Pendakian Gunung Merbabu via Selo

Senja di tanggal 8 Juli 2012 saya masih berada di Basecamp Merapi via Selo. Memandang di kejauhan Gunung Merbabu yang semakin tertutup kabut, sesekali terbuka lalu tertutup lagi, sangat menggoda. Akhirnya saya putuskan untuk kembali ke Solo terlebih dahulu dan datang lagi keesokan harinya, alasannya sederhana, karena saya sudah 3 hari 2 malam tidak tidur, dan saya rindu tempat tidur yang beradab (red: kasur). Dan yang membuat saya ingin kembali ke Selo adalah iming-iming melihat bunga abadi dengan tinggi mencapai 2 meter, dan ternyata Anaphalis javanica di Gunung ini luar biasa.

Tinggi dan Abadi

Gunung Merbabu memiliki ketinggian 3142 mdpl, terletak di 3 Kabupaten yaitu Magelang, Salatiga, dan Boyolali, Provinsi Jawa Tengah. Jalur pendakian ke Gunung ini termasuk banyak, dalam sejumlah referensi dapat dikategorikan menjadi Jalur Pendakian dan Jalur Penduduk.  Untuk kesempatan kali ini saya bergerak via Selo, Desa Genting, Kecamatan Selo, Boyolali. Untuk sampai disana jalur aspal tidak mulus dan berliku adalah santapan utama, sejauh mata memandang terbentang panorama hijau berbukit yang sangat indah luar biasa, diselingi rumah-rumah penduduk desa, sebuah kombinasi yang mencerminkan hamonisasi dan interaksi antara alam dan manusia.

Senin, 9 Juli 2012

Pendakian kali ini sangat tidak terencana, saya hanya mengikuti kata hati, dan disinilah saya berdiri, dihadapan Basecamp Merbabu milik Pak Parman. 3 jam sebelumnya saya masih berada di Sekret DIMPA Universitas Surakarta, membereskan tenda bermuatan 6 orang yang akan menjadi ‘rumah’ di Padang Edelweis Merbabu.

Kemudian saya dan rekan pendaki asal Solo yang masih ‘bocah’ (nama disamarkan, haha) berangkat menggunakan sepeda motor, kami pun menyempatkan diri makan siang di angkringan super murah. Beberapa ratus meter mendekati Basecamp tiba-tiba motor ‘pingsan’ karena sudah tidak kuat menahan beban, alhasil saya berjalan kaki.

Basecamp Pak Parman (085642033214)

Pendakian dimulai tepat jam 19.30 WIB, kami mampir terlebih dahulu di Basecamp Pak Noto dan kami bertemu dengan 6 orang pendaki asal Palembang (Palaspa) yang sedang dalam Pengembaraan. Saya sempat mengajak mereka untuk pendakian bersama, namun akhirnya mereka memilih bermalam di Basecamp untuk memulihkan kondisi fisik, karena baru tiba dari perjalanan panjang Palembang – Boyolali via transportasi darat yang super ekonomis (wooow).

Saya sebenarnya tidak begitu menyukai pendakian pada malam hari, selain membahayakan, juga menakutkan (penakut). Sepanjang perjalanan saya hanya memperhatikan jalur, tidak berhenti bercerita dan sedikit bersenandung (cieeh). Saya baru mengetahui jalur pendakian ketika turun, berjalan santai dan memperhatikan setiap sudut yang dilewati, ternyata jalur ini begitu indah dan landai.

Dari Basecamp, kita akan melewati jalur beraspal kasar, untuk sampai di Gapura Selamat Datang, di kanan-kiri tanaman tembakau. Untuk mencapai Pos I kita dimanjakan dengan hutan pinus dan jalur yang landai, pelataran Pos I cukup luas, bisa mendirikan 3-4 tenda. Setelah itu jalanan mulus penuh bonus, landai bertanah. Sebenarnya cukup membosankan, mirip dengan jalur pendakian Gunung Gede-Pangrango via Cibodas dari Persimpangan Curug Cibereum ke Pos Informasi, bedanya jalur ini tidak berbatu.

Gapura Selamat Datang (di-capture ketika turun)

Berlanjut jalan menuju Pos II kita akan dihadapkan pada Tikungan Macan, elevasinya hampir mencapai 45 derajat, dengan jalur tanah rentan longsor. Selain kita juga menapakkan kaki di 3 batang pohon horizontal tertata rapi untuk melewati sebuah jurang. Kemudian berlanjut ke Pos III (Batu Tulis), di pos ini terdapat batu berukuran cukup besar, dan sudah pasti lengkap dengan Vandalisme pendaki-pendaki yang bodoh dan tidak tahu aturan.

