Pendakian Gunung Rinjani via Sembalun – Senaru

Punggungan gunung itu terlihat datar dari salah satu pos terakhir untuk mendirikan tenda, terkesan mudah di mata. Kenyataannya hampir 6 jam trek berdebu, hingga pasir berbatu dipijak tanpa ada habisnya. Selama perjalanan menuju titik tertinggi hanya dapat menunduk, tidak berani menatap jalur pendakian, yang membuat semangat adalah ingatan akan bukit-bukit yang telah dilalui beberapa hari sebelumnya. Badan boleh lelah, namun semangat tidak boleh lemah. Hingga akhirnya, mendirikan shalat di tanah tertinggi ketiga di Indonesia tercapai, 3726 mdpl, Alhamdulillah.

Sepatu dan Triangulasi

Gambaran Umum Lokasi … 

Gunung Rinjani memiliki ketinggian 3726 mdpl yang terletak di Kabupaten Lombok Barat, Tengah dan Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kawasan ini ditetapkan menjadi Taman Nasional sejak tahun 1977. Ada beberapa jalur pendakian untuk mencapai Puncak Rinjani, yaitu Sembalun Lawang, Senaru Lawang, dan Jalur Torean, sebenarnya ada satu jalur lagi yaitu punggungan di sebelah timur, namun sangat tidak direkomendasikan, karena membutuhkan keahlian panjat tebing khusus.

Rinjani dalam definisi kedaerahan berarti ‘tinggi’, sebuah legenda menceritakan Datu Tawun dan Ratu Dewi Mas yang berpisah tahunan karena sebuah kesalah pahaman. Singkat cerita bertemulah Datu dengan anaknya Dewi Anjani, dan mereka memutuskan untuk bermeditasi di Pegunungan Lombok untuk mencari jalan hidup, kemudian dipanggillah Dewi Anjani oleh jin wanita untuk dijadikan pemimpin mereka di Gunung tersebut, dan jadilah hingga kini nama itu diabadikan menjadi nama gunung.

Sembalun Lawang, Senin 3 September 2012 …

Pagi itu kami memulai pendakian dari titik awal yang dikenal dengan nama Bawanao, dari sana kita akan dihadapkan pada jalur pendakian yang masih landai, jalan setapak, dan sejumlah ilalang. Sejauh mata memandang ‘bukit teletubies’, kemudian jalur menjadi menantang ketika teriknya sinar matahari dikombinasikan dengan angin dan debu. Sejumlah jembatan terlewati, dan tidak ada habisnya Gunung Rinjani menjulang tinggi di hadapan terlihat bersih tanpa kabut. Waktu normal 2 jam 30 menit kami habiskan dengan canda dan tawa, akhirnya tiba di Pos I atau Pos Pemantauan.

Menjulang Tinggi — Gunung Rinjani

Padang sabana yang terhampar luas ini menjadi ‘surga’ bagi sapi-sapi di Lombok, wajar saja kalau 1 keluarga minimal memiliki 30 ekor sapi, dan terbukti, selama berada di Sembalun, kami sering sekali berhadapan dengan segerombolan ‘sapi-sapi liar bermajikan’. Dan ternyata ‘surga’, yang di depan mata itu tidak landai, jalurnya cukup naik turun, yang menjadikan jalur ini cukup sulit adalah panas dan debu. Waktu normal yang dibutuhkan untuk sampai Pos II atau Pos Trengengean adalah 60 menit.

Pos Trengengean – Titik Air

Di Pos II ini terdapat sumber air, berupa sungai temporer yang kering ketika musim kemarau. Berada di kiri jalur pendakian, atau tepatnya dibawah jembatan. Ketika kami tiba disana airnya sedikit sekali, kotor dan tidak layak dikonsumsi. Akhirnya saya dan teman memutuskan untuk mengikuti sumber lainnya, yaitu bergerak sekitar 10 menit ke kiri jalur pendakian setelah jembatan. Meskipun sumber air berikutnya ini sedikit namun lebih layak dikonsumsi, dibandingkan yang sebelumnya. Di pos ini juga harus berhati-hati dengan makanan dan barang lainnya yang menarik perhatian, karena banyak monyet berkeliaran, berani, nakal dan ‘maling’.

Kami Berani, Nakal dan Liar

Perjalanan selanjutnya masih sama, melewati sabana berbukit, naik turun tanpa henti, debu dan panas menjadi teman setia, yang mau tidak mau harus dijalani. Dibutuhkan waktu 90 menit untuk sampai di Pos III. Dari pos ini jalur pendakian sebenarnya dimulai, bukit-bukit penyesalan sudah dihadapan, sangat direkomendasikan untuk makan siang di Pos III, atau kalaupun kondisi tubuh sudah tidak kuat bisa mendirikan tenda disini. Karena jalur menuju Plawangan Sembalun adalah naik turun bukit.

