Langit Yang Sama

Sejak remaja, tepatnya lulus sekolah dasar, memandang langit selalu membawa pikiran saya berkelana tentang masa depan. Kebiasaan ini berawal saat saya terpaksa dihadapkan pada dua pilihan yang saya anggap penting saat itu (Murid SMP, 2003). Sebagai pelajar dengan uang jajan pas-pasan, saya harus memilih; jajan di kantin sekolah tapi pulang jalan kaki atau hanya makan bekal dari rumah dan pulang naik becak – sesederhana itu. Biasanya, saya hampir selalu memilih opsi yang pertama, apalagi kalau cuaca sedang mendung. Sebagai alibi, jalan kaki itu olah raga, meskipun di tengah perjalanan, saya sering juga menyesalinya. Selain karena jaraknya cukup jauh, cuaca sering berubah drastis, awan cumulonimbus yang seharusnya meneteskan hujan, tertiup angin, yang hadir adalah panasnya terik sinar matahari.

Kombinasi jarak dan cuaca tak menentu membimbing saya untuk terbiasa berkontemplasi, membunuh sesal karena memilih jalan kaki. Saat masih SMP, saya membangun mimpi untuk bisa melanjutkan sekolah ke SMA terbaik. Sembari melihat langit, saya menerka-nerka apa yang harus dilakukan untuk bisa mencapai target itu. Seperti bangun dini hari untuk belajar atau ikut les ini itu sebagai tambahan. Kalau ditelaah lebih dalam, mimpi dan cita-cita saya tidak pernah jauh dari sekolah dan sekolah. Sama halnya saat SMA, sepanjang jalan menuju rumah menatap langit yang sama, saya membayangkan kelak akan merantau ke Pulau Jawa (saya tinggal di Pulau Sumatera – Lampung), sekolah di kampus yang punya perpustakaan besar, diisi oleh tenaga pengajar handal dan kawan-kawan yang berasal dari pulau-pulau lain di Indonesia. Meskipun akhirnya saya harus mengubur mimpi kuliah di Bandung, untuk cukup bersyukur bisa menghabiskan empat tahun penuh pembelajaran di Depok.

Kebiasaan melihat langit untuk membuang bosan terus berlangsung hingga usia lebih dewasa. Ketika sedang merenung di kamar kecil Asrama UI, saya melihat keluar jendela, masih langit yang sama, membayangkan perihal yang tidak jauh berbeda, tentang sekolah di benua lain. Saat itu, mimpi yang saya bangun adalah bersekolah ke Amerika Serikat. Beragam informasi mulai saya kumpulkan, tentang jurusan dan kampus yang saya inginkan. Ketika orang sibuk berakhir pekan, saya terdiam di Fakultas Ilmu Budaya untuk kursus IELTS. Pada saat bersamaan saya mencari alternatif negara sebagai cadangan kalau seandainya cita-cita ke Amerika tidak tercapai.

Di jendela perpustakaan, saya memandangi langit yang sama, membayangkan apakah akan ada kesempatan untuk saya melihat langit ini di Benua Biru, di Jerman atau mungkin di Inggris. Namun, saya sadar untuk bisa melanjutkan sekolah ke Jerman saya harus menguasai bahasanya. Melihat kondisi keuangan yang tidak memungkinkan untuk ikut les Bahasa Jerman, saya akhirnya fokus pada negara-negara yang menggunakan Bahasa Inggris saja. Hingga akhirnya, mimpi saya berlabuh di Belanda, negeri angin dengan jutaan sepeda.

Di penghujung tahun 2016, dari jendela student housing saya mengamati langit yang sama, membangun kembali mimpi untuk bisa melihat langit dari Jerman dan Inggris. Sejak saat itu, saya meyakinkan diri untuk mengambil topik tesis yang memungkinkan saya mengambil data di salah satu negara tersebut. Terhalang oleh keluarnya Inggris dari Uni Eropa, saya memaksa diri untuk memilih Jerman sebagai lokasi pengambilan data. Sebulan sebelum turun lapangan, saya kembali merenung, apa yang harus saya lakukan di Jerman nantinya. Saya tidak bisa bahasanya, tidak kenal budayanya, dan tidak satupun informan yang membalas pesan saya. Sampai akhirnya saya memaksa diri untuk yakin, akan ada jalan keluar untuk setiap orang yang mau berusaha. Singkat kisah, di jalan setapak hutan desa di Bavaria Utara, saya mengintip langit yang sama, yang sedikit terhalang oleh rimbunnya pepohonan.

Setahun berlalu, dari jendela kamar di Bandung Selatan, saya menyapa langit yang sama, sambil membayangkan untuk merajut kembali mimpi yang sempat tertunda. Mungkin menatap langit di Negara (yang mengaku) Adidaya atau juga kembali ke benua biru, untuk memandangi langit yang sama di Kerajaan Britania Raya. Semoga.

Mendung, akhir Januari 2019.

Advertisements
Posted in Jalan-Jalan | Leave a comment

Terima Kasih Abah (Mertua)

“Wenty, nanti di Belanda, jangan makan makanan kaleng ya, ga bagus itu”,- (Abah, 2016)

“Wenty, kalau bisa baca Surah Ar-Rahman tiap hari ya”, – (Abah, 2017)

“Wenty, kalau kamu sempat, tiap hari baca Surah Maryam, biar nanti anak kamu cantik”,- (Abah, 2018)

“Ia Abah, siap laksanakan”

Penghujung bulan Agustus tahun 2015, adalah pertemuan pertama saya dengan Abah (mertua). Saat itu, percakapan kami begitu santai, beliau bercerita singkat tentang keluarganya yang juga berasal dari Palembang, bertanya tentang keluarga saya di Lampung, minta diceritakan bagaimana bisa kenal dengan anaknya, selebihnya berisi tawa dan canda. Hal-hal yang terjadi setelahnya adalah deretan kisah yang membuat saya nyaman berada dekat dengan keluarga ini. Dari Abah, saya belajar tentang ketulusan dan berfikir terbuka. Tulus dalam berkata apa adanya dan menerima orang baru dengan cara yang sederhana, tidak perlu terlalu kaku dan serius.

“Wenty, kamu pertama kali liat abah, kesannya apa?” || “Humoris, soalnya Abah ketawa terus waktu itu, becandain Wenty” || “Ohh gitu ya” — Kami pun tertawa bersama. (setelah makan siang, 3 minggu lalu)

Di akhir tahun 2015, penyakit jantung menghampiri Abah, pertemuan itu menjadi kali pertama untuk saya melihat beliau meneteskan airmata. Tetapi mungkin sudah karakternya, tidak lama berselang, kami sudah tertawa untuk hal-hal sederhana, seperti: kenapa Roti Sidodadi enak, kenapa tangan kiri Abah tidak bisa diangkat setinggi ketiak, dan dialog ringan lainnya. Dari pertemuan itu, saya belajar tentang kesabaran: sabar menghadapi cobaan dan sabar menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan.

April 2016, Abah mengajak saya berbicara empat mata, beliau menyampaikan permintaan maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan saya dengan anaknya di Lampung.  Kesehatan Abah saat itu tidak memungkinkan untuk perjalanan jauh. Abah meyakinkan saya bahwa beliau telah merestui pernikahan kami dan menjelaskan bahwa ketidakhadiran beliau adalah murni karena faktor kesehatan. Seperti biasa, keseriusan ini diakhir dengan guyonan khas Abah, tersenyum hingga kelopak matanya tertutup sebagian dan tertawa sampai tekekeh. Dari Abah, saya belajar tentang keikhlasan. Menerima dengan lapang dada kesenjangan antara harapan dan kenyataan.

