Pendakian Gunung Papandayan

Ketinggalan pesawat Garuda Airlines menuju Lombok menjadi peristiwa pembuka pendakian Gunung Papandayan. Dan akhirnya, setelah sempat 1 kali pending untuk masak-masakan di tanah tertinggi kedua Swiss Van Java.

Gunung Papandayan secara administratif terletak di 3 Desa yaitu Desa Sinar Jaya, Desa Keramat Wangi, dan Desa Cisurupan, Kabupaten Garut. Terlihat dari bentuknya gunung ini merupakan gunung api strato tipe A yang maknanya adalah gunung api magnetik yang masih aktif. Hal ini ditandai dengan letusan pada tahun 2002 yang menghasilkan panorama hutan mati, banyaknya kawah baru, runtuhan dinding kawah, dan munculnya beragam degradasi warna pada tiap dinding tersebut.

18 Mei 2012

Hujan di Kota Depok tidak kunjung berhenti, perjalanan yang awalnya akan dimulai pukul 13.30 WIB mundur sampai pukul 16.30 WIB. Perjalanan menjadi lebih lama lagi karena bus menghabiskan waktu tidak kurang dari 90 menit untuk mencari penumpang, dan tibalah saya di Terminal Guntur tengah malam, perjalanan dilanjutkan menuju Pos Pendakian Gunung Papandayan.

19 Mei 2012

Pendakian ini dimulai pukul 06.30 WIB, menyusuri jalan berbatu yang dimanjakan dengan panorama dinding kawah, dilengkapi dengan kabut dingin yang sering menghambat pernapasan. Saya awalnya tidak menikmati pendakian, karena masih terbawa perasaan kesal tidak jadi menjelajahi Lombok, dan ramainya jalur pendakian menjadi alasan utama lainnya. Saya bahkan sempat berfikir untuk melewati jalur lain.

Suksesi di Dinding Kawah

Danau di Kawah Papandayan

Saya mungkin tidak begitu tertarik dengan pemandangan awal gunung ini, namun Hutan Mati, Pondok Salada  dan Tegal Alun membuka mata saya, ternyata Gunung Papandayan punya sisi yang patut direkomendasikan. Hal-hal semacam ini yang membuat saya tidak pernah percaya pada setiap rekam jejak pendakian orang lain, kecuali dengan mendokumentasikan sendiri.

Ada 2 jalur pendakian menuju Pondok Salada, yaitu jalur terjal yang melewati Hutan Mati, dan Jalur Landai yang dapat dilewati oleh sejumlah kendaraan beroda dua. Untuk kesempatan kali ini saya tertarik dengan terjalnya jalan menuju Hutan Mati.

Hutan Mati

Dari Hutan Mati, kita terus saja melangkahkan kaki sampai bertemu dengan jalur yang mulai ditutupi oleh Pohon Cantigi, terus berjalan sampai melihat Bunga Abadi. Pondok Salada cukup luas untuk mendirikan tenda, namun karena sejumlah alasan saya dan teman-teman terus melanjutkan pendakian. Jalur pendakian seharusnya terlihat jelas kalau tidak dihalangi kabut.

Pondok Salada dari Ketinggian

Jalur Pendakian dilihat dari Pondok Salada (dalam Lingkaran)

Tanjakan cukup cukup terjal adalah jalur pendakian menuju Tegal Alun, yang membuat jalur ini tidak melelahkan adalah pemandangan alamnya. Dan lelah itu semakin hilang ketika tanah landai Tegal Alun, yang dipenuhi Pohon Edelweis menyapa mata, selain itu lengkap tanpa sampah. Mungkin pemandangan akan sangat menarik kalau pendakian dilakukan bulan Agustus, karena Bunga Edelweis bermekaran.

Jalur Pendakian Menuju Tegal Alun

Tegal Alun

Dari Tegal Alun untuk menuju puncak ikuti jalur yang menuju punggungan gunung di sebelah kiri. Selama perjalanan menuju puncak dari Tegal Alun jalurnya cukup landai dengan rapatnya Vegetasi Cantigi. Pucak Gunung Papandayan dipenuhi dengan rapatnya Pohon Cantigi, selain itu tidak terdapat titik triangulasi. Pemandangan dari puncak hanya dapat dinikmati jika kita bergeser ke arah pinggiran jurang.