Batu Tulis yang di ‘Tulis’ – Vandalisme

Perjalanan dari Pos II menuju Pos III, kita dimanjakan oleh perbukitan yang ditumbuhi Bunga Abadi dengan liarnya, sungguh senang melihat mereka hidup di lereng yang cukup sulit dijangkau dan jauh dari jalur pendakian, sehingga tangan-tangan pendaki jahil tidak sempat mematahkan batang dan mengambil bunganya.

Liar di Perbukitan

Perjalanan dilanjutkan menuju Sabana I dan Sabana II, keduanya merupakan kawasan luas berumput, dan vegetasi lainnya khas sabana, mirip dengan taman teletubies, hijau berbukit-bukit. Sebaiknya tidak membangun tenda disini, karena mitosnya kalau malam hari sering ada ‘Pasar Setan’ disini, malam hari yang sunyi sering tiba-tiba berisik suara lagu-lagu dan bunyi permainana khas pasar malam, banyak yang bilang ini merupakan pintu gerbang ke dunia lain.

Saya yang tidak percaya hal-hal mistis mencoba berkeliling melihat sabana ini, wajar saja tidak disarankan, kalau malam cuaca sering tidak menentu, angin pun berhembus dari segala arah karena tidak ada vegetasi tinggi yang menghalanginya, jadi baiknya membangun tenda setelah Sabana II, tepat dibawah pohon-pohon Edelweis yang tinggi. Selain aman, saat pagi datang kita akan dimanjakan dengan indahnya Gunung Merapi yang gagah berdiri.

Dibawah Edelweis

Buka Tenda eh ada Merapi

Selasa, 10 Juli 2012

Setelah Shalat Subuh dan menikmati minuman hangat, kami yang tidak berniat mengejar sunrise di puncak karena badai, akhirnya melanjutkan pendakian jam 06.40 WIB, dan 60 menit berlalu tibalah kami di Pucak Gunung Merbabu, cerahnya cuaca, hangatnya sinar matahari pagi melengkapi pesona alam yang ada. Saya pun mengabadikan sarung tangan hangat hadiah dari teman-teman DIMPA Universtas Surakarta di Papan Triangulasi.

Di Papan Triangulasi

360 derajat berputar semua hijau, bukit-bukit merbabu, dan awan-awan yang terlihat padat seperti bisa dipijak, lengkap dengan Gunung Merapi, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing dan Gunung Slamet. Jalur pendakian dari segala arah terlihat jelas, reruputan dan banyak pemandangan yang tidak dapat dinarasikan keindahannya, Subhanallah – Alhamdulillah.

Anaphalis javanica – Sabana – Sindoro Sumbing

Terlihat Sindoro Sumbing

Setelah 65 menit berada di puncak, saya pun merasa lapar, selain itu kabut sudah mulai datang berkejar-kejaran, akhirnya kami memutuskan untuk turun. Sepanjang perjalanan turun, pemandangan tidak kalah indahnya, kanan-kiri Bunga Abadi seperti menyambut kedatangan, namun hati-hati, karena jalur pendakian cukup terjal dan licin. Beberapa langkah menuju tenda, saya sempat mengambil gambar Bunga Abadi yang entah terjatuh atau sengaja dipetik namun terjatuh dari pengambilnya.

Abadi yang Terjatuh

Abadi yang Tinggi

Saat perjalanan turun kami bertemu dengan teman-teman yang dari Palembang, ternyata mereka memulai pendakian dini hari, sambil berlari kecil kami hanya sempat bertegur sapa sedikit. Setelah makan  sambil menikmati lagu-lagu khas pendaki, saya merasa malas meninggalkan tempat ini, bisa dibayangkan serunya, makan dikelilingi Bunga Abadi, dihadapan Gunung Merapi gagah berdiri, dan alunan lagu diikuti kicauan burung hutan terdengar begitu menenangkan, surga itu sederhana.

Perjalanan turun, 4 jam 60 menit berlalu begitu cepat, begitu banyak pemandangan yang tertata rapi di kamera 8 giga, dan tak terhingga jumlahnya yang tersimpan di memori pribadi. Begitu banyak pengalaman dan pembelajaran baru dalam setiap pendakian, dan saya rasa perlu kembali lagi ke Gunung ini dari jalur pendakian yang lain, yang saya yakin sama indahnya, InsyaAllah.