Setelah menikah pada awal Mei 2016, saya hanya punya waktu tiga bulan untuk mengenal Abah. Karena setelah itu saya dan suami merantau ke Belanda. Selama tiga bulan itu, tidak banyak interaksi serius yang terjadi, seperti waktu yang telah berlalu sebelumnya, semua berjalan santai dan apa adanya. Tidak pernah saya mendengar Abah berbicara kasar atau marah, nada suara selalu khas orang sunda, pelan dan mengalun, sangat santun.

Selama di Belanda (2016 – 2018), kami jarang berkomunikasi, karena setiap menelpon via suara atau video, Abah selalu meneteskan air mata. Sehingga, percakapan selalu singkat dan penuh pesan-pesan sederhana, seperti mengingatkan untuk membaca Al-Qur’an, jangan melewatkan shalat, perbanyak shalat malam, dan pesan ibadah lainnya. Tidak pernah sekalipun Abah memberikan pesan yang memberatkan atau amanah lainnya yang sulit dikerjakan.

Bahkan, ketika kami akan pulang ke Indonesia, oleh-oleh yang abah pesan hanya permen kopi susu, tidak ada yang lain. Saya sudah bertanya berkali-kali, apakah Abah mau dibawakan hal lain, beliau hanya ingin dibawakan permen kopi-susu khas Belanda yang dulu sering dibelikan Ibunya saat Abah muda, Permen Hopjes. Dari Abah, saya belajar tentang kesederhanaan, sederhana dalam berfikir, berkata, dan bertindak.

Seminggu yang lalu (Jumat, 5 Oktober 2018), Abah memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi yang pertama merasakan proses kepergiannya menghadap Allah SWT. Tiga puluh menit menjelang wafatnya, saya dengan tangan gemetar dan hati bergetar memberikan tiga buah pil yang biasa dikonsumsi saat Abah merasa sakit dibagian dadanya disertai dengan nafas yang sesak dan berat. Tidak lama berselang, beliau mengajarkan saya untuk tidak panik menghadapi situasi, Abah menyuruh saya mengambil air minum dan meminta saya untuk membiarkan beliau istirahat.

Sepuluh menit setelahnya, Abah ke kamar mandi, saya yakin saat itu Abah sedang wudhu untuk shalah ashar. Saya melirik Abah yang keluar dari kamar mandi dengan santai, nafasnya sudah mulai teratur. Ketenangan saya bertambah, karena tidak lama setelahnya, Adik Ipar (Ade) saya sudah kembali ke rumah. Kami berbincang di meja makan, yang lokasinya sangat dekat dengan kamar Abah. Namun, hati saya kembali gusar, entah mengapa, saya tidak mendengar bunyi tabung gas oksigen yang sedang digunakan, saya tidak mendengar suara Abah dengan bacaan shalatnya, saya tidak mendegar tarikan nafas yang berat setiap kali Abah bangun dari sujudnya.

Saya semakin yakin ada yang tidak beres, karena beliau acapkali keluar kamar jika ada yang berbincang di meja makan, sekedar minum air atau ikut bercengkrama bersama. Kemudian, kesadaran saya terguncang, ketika Ade mulai menangis sambil menggerak-gerakan tubuh Abah, beretorika tentang perut dan dada Abah yang tidak bergerak, dan nafas abah yang terhenti. Kejadian setelah itu, terekam sebagai memori terakhir saya melihat Abah yang tenang dalam ‘tidur’nya, tangannya yang dingin, wajahnya yang tenang dengan mata tertutup, layaknya orang yang sedang menikmati tidur yang pulas. Dari Abah, bertambahlah iman saya terhadap Sunnatullah, bahwa manusia akan kembali kepada-Nya dalam situasi yang sesuai dengan kebiasaannya. Seperti halnya Abah, menghadap Allah dalam keadaan tenang, suci dalam wudhunya, dan selesai menjalankan ibadah wajibnya.

Terima kasih Abah sudah memberikan kesempatan kepada Wenty untuk merasakan kasih sayang yang tulus, mengajarkan kesederhanaan, dan selalu memberikan rasa tenang. Terima kasih Abah, senyum dan gelak tawamu akan selalu menjadi kenangan tanpa batas.

Bandung.

Jumat, 12 Oktober 2018 – 15.00 WIB

Posted in Sosial | Leave a comment

Perut dan Identitas (Makanan)

Sejak awal Agustus 2018, rutinitas saya di pagi hari hampir selalu sama, salah satunya adalah jalan kaki mengelilingi kompleks Taman Kopo Indah. Biasanya saya selalu ditemani oleh Mamah, ke Pasar Sayati atau ke Superindo, pulangnya mampir ke tukang koran, untuk membeli Koran Kompas. Rute perjalanan kami selalu sama, tujuannya olah raga dan membeli kebutuhan pangan harian. Sebenarnya, Mamah bisa saja menitip belanjaan ke suami saya, namun karena mertua saya sangat baik dan pengertian, dengan alasan olah raga, beliau selalu menemani saya jalan pagi. Kecuali kalau ada jadwal mengaji di Masjid Agung atau ada kondangan. Seperti halnya pagi ini, Mamah harus ke Tasikmalaya, sahabatnya menikahkan anak. Jadi, saya jalan sendiri ke rute yang lebih singkat, ke tukang koran dan membeli air kelapa muda (katanya air kelapa baik dikonsumsi ibu hamil).

Sepanjang jalan, agar tidak melamun, saya memperhatikan setiap tempat makan yang dilewati; gedung permanen ataupun gerobak pinggir jalan. Ternyata 90% penjual makanan menampilkan nama makanan + asal daerah, sebagai identitas (?). Meskipun begitu, saya tidak yakin penjualnya asli berasal dari daerah tersebut. Sepanjang jalan, mata dan selera makan saya ‘berkelana’ ke Jawa dan Sumatera. Ternyata, saya tidak menemukan makanan dari kawasan Tengah dan Timur Indonesia. Saya tidak berani berasumsi, karena observasi ini tidak disertai dengan tanya jawab ke pembeli maupun penjual. Mungkin, bisa jadi lahan bisnis makanan, yang berbeda dari yang lainnya.

Soto, nasi uduk, nasi kuning, dan bubur ayam mendominasi ‘jalanan’, mungkin karena pagi hari. Untuk jenis soto lebih beragam asalnya; Soto Lamongan, Soto Bogor, dan Soto Banyumas. Sedangkan bubur ayam saya hanya melihat Bubur Ayam Sukabumi. Selain itu, masih dengan makanan khas Pulau Jawa, ada; Ubi Cileumbu, Gudeg Jogja, Tahu Tegal, Pecel Madiun, Rawon Jawa Timur, Pecel Pincuk Jawa Timur, dan Ketoprak Jakarta. Hanya dengan berjalan tidak lebih dari 1.5 Km saya sudah bisa ‘keliling’ Jawa! Tidak hanya itu, santapan dari Pulau Sumatera juga tidak kalah pamornya. Saya melihat antrean cukup panjang di penjual Masakan Padang dan Nasi Medan, sepagi itu orang-orang sudah menyantap makanan ‘berat’.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya, sebuah tempat makan betuliskan; Rumah Makan Cina. Identitas yang satu ini cukup ambigu buat saya, masuk kategori makanan nusantara ataukan mancanegara (luar negeri)? Karena kalau kita tarik sejarahnya (baik modifikasi orde baru ataupun versi lainnya), diksi ‘Cina’ cukup sensitif. Identitas yang melekat pada makanan atau pada individu? Ah, masa sih hanya karena makanan kita membahas identitas? … Tapi kalau memang nihil makna, kenapa harus ada jenis makanan ini dan itu yang disertai nama asalnya? Kenapa tidak disebutkan saja secara general, misal Makanan Enak, Soto Lezat, atau lainnya … terlalu subjektif? Ah, mungkin pikiran saya saja yang terlalu berlebihan, toh prinsip dasar jual beli makanan itu sederhana, penjual untung, pembeli kenyang! Bicara prihal perut memang sederhana, kan!?

