Baltic State, Labas!

“Lithuania is one of Baltic States and we are not Russia!!!”,- Cuplikan tegas, presentasi mahasiswa asal Lithuania, Maret 2017

IMG20170610160926

Pemadangan dari Gediminas Castle Tower

Negara Baltik tidak masuk dalam deretan negara-negara di Eropa yang ingin saya kunjungi, kehadiran saya di salah satu mantan Union of Soviet Socialist Republics (USSR) ini bukan untuk kunjungn wisata, namun bagian dari salah satu mata kuliah yang wajib saya ambil, European Workshop. Namanya juga mantan, jadi wajar jika masih terlihat jejak-jejak kenangan USSR di Vilnius, Ibukota Lithuania. Misal; gedung-gedung pemerintahan, barang-barang seken era USSR yang dijual sebagai buah tangan, atau budaya dan karakter masyarakatnya yang jarang tersenyum; berbaju serba gelap dan jarang berwarna, atau anak-anak kecil di taman yang lebih cenderung duduk diam tidak berlarian layaknya anak-anak kecil di Eropa Barat atau Selatan. Terlepas dari romantisme era 1922 – 1991, Lithuania tetap berkembang meski tertinggal dari keluarga Eropa lainnya.

Perempuan lokal adalah objek yang cukup menarik perhatian saya, rambut mereka persis boneka barbie, hidung mancung, kulit putih sehat dan cantik. Menurut beberapa teman, perempuan eropa tercantik berasal dari Latvia, entahlah karena saya belum pernah melihat mereka — gileee di Lithuania aja udah macam bidadari, gimana Latvia.DSC_0449

 

Selain itu, di tengah Ibukota, ada negara jadi-jadian Užupio Respublika, merupakan rumah untuk populasi Yahudi, mereka punya; tanggal kemerdekaan sendiri (Užupis Day, 1 April), 4 bendera yang berubah warna berdasarkan musim, puluhan amandemen yang berisi peraturan-peraturan unik, mereka punya ayunan diatas sungai, dan hal yang paling menarik perhatian saya adalah mereka punya patung Jesus Backpacker. Patung ini unik, mereka menganggaap Jesus adalah individu pertama yang melakukan backpacker di dunia. Jika saya punya waktu lebih lama, negara siluman ini menarik untuk dijelajahi lebih mendalam.

DSC_0423

Transportasi disini sangat murah jika dibandingkan dengan Belanda, yang unik bus-bus disini merupakan barang ‘bekas’ dari Eropa Barat (Belanda dan Jerman), bisa dilihat dari sejumlah petunjuk teknis didalam bus. Ragam kuliner disni juga sangat beragam dan toko-toko buka sampai tengah malam. Terkait bangunan, secara umum terlihat jelek dari luar namun megah di dalam, mungkin hal ini juga mewakili sifat mereka yang cenderung tertutup dan tidak suka pamer, atau asumsi lainnya mungkin untuk mengeliminasi gap dalam struktur sosial, maklum mantan sosialis, semua sama suka sama rata. Ada banyak gereja khatolik orthodok yang bisa dikunjungi, ciri khasnya ada kubah dengan salib emas diatapnya, selain itu ada 2 bangunan istana yang wajib dikunjungi; Gediminas Castle dan Tarakai Island Catle. Istana yang pertama terletak di tengah kota di atas bukit, sedangkan yang kedua terletak di luar kota dan di tengah danau.

 

 

Ramadhan musim panas, minoritas, dan baltik adalah kombinasi yang tepat untuk menguji iman dan taqwa, 19 jam tepatnya. Selama 10 hari di Vilnius hanya satu kali saya melihat perempuan berhijab, dan tidak satupun kulit hitam, mungkin karena negara ini bukan tujuan refugee jadi sulit menemukan saudara-saudara timur tengah, bahkan teman saya juga berpesan, negara ini masih cukup rasis. Pengalaman saya di moda transportasi umum dan ruang publik membuktikan, semua mata seperti tertuju ke saya, antara tertarik dan kaget — ini orang panas-panas kenapa pakai tudung kepala? — mungkin begitu pikiran di benak mereka. Tapi saya tidak begitu peduli, selain itu saya juga senang menjadi pusat perhatian, ehem.

DSC_0443

Kunjungan singkat di Lithuania membuka mata pikiran saya, tentang negeri yang berkutat dengan indentitas, tentang eksistensi kebarat-baratan dan tentang usaha berkembang dari sokongan dana negara-negara tetangga yang sejahtera.

Posted in Eropa, Jalan-Jalan | 4 Comments

Benua Biru di Penghujung Tahun 2016

“Happy easter, Wenty! Where are you going this (long) weekend?”,-

“I have no plan, but I should finish my group work and thesis research design, and you?”,-

“Well, we are going to …. (some places in Europe),-

Cuplikan percakapan dengan teman asal the republic of cyprus ini mendorong saya untuk melanjutkan catatan perjalanan selama di Eropa. Tulisan ini akan mendeskripsikan secara singkat perjalanan saya dan suami pada liburan musim dingin; Desember 2016. Pada penghujung tahun tersebut, kami mengunjungi 4 negara, 7 kota: Italia (Roma, Vatikan, Milan), Yunani (Thessaloniki dan Athens), Budapest dan Berlin.

Saat membuat itinerary kami tidak menentukkan lokasi mana yang akan kami kunjungi, ‘kiblat’ kami adalah skyscannerfrom netherlands to everywhere, kemudian kami memilih kota (selain Eropa Utara, karena kawasan ini akan dikunjugi pada musim panas 2017) yang biaya pesawatnya paling murah.

Roma dan Vatikan, 25 – 27 Desember 2016 

Sepanjang perjalanan, imajinasi saya berkelana ke masa sekolah dasar, saat itu setiap siswa harus menghapal 7 keajaiban dunia, sayangnya saya tidak memiliki buku pengetahuan umum (RPUL) seperti kebanyakan siswa lainnya, tapi saya punya atlas dunia, yang kemudian membimbing saya untuk memimpikan lokasi-lokasi yang jauh dari jangkauan. Di kota ini, ada satu keajaiban dunia; Colloseum sebagai simbol kompetisi, kesenangan dan penderitaan.

IMG_6453

Kami tidak berniat untuk masuk kedalam ‘gedung’ bersejarah ini, jadi kami hanyak berkeliling, ada patung kuda dan lambang perdamaian dunia ‘Arch de Triump‘, dan ada banyak sekali orang asia! Selain Colloseum, kami juga mengunjungi sederet lokasi turisitik; Roman Forum, Trevi Vountain, Campidoglio Square, Patheon, Piazza Novona, Campo de Flori, dan Ponte Fabricio. Perjalanan hari itu cukup padat, untungnya lokasi wisata di kota ini terpusat, sehingga tidak menghabiskan dana untuk gonta-ganti moda transportasi.

