Bertambah Usia: Gender dan Konstruksi Sosial Budaya di Indonesia

Bertambah usia ketika kita masih balita – remaja belasan menjadi momentum penting kebahagian, untuk orang-orang tercinta terutama keluarga, serta menjadi kesempatan spesial untuk yang bertambah usia mendapatkan limpahan tidak hanya ucapan, doa, bahkan hadiah. Hal ini akan berubah tergantung pada fase kehidupan apa yang kita hadapi ketika bertambah usia, dan gender kita.

Secara konseptual ada sejumlah kategorisasi fase kehidupan, salah satunya; Bayi (0 – 1), Balita (1 – 5), Anak – Anak (6 – 12), Remaja (12 – 17), Dewasa Awal (17 – 25), Dewasa Madya (25 – 30), Dewasa Akhir (30 – 40), Tenang (penj. penulis) (40 -55), Lansia (55 – dst).

Untuk gender, dalam tulisan ini hanya membagi menjadi 2 peran, yaitu wanita dan pria. Konseptualisasi ini merupakan hasil ringkasan dan penyesuaian dengan kondisi di Indonesia (tidak bermaksud mengeneralisir) yang dilakukan penulis berdasarkan sejumlah teori dari beberapa pemikir barat.

Dalam tulisan ini saya mencoba memberikan gambaran singkat, komparasi beberapa prihal gender dan konstruksi sosial budaya di Indonesia untuk orang yang bertambah usia. Akan lebih jelas pandangan ini berdasarkan pada fase kehidupan manusia dengan sejumlah harapan, tanggung jawab dan tuntutan sosial budaya yang ‘menimpa’ ketika bertambah usia. Beberapa contoh didapatkan dari pengalaman penulis sendiri, dan sejumlah pengalaman orang lain yang relevan.

Tahun berganti, usia bertambah, impian semakin spesifik, dan tanggung jawab sosial mulai berubah menjadi tuntutan. Ketika bayi – remaja do’a untuk kita tidak jauh dari, semoga sukses, lancar cita-citanya, sehat, mendapat limpahan rejeki, dsb. Sangat umum, dan do’a yang menjawabnya tidak membutuhkan waktu untuk menerawang makna dan harapan dibalik setiap kata, cukup dengan, amin.

Beranjak memasuki dewasa awal, do’a yang biasanya hanya untuk kita pribadi, kini bertambah dengan menghubungkan pada interaksi dan relasi sosial, seperti; semoga cepet dapet pacar, enteng jodoh, wisuda, cepat bekerja, dan menikah.  Dalam fase ini setiap doa mendapatkan ‘kadar amin’ yang berbeda tergantung prioritas si-penerima doa, perlu ada penyesuaian dan pemikiran lanjutan, contohnya: orang yang sedang mengerjakan tugas akhir akan cenderung amin di cepat wisuda dibandingkan cepat dapat pacar atau jodoh.

Hal ini akan semakin spesifik dan semakin terlihat konstruksi sosial budayanya pada fase dewasa madya, terutama ketika harapan berubah menjadi tanggung jawab untuk mereka yang sudah berhasil mendapatkan realisasi dari doa. Sedangkan, untuk mereka yang masih belum menemukan titik terkabulnya doa, harapan ini berubah menjadi sebuah tuntutan. Contoh yang sering dihadapi orang-orang di Indonesia, adalah situasi ketika sudah lulus kuliah harus bekerja, harus menikah, harus punya anak, dst.

Perbedaan zaman juga berperan dalam perubahan pandangan atas konstruksi sosial budaya yang terbentuk, terutama dalam kaitannya dengan gender dan usia. Dulu, sudah pasti berbeda kadar tuntutan untuk wanita dan pria, namun dewasa ini sudah semakin tidak berbatas (borderless), semua hampir sama. Tuntutan yang dulu hanya untuk salah satu gender saja, sekarang mendapatkan kesetaraan, contoh simpelnya bekerja, menikah, melanjutkan sekolah, dsb. Perbedaan peran ini juga mengalami sejumlah pergeseran ketika berhubungan dengan usia, contohnya, kalau dulu anak perempuan +17 belum menikah sudah masuk kategori perawan tua, sekarang bahkan usia +25 atau lebih tidak menjadi masalah berarti.

Harapan ini dan itu sudah pasti berubah, tanggung jawab dan tuntutan juga dijamin bertambah seiring dengan bertambahnya usia, berubahnya status sosial dan peran kita dalam kehidupan. Namun, ada satu hal yang tidak bisa kita lupakan, dari dulu sampai kini, semua itu berupa ‘bentukan’ dari akumulasi pandangan atas sosial budaya dari masyarakat untuk kita. Untuk itu, kita juga perlu punya pedoman dan prinsip menghadapi hal ini, sehingga tidak menjadi kaget, terbebani atau tergiring untuk mengikuti mainstream yang ga kita banget.

My life … My Rules. Hal ini menjadi penting kalau kita berhadapan pada banyak tuntutan dan pilihan yang diberikan outsider dalam kehidupan kita. Tentu hal ini jangan sampai membuat kita tidak memperhatikan lingkungan sekitar, atau terkesan egois, apatis, acuh tak acuh, dll, tetapi menjadi pedoman dan pembatas untuk kita mengejar dan mampu memprioritaskan yang benar-benar impian kita dan impian mereka. Kita punya hak untuk membuat kisah hidup kita sesuai dengan warna dan gaya kita, disisi lain kita tidak boleh lupa ada tanggung jawab untuk bisa membuat kisah ini tidak menyimpang dari norma dan aturan yang ada.

Hidup dalam keteraturan memang membosankan, namun hidup terlalu liar dan tanpa aturan itu menjerumuskan. Jadilah orang yang berprinsip namun tetap dapat beradaptasi dalam setiap dimensi kehidupan.

Singkat kata, persetan dengan gender, usia, dan konstruksi sosial budaya. Dunia penuh warna, kenapa hanya mencoba 1 dari banyaknya pilihan? Temukan warnamu dan dapatkan kombinasi warna yang dapat membuat hidupmu menjadi lebih bermanfaat dan bermakna.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Bertambah Usia: Gender dan Konstruksi Sosial Budaya di Indonesia

  1. wibisono says:

    dunia tidak ada batasan. jadi tidak ada salahnya berteman dengan teman yg usianya lebih muda, tua,remaja atau dewasa.

    • arsiyawenty says:

      setuju, dan dalam kehidupan sosial tidak ada yang mutlak salah dan mutlak benar, kita semua hidup dalam kerelatifan, subjektif, dan mencoba meng-objektif-kan semua hal dengan serangkaian norma, plg kuat adalah norma agama (penj. di Indonesia) 😀

  2. arief says:

    “..hidup dalam keteraturan memang membosankan, namun hidup terlalu liar dan tanpa aturan itu menjerumuskan.”
    *ngena banget quote nya 🙂

  3. menarik sekali melihat pemaknaan usia dan korelasinya dengan gender mengunakan sudut pandang doa, sederhana dan ngena. 🙂
    Hidup pada dasarnya liar dan penuh kejutan, justru kita yang merangkai kejutan2 itu menjadi sebuah keteraturan, melalui serangkaian pilihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s