Puncak Gunung Papandayan tidak saya rekomendasikan untuk menikmati matahari terbit, tempat yang pas adalah dijalur terjal menuju Tegal Alun. Karena dari jalur itu kita juga dapat menikamati pemandangan Pondok Salada, dan tebing-tebing Kawah Gunung Papandayan. Kalau mau bangun tenda untuk beristirahat baiknya di Pondok Salada, karena dekat dengan sumber air, menuju puncak juga tidak terlalu jauh. Namun, pada kesempatan kali ini saya tidak membangun tenda, dan juga tetap membawa semua barang bawaan ke puncak, sekalian latihan fisik dan pernapasan untuk pendakian panjang di Bulan Juni.

Pemandangan dari Pinggiran Jurang Puncak Papandayan

Tidak lama menikmati pinggiran jurang, beberapa teman dari IPB akhirnya bergabung, sampai kami menikmati makan siang bersama. Mereka yang berjumlah 7 orang ternyata baru saja menyelesaikan pendakian dari Atap Garut, Gunung Cikurai. Kami semua akhirnya terun melewati jalur Hutan Mati, dan sampai di Pos Informasi.

Perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan sewaan, kami berhenti di Warung Makan tanpa nasi, dan akhirnya saya menjadi ‘tumbal’ di Warung tersebut (hehe). Perjalanan dilanjutkan ke Warung Nasi berikutnya, kali ini disertai dengan nasi tentunya.

Sekitar pukul 20.00 WIB kami semua naik bus jurusan Kampung Rambutan, kecuali 2 teman pendaki lainnya yang naik bus tujuan Bandung. Tiba di Kampung Rambutan pukul 01.00 WIB, berpamitan dengan teman-teman dari IPB sambil berlari mengejar angkutan kota tujuan Depok mamenutup hari itu dengan kegembiraan.

Tidak jadi menjelajahi dan menyusuri pantai di Lombok saya terima dengan lapang dada, karena adanya pendakian ke Gunung Papandayan. Melihat banyak panorama alam yang indah, dan bertemu dengan teman-teman baru, semua yang juga tidak dapat saya ceritakan satu per satu. Selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa dalam kehidupan, Alhamdulillah.

Iccang, Ryan, Upay, Janu, Uki, Nurul, Roy, Wenty, Danar, Suci

Kombinasi Landscape Gunung Papandayan

Merayap Kawah Papandayan (foto orang paling keren emang selalu muncul belakangan hehe)

Sejumlah catatan:

  1. Jangan memulai pendakian pada sore hari, selain berkabut, asap dari kawah volumenya banyak, dan sangat membahayakan pernapasan.
  2. Kalau pendakian dilakukan tanpa membangun tenda, bawa saja minuman dan makanan secukupnya, selebihnya tinggalkan di Pos Informasi, sampai puncak langsung turun.
  3. Kalau mau bermalam, ada baiknya di Pondok Salada, jadi menuju puncak tidak perlu membawa banyak barang.
  4. Kendaraan dari Terminal Guntur menuju Desa Cisurupan ada setiap waktu, namun sangat direkomendasikan sampai Garut sebelum sore hari, kendaraan mudah harga murah.
  5. Budget:
  • Depok – Terminal Kp. Rambutan : Rp 4.000 (angkutan kota 112)
  • Terminal Kp. Rambutan – Terminal Guntur: Rp 35.000 (bus AC via Tol Cipularang)
  • Terminal Guntur – Simpang Desa Cisurupan: Rp 20.000 (tengah malam) atau Rp 6.000 (angkutan putih biru sebelum sore hari).
  • Simpang – Pos Informasi: Rp 20.000 (pick-up tengah malam)
  • Pendaftaran: seikhlasnya

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Gunung Hutan and tagged , , , . Bookmark the permalink.

31 Responses to Pendakian Gunung Papandayan

  1. januar says:

    nice share wen, nanti catper di blog gw besok baru beres 😀

  2. ubay says:

    canggih…
    papandayan euy..
    kemaren aja gw batal semua rencana…
    tau lo ke papandayan gw nyusul…

  3. ryankom46 says:

    wah,,keren2,,jd pngen nulis jg nih *tp gk jago nulis…hhe

  4. ryan says:

    wah,,keren2,,jd pngen nulis jg nih *tp gk jago nulis…hhe

  5. arsiyawenty says:

    Ayo Janu Ubay dan Ryan pada kenalan, sesama pendaki harus saling mengenal ..
    makna lain dari banyaknya makna pendakian gunung, salah satunya adalah menambah banyak teman, memperpanjang tali silaturrahmi dan berbagi pengalaman serta informasi hehehe.