IMG_6553

Somewhere in Rome

Melihat Pope Francis ceramah secara langsung di St. Peter Basilica adalah tujuan kami berikutnya, sayangnya hari itu bukan jadwal beliau pidato. Kami memutuskan untuk berkeliling 3 jam di Museum Vatikan, hingga akhirnya keputusan ini juga yang membuat kami berkomitmen untuk tidak mengunjungi museum lainnya di Eropa, terutama yang isinya penuh dengan patung. Setelah berjam-jam berkeliling Vatikan, kami kembali menuju kota untuk berkunjung ke rumah 2 teman baik, hal ini yang kemudian menjadi added value dari sebuah perjalanan, bertambahnya teman dan kerabat. Pasangan Itali ini kemudian berjanji untuk membalas kunjungan kami ke keluarga mereka dengan liburan ke Indonesia, deal!

IMG_6813

St. Peter Basilica – Vatican

 

Milan, 28 – 29 Desember 2016

Tujuan utama kami ke Milan adalah San Siro, saya pribadi bukan penggemar bola, namun sayang, jika sudah ke Milan tapi tidak silaturrahmi ke lokasi impian para Milanisti dan Internisti ini. Ternyata, semua pernak-pernik bola disana (atau mungkin seluruh dunia) itu mahal harganya, untung saya tidak suka bola, dan lebih beruntungnya, suami saya adalah penggemar Persib bukan klub-klub bola eropa — haha.

IMG_7004

Milan tidak seramai Roma, saya pribadi lebih suka kota ini, tepat lain yang sempat kami kunjungi, antara lain; Dumo di Milano, Galleria Victono Novecento, Castello Sforzesco, dan Parco Sempione. Sayonara kami ditutup dengan menikmati China Town, sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi peradaban tua eropa, Yunani.

Thessaloniki, 30 – 31 Desember 2016

Kami terdampar disebuah kota kecil pinggir pantai Yunani, nama airportnya bagus: Macedonia. Kedatangan kami ke kota ini seperti Vasco da Gama yang berasumsi sudah sampai Daratan Hindia, kenyataannya hanya sampai Kalkuta, karena tujuan utama kami adalah Athens. Seharian kami keliling pantai, bahasa menjadi batasan kami, karena di lokasi ini semua petunjuk jalan dan informasi dalam aksara yunani, berupa sederetan simbol-simbol fisika. Selain itu, sangat sulit mencari orang yang bisa berbahsa inggris. Meskipun demikian, Thessaloniki punya lokasi wisata kota yang bisa dikunjungi, seperti; Roman Forum (mungkin ada keterkaitan sejarah dengan Roma), White Tower, dan Aristotles Square.

Athens, 31 Desember 2016 – 2 Januari 2017

Yunani merupakan salah satu negara berkembang di Eropa, kami masih melihat dampak krisis ekonomi global, bertebaran para homeless di sudut jalan kota dan jobless usia produktif banyak terlihat menghabiskan waktu sia-sia di pusat kota, lebih dari itu kami melihat banyak pengemis di beberapa lokasi. Dari paras, mereka ‘asli’ eropa, bukan kulit hitam ataupun para refugee. Awalnya kami berharap di pusat kota ada kegiatan seru akhir tahun, sayangnya yang kami temui adalah pusat kota yang mati, seakan tidak ada foya-foya akhir tahun, bahkan kami tidak menemukan kembang api ataupun perayaan lain khas tahun baru. Akhirnya kami berkesimpulan bahwa tahun baru tidak lewat Yunani, dan memutuskan untuk menghabiskan akhir tahun dalam kamar penginapan.

IMG_7244

Acropolis adalah lambang peradaban tua di Eropa, kemegahannya sangat terasa saat beberapa pentunjuk jalan berlabel European Heritage Label selalu diakhiri dengan kalimat Europe starts here!. Sayangnya saat itu kami tidak bisa masuk melihat Parthenon karena libur tahun baru. Tidak jauh dari lokasi epik ini, kami mengelilingi kota dan menjumpai beberapa lokasi wisata, seperti: ErechtheionTempel of Olympian Zeus, Plaka Neighborhood, dan Ancient Agora of Athens. Jika ada kesempatan untuk kembali berkunjung ke kota ini, saya pribadi memilih untuk membaca lebih dulu sejarahnya, sehingga saat melihat beragam artefak sejarah, bertambah pula ilmu dan pengetahuan.

Budapest, 2 – 5 Januari 2017

Ibukota Hungaria ini lebih megah saat malam hari, cahaya kuning yang digunakan untuk menyinari setiap gedungnya membuat setiap ornamen terlihat ‘mahal’ dan berkilau.

IMG_7475

Hungarian Parliament

Budapest menjadi kota bersejarah untuk kami berdua, karena di kota ini kami melihat salju untuk pertama kalinya. Saat orang-orang masuk restoran atau kafe saat hujan salju, kami memilih untuk ‘mandi salju’, foto-foto dan merekam sejumlah fenomena, maklum segala yang pertama selalu berkesan. Tidak lebih dari 30 menit, kami mulai kedinginan; ok sajlu memang asik, tapi dingin. Sejak saat itu, dari yang awalnya selalu menanti hujan salju, menjadi: “ini salju kapan sih berhentinya, udah dong ah dingin”.

IMG_7577

Budapest juga bersejarah untuk kami, karena kota ini sangat murah jika dibandingkan kota-kota lain yang sudah kami kunjungi. Makanan murah, souvenir murah, apa-apa murah, karena mereka masih menggunakan mata uang HUF bukan euro. Kota ini juga yang membuat kami berfikir dua kali untuk beli ini itu di kota-kota eropa lainnya, seakan menjadi standard harga. Lokasi wisata yang sempat kami datangi di Buda dan Pest, antara lain: Hungarian Parliament, Heroes Square, Vaci Ultra Steet, Chain Bridge, Buda Castle, Opera House, Szent Istvan Bazilika, dan Market hall.

IMG_7506

Berlin, 5 – 7 Januari 2017

Saat SMA, Hitler dan BJ Habibie adalah dua tokoh yang menginspirasi saya untuk bermimpi kuliah di Jerman. Beberapa hal saya lakukan untuk mewujudkan impian ini, salah satunya, belajar serius untuk bisa kuliah di ITB, karena saat itu saya yakin kalau mau dapat beasiswa kuliah di Jerman, saya harus jadi Insinyur. Meskipun, impian itu akhirnya tidak tercapai, Allah menggantinya dengan kesempatan berbeda, yang lebih seru dan asik.

