Masa Depan, Impian atau Tuntutan ?

Satu tahun sudah berlalu sejak saya memutuskan untuk lebih serius menjalani kehidupan, dan mengejar impian. Oh ia, singkat cerita saya membagi kehidupan ini dalam 3 fase, rata-rata usia manusia sekarang 60 tahun, jadi untuk saya, 20 tahun pertama adalah saatnya mencoba banyak hal, dan saat yang tepat untuk membangun mimpi (a.k.a mencari jati diri).

20 tahun berikutnya adalah waktunya untuk serius merealisasikan mimpi yang sudah ditemukan, meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih mapan, kerja halal dan menghasilkan kebermanfaatan untuk sesama, menikah usia muda, punya anak, membalas jasa orang tua, dan banyak hal lainnya, yang pasti serius dalam segala aspek kehidupan untuk masa depan.

20 tahun terakhir adalah waktu yang dihabiskan untuk menikmati apa yang sudah diusahakan, waktu yang tepat untuk berbagi banyak hal, dan sudah saatnya meninggalkan sedikit demi sedikit keinginan mengejar yang duniawi, pensiun dini, full mengurus keluarga, dan yang paling utama adalah mempersiapkan lebih matang bekal amal dan ibadah.

Satu tahun ini (penj. 20 ke 21) saya habiskan dengan mengerjakan banyak hal dengan cukup serius, – kenapa cukup serius?. Sederhana, karena tahun ini saya anggap sebagai masa transisi dari fase 1 ke fase 2. Saya ikut serta meramaikan Pemira FISIP UI, penelitian, naik-turun gunung, berkelana di tempat-tempat baru, berkenalan dengan banyak orang, berulang kali mengecewakan hati orang (eh, hehe, yang ini sangat beralasan, karena saya sudah tidak mau menghabiskan waktu untuk urusan dangkal, dan terjebak dalam beragam situasi yang tidak penting, seperti pacaran), berpartisipasi dalam banyak pelatihan dan seminar, menjadi moderator dan pembicara dalam sejumlah acara, dan satu tahun ini banyak saya habiskan hidup saya di luar zona aman (red: kampus).

Saya mendapatkan banyak pengalaman, pembelajaran dan menemukan banyak makna dalam menjalani kehidupan, saya belajar banyak dari alam dan jalanan kota – desa, saya bersyukur dalam banyak kondisi yang tidak pernah saya duga sebelumnya, saya bahagia dalam banyak cara yang sangat sederhana, dan saya pastikan satu tahun ini saya merasa lebih dewasa dan mapan dalam berfikir dan bertindak. Meskipun demikian manusia tentu tidak luput dari salah, khilaf dan dosa, itu manusiawi kan?

Lalu, mau apa lagi? … Saya pun cukup bingung menjawab pertanyaan singkat itu, saya tentu sudah menemukan mimpi dan harapan yang ingin saya dapatkan, bahkan jauh sebelum hari ini, ketika orang-orang masih bermain-main jaman SMA, saya sudah mempunyai 10 poin kehidupan yang saya impikan, 10 poin besar yang benar-benar menjadi panduan untuk saya sampai sejauh ini. Namun ketika dipertanyakan dengan begitu spesifik saya masih tetap bingung.

Usia bertambah, harapan dan impian berubah menjadi tuntutan, dan apa-apa yang menjadi mimpi sudah merongrong untuk direalisasikan. Tentu saya tidak boleh terjebak situasi pencarian, saya tidak boleh larut dalam senda gurau tentang masa depan, sudah saatnya memberikan banyak ruang untuk mengisi bekal dan bersiap mengejar mimpi menjadi kenyataan. Kalau dianalogikan saya tidak boleh seperti ikan yang bertanya-tanya seperti apa air itu, tanpa sadar kalau air begitu dekat, dan sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Saatnya memulai dari sekarang, dari apa yang kita punya, dari apa yang sudah kita rencanakan, dan dari izin Tuhan.

Ah, saya susah terlalu banyak berkata-kata, pertanyaan awal tentang mau apa lagi? tidak kunjung dapat saya gambarkan, masih terlalu luas dan tidak spesifik dalam dimensi ruang dan waktu, masih terkesan euphoria bertambahnya usia – tidak menjadi masalah, karena saya percaya, ketika kita mulai meresahkan mimpi tentang masa depan, berarti kita sudah setengah jalan mencapai mimpi itu, dan paling penting yang selalu saya pegang; There is no dream is big, but be a dream not a dreamer .

Selamat bertambah usia, 21 tahun penuh makna … 20 Oktober 2012 – Arsiya Isrina Wenty Octisdah.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Sosial and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Masa Depan, Impian atau Tuntutan ?

  1. Yangga says:

    weh 21 tahun toh… berarti kita seumuran donk #hahaha

  2. Yoi sepakat, yg terpenting, keresahan2 dlm mewujudkan mimpi menjelma semangat positif bukan sebaliknya, dan jgn lupa, pacaran juga urusan penting tuk mewujudkan masa depan bersama pasangan impian..hahaYoi sepakat, yg terpenting, keresahan2 dlm mewujudkan mimpi menjelma semangat positif bukan sebaliknya, dan jgn lupa, pacaran juga urusan penting tuk mewujudkan masa depan bersama pasangan impian..hahaYoi sepakat, yg terpenting, keresahan2 dlm mewujudkan mimpi menjelma semangat positif bukan sebaliknya, dan jgn lupa, pacaran juga urusan penting tuk mewujudkan masa depan bersama pasangan impian..hahaYoi sepakat, yg terpenting, keresahan2 dlm mewujudkan mimpi menjelma semangat positif bukan sebaliknya, dan jgn lupa, pacaran juga urusan penting tuk mewujudkan masa depan bersama pasangan impian..hahaaa

  3. Pemahamanmu ttg kebahagiaan keren, mencerminkan kedalaman spiritualitas, di quran sendiri banyak ayat yg maknanya berbunyi, “orang yg briman dan beramal salih merekalah yg tidak merasa khawatir dan sedih.” Dan Ibnu Atta’ilah seorang ahli hikmah berkata, ” salah satu tanda di terimanya amal salih adalah di tanamkannya rasa bahagia setelah melakukannya.” Wallahu a’lam.

  4. abdullah says:

    Teruslah merajut mimipi yang indah,
    dan barengilah dengan keyakinan bahwa apapun yang telah Allah siapkan bagi kita itu jauh lebih indah… Tetap semangat…. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s