Pendakian Massal Gunung Merapi via Selo

Kamis pagi itu (5 Juli 2012) saya tiba-tiba pindah haluan, dari niat pendakian ke Gunung Slamet, hingga akhirnya jam 11.00 WIB tiket bus menuju Solo untuk keberangkatan 6 Juli 2012 sudah ada ditangan. Saya siap untuk Pendakian Massal Gunung Merapi 7-8 Juli 2012 kali ini yang menjadi tuan rumah adalah DIMPA Universitas Surakarta.

Gunung Merapi dilihat dari Gunung Merbabu

Gunung ini terletak diantara dua provinsi yaitu Provinsi Jawa Tengah (Magelang dan Boyolali) dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat ini jalur pendakian yang dibuka hanya via Selo yang terletak di Dusun Plalangan, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Gunung Merapi merupakan salah satu gunung teraktif di dunia, letusan terakhir terjadi November 2010.

Letusan gunung sering diiringi dengan mitos yang mistis, karena hampir semua gunung aktif meletus pada Bulan Purnama, hal ini yang kemudian dikaitkan dengan prihal mistis oleh masyarakat lokal yang ‘tradisional’. Saya yang tidak percaya mitos kemudian menemukan alasan logis dari fenomena ini (dari berbagai sumber). Salah satunya adalah faktor astronomik yang memicu gempa vulkanik memperbesar kemungkinan erupsi dari sebuah gunung aktif, konjungsi antara Bulan dan Matahari, dengan posisi Bumi, Bulan dan Matahari Sejajar satu garis.

Jum’at, 6 Juli 2012

Sore itu saya meluncur menuju Solo bersama Kenny, teman yang kemudian berpisah perjalanan, saya menikmati ketinggian, sedangkan ia memilih untuk keliling Kota Solo-Jogja-Semarang. Sepanjang perjalanan banyak dihabiskan dengan bercerita dan tidur. Selain itu, saya sempat merenungkan perjalanan ini, sangat tiba-tiba, sendirian dan tanpa banyak persiapan, benar-benar jalan apa adanya.

Sabtu, 7 Juli 2012

Akhirnya jam 10.00 WIB tiba di Terminal Solo, 30 menit kemudian saya sudah berada di Sekret DIMPA UNSA. Disana saya bertemu dengan bocah solo yang juga teman pendakian ketika ke Semeru, yang akhirnya menjadi teman pendakian Gunung Merbabu. Setelah bersih-bersih, makan siang yang sangat murah, saya berpamitan dengan Kenny, dan berangkat menuju Selo menggunakan truk, tidak lupa kami semua memanjatkan do’a sebelum perjalanan dimulai.

Briefing dan Berdo’a

Sepanjang perjalanan saya lebih banyak tidur, karena kondisi fisik belum kembali pulih setelah perjalanan panjang Depok-Solo, namun mental tetap prima (cieeh). Sebelum tiba di Selo, truk berhenti di sebuah angkringan yang sangat murah dan enak, saya tidak melawatkan kesempatan ini untuk mencicipi beberapa jenis makanan, dan teh manis hangat, kenyang.

Perjalanan berlanjut hingga akhirnya tibalah di Basecamp Selo, shalat, makan malam, dan pembagian tim pendakian berlangsung sangat cepat, dan tepat pukul 21.00 WIB saya yang menjadi bagian dati tim 5 bergerak ke arah jalur pendakian. Tim 5 merupakan tim terakhir yang jalan, dan dari pengamatan saya tim inilah yang paling asik, kami berjalan sangat santai, bercanda, dan saya sedikit belajar Bahasa Jawa (sak karepmu ndewe hehe). Dalam tim ini, saya belajar banyak hal, pertemanan, kebersamaan, dan kesederhanaan, mereka teman-teman yang baru saya kenal, namun alam mendekatkan kami, we came as strangers and left as ‘brothers’.