IMG_7585

German Parliament

Hujan salju berhari-hari menemani perjalanan kami di Berlin. Tidak banyak yang kami lakukan di kota ini, karena kami mulai bosan melihat keseragaman lokasi wisata di Eropa; centrum, cathedral, arch de triumph dan castle, itu lagi itu lagi. Jadi, perjalanan kami di Berlin tanpa tujuan yang pasti, meskipun demikian kami sempat mendatangi lokasi penting di Berlin, seperti: German Parliament, Brandenburg Gate, dan Holocoust and Jewish Memorial.

Setelah 14 hari jalan-jalan, akhirnya kami kembali ke Belanda. Kembali menjalani rutinitas harian, sembari menunggu datangnya 11 hari berikutnya, untuk kembali berkeliling kota-kota di Eropa. Pada tulisan berikutnya, akan berisi tentang kenangan kami selama 11 hari, menghabiskan hari-hari di Daratan Andalusia dan satu kota di Afrika, mencicipi romantisme sejarah Islam di Eropa dan Afrika.

Intermezzo sebagai penutup: “suatu hari perjalanan kami akan ditentukan berdasarkan perputaran globe, teknisnya sederhana, salah satu dari kami akan memejamkan mata kemudian memutar bola dunia, dalam hitungan 10 detik, jari telunjuk kami akan berhenti pada suatu titik yang akan menjadi lokasi liburan kami berikutnya! Bagaimanapun caranya, kami harus berusaha untuk meninggalkan jejak di lokasi tersebut, karena tujuan hidup tidak lain adalah untuk merealisasikan impian dan menciptakan kebahagian.”

Musim Semi di Wageningen, 14 April 2017.

Posted in Eropa, Jalan-Jalan | 2 Comments

Groningen dan Masakan India

God created the earth, but the Dutch created the Netherlands.- Anonymous

img_6356

Martini Tower

Sejak 1970-an, Groningen sudah dikutuk sebagai bicycle city. Cerita bermula pada periode 1960-an, ketika jumlah kendaraan bermotor khususnya mobil semakin meningkat, seorang politis muda berusia belum genap 24 tahun (Max van Den Berg) berhasil menciptakan konsep kota yang mengutamankan hak pejalan kaki dan pengendara sepeda. Dewasa ini, Groningen dikenal sebagai kota yang paling bersahabat untuk kaki dan sepeda. Selain itu, berdasarkan data statistik pemerintahan lokal (red: municipality / gementee) jumlah populasi didominasi oleh generasi muda produktif, jadi buat yang sedang berkuliah di Belanda, dan (maaf) masih (aja) sendiri, mungkin kota ini bisa jadi pilihan, biar cita-cita punya pasangan tercapai.

img20161203142623

Dimakah Masakan India?

 

Tujuan utama kami adalah mencari restauran india! Karena sejak penulis mulai jago masak chicken curry (cie), kami ingin menyicipi cita rasa asli, sehingga diharapkan dapat menambah khasanah menu tradisional dan meningkatkan kemampuan memasak. Singkat cerita, siang itu kami tidak menemukan yang dicari, alhasil kami makan ayam panggang dan bakso ayam yang rasanya sulit untuk dilupakan, gurih. Tidak cukup dengan menu tanpa nasi, kami menjauh dari ayam, pindah ke ikan, sedikit (banget) udang dan kerang. Open markt disini sangat lengkap dan jauh lebih besar dari yang ada di Wageningen, selain itu, harga hewan lautnya lebih murah dan beragam. Sebagai penutup makan siang, kami menyantap waffel lengkap dengan slagroom dan jus jeruk.

img20161203143008

Martini Statue (mungkin)

Lokasi pasar dekat Menara Martini, salah satu gereja tua dengan menara yang dilengkapi dengan 300 anak tangga, merupakan lokasi terbaik untuk menikmati pemandangan kota dari ketinggian. Sejak pengalaman dan perjuangan menelusuri ratusan anak tangga di Jerman, kami sama sekali tidak tertarik untuk mencoba Martini, tidak mau lagi. Akhirnya, kami memutuskan untuk mengelilingi gereja tua ini, tanpa tangga, tanpa lelah dan keluh.

Sejauh ini, menjadi minoritas adalah pengalaman berharga yang kami dapatkan dalam peratauan, sulitnya mencari lokasi yang ‘tepat’ untuk menjalankan shalat adalah salah satunya. Dari  open markt kami berjalan lebih dari 2.7 km untuk mencapai Masjid Uyup Sultan Camii, lokasinya yang berada dekat gereja mengajarkan kami tentang tenggang rasa dan toleransi beragama, ukurannya yang tidak besar namun bersahaja mengingatkan kami akan kebesaran Yang Maha Kuasa.

img20161203152607

Mungkin, cara paling bijak mengajarkan toleransi beragama adalah menjadi minoritas.

Setelah beribadah, kami memutuskan untuk naik bus menuju Martini, tujuan kami tidak lain adalah melanjutkan pencarian tempat makan india. Kali ini kami sudah mendapatkan informasi dari seorang kenalan asal Malaysia, yang merekomendasikan Restauran Spices. Kami segera bergegas menuju lokasi, karena sudah lebih dari 3x gagal mencoba masakan india di Belanda dengan beragam alasan klasik, mungkin kebab lebih enak dan kenyang. Drama berlanjut, setibanya di lokasi, ternyata harus melakukan reservasi, dengan sedikit memelas, akhirnya kami mendapatkan meja, porsi lengkap masakan dan teh india. Beberapa detik berselang, akhirnya kami sadar kenapa Tuhan selalu mempersulit jalan kami untuk makan masakan india, rasanya sungguh diluar dugaan, rempahnya sangat kuat, tidak asin, tidak pedas, tidak enak dan mahal! Yasudahlah ….

img20161203155914

Danau Dekat Masjid

Semakin malam, semakin dingin, sejumlah toko mulai tutup, namun lampu-lampu khas natal mulai benderang, seperti tanda bahwa kehidupan malam kota baru dimulai. Perjalanan singkat kami di ujung utara belanda ditutup dengan sepenggal cerita dan kenangan masa muda yang akan dengan bangga kami ceritakan ke generasi penerus nantinya, bahwa kami pernah menghabiskan masa muda di negara yang memiliki keterikan sejarah dengan nusantara. Alhamdulillah.

Wageningen; jam 1 dini hari, tanggal 6 bulan 12 tahun 2016.