Cuplikan Pagi (1)

Posted in Sosial | Leave a comment

Resensi Deskriptif: The Happiest Baby on the Block – Harvey Karp, M.D.

Beberapa bulan belakangan ini, saya selalu menyisihkan waktu untuk membaca buku-buku tentang kehamilan, kelahiran, tumbuh kembang bayi, pola asuh, cerita dongeng dan artikel pendukung lainnya. Alasannya cukup sederhana, karena saya tidak menyukai mitos dan informasi-informasi minim logika dan fakta. Terlebih, informasi yang tidak diketahui sumbernya, misal perbincangan yang diawali/diakhiri dengan “katanya sih gitu” atau “udah gitu dari jaman dulu juga” dan seterusnya.

Tulisan ini bertujuan untuk mengingat kembali poin-poin penting dalam buku yang sudah (atau sedang) saya baca, sifatnya deskriptif. Saya akan membahas per bagian (atau per bab) dari buku tersebut. Karena saya belum punya pengalaman pribadi untuk setiap buku yang saya baca, jadi ulasannya akan minim kritik, hanya membahas berdasarkan sudut pandang penulis buku. Kalau nanti sudah dipraktekkan di kehidupan nyata, mungkin tulisan ini akan berkembang menjadi resensi kritis. Mari kita mulai ….

the happiest baby on the block

Judul buku: The Happiest Baby on the Block | Penulis: Harvey Karp, M.D. | Penerbit: Bantam Dell, New York – 2002

Buku ini terbagi menjadi dua bagian; 1) mengulas secara singkat perkembangan teori dan metode menenangkan bayi yang menangis, 2) menjelaskan secara rinci teknis cara menenangkan bayi yang (menurut buku ini) lebih aman dan efektif: The 5 “S’s”.

Bagian Pertama

Penulis adalah seorang Pediatric yang telah mempelajari bidang ilmu ini sejak awal tahun 1970-an. Satu hal yang menjadi fokus studinya adalah tentang teknis menenangkan bayi yang manangis; dari cara-cara tradisional sampai intervensi medis. Hingga akhirnya, penulis menyimpulkan bahwa cara-cara tradisional dinilai lebih aman dan efektif untuk meredam tangisan bayi. Sebagai catatan, penulis fokus pada satu tahun awal perkembangan bayi.

Pada bagian awal, buku ini menceritakan secara singkat sejarah perkembangan teori dan mitos penyebab bayi lebih sering menangis pada awal kelahiran. Jadi, sebelum membahas bagaimana (how to) menenangkan bayi yang menangis, buku ini diawali dengan penjelasan kenapa (why) bayi itu menangis. Buku ini juga disertai dengan contoh kasus dalam setiap pembahasannya, sehingga pembaca lebih mudah memvisualisasikan dan membandingkan dengan kondisi yang sedang dihadapi.

Salah satu hal yang menarik dalam penjelasan kenapa bayi manusia lebih sering menangis (dibandingkan bayi kuda, gajah, sapi dan lainnya), adalah karena bayi manusia lahir 3 bulan lebih cepat dari waktu seharusnya. Maksudnya prematur? Bukan juga, jadi analoginya, bayi hewan seperti kuda misalnya, dalam waktu beberapa hari sudah bisa menirukan kebiasaan kuda dewasa, seperti berdiri, berlari, mencari makan, dan sebagainya. Sedangkan bayi manusia, sangat tergantung pada orang tua asuhnya, segala sesuatu harus dengan bantuan. Selain itu, bayi manusia hanya bisa menangis untuk dapat berkomunikasi dengan lingkungan luarnya. Singkatnya, si bayi merasa lebih nyaman ketika masih dalam kandungan (uterus) ibunya. Jadi, penulis buku ini menyimpulkan, manusia perlu mengimitasi (menirukan) situasi yang dialami bayi dalam kandungan. Memberikan kondisi senyaman mungkin, sebagaimana yang bayi rasakan saat masih dalam kandungan. Hal ini yang kemudian dijelaskan dalam 5 cara teknis menirukan kondisi bayi dalam kandungan sehingga bayi tidak terus-menerus menangis. Kurang lebih begitu latar belakang munculnya metode yang ditawarkan dalam buku ini.

Ada 5 cara tradisional yang ditawarkan penulis untuk meredam tangisan bayi, yang kemudian dikenal dengan The 5 “S’s”. Berikut adalah pemahaman singkat saya tentang definisi masing-masing tekniknya (untuk visualisasinya bisa dicari di Mbah Gugel ya):

  1. Swaddling: membedong bayi
  2. Side/stomach: menggendong atau meletakkan bayi pada pada posisi kanan kiri atau perutnya
  3. Shusing: menenangkan bayi dengan desahan “ssssshhhhh”
  4. Swinging: mengayunkan bayi
  5. Sucking: menyusuii bayi dengan ASI, jari atau pacifier

Kelima cara diatas dipraktekkan berurutan, seperti analogi yang diberikan oleh penulis; teknis pelaksanaannya seperti membuat layer cake, memastikan lapisan pertama ‘berhasil’ kemudian dilanjutkan ke lapisan-lapisan berikutnya, hingga menjadi sebuah kue lapis yang utuh. Untuk penjabaran teknisnya, dijelaskan pada bagian kedua buku ini.

Selain itu, ada juga ulasan tentang perkembangan definisi dan teori Baby – Colic, berdasarkan pemahaman saya, colic adalah kondisi dimana bayi sering menangis yang menghabiskan waktu lebih dari tiga jam perhari. Mungkin bahasa gaulnya; bayi cengeng 🙂 Kok ribet ya? teoritis banget ya? — Jangan khawatir, tulisan ini disajikan dalam bentuk penjabaran singkat yang mudah dipahami oleh pembaca amatir, tidak dibutuhkan latar belakang akademis untuk bisa memahami bagian pertama buku ini. Yang pasti, menarik dan menambah wawasan!

Bagian kedua

(bersambung … masih dibaca :D)

 

 

 

Posted in Kehamilan, Resensi Buku | Leave a comment

Ibu dan Bapak ke Rumah Nijntje

Ternyata, harga buku dongeng untuk anak itu tidak semurah yang saya bayangkan, meskipun ceritanya sangat sederhana dengan gambar yang tidak rumit. Harganya, bisa lebih mahal jika tokoh yang diceritakan menjadi ciri khas sebuah bangsa, contohnya tokoh karakter Nijntje dari Belanda. Singkat cerita, tercetus ide (semoga) kreatif; kenapa tidak saya karang sendiri saja cerita dongeng ini?! Nantinya, saya bisa memasukkan pesan-pesan pribadi untuk anak saya. Namun, karena saya (dan suami) tidak ada jiwa seni, kami pinjam saja tokoh negeri angin ini. Saya rasa sah saja, selama saya mencantumkan referensi dan tidak dikomersilkan.

Dengan semangat itulah, saya dan suami mengunjugi Museum Nijntje yang terletak di Utrecht. Kemudian, kami mengabadikan sejumlah foto yang nantinya akan saya ‘sulap’ menjadi dongeng untuk anak kami. Judul dan isi cerita berdasarkan daya imajinasi saya sendiri, beberapa poin juga saya diskusikan dengan suami. Semoga dongeng sederhana ini bisa dipahami oleh anak kami dan cocok dengan daya imajinasinya. Maklum, gaya bahasa saya kemungkinan tidak jauh berbeda dengan tata bahasa penelitian, yang kaku dan membosankan. Tapi, apa salahnya mencoba, ya kan?!