Persimpangan Jalur Lama (trend kanan) dan Baru (trend kiri) – Pos III

Diperjalanan antara Pos III dan Plawangan Sembalun terdapat 2 Pos Extra, dan sebelum Pos Ekstra I kita akan melewati aliran sungai mati, sangat serupa dengan Kalimati yang ada di Gunung Semeru. Menuju Pos Extra II jalur mulai menanjak dan penuh tipuan, dari satu bukit turun-naik ke bukit lainnya. Namun, setelah menikmati jalur pendakian yang ekstra tenaga ini kita akan berjumpa pada pelataran cukup luas, dan Pemandangan Segara Anak lengkap dengan Gunung Barujari.

Segara Anak dari Plawangan Sembalun

Normalnya menghabiskan waktu 4 jam, namun pada kesempatan ini kami tiba pada malam hari, sehingga perjalanan untuk menuju puncak ditunda, kami pun memilih untuk menambah 1 hari lagi bermalam di Plawangan Sembalun. Seharian saya menikmati perpindahan waktu yang ada, saat fajar menyingsing, ketika cerah dan teriknya siang hari, serta kembalinya sang surya ke ufuk barat, hingga romantisnya taburan bintang di malam hari. Namun hati-hati, disini jumlah monyetnya yang paling banyak dari seluruh tempat di Rinjani, ini seakan menjadi ‘rumah’ bagi mereka.

Siluet Sunset – Plawangan Sembalun

Summit Attack, 5 September 2012 …

Kesempatan untuk menginjakkan kaki di tanah setinggi 3726 mdpl harus diperjuangkan sejak dini hari, dari Plawangan Sembalun kami berangkat menuju puncak jam 00.30 WITA. Jalur yang dilalui adalah tanjakan berdebu, dengan elevasi yang cukup curam. Untuk mencapai punggungan gunung, membutuhkan sekitar 1 jam. Setelah sampai di persimpangan, maka ikuti jalur pendakian ke kiri, dan Bukit Pengharapan (hak paten penulis, haha) penuh tipuan dimulai.

Trek Plawangan Sembalun ke Punggungan

Jalan kecil setapak berpasir dan berkerikil menjadi ‘santapan’ selama 5 jam pendakian menuju puncak. Naik turun bukit terasa seperti tidak ada habisnya, terutama di tanjakan terakhir mendekati titik triangulasi, ada Puncak Semu. Jalur ini mirip dengan trek pasir di Gunung Semeru meskipun ini cukup lebih mudah. Sesampainya di Puncak Rinjani, terdapat Kawah Mati di sisi kiri dan Danau Segara Anak di sisi kanan, serta pemandangan Gunung Agung dikejauhan.

The Shadow on the Top of Rinjani

‘Kawah Mati’ Rinjani

Kami menghabiskan waktu lama untuk menikmati pemandangan, berfoto-foto, atau bercanda tawa di Puncak, hingga panas cahaya matahari mulai menusuk kepala, baru kami memutuskan untuk turun. Tripod yang dibawa untuk mengabadikan terbitnya sang surya akhirnya bermanfaat untuk foto bersama, karena kami menjadi rombongan yang terakhir meninggalkan puncak. Seperti tidak ingin cepat meninggalkan titik triangulasi yang sulit ditempuh.

Gunung Rinjani 3726 mdpl

Perjalanan turun tidak dapat juga dikategorikan mudah, jalur yang kini jelas terlihat terasa jauh, panas, dan berdebu. Namun keseluruhannya tetap terasa indah luar biasa, di Kiri Segara Anak, dan di kanan Desa Sembalun serta pemandangan bukit penyesalannya. Karena pendakian ini dilakukan dengan sangat santai, kami bahkan memutuskan untuk turun ke Segara Anak keesokan harinya. Sehingga total kami menghabiskan 3 malam di Plawangan Sembalun, saya sendiri sudah berkali-kali ke Sumber Air di Plawangan Sembalun, airnya dingin dan menyegarkan.

‘Surga’ di Plawangan Sembalun – Sumber Air

Segara Anak dan Gunung Barujari, 6-7 September 2012 …

Menuju ke Segara Anak ternyata bukan prihal mudah, turunan berbatu ini memiliki elevasi mendekati 90 derajat, kami beruntung karena saat itu  sedang kabut, sehingga jalur tidak begitu berdebu. Waktu tempuh santai itu kami habiskan 3 jam 30 menit, untuk dapat berteriak girang di Area Tenda Segara Anak. Sesampainya disana, saya mencoba untuk memancing dan berjalan menuju Kolam Air Panas.

