Pendakian Gunung Lawu via Cemero Sewu

Tidak ada yang membahayakan dari Ketinggian kecuali Tinggi Hati, tidak ada yang perlu ditakutkan dari Cuaca kecuali Yang Maha Kuasa,- Wenty – Hargo Dumilah 3265 mdpl

Menurut pendapat umum Gunung Lawu merupakan gunung termistis di Indonesia, namun hal ini tidak membuat saya menurunkan semangat pendakian. Sebenarnya pendakian pada bulan Januari – Maret tidak dianjurkan, karena musim hujan, terutama pada akhir Januari hingga awal Februari. Berdasarkan berita di salah satu surat kabar nasional, cuaca ekstrem menyerang sebagian besar wilayah di Indonesia, hal ini banyak disebabkan karena peningkatan suhu air laut sehingga menyebabkan kadar air dalam awan tinggi.

Sebelum pendakian ada beberapa hal yang saya persiapkan antara lain:

  1. Mencari informasi sebanyak mungkin tentang Gunung Lawu, baik melalui dunia maya maupun bertanya dengan pendaki yang sudah pernah kesana.
  2. Latihan Fisik dengan lari keliling UI disertai dengan sit-up dan push-up secara teratur.
  3. Mengajak teman, karena tidak memungkinkan untuk mendaki sendirian, selain itu pendakian minimal 3 orang dengan alasan kalau seandainya terjadi sesuatu, satu orang dapat menunggu korban, dan yang satu mencari bantuan. Selain itu dalam pendakian sebaiknya bersama teman yang sudah kita kenal karakter dan sifatnya,  karena akan memudahkan disaat darurat.
  4. Melengkapi perlengkapan gunung, baik perlengkapan pribadi maupun kelompok.
  5. Memesan tiket perjalanan Pasar Senen – Solo Jebres (@Rp. 41.000).
  6. Packing pribadi maupun kelompok, diusahakan barang dipusatkan pada satu tempat yang memudahkan juga akses menuju kendaraan umum, untuk menghindari barang-barang tertinggal.

Tiket Kereta Matarmaja


Setelah persiapan diatas barulah kita dapat melakukan perjalanan, yang perlu juga diperhatikan, sebaiknya 2 hari sebelum keberangkatan usahakan istirahat total, sehingga jiwa dan raga benar-benar siap untuk melakukan pendakian.

Stsiun Solo Jebres

Menyesuaikan dengan jadwal kereta, berangkat dari stasiun UI Depok pukul 11.30 WIB sampai Stasiun Gondangdia dengan Commuter Rp 6.000 dan tepat pukul 12.15 WIB dilanjutkan dengan naik kopaja 20 dengan ongkos Rp 2.000. Sebenarnya lebih cepat kalau turun di stasiun gambir.

Sebagai catatan untuk makan siang sebaiknya telah dibeli di warteg pilihan jangan di stasiun karena nasi bungkus saja harganya Rp 5.000 tanpa sayur, hanya nasi saja dan sedikit. Selain itu langsung bawa minum yang dibeli bukan di sekitar stasiun karena satu botol minuman 1.5 liter saja Rp 5.000.

Kereta berangkat tepat waktu pukul 14.05 WIB sesuai yang dijadwalkan. Kondisi cuaca saat berangkat sangat buruk, hujan disertai dengan petir yang cukup membuat saya berfikir tentang cuaca di daerah sekitar Gunung Lawu.

Selama perjalanan banyak ditemukan pedagang yang satu sama lain memiliki keunikkan.  Selama di kereta banyak pembelajaran yang saya dapatkan, yang pasti semua membuat saya sangat bersyukur atas apa yang saya dapatkan selama ini, dan kalau ditanyakan perjuangan hidup yang saya jalani sama sekali belum ada apa-apa nya, kehidupan yang sesungguhnya ada dijalanan. Dan sangat disarankan untuk naik kereta ekonomi, agar pengalaman dan pembelajaran yang didapatkan total untuk merasakan kehidupan yang sebenarnya.