Dongeng ini, akan dibagi berdasarkan tema ruangan yang ada di Museum Nijntje. Baiklah, mari kita mulai, dongeng ala Ibu dan Bapak. Judul dongeng pertama ini adalah Ibu dan Bapak ke Rumah Nijntje. Siap-siap ya, semoga masuk akal — hahaha 😀

IMG_2092

Ibu dan Nijntje

Pada suatu pagi, ibu dan bapak main ke rumah Nijntje di Utrecht | Ibu foto bersama Nijntje di depan rumahnya | Ibu memakai baju berwarna biru, sedangkan Nijntje memakai baju berwarna merah | Setelah berfoto, Nijntje mengajak Ibu dan Bapak masuk ke rumahnya.

IMG_2101

Nijntje, Orang tuanya, dan Hewan Peliharannya

Di dalam rumah, Ibu melihat foto Nijntje, Orang tuanya, dan juga hewan peliharan mereka| Mama dan Papa Nijntje memakai baju berwarna biru, sedangkan Nijntje memakai baju berwana orange | Ada juga foto Nijntje memakai baju berwarna biru dan kuning | Hewan peliharaan Nijntje juga dipakaikan baju, berwarna hijau dan biru.

IMG_2111

Garasi Rumah Nijntje

Setelah itu, Nijntje mengajak Ibu dan Bapak masuk ke Garasi rumah | Di dalam garasi, Nijntje mengerjakan tugasnya sebagai tukang kayu | Disana, Ibu melihat ada kayu, paku, dan palu | Nijntje mengajarkan Ibu cara memasang paku ke kayu dengan menggunakan palu | Tuk tuk tuk, begitulah bunyi ketukan palu ke paku.

IMG_2112

Kayu, Paku, dan Palu

Siang hari, Nijntje mengajak Ibu dan Bapak ke dapur | Di dapur, Ibu membantu Nijntje memasak | Ada kompor, katel, panci, spatula, dan pisau | Ibu memasak wortel dan menggoreng telur | Setelah makanan siap, Nijntje membawanya ke ruang makan.

IMG_2119

Dapur Nijntje

Di ruang makan, ada piring, gelas, teko, sendok, dan garpu | Kami makan diatas meja dengan rapi sambil menonton televisi | Nijntje suka sekali makan sayur wortel karena bagus untuk kesehatan mata | Bapak dan Ibu suka makan telur, karena mengandung banyak protein | Kami memakan semua masakan sampai habis | Setelah itu kami bersama-sama membereskan ruang makan.

IMG_2116

Ruang Makan Nijntje

Selesai makan siang, Nijntje mengajak Ibu dan Bapak ke taman bunga di belakang rumahnya | Disana ada Mama dan Papa Nijntje yang sedang membersihkan taman | Mama Nijntje sedang menanam bunga | Papa Nijntje sedang menyiram bunga | Taman bunga Nijntje sangat bersih dan rapi.

IMG_2108

Taman Bungan Nijntje

Setelah berkebun, baju kami menjadi kotor karena tanah | Ibu membantu Nijntje mencuci dan menjemur baju | Baju yang sudah dicuci digantungkan di jemuran baju | Ibu menjepit baju di tali jemuran supaya baju tidak mudah jatuh tertiup angin | Baju Nijntje ada tiga, berwarna orange, hijau, dan kuning.

IMG_2125

Jemuran Baju Nijntje

Karena sudah sore, Nijntje segera mandi dan ganti baju, supaya bersih dan segar | Ibu dan Bapak menunggu Nijntje di ruang tamu | Nijntje sudah ganti baju berwarna kuning | Sebelum pulang, Ibu berfoto bersama Nijntje.

IMG_2104

Ruang Tamu Nijntje

Ibu, Bapak, dan Nijntje berencana akan bertemu lagi minggu depan | Kami akan pergi ke Kebun Binatang | Sampai jumpa di cerita berikutnya: Ibu, Bapak, dan Nijntje bertamasya ke Kebun Binatang.

(bersambung …)

Senja di Amsterdam – July 2018

Posted in Dongeng Anak, Eropa, Jalan-Jalan, Kehamilan | Leave a comment

Bingkisan Seru untuk Calon Ibu di Belanda

IMG_1882

De Bakermat Wageningen

Latar belakang!

Setelah 20 bulan menunda program anak, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk memulainya di awal tahun 2018. Alasan utama kami menunda program ini karena ingin mendahulukan amanah pendidikan. Tahun pertama kuliah bukan hal mudah, terlebih saat itu saya mengambil jurusan yang berbeda dengan latar belakang pendidikan S1. Hari berganti bulan, pernikahan kami pun sudah lebih dari setahun. Saya beruntung karena dilahirkan dan kemudian dilamar oleh keluarga yang tidak memaksakan pola pikir jaman feodal. Semisal, prihal kehamilan, tidak ada teguran untuk segera hamil setelah menikah, tidak ada juga pertanyaan lanjutan setelah akad-nikah “kapan punya anak?” dsb. Kami tidak ambil pusing, saya fokus kuliah, nilai diatas angin, Alhamdulillah.

Akhir tahun 2017, sepulang dari pengambilan data di Jerman, saya percaya diri kalau tesis bisa selesai sesuai jadwal. Sesekali terbersit dalam pikiran, kalau saya hamil awal tahun 2018, masih ada waktu untuk pulang dan melahirkan di Indonesia. Namun, saya masih belum yakin. Keraguan saya itu luntur, ketika seorang teman mengingatkan bahwa amanah pendidikan saya sudah 2/3 jalan selesai, seharusnya sudah siap untuk menerima amanah yang lebih besar “hamil di Belanda itu seru, pelayanannya juga sangat bagus”. Singkat cerita, saya dan suami sepakat untuk memulai program ini di Januari 2018. Alhamdulillah, saat tulisan ini dibuat, kehamilan saya sudah memasuki minggu ke-16.

Temuan lapangan!

Saya menerima pelayanan kehamilan yang sangat menyenangkan, tidak ada mitos, semua berdasarkan fakta ilmiah. Tidak ada susu untuk ibu hamil karena itu hanya akal-akalan perusahaan. Tenaga kesehatan tidak jual obat-obatan atau vitamin kehamilan, kalaupun butuh vitamin, bisa dibeli sendiri di toko terdekat. Saya menerima banyak bingkisan gratis dari toko-toko perbelanjaan di Belanda, seru! Cara mendapatkan bingkisan ini juga mudah, kita hanya megisi data di website masing-masing toko, kemudian mereka akan mengirimkan email berisi undangan untuk mengambil bingkisan. Berikut cerita saya berburu bingkisan gratis di Belanda.

  • Hallo Mama – Jumbo

IMG_1951

Jumbo adalah nama toko belanja bahan makanan di Belanda. Mereka memberikan dua jenis bingkisan: Zwanger Box (diambil selama masa kehamilan) dan Baby Box (diambil setelah bayi lahir). Saya hanya menunjukkan email ke kasir Jumbo, kemudian bingkisan sudah bisa dibawa pulang. Isinya sederhana; pempers, pembalut setelah melahirkan, minuman segar, vitamin, boneka jumbo, teh non-caffein, permen cokelat, meses, dan sendok makanan bayi. Untuk yang juga tertarik, silahkan mengunjugi situs berikut ini: Hallo Mama – Jumbo 😀

IMG_1955

  • Ouders van nu Zwanger Box – Etos

IMG_1957

Bingkisan berikutnya saya dapatkan dari Etos, sejenis toko kosmetik dan obat-obatan, kalau di Indonesia seperti Guardian dan Century. Selain Zwanger Box, Etos juga menyediakan Ouders van nu Baby Box. Caranya juga mudah, isi data di link ini, kemudian menunggu balasan email berisi undangan yang harus di-print. Isi kotaknya juga menarik; pempers, romper untuk bayi, voucher dari C&A sebesar 10 euro, krim perawatan perut ibu hamil, minuman segar, krim kulit bayi, dan sejumlah majalah. Saat mengambil bingkisan di Etos, saya sedikit merasa bersalah, karena tidak pernah sekalipun belanja di sana, giliran gratis baru berkunjung 😀

IMG_1959

  • De Blije Doos – Prenatal

IMG_1960

Sejauh ini, bingkisan dari Prenatal, sebuah toko perlengkapan bayi kelas premium adalah kotak paling menarik dan paling berat. Isinya cukup banyak; pempers 22 buah, voucher pembelian pempers, botol susu Philips Avent, empeng bertuliskan I love Mama buatan Swiss, sikat gigi bayi, minuman segar, Bavaria non-alkohol, pembalut setelah melahirkan, sudocream untuk bayi, buku harian ibu hamil yang unik (dilihat teliti, dalam buku harian banyak voucher dan diskon juga), dan majalah-majalah kehamilan. Untuk mendapatkan bingkisan ini, silahkan mengisi data di link berikut.