Memancing di Danau Berlatar Gunung Barujari

Selama di Segara Anak kami mendapatkan tambahan logistik dari para pendaki lainnya, bahkan mendapatkan ikan gratis dari ‘tetangga’ tenda. Selama di danau saya menghabiskan waktu menikmati pemandangan, berbincang dengan Suku Sasak yang kebetulan sedang mengadakan upacara keagamaan, dan tidak lupa berfoto ria di setiap jengkal kawasan indah itu.

Saya mulai membandingkan danau ini dengan Ranu Kumbolo di Gunung Semeru. Speechless, keduanya bukanlah untuk dibandingkan, masing-masing memiliki ciri khas tersendiri. Tempat-tempat yang selalu mampu membuat kita bersemangat untuk datang kembali.

Lukisan Tuhan – Sempurna

Sebenarnya saya masih sangat ingin menambah hari untuk menikmati dinginnya Segara Anak dan Romantisnya taburan bintang dikegelapan langit malam. Dan suatu hari saya berharap dapat bersama orang-orang yang saya cintai, menikmati ciptaan-Nya, disini, di negeri ini, Bumi Pertiwi. Amin.

Sayonara Segara Anak, 7 September 2012 … Selamat Datang di Plawangan Senaru.

Kami akhirnya memutuskan bergerak meninggalkan begitu banyak kenangan di Segara Anak, menuju Plawangan Senaru. Sepertinya sudah menjadi ciri khas Trek Gunung Rinjani, naik turun bukit, sama halnya dengan perjalanan menuju Plawangan Senaru. Pertama kita menyusuri Pinggiran Danau Segara Anak, lalu ambil tren ke kanan naik bukit berbatu, terjal dan berdebu. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai di Plawangan Senaru.

Sunset di Plawangan Senaru

Disana kami menikmati cahaya matahari yang bergerak turun ke ufuk barat, berdapingan dengan siluet Gunung Agung di Kejauhan. Selama di Plawangan Senaru kami tidak banyak berkaktivitas, selain dingin, kami sudah hampir seminggu di kawasan ini. Malam hari kami bahkan menikmati makan malam di dalam tenda, sambil mendengarkan lantunan musik bersama, hingga masing-masing memutuskan beristirahat demi perjalanan turun esok harinya.

Menuju Senaru Lawang, 8 September 2012

Perjalan turun dari Plawangan Senaru menuju Pos III menghabiskan waktu 1 jam, jalan sangat berdebu dan sangat disarankan menggunakan masker. Sesampainya di Pos III akan ada 2 bangunan terbuka, yang kemungkinan sangat nyaman untuk membangun tenda di Pos ini. 10 menit kemudian perjalanan masuk ke pintu hutan, kini jalur tidak lagi Sabana seperti jalur sembalun, ini hutan tropis yang cukup rapat, dan jalurnya sangat jelas sekali. untuk sampai ke setiap posnya hanya butuh 1 jam dengan berlari.

Dijalur senaru ada titik air di Pos II, berjalan kira-kira 10 menit, dan ada petunjuk jalannya. Saya tidak kesana, karena kurangnya air dan sangat lapar, jadi memutuskan untuk terus berlari, akhirnya sumber makanan di depan mata, Senaru Lawang ada warung, pemiliknya adalah Pak Ridwan yang sudah 15 tahun menjalankan kegiatannya, selain berjualan, kebun disekitar adalah miliknya. Saya yang haus dan lapar, mengahabiskan banyak jualannya, ketika semua sudah berkumpul, kami bersama turun menuju Basecamp, yang ternyata masih 1 jam perjalanan.

Pak Ridwan dan Dagangan

Setelah tiba di Basecamp Senaru, kami semua membersihkan diri dan siap menempuh perjalanan panjang berikutnya, overland Lombok – Bali – Jakarta. Kami beruntung karena mendapatkan mobil sewaan dengan Pak Supir yang sangat baik, selain dibawa bekeliling menikmati sunrise di sepanjang bibir pantai di Lombok, kami juga berkesempatan makan di tengah kota Lombok, Plecing Kangkung, yang berhasil membuat metabolisme tubuh saya terguncang seketika setelah melahap makanan itu, bahkan baru 1 suap.

Plecing Lombok -wuuuuuussshh-

Sekilas di Banyuwangi …

Selama perjalanan pulang menuju Jakarta, kami sempat 2 malam menikmati Banyuwangi, dan sudah pasti kami sempatkan untuk wisata kuliner di alun-alun Kota Banyuwangi, murah meriah, Alhamdulillah.

Masjid Agung Banyuwangi

Kuliner lagi dan lagi …

Kuliner dan Kuliner

Tradisional Khas Banyuwangi

Dan tentunya masih banyak kuliner murah meriah lainnya yang tidak sempat diabadikan dalam kamera, dan tentu semua penuh cerita, dan realitanya Indonesia itu kaya akan banyak hal, dan ini punya kita.