Sepanjang perjalanan kami banyak berhenti, tertawa, dan melempar banyak cerita. Saya banyak merenung, memaknai beberapa hal dalam hidup, menikmati taburan bintang dan terangnya rembulan, pendakian kali ini lebih dari sekedarnya. Sebelum sampai Pasar Bubrah kami bahkan sempat menikmati api unggun, dan hangatnya teh manis pemberian dari teman pendaki yang baru kami kenal. Di alam semua teman, tidak ada sedikitpun pembatas, mungkin inilah hakikat manusia sebenarnya  seharusnya.

Minggu, 8 Juli 2012

Sampai Pasar Bubrah jam 02.50 WIB, saya awalnya tidak kebagian tenda, namun berkat bantuan Mas Memed (PO Penmas) saya akhirnya tidur disebuah tenda yang muat 5 orang, sampai sekarang saya tidak tahu siapa saja yang ada di dalam tenda tersebut. Awalnya, saya berniat menikmati sunrise di Puncak Merapi, namun karena kabut begitu tebal dan angin kencang, saya mengganti rencana dengan menikmatinya di Bukit Pasar Bubrah.

Siluet Sunrise Merapi di Bulan Juli

Matahari Pagi di Bukit Pasar Bubrah

Dan saya sangat berterima kasih kepada salah seorang pendaki Mas xx (saya lupa namanya) yang bersedia menutup pintu goa kecil dengan sarungnya, karena pagi itu saya kebelet pipis (haha), ini tempat yang saya rekomendasikan, karena Pasar Bubrah merupakan ‘lapangan berbatu’ tanpa vegetasi.

Pasar Bubrah

Setelah puas menikmati hangatnya sinar matahari dan berfoto ria, saya memutuskan untuk mencapai Puncak Garuda. Kondisi jalur menuju puncak mirip dengan Jalur Arcopodo – Mahameru, namun perbedaan jelasnya, Jalur Semeru berpasir, sedangkan Jalur Merapi berbatu.

Pinggiran Kawah Merapi

Ini bukan mendaki gunung namun memanjat gunung, setelah batu-batu ‘goyang’ dan ‘labil’ yang sekali diinjak berjatuhan, kita harus melipir kawah dengan kondisi jalur yang sangat kecil, kiri kawah aktif merapi, kanan lereng terjal. Semua lelah dan letih terbayar sudah, sesampai di Puncak Garuda yang kini tidak bersayap, kita dapat menikmati dengan jelas pemandangan luar biasa; Gunung Merbabu, Gunung Lawu, Gunung Slamet, Gunung Sindoro, dan Gunung Sumbing.

Kebersamaan di Puncak Garuda tak Bersayap :))

Sekitar 15 menit menikmati triangulasi, saya mulai merasa lapar, turun dari puncak sangat seru, kita dapat berlari sama halnya ketika turun dari Semeru, yang beda, ini lebih licin, berbatu kerikil dan singkat, tidak sepanjang jalur Semeru.

Sampai pasar bubrah makan logistik bersama bocah-bocah dari Solo (kali ini ada 4 orang), membereskan barang, dan kami siap menuju basecamp. Perjalanan menuju Memoriam saya sempat mengabadikan Kemegahan Merapi, dalam kuningnya cahaya mentari.

Merapi, Kabut dan Sinar Matahari Pagi

Ketika turun, saya kagum ternyata jalur berdebu dan terjal yang saya lewati semalam, untung pendakian dilakukan pada malam hari. Saya bahkan terjatuh tidak kurang dari 4 kali, terpeleset, tersandung dsb. Saya mulai beradaptasi dengan debu dan panas merapi, dan saya mulai mencoba berlari kecil untuk mempercepat perjalanan. Dan ketika tiba di Pondok New Selo, ternyata tulisannya besar seperti Hollywood.