  6. pararang says:

    belum sempat release… masih di [dot]docx tulisan gw. itupun masih chapter cikuray…

    • arsiyawenty says:

      ditunggu tulisannya cang, ini juga papandayan perlu revisi karna ada beberapa jalur yang salah paham nih, kemaren itu sebenernya ga lewat tegal alun hehe, ntr deh revisi abis uas haha

  7. arya says:

    sugeeeesstt liat foto”y.. kangen pngen treking lg !!

  8. anak wayang says:

    mantap nih! papandayan, segera panggilan darimu kujawab! 🙂 terimakasih sudah mau berbagi coretan.. salam kenal..

  9. spiritofriza says:

    wuiiih… lw cinta ama Garut ya? boleh tuh panggil si Ranina 😀
    anyway, kalo manjat lagi, ajak2 donk! gw pengen tiap weekend manjat nih biar ga stress ama kerjaan *kalo lagi ga di luar kota* ^^

    • arsiyawenty says:

      cinta sama Allah SWT… hehe
      hayuk mendaki hayuuuk, kalau weekend cuma bisa gunung2 jawa barat ya, oke siap.

      • spiritofriza says:

        anw, oktober kmrn gw ke Papandayan looh…
        tp msh penasaran, sbnr’y puncak’y yg mana. coz kata petugas, kita bisa lihat pantai apa gitu… kayak di Bama, Baluran….

      • arsiyawenty says:

        asik ya papandayan, cepet sampe triangulasinya haha
        nah itu dia, waktu gue kesana ga bawa gps, jadi keliling aja, kiranya udh plg tinggi dan ga ada lagi ya asumsi aja itu puncaknya, yang penting pendakian, puncakkan bonus haha 🙂

  10. Fadhli says:

    salam kenal…
    2 kali ke papandayan, tp blm sampe puncak… kalo boleh share –> http://selintastulis.wordpress.com/2012/11/09/gunung-papandayan-dalam-catatan-pengembaraan-kisanak-ngetengmania-1/
    fyi, puncak papandayan itu sbnrnya bukan yg tertinggi, puncak yg tertingginya itu dinamakan puncak malang, dan belum terbuka jalurnya. Tim gunungbagging.com ada yang udah coba sampe puncak sebenarnya, tp hanya sampai 300meter (ketinggian vertikal) di bawah puncak sebenarnya…

    • arsiyawenty says:

      ia kita juga semua ga yakin itu puncaknya, soalnya ga ada titik triangulasi
      karena pindah sana sini jurang, udah deh berenti terus makan siang haha
      oh ia salam kenal ya, lain kali bisa nih pendakian bareng 🙂

  11. dwi bayu setiaji says:

    Nice share, invite pin saya donk 332128D8 , butuh banyak informasi dari para pendahulu niih

  12. pecinta alam sma 80 says:

    wah mantap nih papandayan, sumber air cuma di pondok saladah ya?

  13. Daud Satia says:

    Kapan ya bisa kesini lagi…terakhir naek kesini tahun 2003…

  14. Pingback: Gunung Papandayan – Jawa Barat | Wisata Gunung

  15. gilang ramadhan says:

    hay arsi , insyaallah saya akhir januari tahun 2015 mau naik ke situ , nah saya mau nnya tentang trek nya dong supaya ga nyasar hehe 😀 dari pondok salada ke puncak itu lumayan jauh ga ? terus untuk treknya terjal atau ga mba ?

    • arsiyawenty says:

      Hallo Gilang salam kenal 🙂

      Untuk papandayan masih lumayan santai treknya, selain itu ini Gunung Wisata, jadi ramai, kemungkinan untuk tersesat sangat kecil.

      Untuk trek muncaknya juga jelas dan tidak begitu jauh. Vertikal pasti karena untuk muncak ya, treknya terjal medium, cuma karena jalurnya kecil jadi sering antre kalau pendakian weekend.

      But overall, Papandayan Bagus 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s