Sampai Semarang kereta berhenti 2.5 jam, karena banjir. Dan cuaca dari awal perjalanan sampai kedatangan di stasiun Solo Jebres masih sama hujan sepanjang hari, saya terus berdoa agar cuaca menjadi cerah selama pendakian. Stasiun ini ada setelah semarang, ketika sudah dekat, dikanan jalan ada pertamina, di kiri ada Hotel Asia. Turun dari kereta berjalan sekitar 30 meter ke kiri ada Musholla, dan kita harus meminta kuncinya terlebih dahulu ke bagian inforasi. 20 meter ke arah kanan setelah pintu keluar ada toilet bersih dan gratis, ada baiknya sesampainya di Solo mandi sebelum melakukan pendakian, sehingga segar kembali, dan menanti sampai pukul 06.00 WIB.

Jakarta - Solo 576 Km

Keluar dari stasiun berjalan ke arah kanan sampai pertamina kami makan di angkringan Bu Rahayu dan Pak Gunarto yang ternilai murah, nasi soto Rp 6.000, nasi pecel Rp 4.000 dan minuman lainnya yang murah. Perjalanan selanjutnya adalah dengan mobil sewaan, karena kami hanya 5 orang jadi bayaran sekitar Rp 25.000 cukup mahal namun memuaskan, karena jalur yang ditempuh adalah lewat Pemakaman Bapak Soeharto, Hargo Binangun. Jalanan menuju tempat tersebut sangat mulus, aspal hitam tanpa lubang, dengan pemandangan sawah di kiri dan kanan jalan.

Kendaraan Solo Jebres - Cemoro Sewu (Pak Suhar 081804533423)

Tawangmangu

Pukul 08.45 WIB kami tiba di basecamp, Cemor Sewu. Sampai disana kami bertemu dengan Pendaki lain, dari MAPAWIMA (Pecinta Alam Univ. Widya Mataram Yogyakarta).

Cemoro Sewu - Japra, Batara, Wenty, Danar, Didi (Kiri - Kanan)

Perjalanan menuju Pos 1 di kanan dan kiri jalan dipenuhi dengan pemandangan Hutan Cemara, dengan jalur pendakian yang masih landai berbatu. Selama perjalanan ada banyak tanaman dataran tinggi milik warga, dan ada 2 pos bayangan sebelum Pos 1, dan Sendang Panguripan.

Tanaman antara Cemor Sewu - Pos 1

Sendang Panguripan

Hutan Cemara - Cemoro Sewu

Pos 1

Setelah perjalanan cepat dari Cemoro Sewu ke Pos 1 tibalah kami di Pos 2 dengan ketinggian 2580 mdpl. Perjalanan dari Pos 1 ke Pos 2 di dominas dengan pemandangan hutan tropis, dan jalanan berbatu. Sebaiknya sesampai di Pos 2 tidak menghabiskan banyak waktu, istirahat sebentar dengan minum dan makan roti. Pos 2 ditandai dengan bangunan permanen namun atap sengnya yang tidak lengkap.

Pos 2

Pos 2

Perjalanan dari Pos 2 menuju Pos 3 semakin sulit karena tanjakan disertai jalan bebatuan menjadi bonus tersendiri untuk dilewati, selama perjalanan kita akan menemui Batu Jago, karena bentuknya mirip ayam jago.

Pos 3

Pos 3

Selama di Pos 3 sebaiknya tidak menghabiskan waktu lama, karena daerah ini merupakan wilayah dengan bau belerang paling besar. Selain itu, perjalanan menuju Pos 4 semakin curam dan berbatu sebaiknya mempercepat pendakian sehingga mencapai Pos 4 tepat waktu.

Sebenarnya membangun tenda di Pos 4 juga tidak begitu bagus, karena hanya cukup untuk membangun satu tenda saja, namun terlindungan dari hempasan angin. Kalau kondisi fisik, mental dan cuaca mendukung sebaiknya diteruskan pendakian hingga Pos 5.

Pos 4

Lahan Kecil di Pos 4 (Hanya Cukup 1 Tenda)

Perjalanan dari Pos 4 ke Pos 5 kita ditantang untuk dapat merasakan tanjakan vertikal tak berujung, dengan kanan kiri jalan jurang tak berdasar, meskipun demikian ada sedikit bantuan pagar pengaman jalan. Angin mulai kencang dan dingin, disarankan sudah mepersiapkan kelaengkapan seperti memakai jaket dan sarung tangan, karena di Pos 5 angin akan semakin kencang. Sesampai di Pos 5 kita dapat membangun tenda, terutama kalau sudah gelap, meskipun demikian angin di Pos 5 semakin kencang. Ada baiknya meneruskan sampai Hargo Dalam karena disana ada warung Mbah Iyem.

