Beach Camping – Pantai Sawarna

Tinggal di Ujung Selatan Pulau Sumatera menjadikan saya akrab dengan daerah pesisir, pantai indah dengan pasir dan degradasi warna tosca – biru sudah menjadi hal yang sering dinikmati, baik bersama keluarga maupun teman-teman. Hal ini yang kemudian menjadi alasan saya sering menolak ajakan untuk bermain di pantai, dan sangat tidak bisa menolak ajakan pendakian.

Rabu, 18 Juli 2012

Pagi-pagi sekali saya sudah berada di Stasiun UI dan seperti layaknya jadwal transportasi umum lainnya di Indonesia, tidak lepas dari jam karetnya. Janjian sudah tiba di Stasiun Bogor jam 06.00 WIB saya tiba 90 menit lebih lama. Perjalanan kali ini bukan untuk menikmati ribuan meter di atas pemukaan laut, kami akan bergerak ke Pantai Selatan, tepatnya ke daerah Banten Selatan, Pantai Sawarna.

Sebelum sampai di Sawarna, kami melewati Jalur Cikidang untuk sampai di Pelabuhan Ratu. Selama perjalanan mata dimanjakan dengan hijaunya Perkebunan Kelapa Sawit, ada dua hal yang saya rasakan dalam satu waktu ketika melihat ribuan Pohon Kelapa Sawit tertata rapi, yang diselingi oleh Singkong, indah. Pikiran saya bergerak ke dampak yang mungkin dihadapi penduduk daerah ini dalam dua kategori, dampak jangka pendek dan jangka panjang, sedih.

Sementara ini  penduduk lokal mungkin menikmati banyak keuntungan dari perkebunan, namun jangka panjang mereka akan sangat kesulitan untuk menggantikan tanaman yang sekarang jadi pujaan ini. Iming-iming keuntungan dan penghidupan layak tidak sebanding dengan banyaknya dampak tidak sehat baik untuk lingkungan hidup maupun untuk keberlangsungan hidup penduduk sekitar perkebunan, tentu dalam tulisan ini saya tidak akan memperpanjang penjelasan dan kajian baik secara akademis maupun pragmatis.

Kembali ke cerita utama, perjalanan akhirnya dikejutkan dengan pemandangan pantai dari ketinggian, dengan antusias saya langsung berhenti dan mengabadikan panorama alam ini, klik sana klik sini, puas. 30 menit sebelum jam 11.00 WIB kami tiba di Pelabuhan Ratu, melewati sebuah jalan tikus untuk menghindari retribusi ilegal pelabuhan, tibalah kami di tempat tujuan mencari menu ikan untuk dibakar malam harinya.

Pelabuhan Ratu dari Ketinggian

Sambil Menyelam Cari Ikan

Setelah mendapatkan ikan-ikan, dan pemberian ikan (haha), kami melanjutkan perjalanan, makan, lalu menitipkan barang. 120 menit kemudian motor-motor mulai tidak kuat menampung pengendaranya, jalan aspal kurang mulus dan menanjak menjadi tantangannya, turun dari motor dan berjalan sedikit, dan di puncak aspal tersebut Pantai Sawarna terlihat indah mempesona. Seperti biasa, mengabadikan dalam kamera.

Pantai Sawarna

Pantai pertama yang kami kunjungi adalah pantai indah setelah Pulau Manuk. Masuk kawasan wisata tersebut tentu harus mengeluarkan sejumlah rupiah, akhirnya bergeser sedikit setelah melewati jembatan, kami berbelok masuk pantai, gratis. Jalan yang dilewati didominasi pasir pantai yang berdebu dan licin, alhasil motor yang saya tumpangi tumbang (haha) tentu hal ini tetap menyenangkan, tertawa adalah pilihan yang tepat setelah robohnya kendaraan tersebut.

Kendaraan Tumbang

Sesampainya di tujuan, kita dapat menikmati pasir bersih khas pantai selatan, ombak berkejar-kejaran, Pulau Manuk diseberang pantai, dan lengkap dengan jingga langit senja, sunset. Pemandangan ini tentu paling enak dinikmati bersama yang hangat, mie menjadi pilihan utama. Setelah kenyang, tidur-tiduran di pasir pantai menjadi berbeda, ketika di atas kami merupakan jalur burung-burung kalong beterbangan, awalnya hanya beberapa, kemudian komunal itu bertambah, berputar, luar biasa.

Pulau Manuk

Ombak dan Sunset

Hari mulai gelap, pantai tujuan utama kedatangan kami masih 30 menit perjalanan, dan jalan berpasir kembali harus dilewati, berbekal pengalaman sebelumnya (asek) kami berempat selamat, tidak ada yang tumbang (hehe).