IMG_1961

  • Baby Dump

IMG_1956

Bingkisan yang satu ini belum sempat saya ambil, karena kita harus pergi langsung ke tokonya. Sayangnya, toko ini tidak ada di Amsterdam, saya harus berkereta ke Almere. Saat tulisan ini dibuat, saya baru menerima majalah kehamilan yang didalamnya ada kartu pengambilan bingkisan dan sepasang kaos kaki bayi. Menurut informasi dari blog ini, isinya tidak kalah menarik dari Prenatal. Sebagai kompetitor seharusnya memang begitu ya. Cerita isi bingkisan ini akan saya perbaharui akhir pekan, setelah cuci mata ke toko tersebut. Formulir bingkisan bisa diisi di link ini.

Saat ini, saya masih menanti bingkisan paket dari Kruidvat (toko sejenis Etos). Sudah hampir dua minggu saya belum juga mendapatkan balasan email dari toko satu ini. Saya jadi penasaran isinya, semoga menyenangkan. Ada banyak toko yang memberikan bingkisan gratis, tetapi tidak semua menyediakan bingkisan untuk ibu hamil, lebih banyak bingkisan kelahiran. Untuk informasi lengkapnya bisa dilihat di link berikut ini.

Penutup!

Bingkisan gratis ini menjadi salah satu cerita dari serunya hamil di Belanda, buat saya bukan saja isinya yang seru, tapi nilai apresiasi yang diberikan kepada ibu hamil, pelayanan bukan cuma sekedar jualan. Selain itu, ada nilai kejujuran, karena pihak toko tidak meminta bukti, apakah yang mengambil benaran ibu hamil atau bukan, jadi berdasarkan kepercayaan penjual dan kejujuran pembeli saja. Terlepas dari niatnya untuk promosi ya 😀

Terima kasih Belanda!

Musim Semi di Amsterdam

 

Posted in Eropa, Kehamilan, Sosial | 4 Comments

Pelosok Utara Bavaria

 

IMG_0954Satu tahun yang lalu, saya berfantasi tentang energi hijau yang politis itu, energi angin,  air, tenaga surya, ombak, dan kawan kerabat energi hijau lainnya. Tentu saja, hal-hal teknis tidak menarik perhatian saya, otak sosial saya sudah menolak angka-angka sejak  pertengahan tahun 2009, tepat saat saya dinyatakan lulus dari jeratan ilmu pengetahuan alam. Saya lebih tertarik memperhatikan pola persepsi dan resistensi masyarakat dalam menghadapi beragam fenomena sosial. Imajinasi ini juga yang mengirim saya untuk berkeliaran di sejumlah desa di Jerman bagian selatan, mencari jawab atas hal-hal yang sulit dijelaskan dalam angka dan statistika. Menyelami pola pikir orang-orang desa di negara kaya, mencoba memahami, dan berharap ada manfaat. Banyak hal menarik yang saya temukan di lapangan, tentunya tulisan ini tidak akan membahas hasil penelitian akademis. Prosa ini hanya tulisan tak berkerangka, yang dibuat saat saya bosan menulis laporan penelitian, di Praha.IMG_1017Mobil mewah berkeliaran, macam Avanza di Indonesia. Hal pertama yang menarik adalah kendaraan yang parkir di jalanan desa, tidak banyak mobil-mobil kaleng buatan Jepang, mayoritas mobil kelas premium. Jelas saja, saya berkelana di desa milik negara yang memproduksi mobil-mobil harga langit. Keluar rumah disambut ciptaan Franz Josef Popp, Mercedes Benz. Depan warteg Itali (red: Pizzeria) berjajar AUDI dan BMW, tidak jauh dari warteg terparkir sembarang mobil-mobil berkelas lainnya, sedangkan motor kelas BMW hanya dibiarkan terpapar sinar matahari dan berhujan ria di depan rumah. Mesin-mesin pertanian dan kebersihan. Segala hal dijalankan dengan mesin, gali lubang, tanam bibit, siram kebun, panen buah, menyapu jalanan, mengeringkan dedaunan yang gugur sebelum disapu mesin, dan lainnya, atau menjadi hal tidak aneh mengendari kendaraan pertanian ke super market.

Alat fitnes dari kayu di jalur hutan. Jalanan itu sengaja dibuat sebagai jalaur resmi masyarakat yang ingin berjalan kaki menikmati hutan desa. Yang menarik, jalur ini dilengkapi dengan pos-pos perhentian, setiap posnya akan ada satu atau dua alat fitnes yang terbuat dari kayu, seperti dumbbell, barbell, fitnes bench, shit up bench, dip bar, dan lainnya. Selain itu, di setiap posnya disediakan papan yang menjelaskan apa yang harus dilakukan selama berada di pos dan apa yang harus dilakukan saat menuju pos selanjutnya, misal harus berlari cepat dalam durasi maksimal 7 menit untuk sampai di pos berikutnya.

 

Hari pemberkatan kuda. Setiap tahunnya, gereja tua itu merayakan ulang tahun salah satu tokoh yang sangat menyayangi binatang. Pada hari yang sama, puluhan kuda berbaris menunggu waktu pemberkatan. Yang menarik bukan kuda-kuda dewasa yang gagah, dalam deretan itu kuda poni pun hadir dalam barisan, pengendaranya sesuai ukuran kuda, anak kecil.

Kolam berenang bertenaga surya. Kolam manusia ini terletak tepat di kaki bukit kawasan hutan lindung Spessart. Jam bukanya terbatas hanya di musim panas. Air kolam ini hangat, energinya dihasilkan oleh panel tenaga surya. Di kolam yang sederhana ini, orang-orang merayakan hari yang panas, berjemur hingga kusam, matahari adalah kemewahan.

 

swimbad

sumber: http://www.spessartbad-moenchberg.de

 

Mesin pencuci piring. Berlandaskan niat untuk hemat air, tenaga (manusia) dan waktu, dapur orang-orang desa ini sungguh mewah. Selain dilengkapi banyaknya jenis mesin pembuat ini itu, selalu ada mesin pencuci piring. Sayangnya mesin ini tidak mampu membersihkan alat makan yang kotor bekas makanan Asia, yang bersantan, yang lengket, yang bau bawang. Saya tetap harus mengalirkan air ke alat makan itu sebelum diproses oleh mesin. Mesin ini hanya bermanfaat untuk mereka yang pagi, siang, dan malam makan roti.

Never judge a house by its cover. Banyak rumah tua tradisional yang lemah dan kusam di desa ini. Tapi cobalah ketuk pintunya dan masuklah ke dalam ruangannya, kalian akan disapa modernisasi di setiap sudut rumah. Interiornya sangat apik dan bersih. Rumah-rumah tua ini masuk dalam perlindungan negara, jadi pemilik rumah tidak diperbolehkan untuk mengubah desain luar, selain itu setiap perbaikan harus dilaporkan ke pihak berwenang untuk mendapatkan izin. Rumit kan?