Itinerary Pendakian:

  1. Basecamp – Pos I : 1 jam 5 menit
  2. Pos I – Pos II : 1 jam
  3. Pos II – Pos III : 25 menit
  4. Pos III – Sabana I : 1 jam
  5. Sabana I – Sabana II : 30 menit
  6. Sabana II – Puncak: 1 jam

Catatan:

  • Transportasi menuju Basecamp termasuk sulit didapat, jadi disarankan untuk menghubungi Pak Parman 085742033214.
  • Ketika menuju Pos I ada persimpangan jalan, ambil yang ke kanan, meskipun terlihat tertutup namun itulah jalur yang sebenarnya. Karena jalur kiri berputar jauh.
  • Ketika turun, hati-hati di Tikungan Macan, karena ada persimpangan ke arah jalur pendakian dan ke arah jurang.
  • Disarankan membawa masker untuk menghidari debu ketika siang hari, karena jalur pendakian mulai kering dan berdebu.
  • JANGAN meremehkan jalur pendakian gunung ini, karena sudah banyak memakan korban, namun disembunyikan oleh warga, tujuannya selain untuk tidak menakuti pendaki, juga ada alasan mistis dibaliknya.

Terima Kasih:

  • Sa’ad Fajrul yang bersedia menemani pendakian via Selo, yang menurut ybs dia sudah 5x kesini.
  • DIMPA Universitas Surakarta atas kebaikannya meminjamkan helm dan tenda.
  • Mba Ghea yang lagi-lagi kamarnya diacak-acak untuk pelepas lelah dan penitipan barang.
  • PO. Bus Rosalia Indah yang nyaman, sehingga pulang ke Depok tidak terasa melelahkan, meskipun mahal (hehe).

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Gunung Hutan and tagged . Bookmark the permalink.

28 Responses to Pendakian Gunung Merbabu via Selo

  1. wibisono says:

    wah mbaknya sudah banyak pengalaman dan menjelajahi gunung di indonesia. Salut deh.. iri saya.. ayo mbak mendaki bareng.

    • arsiyawenty says:

      hhaha Alhamdulillah, tapi kalau kita lihat dari kondisi fisik Indonesia, masih banyak yang belum didaki hehe
      ayo lain kali kita lakukan pendakian bersama, saya dan teman-teman habis lebarna berencana ke Rimba Sumatera, di 3805 mdpl … Gunung Berapi tertinggi di Indonesia, Gunung Kerinci .. kalau mau merapat kabarin aja 😀

  2. uye…………see u next time mountain animal

  3. saadfajrul says:

    yeyeyeyee….gue dah punya blog

  4. rivai says:

    kakakakakaka.
    akhirnya sampai merbabu juga.

    lawunya jadi mbak?

  5. @_khoirulhuda_ says:

    thanks for this information Ms.Ars…

    Kebetulan lagi googling Merbabu,, 🙂

  6. jimanto says:

    jos apik2,,,,, aq udh lupa jalurnya,,, tinggal samar bayang kenangan hehehe,,,, lumayan ikut membantu memunculkan ingatan……

  7. Willy says:

    segera menyusul 🙂

  8. andre says:

    saya aja yg rumahnya cuma sekitar 15 menit dari basecamp tekelan/jalur kopeng kalo naik motor(sebenernya deket, tapi jalanan nanjak, jadi lama) malah belum pernah sampai puncak, padahal punya tmen yg biasa memandu pendaki,
    pengen banget ”muncak”..
    #SOON 🙂

    • arsiyawenty says:

      hallo andre salam kenal 🙂
      wah ia indah sekali panorama alam gunung satu ini, good luck ya, semoga berhasil dan ditunggu kisah sukses muncaknya 🙂

  9. wahyu eko says:

    so amazing!! thanks mbak info nya.
    2 hari lgi aq siap mnjejakkan kaki d puncak merbabu.. /

  10. Rizal says:

    thx berbagi catpernya neng

  11. sintitika says:

    semakin ingin ke merbabu :/ minggu kemarin berencana kesana malah dapat info merbabu kebakaran 😦 jadi putar haluan merapi deh..huhuhu nyes banget rasanya :’) (jadi curcol) hehehe

  12. dimas rama says:

    keren mbak yu 😀

  13. anonsaga says:

    jadi teringat waktu masih muda… merbabu via selo jadi semacam rumah kedua tiap akhir pekan.. sekarang sudah banyak yang berubah #ahsudahlah

  14. santiago says:

    Woww keren… pengen ke sana….

  15. Yasir Yafiat says:

    Saya ada rencana ke Merbabu. Mohon pencerahannya tentang cerita terkait mistisnya G. Merbabu agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.

  16. tama says:

    Hello…..
    saya berencana ke merbabu januari depan, bisa minta tolong ga transportasi dr jakarta ke merbabu gimana ya???

    salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s