap dengan teliti setiap detail danau kadera, yang dulu pernah meluncurkan awan panas dengan suhu mencapai 550 derajat celcius.

Carolina Resot - Penginapan di Pinggir Danau Toba - Pulau Samosir

Carolina Resot – Penginapan di Pinggir Danau Toba – Pulau Samosir

Malam semakin pekat dan dingin mulai menjalari tubuh, hal ini tidak mengurangi keindahan Danau Toba yang semakin tidak terlihat, yang ada di seberang pulau ini hanyalah cahaya lampu dari rumah dan penginapan dipinggiran Danau toba, seperti runtuhan bintang dari langit, karena malam ini langit hitam tanpa bintang, mendung dan gerimis.

DSCN4632

Waktu berjalan begitu cepat, pagi berikutnya cerah, dan saya siap menuju tempat lain yang mEnawarkan nuansa budaya dari salah satu tempat yang bernama Tomok (artinya besar). Hari ini saya akan mengunjungi Makan Raja Sidabutar yang merupakan salah satu objek wisata yang sayang kalau dilewatkan. Sepanjang perjalanan menuju makam, di kanan kiri jalan terdapat pasar yang menjual beragam oleh-oleh dan cendera mata khas Tomok.

Saat tiba dipintu masuk, kita diharuskan menggunakan kain Ulos sebagai lambang penghormatan terhadap raja, tenang saja, tidak perlu khawatir karena petugas setempat menyiapkan kain tersebut untuk digunakan kemudian dikembalikan saat selesai mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata setempat. Saya mendapatkan banyak pengetahuan sejarah dalam kunjuungan ini, yang nantinya akan saya narasikan dalam judul tersendiri dalam blog ini.

Ulos - Kain Adat Khas Sumatera Utara

Ulos – Kain Adat Khas Sumatera Utara

Sekitar 45 menit sejarah, budaya dan kehidupan sosial dipaparkan, saya kemudian berkunjung ke Rumah Adat Sigale Gale. Karena mengejar jadwal pesawat, saya tidak banyak menghabiskan waktu untuk berbelanja, selain itu objek wisata di Ambarita tidak sempat saya kunjungi, karena hari ini diprediksi perjalanan menuju Polonia Medan akan menghabiskan lebih banyak waktu, karena bertepatan dengan malam minggu.

Rumah Adat  Sigale Gale

Rumah Adat Sigale Gale

Saya begitu menikmati perjalanan menuju Danau Toba, selama perjalanan antara Medan – Parapat kita disuguhkan pemandangan indah, mendekati Pantai Bebas di Parapat kita dibuat seakan melayang mengitari pinggiran danau dari ketinggian, udara yang sejuk dan hijaunya hutan hujan tropis lengkap dengan berkeliarannya monyet-monyet liar dipinggiran jalan. Meskipun kunjungan saya kali ini begitu singkat, saya yakin suatu hari nanti akan datang kembali ke tempat ini, untuk menghabiskan waktu yang lebih lama dan dengan perencanaan yang lebih matang, meskipun demikian, saya tetap bersyukur mendapatkan kesempatan ini, terima kasih Sumatera Utara, HORAS.

Tugu Selamat Datang di Tomok - Pulau Samosir

Tugu Selamat Datang di Tomok – Pulau Samosir

Pinggiran Danau Toba di Pagi Hari

Pinggiran Danau Toba di Pagi Hari

2 Dari 9 Air Terjun di Pulau Samosir

2 Dari 9 Air Terjun di Pulau Samosir

13-15 Desember 2012.
Sumatera Utara – Indonesia
Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Jalan-Jalan and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Horas Sumatera Utara

  1. Pingback: Gunung Semeru via Ayek-Ayek | Penghuni Malam ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s