 

 

Posted in Eropa, Jalan-Jalan | 9 Comments

Negeri Air dan Angin

665 hari yang lalu, 14.374 kilometer dari lokasi tulisan ini dibuat, secara fisik saya sedang menunggu kopaja di depan Kedutaan Australia, sedangkan pikiran saya berkelana ke tanah yang jauh, antara benua hijau yang identik dengan kangguru dan benua biru dengan seluruh kemegahan sejarahnya. Hingga akhirnya, usaha dan nasib membawa saya terdampar di negara yang lokasinya “dibawah permukaan laut”, banyak air dan angin. Tulisan kali ini bertujuan untuk memberikan gambaran sederhana tentang kelana dan upaya menghapus jenuh dalam menjalani perkuliahan.

Wageningen

Menurut saya, lokasi ini identik dengan perkebunan dan peternakan, ada banyak kuda, ayam, sapi dan babi. Modernisasi hanya terlihat dari bangunan kampus. Belanda membagi-bagi wilayahnya berdasarkan fungsi, contohnya; Nijmegen sebagai Health Valley dan Wageningen sebagai Food Valley. Merupakan bentuk centralisasi, berkumpulnya produsen makanan dan kampus yang berbasis penelitian dan pengembangan berskala international, sehingga memudahkan koordinasi antara sektor bisnis dan pendidikan untuk berinovasi.

Secara kasat mata, area ini dihuni oleh mayoritas lansia (jangan disamakan dengan lansia di Indonesia, disini mereka lebih ‘fresh’ dan mandiri). Untuk mereka yang menyukai suasana tenang dan damai, untuk mereka yang melarikan diri dari kepenatan kota, Wageningen bisa jadi solusi. Selain itu, biaya hidup disini relatif lebih murah, tidak banyak godaan untuk belanja.

Pasar tradisional menjadi pilihan untuk mendapatkan sayur-mayur dan buah segar dengan harga yang terjangkau. Lokasinya di centrum (sebutan untuk pusat kota, yang biasanya selalu ditandai dengan keberadaan gereja), yang hanya buka pada hari rabu dan sabtu. September lalu saat musim panas, secara tidak sengaja saat sedang jogging sore saya melintasi sebuah perkebunan apel dipinggir jalan, tanpa pagar dan pengaman. Tidak jauh dari lokasi tersebut ada perkebunan pir dan jeruk, kalau bukan karena iman dan taqwa mungkin saya sudah kenyang makan buah tanpa izin, hehe.

Untuk saat ini, tidak banyak yang bisa saya gambarkan tentang desa ini, karena disini saya lebih banyak menghabiskan waktu di perpustakaan dan kamar. Jadi, untuk menghilangkan jenuh, solusi utamanya adalah berbincang dengan suami tercinta, ketawa ketiwi atau olah raga, selebihnya berkelana ke kota-kota terdekat. Oh ia, ada satu hal yang wajib dimakan jika berkunjung kesini, kebab di samping Jumbo! Enak, dagingnya banyak dan porsinya juga aduhay – udah gitu aja.

Ede

Minggu pertama kedatangan, kami bersepeda dari Wageningen ke Ede jaraknya kurang lebih 10,5 kilometer. Sepanjang perjalanan, rumah-rumah tersusun rapi dilengkapi dengan taman berbunga, selain itu hanya hamparan rumput dan teriknya matahari musim panas. Stasiun kereta terdekat berada di Ede, karena alasan ini juga, kami tidak begitu tertarik untuk menjelajahinya secara detail, karena kedepannya lokasi ini akan sering kami datangi.

 

Arnhem

Merupakan tempat belanja yang (mungkin) paling sering didatangi mahasiswa/i Indonesia dari Wageningen. Awal November 2016, saya mengunjugi sebuah lokasi bekas pelatihan militer (ekskursi mata kuliah: Urban Planning), area ini lebih terlihat seperti ladang gandum dan peternakan dibandingkan tempat berlatih ‘perang’, ternyata 72 tahun yang lalu lokasi ini adalah basecamp tentara jerman yang dibangun sebagai bentuk kamuflase untuk mengelabui pasukkan inggris saat perang dunia kedua. Keterikan sejarah ini menjadikan Belanda ‘tergantung’ pada militer jerman.

img_20161106_221958

Kamuflase Perang Dunia Kedua

 

A: “kami tidak punya perlengkapan militer yang memadai, seperti pesawat perang ataupun tank” || Saya: “kalau kedaulatan negara kamu terancam, atau misalkan ada perang, bagaimana?” || A: “kami punya Jerman — dst.”

Eindhoven

Kota ini mengingatkan saya pada ayam panggang hangat ditengah kutukan angin musim dingin. Pagi itu, disalah satu pasar dekat TU Eindhoven, salah satu foodtruck menjual ayam panggang berlabel halal yang sangat murah dan lezat! Sebelumnya, saya sempat mengelilingi kampusnya yang terletak tidak jauh dari Eindhoven Centraal, singkat kata tampilan kampus ini tidak menarik, jarak antar gedung yang terlalu dekat sangat membosankan, selain itu alurnya tidak jelas, meskipun tidak berantakkan. Kota ini menjadi lebih menarik saat kunjungan kedua kalinya, karena sedang berlangsung event tahunan, Glow in Eindhoven.

Glow adalah festival pencahayaan yang diselenggarakan di 13 negara, salah satunya Eindhoven. Kota disulap menjadi wahana pesta rakyat, semua orang berkumpul, berjalan mengikuti alur secara teratur, menikmati kombinasi pengatuhan, teknologi dan imajinasi. Decak kagum saya terhadap festival ini ditutup dengan sebuah retorika “ini kota abis duit berapa buat menyelenggarakan festival megah selama seminggu?”. Disisi lain, nurani saya berkelana ke desa-desa tertinggal tanpa listrik di Indonesia, ketika pencahayaan masih bersifat temporal dan natural.

Roermond

Kawasan ini terkenal sebagai pusat belanja “murah” barang mahal, hampir semua barang kelas menengah atas mendapatkan potongan harga yang menarik, apalagi jika dibandingkan dengan harga di Indonesia. Kerapihan dan keteraturan kota-kota di Belanda membuat kejenuhan tersendiri untuk saya, karena cenderung seragam; open markt, centrum, gereja, kanal, kincir angin dan sepeda. Selain itu, keseragaman kondisi sosial budaya, menjadikan Belanda tidak lebih dari wisata sejarah bangunan tua. Tradisi harian mereka pun tidak banyak yang unik, kecuali kebiasaan olah raga di cuaca dingin malam hari.