Moral Value:

Dalam setiap perjalanan saya selalu mendapatkan banyak pengalaman dan pembelajaran hidup, dari naik turun bukit saya belajar bahwa segala hal tidak ada yang mudah, semua butuh usaha dan doa, dan ketika sampai pada titik tertinggi, terasa bahwa benar semua akan indah pada waktunya, jangan mengeluh, dan terus melangkah.

Catatan:

  1. Jakarta – Surabaya: KA Kertajaya (15.30 – 06.30) : Rp 43.500
  2. Surabaya – Banyuwangi: KA Sri Tanjung (15.30 – 06.30): Rp 19.500
  3. Ketapang – Gilimanuk: Kapal Ferry (30 menit): Rp. 6000
  4. Terminal – Padang Bay: Bus: (5 jam): Rp. 30.000
  5. Padang Bay – Lembar: Kapal Ferry (4 jam): Rp 36.000
  6. Lembar – Mandalika: Mobil (1.5 jam):  Rp. 10.000
  7. Mandalika – Aikmal: Mobil (2 jam): Rp. 15.000
  8. Aikmal – Sembalun: Mobil (3 jam): Rp. 20.000
  9. Kendaraan Sewa untuk Sembalun – Senaru: Pak Hasbi (081997995414)

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Gunung Hutan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

29 Responses to Pendakian Gunung Rinjani via Sembalun – Senaru

  1. Yangga says:

    Pertamax… 😀

    Kerennn kk… next klo ke sini lgi cobain turunnya via torean, trus mampir tambora yuuk 😀

  2. arsiyawenty says:

    oi tante yangga haha, mana koreksinya, komen disini aja, males revisi blog gue haha
    nah eh tante baca ini nih penting banget buat referensi mencari pasangan hidup huahaha:

    http://gadisrantau.wordpress.com/2012/10/09/date-a-girl-who-travels/

    hahha mantep tuh

  3. Yangga says:

    (Koreksi)
    Surabaya – Banyuwangi: KA Sri Tanjung (15.30 – 06.30): Rp 19.500
    Ralat tuh… ongkosnya 30rb, waktunya jg 13.30-21.30

  4. Amazing trip.. Tp ada lagi yg lebih ajib, Torean..cobain deh.

  5. wah wah mbak wenty…
    udah nyampe rinjani malahan 😦
    aku belom 😦

    kalo bulan maret aman nggak yak naik rinjani

  6. bagus hadikusuma says:

    wah keren ka blog nya..
    ayoo ka berangkat lagi ke rinjani hehe

    • arsiyawenty says:

      terima kasih haha 🙂
      ayok mau banget, tapi nanti untuk yang kedua kalinya pengen banget pake porter biar nikmat hahahah

      • bagus hadikusuma says:

        yah pake porter gak asik ka angkut sendiri carrier nya hehe
        oh ya ka rinjani tutup smpe akhir maret ka, gagal berangkat deh

      • arsiyawenty says:

        ia kata temen yang tinggal di Lombok, bahkan Rinjani remi di tutup selama 4 bulan, artinya sampai April 2013.
        alasannya karena cuaca di Lombok sedang tidak menentu 🙂

  7. Pingback: Gunung Semeru via Ayek-Ayek | Penghuni Malam ….

  8. ngeri tok … kampan bisa sampai sana ya ?

  9. ini gunung indah banget,alhamdulillah mei udah kesana.. karena ngerasain feel yg sama,I like this quotes,haha > “Sebenarnya saya masih sangat ingin menambah hari untuk menikmati dinginnya Segara Anak dan Romantisnya taburan bintang dikegelapan langit malam. Dan suatu hari saya berharap dapat besama orang-orang saya cintai, menikmati ciptaan-Nya, disini, di negeri ini, Bumi Pertiwi. Amin.”

    • arsiyawenty says:

      hallo salam kenal, ia sepertinya harus disediakan waktu khusus sampai bosan (sepertiya tidak akan pernah bosan) untuk sekedar menjelajahi setiap spot di segara anak ya, tujuan tulisan ini juga sebagai pengingat dan penyemangat untuk balik lagi ke Rinjani, suatu hari nanti, pasti kesana lagi, pasti.

  10. ka ijin minta fotonya ya..foto yg sepatu dan triangulasi 🙂

  11. : mantap informasi nya, moga bisa May 2014 ini ke puncak 3726 mdpl

  12. AMBON says:

    kapan2 maen ke merapi padang-sumatera utara ajipppp juga loh

  13. Halim says:

    Sekrng rinjani makin indah,..apalgi kemaren udh meletus bnyk orng penasarn bagaimna dampaknya,..
    1 april 2016 ada pendakian pembersihn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s