Inspiratif

…………CERITA SEORANG PENGUJI………..
…….(PENGUJI SIDANG UJIAN SARJANA)…

Hari ini, saya hadiahkan apresiasi tertinggi kepada
seorang mahasiswi. Ia tampil sangat elegan
menghadapi lima dosen penguji, termasuk saya.
Ia pertahankan karya ilmiahnya dg penuh spirit,
tiada ‘ketakutan’ yang tergambar di wajahnya.
Iapun tak segan-segan minta pertanyaan diulangi
kepada seorang professor.
“Maaf Prof. Apa pertanyaannya boleh diulangi?”.

Tidak perlulah saya ceritakan bgmn debat ilmiah itu
dimulai. Saya terkesima saat sang professor berucap
tegas: “Mestinya Anda merujuk ke teori yang ada”.
Dengan sigap sang kandidat menjawab: “Saya jenuh
dengan teori orang lain Prof.
Saya justru ingin membuat teori”………………
Kian terkesima saya mendengar langsung sanggahan
mahasiswiku ini.

Saya amati, mahasiswi ini sangat ekspresif. Ia bangga
mengungkapkan apa yang dia inginkan.
Calon sarjana ini sungguh memukau di mata saya.
Pertama kalinya, saya sebagai penguji kagum kepada
seorang kandidat. Saya perhatikan, tak ada ucapan
berlebihan dan subyektif dari mulut mahasiswi ini.

Hari ini cita2 saya tergapai, lama sudah saya rindukan
sbh SUASANA ujian, dengan berlangsung debat ilmiah.

Bukan hanya sekedar sebuah formalitas yang membuat
suasana ujian jauh dari atmosfer akademik.

Skripsi-nya murni buatan seorang mahasiswa akhir.
Saya sangat percaya, mahasiswi ini membuat skripsi
dengan penuh naluri keilmuan.

Potret ini, berbeda… ekstrim.. dengan potret seorang
mahasiswa akhir yang skripsinya ‘dibuatkan’ orang lain.
Wajahnya penuh ketegangan, ketakutan, dan terhantui
rasa non akademis dan rasa bersalah.

Hari ini, durasi ujian sampai dua jam dan berlangsung
alot. Bukan basa-basi, perdebatan benar-benar sarat
keilmiahan. Bahkan ada penguji yang dibuatnya ‘grogi’,
krn suasana ilmiah ini pertama terjadi di kampus ini.
Apalagi setingkat ujian skripsi, yang identik dengan
manut-manutnya seorang kandidat.
Angguk-angguk kepala bukan sepenuhnya menunjukkan
sebuah kesopanan, tetapi lebih kepada rasa takut
TIDAK LULUS alias UJIAN ULANG.

Saya sering ter-heran2, seorang kandidat di ujian thesis
malah tak sanggup mempertahankan karya ilmiahnya,
padahal yang seharusnya lebih menguasai thesis-nya itu
adalah dirinya sendiri. Bukan dosen penguji.

Ketakutan apakah yg timbul di diri setiap kandidat?.
Mengapa dia takut?.
Sungguh saya sayangkan, seringkali ajang ujian skripsi,
thesis, bahkan disertasi, malah menjadi momok non
teknis. Kandidat terjatuh bukan krn nuansa akademik
tapi krn faktor lain yang di luar marka-marka akademik.

Hari ini, di akhir ujian skripsi sang mahasiswi ini, kami
berlima sebagai penguji melakukan rapat penentuan kelulusan/ketidaklulusan.
Dimintalah agar sang mahasiswi ini berdiri di depan
meja ujian. Sang profesor menyampaikan rekapitulasi
hasil ujian dg penuh ketegasan:
“Saudari kandidat. Setelah memperhatikan proses ujian,
nilai dari setiap penguji serta sikap Saudari selama ujian berlangsung. Maka dengan ini, Saudari dinyatakan
TIDAK lulus”.

Pembacaan hasil keputusan ini TIDAK membuat sang
kandidat menjadi goyah, sedih, apalagi menangis.
Ia malah berucap:
“Terima kasih Prof. Saya TIDAK terima ketidaklulusan ini.
Saya mohon tunjukkan dimana kesalahan jawaban saya
sehingga nilai saya rendah.
Jika terbukti secara ilmiah, jawaban saya salah.
Saya terima hasil keputusan ketidaklulusan saya”.

Sang profesor diam sejenak, beliau lalu berkata:
“Andai semua mahasiswaku seperti Anda, sayalah orang
yang paling bangga di dunia ini.
Anda benar-benar memperjuangkan hak2 akademik Anda.
Budaya debat ilmiah dari Anda membuat saya kagum.
Kami nyatakan Anda LULUS dengan CUM LAUDE”.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Sosial. Bookmark the permalink.

3 Responses to Inspiratif

  1. rivai says:

    opo to kie??

    salam aja buat yang lagi ujian skripsi.

    beneran nggak sih critanya?

  2. arsiyawenty says:

    ia bener itu kisah di-share sama salah satu dosen di FT UI
    mahasiswanya sidang ada fotonya juga hehe

    oh ia mas Rivai ini yg atwapala ya? tapi lupa nih yg rambutnya curly bukan? hahaha
    yang waktu itu blg punya blog juga kan?

  3. Semua orang bisa seprti itu wen, tp gak semua orang sungguh2 merealisasikannya.. Jgnkan untuk melampauinya, minimal sama dgn prestasinya juga butuh perjuangan, nah, yg mau susah2 berjuang ini yg sedikit…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s