Maastricht

Maastricht berada di ujung selatan Belanda, lebih dekat dengan Jerman dan Belgia. Kunjungan saya ke Maastricht tidak begitu berkesan, karena dikerjakan setelah lelah keluar masuk toko di Roermond, malam hari dan dingin, singkat cerita saya hanya melintasi jembatan besar diatas air menuju gereja besar di centrum. Mungkin karena Belanda adalah kampunya Philips, penerangan disebagian besar lokasi sangat indah, disesuikan pada warna dan suasana.

**Bersambung: Randstad (Utrecht, Rotterdam, Amsterdam), Leiden dan Delft. Penulisnya mau masak.

Musim Dingin di Benua Biru, 2016.

Posted in Eropa, Jalan-Jalan | 2 Comments

Salju dan Mimpi Masa Kecilku

Kuliah di Eropa adalah mimpi yang diperjuangkan untuk jadi kenyataan, disamping karena alasan akademik, ada hal jenaka yang menggugah imajinasi saya, menelan salju. Sejak kecil, setiap menonton film kartun, saya selalu tertarik dengan bola-bola salju yang disulap menjadi Snowman. Sejak saat itu, tertanam dalam benak saya, jika kelak saya melihat salju, hal pertama yang akan saya lakukan adalah guling-gulingan diatas salju sampai basah dan kedinginan, membuat Snowman, kemudian menelan salju secukupnya. Tidak ada alasan lain, kecuali merealisasikan mimpi masa kecil.

Setelah lebih dari 2 bulan observasi; wawancara dan studi literatur (biar kesannya terdidik, padahal maksudnya, ngobrol dan baca buku) ternyata sejak 7 tahun belakangan ini, turunnya salju dimusim dingin tidak semasif dulu. Hasil wawancara saya dengan beberapa mahasiswa/i asal Eropa menyatakan bahwa salju hanya turun beberapa hari dan dalam hitungan menit sudah meleleh, tidak pernah lagi menumpuk. Hal yang paling membuat saya sedikit kecewa, di Belanda tepatnya di Wageningen ‘tidak ada’ salju! Artinya, saya harus berkelana ke utara untuk dapat merealisasikan mimpi saya.

snow-angels

Guling Gulingan di Salju (sumber: http://www.picturesofbabies.net/snow-memories/)

Sekarang sudah musim gugur, seharusnya tidak akan lama lagi akan datang musim dingin dengan butiran-butiran putihnya, salju. Sayangnya kita semakin sulit memprediksi cuaca, perubahan iklim dunia (red: climate change) menjadi kendala utama. Saya adalah salah satu kontributor polusi dunia dan saya belum melakukan apa-apa untuk memperbaikinya, meskipun levelnya rendah. Namun, jika yang seperti saya jumlahnya jutaan di dunia, dampaknya tentu masif juga, ya. Jika mimpi masa kecil saya adalah menelan salju, sekarang mimpi saya berkembang, memastikan generasi penerus saya bisa menelan salju serupa atau lebih baik dari yang (akan) saya telan. Mungkin hal ini konyol, tapi prediksi para ahli dan kenyataan bahwa kondisi es di kutub semakin buruk bisa membuat mimpi ini kelak menjadi punya nilai, terkadang beberapa hal memang berkembang tidak pada masanya, kan?!

Netherlands di Musim Gugur, 2016.

Posted in Jalan-Jalan, Sosial | Tagged , , , | 2 Comments

Pendakian Gunung Burangrang

1464851408445

Triangulasi Burangrang

Akhirnya setelah 20 bulan tanpa gunung dan hutan, hasrat mendaki tercapai, tektok (istilah pendakian tanpa camp) Gunung Burangrang. Secara fisik gunung ini tidak terlalu tinggi, namun pada beberapa titik jalurnya cukup menantang. Selain itu, gunung ini terbilang bersih, basah, sepi, dan menariknya sepanjang perjalanan kita akan ditemani dengan dentuman granat dan bebunyian lain, layaknya perang. Hal ini disebabkan lokasi gunung berada dalam kawasan pelatihan militer (red: markas kopassus dan TNI).

Ada banyak jalur yang bisa dilalui, kali ini kami memilih jalur tidak resmi dan gratis, yaitu lewat Masjid Aa Gym. Sebenarnya, ada 1 jalur resmi untuk pendakian umum, jalur komando, namun sering ditutup karena bertepatan dengan jadwal latihan militer. Ada satu konsekuensi yang harus ditanggung jika ketahuan melewati jalur tidak resmi, push-up, membayar simaksi, dan diceramahi secara militer, hanya itu. Di Masjid, tersedia penitipan kendaraan dan helm, gratis, seperti yang tertulis dalam kartu parkir: “bayar sebesar rasa syukur”.

IMG_1314

Adoy dan Kesayangan 🙂

1464851614507

Geraldine dan Wenty

Tidak jauh berbeda dengan kebanyakan gunung di Jawa Barat, vegetasi awal pendakian dipenuhi dengan pohon pinus, dilanjutkan dengan pepohanan hutan basah, jalur berbatu, berlumut dan halang lintang akar-akar. Mendekati puncak, vegetasi tidak berubah, jangan berharap akan melihat cantigi dan edelweis, karena gunung ini tidak cukup tinggi dan lembab untuk berkembangnya flora khas triangulasi tersebut. Waktu normal pendakian adalah 2 jam 30 menit.

IMG_1283

“Kangen pinus”, Ersa yang lelah.

5 menit pertama dihabiskan dengan melewati pinggiran ladang tak terurus. Kemudian pohon pinus yang tertata rapat dan rapi akan menemani pendakian datar selama 10 menit. Pohon pinus ini adalah jalur pertemuan, antara jalur ilegal via masjid dengan jalur pintu angin via jalur komando. Sebagai catatan gunung ini tidak ada titik air dan tidak ada pos perhentian.

Ada 2 lokasi selama perjalanan yang bisa dijadikan lokasi membangun tenda, keduanya hanya cukup menampung 2 tenda berkapasitas 5 orang. Lokasi berikutnya ada di puncak bayangan, bisa menampung 5 – 6 tenda kapasitas 5 orang, namun tidak kami rekomendasikan karena terlalu terbuka, akan sangat merepotkan jika angin kencang, hujan dan badai pada malam hari. Namun, jika tenda yang digunakan sudah pro dengan kerangka dan pasak yang kuat, lokasi ini sangat pas untuk menikmati hamparan lagit malam hari, itupun jika cerah.

IMG_1393

Puncak Bayangan dengan Pemandangan Situ Lembang

Setelah melewati 2 punggungan naik turun yang cukup terjal akhirnya kami menyantap nasi bungkus di puncak gunung, sambil menikmati pemandangan Situ Lembang di kejauhan yang beberapa kali tertutup kabut. Kami juga sempat mengabadikan burung elang, meskipun hanya abadi dalam ingatan, karena yang tertangkap kamera terlihat seperti ranting pohon, kecil tanpa makna.