Pos 5

Lahan Untuk Bangun Tenda - Pos 5

Dari Pos 5 kami melewati jalur yang sangat menyenangkan, pemandangan dan udaranya menyejukkan jiwa dan raga, namun hati-hati saat hujan badai yang disertai angin, jalur ini sangat berbahaya karena hanya ada pohon cantigi tempat untuk berlindung dari terpaan angin. Sebaiknya cepat dan menuju Hargo Dalem. Di sana kita bisa menginap di Warung Mbok Yem dengan harga makanan yang murah, seperti mie telor hanya Rp. 6000, minuman rata-rata Rp 2.000.

Dari Hargo Dalem kita kearah cemoro kandang, kemudian di pertigaan  pilih arah kiri yang menuju puncak Hargo Dumilah, hati-hati karena tanda yang disediakan sudah tidak ada. Kalau keterusan bisa turun di Jalur Cemoro Kandang. Saran saya yang dibawa ke puncak hanya minum saja, tas dititipkan saja di Warung Mbok Yem, sekalian sebelum turun sarapan disana terlebih dahulu.

Kolabarasi Pemandangan

Danar (FHUI 2007) Didi (FISIP UI 2009) Batara (FISIP UI 2010) Wenty (FISIP UI 2009) Japra (FISIP UI 2009)

Obat Lelah di Perjalanan

Sampai di Puncak Gunung Lawu, semua terbayarkan sudah, kita akan berada pada titik triangulasi yang ditandai dengan monumen permanaen, dengan lambang Kopassus disalah satu sisinya. Kedatangan kami tidak disambut dengan cuaca cerah, sehingga pemandangan tidak terlihat. Yang ada badai dan gerimis, maka kami memutuskan untuk turun. Meskipun demikian pemandangan indah ketika turun mengobati kekecewaan kami tersebut. Saran saya, tunggu saja sampai cuaca cerah, karena sering kali berubah.

Ternyata ada Warung

Pendakian ke Gunung Lawu sebenarnya dengan ketinggian 3265 mdpl tidak sesulit yang dibayangkan, karena jalur pendakian jelas dan tidak banyak persimpangan, kegagalan yang sering terjadi karena banyak dari pendaki tidak membawa perlengkapan dengan maksimal, dan kebanyakan dari mereka mungkin terlalu meremehkan alam. Selama perjalanan turun banyak pemandangan yang tidak dapat kami saksikan ketika naik, dan ternyata selalu ada hal-hal indah mengagetkan dalam tiap langkah turun, semua itu bayaran yang pas untuk lelah yang dirasakan. Indahnya ciptaan Tuhan tidak bisa hanya sekedar dinarasikan, datang dan kunjungi, rasakan sensasi dingin dan besarnya ciptaan Tuhan, Subhanallah.

Indahnya Persahabatan

Hargo Dumilah 3265 mdpl

Triangulasi di Pucak Tertinggi Gunung Lawu

Pembelajaran yang saya dapatkan dalam pendakian ini adalah, bahwa persiapan yang matang sangat menentukan keadaan di lapangan, jadi sudah seharusnya dalam setiap pendakian persiapan tidak hanya seperti latihan fisik saja, namun persiapan mental juga perlu diperhatikan. Selain itu, kalau kita merasa lelah jangan pernah mengeluh dihadapan teman terlalu sering, dan jangan cepat menyerah, karena mental demikian itu berpotensi untuk juga melemahkan mental kelompok. Dan harus ada yang benar-benar dipercaya untuk dapat mengembalikan semangat pendakian, sehingga perjalanan dapat terus dilanjutkan, tanpa harus ada perhentian yang sia-sia.

Perjalanan Turun

Pengalaman dan Pembelajaran itu Mahal Harganya.

Advertisements

About arsiyawenty

Traveler and Dream Catcher
This entry was posted in Gunung Hutan and tagged , , , , . Bookmark the permalink.