Perpustakaan sukarela. Hal menarik lainnya adalah perpustakaan mini di pinggiran jalan desa. Peraturannya sederhana, baca ditempat atau bawa pulang, dengan catatan buku dikembalikan atau digantikan dengan buku lain yang disumbangkan dengan sukarela ke perpustaan mini ini. Sayangnya, semua buku dalam bahasa Jerman, alhasil manfaat yang saya rasakan hanya untuk berfoto sambil pura-pura baca.IMG_0906Olahraga sepeda. Di Belanda sepeda menjadi kendaraan sehari-hari, di sudut desa di Bavaria ini sepeda juga dijadikan olah raga unik. Mungkin kita biasa melihat hal seperti ini di sirkus. Ketika saya menonton anak ini latihan, jantung saya berdetak tidak beraturan. Sang pelatih menawarkan saya untuk mencoba olag raga ini, dia berjanji akan memandu, tentunya tidak saya terima. Mengendarai sepeda di jalan datar Belanda saja tidak lancar, beberapa kali oleng, kalau saya mencoba olah raga ini, bukan hanya saya yang cidera, mungkin pelatihnya juga akan berdarah-darah. Saya juga sadar diri, ada ukuran berat badan maksimal untuk bisa memulai olah raga ini. Pelatih itu terlalu naif dalam berbasa-basi.

Demikian cuplikan hal-hal yang menarik perhatian saya selama penelitian di Jerman. Dari sekian banyak hal unik yang tidak dapat saya narasikan dalam prosa singkat ini, ada satu pesan penting yang bisa saya bawa pulang, bahwa hidup itu tidak perlu terlalu berencana, jalankan hari demi hari sesuai porsi dan kebutuhan, hiduplah apa adanya, bahasa santainya, jangan ngoyo!

Praha – Awal Musim Dingin, 2017.

Posted in Eropa, Jalan-Jalan | Leave a comment

‘Nordics’ dan Fantasi Kabahagiaan

scandinavians' flag

The Scandinavia

Why does Norway rank first in the global happiness report 2017? | I don’t know, perhaps you should visit my country, then you go and live there, see how it works | I will …

Siang itu, dengan sengaja, saya membuka percakapan dengan salah satu teman yang berasal dari Norwegia, tentang kehidupan di negara kaya dengan indeks kebahagiaan tertinggi di dunia. Meskipun harga minyak dunia semakin menurun, negara-negara di sepanjang semenanjung skandinavia ini, terus melangkah naik dalam jajaran atas indeks kebahagian dunia. Namun, bijakkah ‘mereka’ mendefinisikan dan memberikan nilai pada kebahagiaan? Apakah statistika dapat menjabarkan alasannya? dan Seberapa objektif penilaian ini, jika dilihat dari kacamata wisatawan lepas, yang berkunjung hanya ke ibukota dengan keterbatasan pengetahuan, waktu, dan biaya?

Tenang saja, catatan perjalanan ini tidak akan menjawab pertanyaan apapun, hanya untuk pengingat hari esok, tentang masa muda, yang diisi dengan hal-hal tidak serius, hanya ada canda dan tawa pasangan muda. Pada kesempatan kali ini, tabungan kami hanya cukup untuk mengunjungi 4 negara, itupun hanya ibukotanya saja, tanpa Iceland. Perjalanan ini dimulai dari Denmark (Copenhagen), Swedia (Malmo, Gothenborg, dan Stockholm), Norwegia (Oslo), dan berakhir di Finlandia (Helsinki). Disana, semua tinggi; tingkat pendidikan, pendapatan, pajak, biaya hidup, transportasi, teknologi, bahkan toleransi sosial, dan lainnya, yang rendah hanya suhu! Meskipun musim panas, angin utara berhembus layaknya musim dingin di awal Desember.

Denmark – Copenhagen

IMG_0113

Melintasi Pelabuhan Nyhavn

Flixbus adalah transportasi murah yang menghubungkan kota-kota di Eropa, jangan bandingkan dengan bus-bus murah di Indonesia, karena di Eropa murah bukan berarti berkualitas rendah. Transportasi ini nyaman dan aman, terutama untuk menghemat biaya perjalanan. 12 jam perjalanan Amsterdam – Copenhagen ditutup dengan kekaguman saya melintasi The Great Belt Fixed Link yang menghubungkan Denmark bagian timur dan barat. Disepanjang jalan, pemandangan Offshore Wind Farms menambah rasa kagum saya atas investasi teknologi negara tertua di Skandinavia ini. IMG_9920Rosenberg adalah sebuah istana yang dibangun pada awal abad ke-17 oleh raja paling terkenal se-Skandinavia, Christian IV. Bangunan ini berada di komplek wisata museum, terdapat total 6 museum yang dapat dikunjugi, dengan biaya 195 DKK. Selama di lokasi, kami hanya sempat menikmati taman sekeliling istana, sama halnya dengan taman-taman di Eropa lainnya, penuh dengan bunga, kolam, rumput hijau, pepohonan rindang, dan anak-anak kecil berlarian. Mungkin ada relasi linear antara indeks kebahagiaan dengan ruang terbuka hijau, semakin banyak ruang publik yang mendorong interaksi sosial warganya, semakin tinggi pula kepuasan hidup warga sekitarnya. Dengan catatan, interaksi itu disertai dengan toleransi sosial, karena akan merepotkan kalau ruang publik diperebutkan untuk urusan akhlak dan kepercayaan, hmm.

IMG_9954Eropa sangat indentik dengan pusat kota; city center atau centrum, merupakan lokasi bertemunya penjual dan pembeli cinderamata. Jalan-jalan kali ini, kami tidak mengalokasikan dana untuk membeli oleh-oleh, sebagai perbandingan harga magnet di Eropa Selatan 1 euro, sedangkan di Skandinavia harga paling murah 5 euro dengan design serupa. Prihal akomodasi, kebetulan apartement kami berada di lokasi komunitas muslim, Norrebro, jadi sangat mudah untuk mencari toko dan tempat makan halal.

Lokasi lain yang kami singgahi adalah Kastellet, merupakan bangunan bersejarah tempat pelatihan militer, yang menarik area ini berbentuk segilima, layaknya bintang. Karena lokasi ini masih digunakan sebagai pelatihan militer, tidak semua lokasi bisa dikunjungi oleh wisatawan umum, selain itu ada larangan untuk menggunakan drone. Dari lokasi ini juga kita bisa melihat pemandangan kawasan industri Copenhagen lengkap dengan cerobong asap, yang membedakan, asap yang keluar dari cerobong berwarna putih, hasil penyaringan, sehingga lebih ramah lingkungan dan cenderung tidak menyebabkan polusi udara.

2011-09-28_Kastellet_

Kastellet (sumber: kastelletsvenner.dk)

Bercerita tentang Skandinavia tidak terlepas dari kota pelabuhan dengan gedung warna-warninya, sama halnya dengan Pelabuhan Nyhvan. Biasanya gambar seperti ini menghiasi layar windows, kali ini saya melihat langsung betapa rapi dan bersih penataan pelabuhan di negara orang. Terdapat cafe disepanjang jalan, hilir-mudi kapal, burung-burung, dan air laut yang bebas sampah dan minyak. Bayangkan, kalau suatu hari Muara Angke bisa seindah ini, mungkin perjalanan menuju pulau seribu akan lebih nyaman dan menyenangkan. IMG_0112Meskipun berstatus ibukota, saya tidak merasakan kemacetan kendaraan, tidak sesak dengan polusi udara, ataupun hiruk-pikuk manusia. Yang ada hanya, ketertiban umum; lalu lintas yang teratur, transportasi umum yang nyaman, dan rasa aman. Dari Copenhagen saya belajar memahami mentalitas kebarat-baratan, tentang kota yang penuh dengan standarisasi, tentang mesin-mesin yang menggantikan peran manusia, karena besarnya biaya operasional seorang karyawan. Tentang fantasi kebahagiaan yang dibentuk melalui keteraturan dan kemapanan.IMG_0110

Swedia – Malmo, Gothenburg, dan Stockholm

Malmo hanya menjadi kota transit sebelum Gothenburg, jadi kami hanya mampir ke lokasi yang dekat dengan stasiun sentral. Tidak banyak yang bisa dilakukan, selain keterbatasan waktu, kedatangan kami juga disambut hujan deras yang tiba-tiba mengguyur kota. Istana yang tidak jauh dari pusat kota ternyata tidak begitu besar, justru universitas maritim yang terletak dekat stasiun lebih menarik, dilangkapi dengan jembatan musik, jadi setiap langkah di jembatan itu menghasilkan nada.

