Sekilas Makna di Matarmaja

Kereta Kehidupan

Untuk menjelajahi Pulau Jawa terbilang murah terutama menggunakan transportasi jenis Kereta Api Ekonomi. Berdasarkan situs resmi PT. Kereta Api Indonesia terdapat 16 KA Kelas Ekonomi yang beroperasi, dan pada kesempatan kali ini saya akan fokus pada Kereta Api Matarmaja, alasan saya sederhana karena 15 KA lainnya belum pernah.

Matarmaja merupakan akronim dari sejumlah kota yang dilewati kereta ini, jalan merambat dan lambat dari Malang, Blitar, Madiun dan Jakarta. Kereta ini masih menjadi pujaan hingga kini, tetap hidup diantara sejumlah kereta kelas eksekutif dan bisnis yang tentu menawarkan banyak fasilitas.

Kereta ini seperti miniatur kehidupan, didalamnya sejumlah kegiatan berlangsung, dan banyak kepala yang hidup dari beroperasinya kereta tua yang ringkih ini. Pertama kali masuk kedalam gerbong kita akan disambut dengan hawa panas dan sejumlah bau-bau yang berkolaborasi menjadi kombinasi serasi dengan sesaknya barang bawaan penumpang.

Kursi-kursi tersusun berhadapan, dengan ruang kaki yang sempit, dan lorong antara sisi kanan dan kiri yang berdekatan, lengkap dengan kaca jendela yang retak-retak akibat timpukan batu sejumlah orang yang tidak tahu aturan, menjadi kompisisi khas kereta ini, begitu tidak nyaman dan sudah pasti tidak aman.

Renta dan Retak

Sepanjang perjalanan kita akan dimanjakan dengan potret kehidupan, seperti film saja, dia berputar, terus tanpa henti. Penjual, pengamen dan pengemis akan menjadi kawan setia perjalanan. Kegiatan mereka bukan tanpa makna, sepintas tidak layak, namun di balik itu semua ada banyak kehidupan yang bergantung pada kegiatan mereka.

Ada banyak persinggungan terjadi dalam satu waktu, sosial budaya, ekonomi, dan politik didalamnya. Setiap pemberhentian selalu ada budaya baru masuk melalui bahasa yang dapat didengar dari para pencari nafkah. Transaksi jual-beli, sekaligus menunjukkan perputaran rupiah yang begitu kecil dan tidak sebanding dengan peluh dan keluh. Perbincangan ala kopi darat, yang singkat dari membahas tikus-tikus negara, hingga bertukar cerita dan pengamalan menjadi bagian lain dari kehidupan dalam KA ini.

Di kereta tua ini kita dapat menyaksikan dengan jelas perjuangan, pengorbanan dan keberanian, kita dihadapkan pada kenyataan bahwa hidup tidak semudah yang dibayangkan. Dan pembelajaran paling kental adalah kita diingatkan untuk selalu bersyukur atas kebahagian yang selama ini kita rasakan.

bersambung ….

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Sosial and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Sekilas Makna di Matarmaja

  1. rivai says:

    oalah mataremaja,
    belum pnah naik sih.

    tapi kalau yang namanya kereta ekonomi ya gitu.
    banyak yang jaualan,
    kesana kemari,

    musti rame2 kalau naik kereta, pasti asyik.

  2. arsiyawenty says:

    ia seru kalau rame, jadi lengkap canda tawa bersama teman-teman.
    nah perlu dicoba, ini pp jakarta-malang setiap harinya.

  3. KennyKhun says:

    beruntung bisa dapet tempat duduk ga rebutan, kmaren th 2011 gw ke malang naik kereta kesiangan jadi tempat duduknya sisaan dan mesti misah ama rombongan, jd kurang menyenangkan. keren juga mengenang kesempatan 2th lalu bisa naik matarmaja. dari awalnya senang sampai sakit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s