IMG_1344

Menuju Puncak

Ketika turun kami bertemu dengan seseorang berseragam militer yang bertanya arah dan tujuan kami. Sedikit curiga ia mempertanyakan status kami yang mendaki berpasangan. Dengan sangat tegas kami menjawab: “sudah halal”. Namun, penampilan kami yang masih muda ternyata tidak meyakinkannya, selain itu tidak satupun dari kami yang menggunakan cincin pernikahan. Meskipun akhirnya ia terpaksa percaya.

1464851606862

Sampai Jumpa di Pendakian Lainnya

Gunung ini bukan gunung wisata, cukup berkesan untuk dijadikan tempat latihan fisik sebelum pendakian gunung diatas 2500 mdpl, dan sangat bermanfaat untuk menenangkan pikiran tanpa harus menguras kalori dan kesabaran. Gunung ini adalah pertanda positif untuk silaturrahmi ke gunung tertinggi di Pulau Jawa, sebelum menyapa beberapa gunung di Eropa, mungkin bisa diagendakan, yes?!

Posted in Gunung Hutan, Jalan-Jalan | 2 Comments

Logika dan Realita

kumiw_dan_wenty_03

Akad Sunda

Semua berlangsung begitu cepat dan lancar, ia menyampaikan maksudnya ke keluarga saya pada 14 Maret 2016, 11 hari kemudian dilanjutkan dengan lamaran di Lampung.  Acara pengajian di Bandung pada 1 Mei 2016 ditutup dengan Ijab Qabul dan resepsi pada 7 Mei 2016 di kampung halaman saya di Bandar Lampung. Alhamdulillah. 

Screenshot_2016-05-19-10-21-22

Comblangan via Sosial Media

1 tahun yang lalu, sebuah komentar di media sosial mengawali perkenalan kami. Awalnya saya hanya iseng membalas, kemudian tertarik untuk melanjutkan. Hingga akhirnya, satu pesan singkat masuk, berisi foto sebuah kartu nama pemandu wisata di Tambora, dengan caption singkat: mungkin nanti dibutuhkan. Keterbatasan quota internet saat itu membuat saya sulit untuk membalas pesan, dengan inisiatif dan sedikit modus, saya memberikan nomor ponsel, untuk nantinya bisa dikirimkan via whatsapp. Komunikasi terselubung ini berlanjut, dialog mengalir apa adanya, selera humornya menghasilkan tawa, dan rasa nyaman itu semakin menambah ketertarikan saya.

Screenshot_2016-05-19-10-22-06

Modus via Sosial Media

Sejak saat itu, saya menelusuri jejaknya melalui dunia maya (path, twitter, facebook, tumblr, youtube, google search, etc), foto-foto dan video perjalanan serta keputusannya meninggalkan pekerjaaan untuk menjalankan yang diyakini membuatnya bahagia adalah hal keren memperjelas citranya dimata saya (video perjalanan: Eksplorasi Selatan Indonesia). Akhirnya saya menerima ajakannya untuk bertemu di Jakarta, saat itu bulan puasa. Cukup bingung untuk mementukan lokasi pertemuan di bulan ramadhan, upaya menghindari matgay (mati gaya) dan kecanggungan, saya memilih Gramedia, alasannya sederhana, saya bisa pura-pura baca buku.

1463640176373

Hasil Kepo Pertama

Keisengannya menarik daypack sebagai tanda bahwa dia ‘menemukan’ saya, adalah moment pertama saya melihat matanya. Jika saya pernah mendefinisikan dengan tegas cinta pada pandangan pertama adalah hal paling tidak logis, dan tidak mungkin terjadi dalam hidup, maka saya harus menarik argumentasi tersebut, dan menyerah pada kenyataan bahwa ada kondisi dimana logika terperdaya oleh rasa melalui panca indera. Saya tidak peduli dengan apa yang dirasakannya saat pertemuan pertama itu, saya sibuk menutupi rasa grogi dan tidak berani melihat wajahnya.

1456759605363

Taman Bermain

Sejak pertemuan itu, saya berusaha meyakinkan perasaan melalui doa yang intinya; “semoga Allah melancarkan semua niat baik dalam hubungan ini, dan jika tidak dipertemukan sebagai jodoh, mohon dijauhkan dari ketidakbermanfaatan”. Malam itu, pertemuan kesekiankalinya, 14 Agustus 2015, di daerah Menteng, kami berdiskusi dengan serius, ia menyatakan keinginannya (dengan sangat gugup) untuk melanjutkan hubungan ini lebih dari sekedar pertemanan.

Saat itu saya ragu, implisit dalam penjelasannya, hubungan ini dilakukan serius untuk tujuan pernikahan tahun berikutnya. Dilematis, saya sedang dalam proses mengejar impian untuk mendapatkan beasiswa pendidikan indonesia ke Belanda dengan masa studi 2 tahun. Dilain sisi, saya juga bercita-cita untuk menikah di usia muda.

“Wenty rencana nikah kapan?”

Permintaan tambahan waktu untuk berfikir ditolaknya dengan pernyataan; dia menginginkan jawaban jelas saat itu juga. Drama ini saya lanjutkan dengan izin ke kamar kecil, jujur sebenarnya saya tidak berniat untuk buang urine, saya hanya ingin mencuci muka dan menetralisir logika. Singkat cerita, dilematika ini selesai dengan kesepakatan ia mendukung saya untuk melanjutkan pendidikan, dan menikah setelah saya menyelesaikan masa studi.

Waktu berjalan sangat cepat, hubungan kami berjalan lancar, saya berkenalan dengan keluarga kecilnya (Abah, Mamah dan Adiknya) di Bandung. Kemudian ia solo trip ke keluarga besar saya di Lampung saat Idul Adha. Kami menghabiskan akhir tahun di Jogjakarta dan menginap di rumah kakak mamahnya.

IMG_1908

Solo Trip ke Lampung (Kumiw & Zio)

“Pokoknya kita tunggu hasil LPDP, kalau dapet, kita langsung berlari urus pernikahan. Tapi kalau belum rejeki, kita santai. Kumiw mau Wenty fokus ke pernikahan dulu, jangan ke stuned (red: beasiswa pemerintah belanda), kita nikah Oktober atau akhir tahun ya.” (Cuplikan obrolan di Kambinc Bandung, 6 Maret 2016)

Hingga akhirnya terbersit dalam benak saya bahwa menikah dan sekolah bisa dijalankan bersamaan, tanpa harus meniadakan satu sama lain. Saya menyampaikan hal ini dan kami mencapai mufakat untuk merealisasikannya. Setelah itu, kami disibukkan dengan persiapan beasiswa. Ia membantu saya dalam segala hal dengan beragam cara, dari persiapan administratif, latihan wawancara, hingga mengantar saya untuk tes di STAN. Tepat pada minggu pertama Maret 2016, saya resmi mendapatkan beasiswa.