 

Gothenburg adalah kota terbesar kedua setelah Stockholm, kota Pelabuahan. Kami dikejutkan dengan sebuah bangunan masjid yang besar, berlokasi tidak jauh dari penginapan, Goteborgs Mosque. Tidak pernah terbayang sebelumya, kami akan menjumpai masjid semegah ini, bangunan dua lantai yang berada di pinggir bukit batu. Awalnya saya sempat pesimis dengan kota ini, karena tiga kali kami ditolak oleh penginapan dengan alasan yang tidak jelas, bahkan saya sempat berfikir negatif tentang kota yang tidak menerima penghuni berjilbab. Ternyata saya salah, saat tiba di lokasi kami menjumpai banyak teman-teman dari Turki dan Maroko, bahkan komunitas ini juga memiliki bangunan masjid yang mewah dan bebas beribadah.

IMG_0221

Masjid di Gothenburg

Pelabuhan di Gothenburg tidak semenarik Copenhagen, tidak ramai dengan resto dan cafe. Namun, ada gedung opera dan taman bermain remaja dan anak. City center terletak tidak jauh dari pelabuhan, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Hari itu bertepatan dengan hari ulang tahun putra mahkota kerajaan, jadi pernak-pernik bendera Swedia bertebaran; di kapal yang bersandar di pelabuhan, gedung-gedung, tepi jalan, dan kendaraan umum.

Buat kami, bagian paling menarik dari kota ini adalah Slottskoggen, taman luas yang mencakup kebun binatang gratis, merupakan lokasi yang cocok untuk kegiatan outdoor, relaksasi dan rekreasi. Selama musim panas, matahari bersinar dari jam 3 pagi sampai jam 11 malam, di lokasi ini juga kami menjumpai banyak keluarga yang sedang piknik atau muda-mudi yang berjemur, bercengkrama menghabiskan akhir pekan, sembari menikmati sinar matahari yang hadir tidak lebih dari 4 bulan.

Jalan-jalan kali ini cukup berputar, setelah Gothenburg kami pindah ke Oslo, Norwegia dan kembali ke Swedia, tepatnya Stockholm. Dalam catatan perjalanan ini, untuk memudahkan alur cerita, Stockholm akan dinarasikan lebih dahulu sebelum Oslo. Stockholm adalah Ibukota Swedia, merupakan kota termahal dari semua kota yang kami singgahi. Transportasi umumnya, dua kali lipat lebih mahal dari Oslo, sama halnya dengan penginapan, makanan dan cinderamata.

IMG_0566

Sodermalm Stockholm

Sodermalm adalah lokasi pertama yang kami kunjungi sebelum The Old Town, lokasi ini mendapatkan gelar sebagai the ‘coolest’ neighbourhood in Europe, karena merupakan lokasi berkumpulnya perusahaan start-up, technology-hub, center of hippiesindependent cafes and bars. Tepat diseberang Sodermalm, ada City Hall merupakan gedung pemeritahan dan kesenian, juga terdapat museum, dan taman untuk sekedar duduk bercengkrama dengan rekan, atau membaca buku, seperti remaja yang terlihat pada gambar.

Di kota tua Stockholm kami tidak sempat berkeliling, mengikuti jejak turis eropa, kami menghabiskan waktu cukup lama di tepi pelabuhan, membuka obrolan lepas atau saling mengejek, hal-hal sederhana tanpa makna, yang penting ketawa dan bahagia. Mencicipi belgian ice cream atau keluar masuk toko tanpa membeli, kemudian mengkritisi design dan harga, just like a pro. Singkat cerita, jejak kami di Ibukota Swedia tidak beragam, yang banyak hanya jalan kakinya, untuk menghindari tiket kendaraan umum yang harganya selangit. Dari Swedia kami belajar, tentang fantasi kebahagiaan yang dibentuk diatas mahalnya rutinitas dengan tingginya pajak yang menggerogoti pendapatan.

Norwegia – Oslo

Norwegia menjadi kaya sejak eksplorasi minyak bumi sebagai sumber devisa negara, yang cerdas mereka tidak serta-merta mengeksploitasi dan bergantung hanya pada sumber daya tak terbarukan ini, alhasil ketika harga minyak dunia turun drastis, negara ini tetap melaju dengan investasi green-energy, sumber daya manusia, dan good governance. Jadi, wajar saja pada april 2017, negara ini memiliki indeks kebahagiaan tertinggi di dunia. Dalam perjalanan kali ini, Oslo menjadi kota yang paling kami senangi, karena tata kotanya yang indah, kombinasi pelabuhan dan taman hijau yang bertebaran di setiap sudut kotanya; terjaga dan terpelihara. Bahkan bebek dan burung di Oslo pun terlihat lebih gendut dan bahagia.

IMG_0473

Naturhistorisk Museum lengkap dengan botanical garden, dikelola oleh University of Oslo. Terdapat Zoological Museum dan Geological Museum, keduanya dapat dikunjungi secara gratis, sayangnya kami tidak begitu tertarik mengunjungi museum, jadi selama di sana kami hanya menikmati taman dan sejumlah danau buatan yang berukuran sangat kecil. Sebenarnya, Indonesia punya banyak taman serupa, yang membedakan adalah mental warga negaranya, disini semua orang menjaga kebersihan dan kerapihan, tidak ada coretan ataupun tangan usil yang memetik bunga atau menginjak-injak rumput dengan tujuan merusak. Dari taman tersebut, kami berjalan kaki menuju Oslo Opera House yang berada dipinggir palabuhan. Disana kami menikmati sunset pertama di Skandinavia, gedung opera yang diresmikan pada tahun 2007 ini sangat unik, layaknya kapal yang bersandar di pelabuhan.

IMG_0404Royal Palace merupakan bangunan paling penting di Norwegia yang dibangun sejak masa kejayaan King Carl John, meskipun demikian, istana ini baru diresmikan setelah kematiannya, tepatnya pada masa King Oscar I. Istana ini terletak di atas bukit lengkap dengan taman-taman di sepanjang lembahnya. Sama halnya dengan kerajaan lainnya di Eropa, Raja hanya berperan sebagai simbol budaya dalam seremonial negara.

Nobel Peace Center terletak tepat di tepi Oslo Fjord dan tidak jauh dari Akershus Fortress. Kami tidak tertarik untuk masuk gedung ini, namun kami lebih tertarik menguras sedikit energi menuju bangunan istana diseberang Nobel Peace Center. Akershus Castle merupakan istana raja yang dibangun sejak awal abad ke-13, lokasi ini sangat tepat untuk menikmati Oslo Fjord dari ketinggian. akershus_fortressPada hari terkahir, kami melihat taman hijau lainnya yang tak kalah menarik, Frogner Park. Di taman ini, banyak sekali patung tidak berbusana, salah satu titik central taman ini melambangkan simbol kejantanan. Meskipun taman ini ramai dengan turis mancanegara, warga lokal tetap bisa menikmati sudut lain dari taman ini, karena terbagi dalam beberapa bagian, bagian inti taman adalah yang teramai, sedangkan di sisi kanan dan kiri, masih terdapat banyak ruang terbuka untuk piknik dan berjemur. IMG_0508Oslo mungkin tidak bisa mewakili fantasi kebahagiaan yang dihadirkan melalui keindahan alam Norwegia. Namun, bagi kami ibukota ini cukup memberikan alasan untuk datang kembali menjelajahi semenanjung timur dan utara, merasakan pengalaman membangun tenda di depan rumah warga lokal, atau mencicipi northern light terbaik di dunia, semua ada di bagian utara norwegia. Fantasi kami tentang kebahagiaan di Norwegia masih berkeliaran tanpa arah, mungkin lain waktu, di kesempatan yang lain.

