Tua Bijak dan Bersahaja

Rutinitas pagi, setelah menjalankan olah raga rohani (red: ibadah), saya bersiap menjalankan olah raga jasmani, lari pagi. Dimulai dari stasiun UI saya selalu berkeliling di lintas sepeda lingkar dalam, dan untuk yang kesekian kalinya saya melihat seorang bapak (mungkin seumur itu bisa disapa kakek) yang selalu olah raga setiap paginya, dia tidak berlari, hanya berjalan cepat.

Meskipun saya sering tegur sapa, pagi itu (23 Oktober 2012) adalah yang kedua kalinya saya berlari kecil dan berbincang dengan beliau. Dulu kira-kira satu tahun yang lalu (saya lupa tepatnya) saya pernah juga berdiskusi banyak hal sambil olah raga bersama beliau. Singkat cerita dia adalah dosen di UI yang kemungkinan sudah pensiun (dan sepanjang jalan banyak juga yang menyapanya). Namun ia sendiri tidak mau menyebutkan fakultas dimana ia mengajar. Seperti biasa, ia menyapa saya dengan tiba-tiba, berikut cuplikan pembicaraan singkat pagi:

A: Hallo selamat pagi, kamu biasa berlari atau berjalan cepat?

S: Selamat pagi pak, saya lebih senang berlari, pelan tapi tidak berhenti.

A: Oh, saya lebih biasa berjalan cepat, kamu dari UI? fakultas dan jurusan apa?

S: Saya FISIP Pak, ilmu kesejahteraan sosial.

A: Dosen kamu Bambang Shergi ya?

S: ia benar Pak, kenal?

A: tentu saja, apakah kamu pernah membaca buku … tentang atlet pelari wanita di Amerika…. (dan ceritanya berlanjut, sama seperti yang pernah ia ceritakan satu tahun yang lalu)

Saya tidak terlalu mendengarkan ceritanya, karena saya sudah dapat memprediksi apa yang akan ia sampaikan, saya kemudian berpamitan untuk berlari duluan. Ini kejadian biasa, yang membuka pagi, namun saya mencoba untuk memberikan makna dan warna tersendiri. Saya yang hobby berasumsi dan memprediksi banyak hal mencoba menerka cerita masa lalu ataupun karakter beliau.

Saya menduga beliau adalah dosen yang didalam kelas banyak bercerita, dan berbagi kisah, ia juga tipe dosen yang senang berfilosofi, dan mendorong orang untuk terus berdialektika, bertanya, dan tidak pernah menyimpulkan pembicaraan. Mungkin kini, ia sudah tidak aktif lagi mengajar, namun semangatnya terkesan kalau sebenarnya ia kesepian, membutuhkan teman berbincang dan berdiskusi, yang tidak cepat bosan dengan cerita berulang serta pertanyaan singkat yang dibahas dengan panjang lebar.

Saya pernah mendapatkan beberapa teori dari mata kuliah Tingkah Laku Manusia dan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia, pada fase umur manusia lanjut, mereka memiliki karakter yang kembali ke sifat awalnya, seperti masa balita, membutuhkan teman, dan ingin selalu diperhatikan. Pada usia lanjut, manusia jangan dibiarkan terlalu sering sendirian, dan beri kegiatan yang tidak memberatkan, jangan biarkan ia hanya menghabiskan waktu dengan berdiam diri, karena hal ini dapat meningkatkan stress dan tekanan psikologis, terutama untuk lansia yang ketika muda begitu aktif berkegiatan. Kalau boleh saya simpulkan, lansia itu balita hari tua, balita di hari senja.

Pagi ini (29 Oktober 2012) saya kembali melihat bapak dosen (begitu kini saya menyebutnya, karena hingga kini ia tidak menginformasikan namanya), bedanya kali ini saya tidak berencana untuk mendahuluinya, saya berlari kecil pelan, di belakang. Sedikit menjaga jarak, saya hanya memperhatikan aktivitasnya, jarak kami mungkin hanya terpaut 50 meter. Dari cara jalan, bapak ini sangat bersemangat, ia menyapa setiap orang yang ditemui di jalur sepeda, ia menyapa semua petugas kebersihan yang dilaluinya, dan ia berjalan cepat seperti biasanya.