 

10 tahun yang lalu, di ruang baca perpustakaan, saya pernah menuliskan 10 hal yang akan saya gapai sebelum usia dua puluh lima; menikah usia muda dan merasakan pendidikan di Eropa. Beberapa bulan kedepan, tepatnya 14 Agustus 2016, adalah titik awal kedua impian menjadi kenyataan, memulai rumah tangga di benua yang jauh dari nusantara dan mengenyam pendidikan di Belanda. Semoga Allah melancarkan dan selalu melindungi kami, aamiin. Bismillah.

Sebuah Prosa. Bandung: 25 Mei 2016: Hujan.

Posted in Sosial | 23 Comments

Tentang LPDP 2016 Batch 1 – Jakarta

Tulisan ini ditujukan untuk memepati janji saya pada diri sendiri “Jika saya lulus beasiswa LPDP maka saya akan membantu sebanyak mungkin orang untuk lolos LPDP, minimal 2 orang” Untuk itu berikut adalah rekam jejak perjalanannya:

  • Mendapatkan LoA Unconditional

Singkatnya, saya sangat percaya LoA unconditional masih sangat berperan dalam meningkatkan score dan value pendaftar (terutama untuk prodi yang tidak linear dengan prodi saat S1). Selain itu, setelah dinyakatan lulus, kita akan lebih santai tidak terburu-buru mencari kampus, meskipun LPDP memberikan waktu 1 tahun untuk proses tersebut.

Mencari informasi universitas selengkap mungkin dan melengkapi semua persyaratannya sekaligus memastikan universitas tersebut ada di list LPDP.

Tips: Pilihlah prodi yang menjadi prioritas LPDP. Dalam hal ini saya tertarik dengan kebijakan lingkungan, namun saya tidak mengambil subject tersebut dalam social faculty, namun memilih di engineering dan environmental science, dengan spesialisasi environmental policy. Tujuannya, strategi dan prioritas tadi 🙂

University of Sheffield: UoS

Wageningen University: WuR

Contoh Motivation Letter: Personal Statement – Arsiya Wenty

  • Melengkapi semua persyaratan LPDP

Setelah berhasil mendapatkan LoA Unconditional segeralah melengkapi persyaratan LPDP (bisa dilihat di: Beasiswa Magister – Doktor (LPDP)). Untuk proses seleksi bisa dibaca dalam tulisan berikut: Seleksi Substansi LPDP 2016.

Tips: Intinya ada di wawancara, oleh karena itu pastikan semua essay LPDP memiliki ‘benang merah’ dan tajam tepat sasaran. Pastikan wawancara berjalan lancar dan dijawab dengan tegas, bukan curhat. Jangan menangis saat psikolog mengajukan pertanyaan-pertanyaan sentimentil karena akan mempengaruhi penilaian kestabilan emosi dan kesiapan mental.

Prihal pekerjaan yang tidak sejalan dengan tujuan studi tidak masalah selama kita bisa menjelaskan alasannya dengan logis. Saya sebelumnya bekerja sebagai marketing supervisor sebuah perusahaan swasta di Jakarta, ketika ditanya kenapa tidak sejalan, saya menjawab jujur dan singkat: just for living.

Contoh Essay LPDP: Essay LPDP – Arsiya Wenty

FAQ (13 Maret 2016)

  • Apa saja yang dilakukan saat memantaskan diri?

Screening mata kuliah, memastikan saya bisa memahami lebih dari 80% mata kuliah yang akan diambil dan aplikasinya ketika kembali ke Indonesia. Banyak membaca jurnal terkait sekaligus memilih sejumlah topik yang mungkin bisa diangkat menjadi thesis. Belajar IELTS.

  • Punya LoA dulu atau dapat LPDP dulu?

Menurut saya lebih baik dapatkan dulu LoA Unconditional baru LPDP, sehingga saat interview bisa lebih percaya diri dan lancar menjawab. Selain itu, sudah memiliki data komparasi universitas yang memiliki prodi sejenis baik dalam maupun luar negeri, jadi bisa menjelaskan lebih objektif pada pertanyaan alasan memilih kampus tersebut.

  • Hal apa saja yang perlu kita pertimbangkan salam memilih prodi?

Do what you love and love what you — pastikan prodi yang diambil menarik sesuai dengan minat, sehingga selalu meningkatkan rasa ingin tahu. Kemudian perlu diperhatikan juga prioritas studi yang diajukan oleh pemberi beasiswa. Pertimbangan berikutnya adalah tentang manfaat prodi itu bagi pemberi beasiswa, untuk hal ini Indonesia.

  • Perbedaan seleksi dalam negeri (DN) dan luar negeri (LN)?

Perbedaan ada pada on the spot essay writing dan LGD, untuk DN dilaksanakan dalam bahasa indonesia, sedangkan LN dalam bahasa inggris. Untuk wawancara LN pasti menggunakan bahasa inggris, sedangkan DN bisa dalam bahasa indonesia bisa juga bahasa inggris, tergantung interviewer.

  • Apakah essay harus dalam bahasa inggris?

Untuk program LN on the spot essay wajib bahasa inggris, sedangkan untuk essay melengkapi persyaratan pendaftaran LPDP dibebaskan. Kalau saya menggunakan bahasa indonesia, namun jika bisa dikerjakan dalam bahasa inggris akan lebih bagus.

FAQ (14 Maret 2016)

  • Bisa ceritakan proses apply ke universitas untuk dapat LoA unconditional?

Untuk proses tergantung masing-masing universitas di website masing-masing sudah sangat lengkap to do list nya, kalau proses yang saya jalankan bisa dibaca dalam tulisan berikut: Proses Mendapatkan LoA – Wageningen University

  • Tipsnya apa untuk interview?

Tipsnya:
(1 )Jawab realistis, jangan suka terlalu bombastis. (2) Jawab dengan runtut, misal, dalam 2 tahun ke depan saya akan menyelesaikan studi S2 saya, lalu 2 tahun kemudian melanjutkan S3 dsb. (3) Gunakam bahasa yg formal tapi bukan kaku. Misalnya drpd bilang I just want to… busa diganti, In my opinion, I believe that… (4) Jangan songong ama interviewer. Nah ini biasanya berkaitan ama first impression, senyum seperlunya. (5) kuasai bidang dan materi yg hendak dituju (Steven, AAS Fellowship, 2016)

  • (cont.)