Setibanya di Pantai Sawarna, kami membangun tendah, bakar ikan hasil ‘tangkapan’, makan malam, dan pindah tenda (karena sejumlah alasan mistis). Malam itu terasa singkat, tiba-tiba sudah jam 00.00 WIB, kami yang membawa 2 tenda, tidak ada yang berani tidur sendirian di tenda kapasitas 2 orang, karena kondisi pantai yang cukup mencekam. zzzzz

Bumi Perkemahan

Jumat, 19 Juli 2012

Puas menikmati pantai, saatnya sayonara sawarna, kami akhirnya berpindah ke pantai tujuan berikutnya, Tanjung Layar. Sebelumnya tentu kami sarapan pagi, saya sempat berkeliling sedikit menikmati ombak-ombak pantai, suatu hari saya tidak akan menolak untuk kembali menyusuri pantai ini ke arah Barat tentunya, karena Tanjung Layar berada di Timur Sawarna.

Sayonara Sawarna

Nah, belum 30 menit meninggalkan Sawarna, Tanjung Layar menyambut dengan indahnya, dua batu besar dan ombak-ombak tinggi itu menjadi kombinasi sempurna. Perjalanan dilanjutkan dengan menuju bukit yang cukup tinggi, berjalan menuju pantai sepi, yang hanya dapat dikunjungi ketika laut surut. Bebatuan disana memiliki lapisan yang menunjukkan tahun demi tahun yang dilewatinya, dan banyaknya umang-umang di pasir pantai, menjadi hewan kecil mainan seru.

Selamat Datang – Tanjung Layar

Disana kami menghabiskan waktu hingga siang hari, makan di warung penduduk lokal, menikmati keindahan ciptaan tuhan, dan mensyukuri hidup. Kami bahkan sampai tertidur di pinggir pantai, bahkan ibu penjual mengambil piring-piring tidak kami sadari, begitu tenang tempat ini.

Deburan Ombak

Indahnya Tanjung Layar

Sudut Lain Tanjung Layar

Pantai Sawarna Terlihat dari Bukit

Karena simpang siur kabar Bulan Ramadhan, kami tetap akhirnya kembali ke Bogor, sebelum itu, mampir ke rumah teman di Bogor, dan akhirnya sampailah kami di Bakso Super, saya sampai lelah mengunyah makanan itu. Akhirnya malam itu saya kembali ke kosan di Depok, perjalanan boleh berakhir tapi pengalaman dan kenangan pasti tidak akan terlupakan, jalan-jalan selalu punya hikmah setelahnya, Alhamdulillah.

The World is a Book and those who do not travel read only one page … life begins outside a confort zone.

 

Itinerary Perjalanan:

  1. Depok – Bogor: Kereta Api 45 menit
  2. Bogor – Sawarna: Motor dengan jalanan normal 4 jam, menurut cerita teman kalau kendaraan umum 8 jam, dan dari Pelabuhan Ratu menggunakan kendaraan ELF yang hanya ada jam 1 siang, dengan biaya sekitar Rp 120.000.
  3. Sawarna – Pantai Manuk (sebelahnya): 30 menit
  4. Sawarna – Tanjung Layar: 20 menit

Catatan:

  • Pemandangan burung-burung beterbangan baiknya dinikmati gratis di Pantai Setelah Pantai Manuk, 10 menit perjalanan.
  • Sangat disarankan sekali menggunakan angkutan pribadi lebih murah dan yang sangat direkomendasikan dengan motor, hemat biaya dan waktu.
  • Dan untuk penginapan sangat disarankan menggunakan tenda pribadi, meskipun ada penginapan, yang bisa dikategorikan terjangkau, namun bintang malam dan deburan ombak saat malam lebih nikmat dengan tenda dan api unggun di pantai.
  • Jangan berenang di Pantai Sawarna, karena sudah banyak korban terseret ombak, dan ‘lewat’. Kalau mau berenang di Tanjung Layar saja.

Terima Kasih:

  • Teman-teman baik dan seru (sumpah ini jujur haha): Devi Kurniawan, Asudasa Yasa, dan Ramdhan F Sumarwan (nama lengkap ye haha).
  • Bapak yang meminta kami pindah tenda ketika di Sawarna.
  • Bang (lupa namanya) yang sudah memperbolehkan menitipkan barang.
  • Ciwit adiknya eh kakaknya dan tenyata pacarnya Yasa, yang baik dan ramah (salam kenal ya haha), lain kesempatan mari ke Pantai lagi.
  • Ibunya Yasa yang sudah menerima kedatangan kami, maaf tante acak-acak rumahnya, saya makan jeruknya (banyak).

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Jalan-Jalan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Beach Camping – Pantai Sawarna

  1. rivai says:

    wah wah.

    asyik juga kalo pas liburan, bisa jaln jalan mulu..
    tergantung kantong juga sih.
    pasti kantongnya tebel.

    haha

  2. arsiyawenty says:

    amin (re: kantong tebel) hehe
    lumayan, rajin jalan artinya harus rajin nabung…. 😀

  3. made susila says:

    kalau ke tanjung layar enak tidur di warungnya titing aman dan murah meriah

  4. camping dipinggir pantai woow enak banget…

  5. Maulana Jodi says:

    Mau tanya.. itu kalo pake motor kan bisa sampai bibir pantai? kalo make mobil kira2 bisa ga?? soalnya ane ada rencana camping di sawarna juga.

  6. zahra r says:

    wah ka… bagi2 info dongka.. pas ke sawarna abis berapa budgetnya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s