Sampai pada suatu titik, di Kandang Rusa (lokasi di depan Stasiun UI) ia ternyata mengambil kantung plastik hitam dibalik pohon, dan mendekati kandang, ia memberi makan rusa yang satu persatu mendekati pagar kandang, seolah sudah menunggu kedatangan beliau. Saya sengaja melakukan pendinginan setelah olah raga tidak jauh, dari jarak ini saya masih bisa memperhatikannya. Bapak itu terlihat bahagia tanpa beban, ia seolah berdialog dalam diam dengan rusa. Tidak lama kemudian, ia menyapa seorang ibu-ibu (dari penampilan saya yakin ibu itu dosen juga, dan sama tua) dan berjalan bersama meninggalkan rusa yang kini sudah kenyang.

Ada sejumlah pembelajaran yang saya ambil dari perbincangan singkat dan pengamatan sederhana ini, saya kini membayangkan rutinitas apa yang pas untuk saya di hari senja nanti, apakah akan seperti beliau, atau apa?.

Yang kini terbayang oleh saya, hari senja kelak, akan saya habiskan di sebuah desa, dimana hanya ada saya dan suami, tempat dimana saya dan dia bisa menghabiskan masa tua bersama, tempat yang tidak sulit dijangkau oleh anak-anak dan cucu-cucu kami, dan mungkin sejumlah orang yang membantu kegiatan rumah tangga.

Lingkungan ini adalah rumah asri yang tidak terlalu luas, di halaman belakang rumah ada taman yang berisi bunga-bunga hias, pohon, tanaman obat-obatan, dan ruang kaca untuk saya dapat menanam sayur-mayur dan buah-buahan organik.

Di halaman belakang ini juga terdapat kolam ikan kecil dengan aliran air di dinding, tempat dimana setiap detiknya terdengar gemercik air, dan setiap pagi bisa menikmati nyayian alam, suara jangkrik dan burung, juga hewan pagi lainnya.

Masih di halaman belakang, terdapat pondok kecil untuk membaca sambil menikmati taman dan secangkir teh hangat, dengan kursi goyang dan meja antik dari kayu, juga ada alat pemutar musiknya. Pondok ini beratap transparan, sehingga saya dapat menikmati taburan bintang malam, dan berbagi kisah, berbincang atau sekedar menikmati dalam diam, dengan siapapun pasangan hidup kelak.

Bergerak ke halaman depan rumah, saya selalu berharap dekat dengan sawah, sehingga saya bisa menanam padi, bukan untuk kepentingan konsumsi atau bahkan produksi, sekedar 2 atau 3 petak sawah, untuk mengisi hari, dan memanjakan mata dan telinga, karena dari gesekan daun padi, menghasilkan suara alam yang sangat punya ‘rasa’ tanpa nada, namun mengalun indah.

Rumah ini juga cukup untuk saya dapat olah raga, seperti berlari atau senam pagi. Rutinitas pagi yang saya bayangkan adalah olah raga, menyipakan makanan pagi yang sehat dan rendah kolesterol, buah, dan susu rendah gula. Menuju siang bisa saya habiskan dengan membekali diri dengan bacaan bermutu, beribadah, dan kegiatan lain berkaitan dengan menambah Iman dan Taqwa. Menjelang sore, saya bisa merawat taman, dan memberi makan ikan di kolam, atau merawat sawah. Malam adalah waktu yang tepat menikmati gelap dan sinar bintang, mendengarkan lantunan Ayat Suci, menanti kantuk.

Rutinitas biasa hari tua, tidak berat untuk usia yang masuk hari senja, dan tidak memberatkan keluarga, hidup sehat, bersama dia dan alam pedesaan. Sederhana dan biasa, namun sempurna. Hari senja, tidak manja layaknya balita, namun tua bijak dan bersahaja.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Sosial and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Tua Bijak dan Bersahaja

  1. abdullah says:

    coretan singkat bermakna padat.. simple is strong…. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s