yang berbahaya itu bermakna

Awalnya waktu SMA saya bingung kenapa orang suka dengan kegiatan pendakian, padahal yang dilihat cuma pohon, awan, dan pemandangan sekitar gunung, bonus dengan sunrise sunset, dan yang saya tau selain ketinggian, gunung juga membahayakan pendakinya. Hingga akhirnya saya memahami ini, ketika secara tidak sengaja bertemu dengan teman dalam sebuah seminar, yang juga pecinta alam di kampus. Dia menginformasikan kalau teman-temannya akan melakukan pendakian besok malam, ke Gunung Gede. Alhasil, tanpa pikir panjang saya menerima tawaran tersebut, dan jadilah saya mendaki dengan persiapan yang singkat.

Setelah sampai di Surya Kencana, saya semakin paham mengapa orang selalu ingin mendaki gunung, karena keindahan alamnya tidak dapat diceritakan secara teliti, hanya dapat benar-benar dirasakan, maka makna dibalik keindahannya benar-benar memberikan kita pengalaman dan pembelajaran berharga, atas hidup dan syukur. Semakin ke puncak semakin saya menyadari betapa kecilnya saya di semesta ini, dan semakin saya merasakan besarnya Kuasa-Mu. Penciptaan yang luar biasa, untuk dilihat oleh kami, manusia biasa. Sungguh Kuasa-Mu terlihat begitu Maha dalam keindahan alam, manusia tidak ada apa-apa nya, maka berfikir dan wajib bersyukur.

Setelah pendakian tersebut, saya semakin tergila-gila akan keindahan alam, gunung, tinggi dan berbahya, namun indah dan sedap dipandang mata, memberikan kesejukkan jiwa dan raga, memberikan kelegaan rohani, sangat bermakna. Semakin hari saya semakin bersemangat untuk berjuang mencapai puncak-puncak lainnya, namun pada dasarnya yang perlu diperhatikan adalah:

Kejar proses dan perjuangannya, bukan puncaknya.

Ketika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa Indonesia memiliki bulan-bulan dimana pendakian ditutup karena cuaca ekstrem, terutama pada rentan bulan Januari hingga Maret. Pendakian paling bagus adalah pada bulan kering yaitu Juni dan Juli. Keputusan yang saya ambil untuk tetap melakukan pendakian pada awal bulan Februari  ke Gunung Lawu adalah karena dalam diri saya telah tertanam mental yang tidak cepat takut akan tantangan, tidak menyerah atas kenyataan, dan berjuang atas apa yang benar dan benar-benar diinginkan.

Tidak ada yang membahayakan dari ketinggian kecuali Tinggi Hati, tidak ada yang perlu ditakutkan dari cuaca kecuali Yang Maha Kuasa.

Banyak pembelajaran yang saya dapatkan dari setiap langkah pendakian, bahwa manusia tidak ada sedikitpun kuasa untuk bersikap sombong, dan tinggi hati. Kita hanya individu kecil yang berusaha untuk mendapatkan hak dengan terlebih dahulu menjalankan kewajiban dalam hubungan vertikal dengan tuhan dan horizontal dengan sesama makhluk ciptaan tuhan. Kesabaran, Keberanian dan Keteguhan adalah bekal dari perjuangan dan pengorbanan, mental untuk tidak cepat menyerah dan berputus asa dalam pendakian memberikan gambaran bahwa kehidupan yang sebenarnya ada di luar, bukan di zona aman. Bahwa semua hal tidak ada yang sia-sia, semua ada karena alasan.

Kemampuan untuk dapat menyemangati diri sendiri dan teman pendaki lainnya, menggambarkan bagaimana seharusnya relasi dan interaksi kita sesama manusia. Yang harusnya saling mendukung dan membantu, memberikan semangat dan dukungan tulus untuk tidak menyerah. Pada kehidupan sehari-hari relasi dan interaksi ini tidak terjalin, yang ada hanyalah simbiosis yang menguntungkan sebelah pihak, individualisme dan sikap yang mau menang sendiri.

Dalam perjalanan menuju puncak gunung ada banyak hal yang saya sendiri rasakan, di alam kita benar-benar menjadi manusia dengan sifat dan karakter asli yang melekat pada diri kita, tidak ada modifikasi, tidak ada topeng, semua asli. Saya bahkan sempat berfikir, kalau nanti berencana memilih pasangan hidup ada baiknya orang tersebut diajak dalam pendakian, untuk sekedar mengetahui sifat dan karakter aslinya, bagaimana ia menghadapi segala keterbatasan, dengan kondisi lelah jiwa dan raga.

Pendakian mulai sulit ketika lemah fisik juga disertai dengan lemah mental, kesabaran untuk menanti sampai kapan perjalanan ini berakhir adalah nilai tukar yang harus ada dalam setiap pendakian. Dan inilah yang seharusnya ada dalam kehidupan, ketika kita ingin mencapai suatu titik kesuksesan dan harapan, kita tidak boleh mudah menyerah, sabar dan terus berusaha, sekecil apapun usaha yang dapat kita lakukan, jangan pernah merasa sia-sia, yang paling penting adalah terus bergerak untuk sampai ke puncak.

Kita sering merasakan kesulitan amat dalam ketika jalur mulai terjal, banyak orang berpesan jangan lihat tingginya dan terjalnya jalan, lihat saja kebawah dan terus bergerak, maka kau tidak akan lelah dan cepat menyerah. Mungkin kalau kita korelasikan dengan kehidupan, ini menggambarkan bahwa kita jangan terus-menerus melihat hal-hal sedang kita kejar, hanya cukup terus bergerak dan mensyukuri jalan yang telah kita lalui. Atau dengan kalimat lain, jangan menyesali hal-hal yang sulit dan tidak kita dapatkan, terus berusaha dan bersyukuri atas apa yang telah kita miliki.

Dibandingkan mengejar ketidakpastian lebih baik mensyukuri yang telah kita dapatkan.

Tiap orang memiliki makna dan interpretasi yang berbeda dalam setiap pendakian yang dijalani, namun semua kembali pada kesimpulan bahwa hidup adalah perjuangan dan pengorbanan, keberanian dan kesabaran adalah pelengkap yang tak tergantikan, setelah usaha, maka tawakal adalah cara untuk tetap bersyukur, karena percayalah bahwa semua yang terjadi karena dan untuk sebuah alasan, dan hikmah yang harusnya memberikan pengalaman dan pembelajaran, bukan penyesalan.

Terkadang yang berbahaya itu bermakna.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Gunung Hutan, Sosial. Bookmark the permalink.

2 Responses to yang berbahaya itu bermakna

  1. Arsiya Erlinda says:

    Good writing… based on true story and own experienced…… kudos… Wenty…keep it up!!! climb as high as possible the limit is the sky…!

    one of my favorites after reading this article :
    “Tidak ada yang membahayakan dari ketinggian kecuali Tinggi Hati, tidak ada yang perlu ditakutkan dari cuaca kecuali Yang Maha Kuasa.”

    Selamat mendaki hidup dan kehidupan untuk mencapai top of the top.

  2. Aditya P.C says:

    emang bener
    jika mental kita tidak takut tantangan dan tidak mudah menyerah kita pasti bisa melakukan apa yang di inginkan meskipun cuaca tidak mendukung, cuaca tidak mendukung hanyalah hambatan dalam proses mencapai puncak gunung.
    saya pun kemaren awal tgl 1 Feb 2013 kemaren ke gunung Lawu ALHAMDULILLAH tidak ada hambatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s