 

Posted in Beasiswa | 2 Comments

ALHAMDULILLAH

LPDP

Have nothing to say, ALHAMDULILLAAAAAAH

Posted in Beasiswa | Tagged , , , , , | 6 Comments

Tentang LPDP 2016 – Essay LGD dan Wawancara

1455711527935

Sunset Bintaro – Captured by Geraldine Fakhmi Akbar

Akhirnya jadwal final untuk seleksi substansi keluar H-2. Saya mendapatkan jadwal essay (13.50 – 14.20 WIB), LGD (14.40 – 15.30 WIB) dan verifikasi (14.00 – 15.00 WIB) pada 17 Februari 2016 dan wawancara pada 18 Februari 2016 (08.00 – 08.45 WIB).

Pelaksanaan seleksi ini sangat rapi, terjadwal dan sangat sistematis. Absensi hanya butuh waktu sekitar 5 detik dengan scan barcode, kemudian verifikasi berlangsung sangat nyaman, tidak berdiri dan berebutan. Sangat mencerminkan bahwa proses yang berlangsung dipersiapkan dan dilakukan oleh orang-orang cerdas dan berpendidikan.

1455882343814

Petugas Verifikasi: Jiwo Damar Anarkie (FISIP UI 2009)

Tahun ini on the spot essay menggunakan bahasa inggris, persis seperti IELTS Writing task 2. Kita diberikan 2 pilihan topik essay, dan mendapatkan waktu 30 menit untuk menyelesaikan tulisan (setuju, tidak setuju, atau 2 sisi) dalam selembar kertas bergaris. Dalam lembar tersebut ada 3 poin yang dinilai; konten tulisan, koherensi dan grammar. Saya mendapatkan 2 tema yang asik:

  1. considering the high potential rainfall in Indonesia, people who live in mountainous areas should prepare to face the flash floods and landslides (saya memilih topik ini)
  2. Tax amnesty (saya lupa kalimat lengkapnya, karena saya sama sekali tidak paham topik ini)

Awalnya saya berfikir akan muncul topik terkini, seperti; LGBT, TPP, turunnya harga minyak, teroris atau kereta cepat Jakarta – Bandung. Hal ini cerdas, karena mayoritas peserta pasti mempersiapkan dan memprediksi hal yang sama, kenyataanya topik yang keluar adalah isu-isu umum dan tidak kekinian. Saya tidak punya tips unik untuk seleksi bagian ini, tapi 1 hal yang perlu diketahui, ruangan untuk mengerjalan essay sangat panas sekali, jadi disarankan untuk menggunakan pakaian yang mudah menyerap keringat dan jangan pakai baju hitam.

20160219_185244

Belajar Essay (16 Februari 2016, jam kerja)

20160219_185234

Belajar Essay Ketika Jam Kantor – Hidup itu Pilhan, kan?

Leaderless Group Discussion, juga dilaksanakan dengan bahasa inggris. Tahapan seleksi ini sangat seru, merupakan bagian yang paling saya sukai. Karena saya berkumpul dengan 8 orang yang punya ide-ide kritis dan terbuka, dengan kemapuan berbahasa inggris formal yang, menurut saya keren. Sebelum LGD berlangsung, kami menyempatkan diri untuk saling mengenal dan mendiskusikan sedikit skenario yang bisa dijalankan saat LGD berlangsung. Menurut saya hal ini penting, untuk membangun diskusi yang konstruktif dan tidak ada dominasi, selain itu untuk menghemat waktu.

1455882329105

LGD – Kelompok 7 C (Wenty, Vivi, Monika, Bayu, Stephanie Angka, Stephanie, Ary, Panji, Wina)

Pada kesempatan tersebut kami mendapatkan topik PHK buruh Ford Mobil Indonesia, kami dikondisikan dalam sebuah diskusi untuk mencari konsep, solusi dan implemantasi yang ideal dari sisi; pemerintah, swasta, pengusaha, pebisnis. LGD berlangsung 40 menit lengkap dengan solusi. Berikut adalah kronologisnya:

  1. Dengan ‘sukarela’ stephanie angka menjadi note taker dan Bayu menjadi time keeper
  2. Disetujui 5 menit pertama untuk membaca artikel dan mempersiapkan poin diskusi
  3. Setiap orang berbicara 2 menit pada giliran pertama (searah jarum jam) dan 1 menit untuk menambahkan poin setelah giliran berbicara pertama selesai
  4. Jangan memotong pembicara lain dan sampaikan disagree dengan sopan seperti; I have another statement
  5. Sisakan 5 menit diakhir diskusi untuk note taker menyampaikan solusi dan kesimpulan
1455803464910

Verifikasi Data

Wawancara pagi itu asik, kita tidak menghabiskan waktu lama untuk menunggu, jadi masih segar. Saya menghabiskan waktu 60 menit dalam sesi wawancara, menurut saya itu lama, karena beberapa teman saya hanya menghabiskan waktu sekitar 25 – 30 menit. Ada 2 pewawancara; seorang perwakilan dari LPDP sebagai ketua, diapit oleh 1 professor ahli dan 1 psikolog. Pertanyaannya apa saja? Saya rasa sudah banyak penulis dunia maya yang menceritakan hal ini, dan pertanyaan yang saya dapatkan serupa. Namun, ada 1 pertanyaan unik yang disampaikan sebagai penutup, berikut adalah cuplikannya:

Do you believe that, earth is, hmm still feasible for human being? Or we need to, move to, hmm Mars maybe, or another planet? Please tell me your opinion,- Professor Ahli.

1455882318886

Detik – detik menuju masa depan 🙂

Wawancara ini menjadi sangat berkesan karena pertanyaan tersebut, dan saya puas dengan jawaban yang bisa saya berikan. Saya sangat bersyukur karena mendapatkan kesempatan untuk mengisi masa muda dengan pengamalan yang seru seperti ini. Kelak kisah akan menjadi cerita yang pasti akan saya sampaikan ke anak cucu, bahwa nenek pernah ikut beasiswa yang canggih pada zamannya, hahaha. Hasilnya akan diumumkan pada tanggal 10 Maret 2016, apapun hasilnya saya yakin, adalah yang terbaik yang Allah persiapkan, InsyaAllah memuaskan dan bahagia, aamiin.

1455806973797

Ekspresi setelah menjawab “I believe” pada pertanyaan “Earth vs Mars”

 

Posted in Beasiswa | 29 Comments