New Selo, Pondok Pendaki Merapi

Ketika tiba di basecamp kami makan siang bersama, dalam penantian truk, ada sedikit acara bagi-bagi hadiah dan saya mendapatkan sarung tangan hangat dari panitia, sarung tangan ini kemudian saya abadikan dalam foto di titik triangulasi Gunung Merbabu.

Dalam pendakian ini saya banyak mendapatkan pengalaman, berkenalan dan bertemu dengan banyak karakter, sifat dan kepribadian, belajar banyak hal tentang kehidupan, bersyukur kepada Tuhan atas kesempatan menikmati ciptaan-Nya yang luar biasa. Alhamdulillah.

Pendaki-Pendaki Merapi di Awal Bulan Juli

Itinerary Pendakian:

  1. Solo – Selo : 3 jam (truk)
  2. Basecamp Selo – Pondok Pendaki (New Selo): 15 menit
  3. New Selo – Pos I : 30 menit
  4. Pos I – Pos II : 1 jam
  5. Pos II – Tugu : 1 jam 15 menit
  6. Tugu -Memoriam : 10 menit
  7. Memoriam – Pasar Bubrah : 5 menit
  8. Pasar Bubrah – Puncak Garuda : 45 menit

Catatan:

  1. Mulailah pendakian pada malam hari sehingga tidak terasa terjal dan berdebu di jalur pendakian, karena pada siang hari terasa panas dan sangat berdebu.
  2. Gunakan masker dan kaca mata untuk menghindari debu dan iritasi mata.
  3. Direkomendasikan untuk membangun tenda di Pasar Bubrah, untuk memudahkan summit attack, namun pastikan tenda dibangun dengan tepat, sehingga tidak mudah tertiup angin.
  4. Perhatikan jalur pinggiran kawah ketika menuju Puncak Garuda, kanan-kiri jalur ‘mati’.
  5. Tidak direkomendasikan berlama-lama di Pucak, karena asap belerang yang keluar dari kawah cukup membahayakan jika terhirup banyak, tidak baik untuk pernapasan, disarankan sebelum jam 10.00 WIB sudah berada di Pasar Bubrah.
  6. Kalau kondisi fisik, mental, materi (uang dan pengetahuan) dan alam mendukung, lanjutkan pendakian ke Gunung Merbabu via Selo.

Terima Kasih:

  • DIMPA Universitas Surakarta
  • Mba Ghea yang bersedia di-acak acak kamarnya beberapa hari (hehe)
  • Panitia Pendakian Massal yang tidak dapat disebutkan satu per satu (Mas Memed yang sudah menjemput di Terminal Solo dan meminjamkan motornya serta Mba Yuyun yang sudah mengantarkan ke penginapan gratis yang nyaman)
  • TIM 5 Pendakian Gunung Merapi
  • dan teman-teman pendakian lainnya … kalian semua menjadikan Juli tahun ini begitu berkesan.
Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Gunung Hutan and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Pendakian Massal Gunung Merapi via Selo

  1. rivai says:

    asyik nie foto2 nya..

    sayang nggak punya kamera, kemarin nggak bisa poto2.
    ahihihihihi

  2. kira-kira solo trekker (perempuan) diperbolehkan tidak ya? dan bagaimana kira-kira jalurnya, apa cukup jelas?

    thanks 🙂

    • arsiyawenty says:

      boleh aja, selera, cuma ga disarankan soalnya SOP pendakian minimal 3 orang, jadi kalau ada apa-apa, 1 jagain korban 1 cari bantuan. hehe

      kalau gunung di pulau jawa semua rata-rata gunung wisata jadi jelas jalur pendakiannya, untuk merapi jalurnya jelas banget

      salam kenal 😀

  3. khoirul86 says:

    ijin copas fotonya… buat sticker….
    salam lestari

  4. vyan says:

    Terimakasih kembali mbak 😀
    Main ke basecamp Dimpa lagi kalau ada waktu luang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s