Finlandia – Helsinki

Finlandia dinobatkan sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, inovatif dan kreatif. Tidak ada pekerjaan sekolah yang dibawa ke rumah, jam belajar tidak mengganggu jam bermain anak, dan setiap anak dibebaskan untuk belajar apapun yang menarik minat mereka, tidak melulu prihal akademik. Pendidikan tidak dijadikan sebagai pabrik yang menciptakan keseragaman atau mesin penghasil budak korporasi. Terdengar menyenangkan, ya?!

IMG_0732

Saya tidak begitu mengidolakan Helsinki, pertama kali mendengar kota ini adalah ketika media nasional di Indonesia sibuk memberitakan perjanjian damai atau Helsinki Agreement antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Indonesia usai bencana besar Tsunami melanda aceh. Selebihnya, saya tidak peduli. Karena rendahnya rasa ingin tahu itu juga yang membuat saya tidak kagum melihat kota yang sangat teratur ini. Satu hal yang cukup menarik adalah taman dekat Finlandia City Hall. Lagi-lagi ruang terbuka umum, tempat bersenda-gurau.

IMG_0724

Sibelius Monument juga tidak kunjung menggugah selera saya, monumen ini dibangun untuk menghormati Jean Sibelius, seorang musisi. Sangat membosankan. Kemudian kami bergerak mencari makan, kebab porsi besar lengkap dengan nasi saya santap dengan sangat cepat. Makan siang yang sangat terlambat, jam 5 sore. Pantas saja, saya bosan, ternyata karena lapar. Terbukti sesudah perut kenyang, otak saya mulai beroperasi normal, saya mulai tertarik untuk menjelajahi sudut lain dari Helsinki.

IMG_0695

Helsinki Cathedral terletak dikawasan Senat Square, merupakan gereja khatolik orthodoks, bangunannya berwarna putih dan berkubah, jika puncak kubah diganti simbol bulan dan bintang, resmi sudah bangunan ini menjadi masjid. Masih di kawasan yang sama, terletak gedung University of Helsinki, gedungnya merupakan kombinasi arsitektur abad pertengahan dan modern.IMG_0828Tidak jauh dari Cathedral, ada lokasi pasar atau lebih dikenal dengan Kauppatori Helsinki, sayangnya kami datang pada waktu yang tidak tepat, pasar hanya beroperasi pada akhir pekan. Karena musim panas, di lokasi itu juga terdapat Sea-Pool, merupakan kolam renang terapung di atas laut, bagi kalangan pria dewasa asal Indonesia, lokasi ini mungkin cocok untuk cuci mata, bertebaran warna-warni bikini yang membuat mata sulit berkedip. Karena keterbatasan waktu, tidak banyak lokasi yang dapat kami kunjungi, selain itu badan sudah mulai lelah. Di Helsinki, fantasi kebahagiaan kami tersendat oleh stigma negatif, tentang kebiasaan mereka mengintervensi pejanjian damai negara orang atau tentang keterbukaan mereka terhadap tahanan politik.

IMG_0766

Hoodie, oleh-oleh Scandinavia

Meskipun ‘Nordics’ terdiri dari negara-negara dengan indeks kebahagiaan tertinggi di dunia, kami tidak tertarik untuk bertahan lebih lama dari sekedar kunjungan wisata. Kami belum siap menghadapi segala aturan dan kewajiban dengan sistem pemeritahan yang baik, terlebih lagi kami tidak rela 41% pendapatan dibayarkan untuk pajak dan pembangunan negara. Buat kami, fantasi kebahagian yang hakiki adalah; berada tidak jauh dari sanak-saudara, makan nasi padang lengkap dengan rendang dan sambal cabai hijau, makan opor ayam, bakso, siomay, batagor, dan semua jenis makanan tidak sehat yang mengandung micin dan pengawet lainnya. Kami juga lebih terbiasa menghadapi birokrasi yang berlapis dan pemeritahan dengan indeks korupsi di atas ambang batas normal.

Wageningen dan Gerimis.

catatan: Skandinavia (Denmark, Swedia, Norwegia, dan Bagian Utara Finlandia) – Nordics (Negara-negara skandinavia + Finlandia, Islandia, Negara Autonomi Aland, dan Faroe Islands).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Eropa, Jalan-Jalan | 2 Comments

Baltic State, Labas!

“Lithuania is one of Baltic States and we are not Russia!!!”,- Cuplikan tegas, presentasi mahasiswa asal Lithuania, Maret 2017

IMG20170610160926

Pemadangan dari Gediminas Castle Tower

Negara Baltik tidak masuk dalam deretan negara-negara di Eropa yang ingin saya kunjungi, kehadiran saya di salah satu mantan Union of Soviet Socialist Republics (USSR) ini bukan untuk kunjungn wisata, namun bagian dari salah satu mata kuliah yang wajib saya ambil, European Workshop. Namanya juga mantan, jadi wajar jika masih terlihat jejak-jejak kenangan USSR di Vilnius, Ibukota Lithuania. Misal; gedung-gedung pemerintahan, barang-barang seken era USSR yang dijual sebagai buah tangan, atau budaya dan karakter masyarakatnya yang jarang tersenyum; berbaju serba gelap dan jarang berwarna, atau anak-anak kecil di taman yang lebih cenderung duduk diam tidak berlarian layaknya anak-anak kecil di Eropa Barat atau Selatan. Terlepas dari romantisme era 1922 – 1991, Lithuania tetap berkembang meski tertinggal dari keluarga Eropa lainnya.

Perempuan lokal adalah objek yang cukup menarik perhatian saya, rambut mereka persis boneka barbie, hidung mancung, kulit putih sehat dan cantik. Menurut beberapa teman, perempuan eropa tercantik berasal dari Latvia, entahlah karena saya belum pernah melihat mereka — gileee di Lithuania aja udah macam bidadari, gimana Latvia.DSC_0449

 

Selain itu, di tengah Ibukota, ada negara jadi-jadian Užupio Respublika, merupakan rumah untuk populasi Yahudi, mereka punya; tanggal kemerdekaan sendiri (Užupis Day, 1 April), 4 bendera yang berubah warna berdasarkan musim, puluhan amandemen yang berisi peraturan-peraturan unik, mereka punya ayunan diatas sungai, dan hal yang paling menarik perhatian saya adalah mereka punya patung Jesus Backpacker. Patung ini unik, mereka menganggaap Jesus adalah individu pertama yang melakukan backpacker di dunia. Jika saya punya waktu lebih lama, negara siluman ini menarik untuk dijelajahi lebih mendalam.

DSC_0423

Transportasi disini sangat murah jika dibandingkan dengan Belanda, yang unik bus-bus disini merupakan barang ‘bekas’ dari Eropa Barat (Belanda dan Jerman), bisa dilihat dari sejumlah petunjuk teknis didalam bus. Ragam kuliner disni juga sangat beragam dan toko-toko buka sampai tengah malam. Terkait bangunan, secara umum terlihat jelek dari luar namun megah di dalam, mungkin hal ini juga mewakili sifat mereka yang cenderung tertutup dan tidak suka pamer, atau asumsi lainnya mungkin untuk mengeliminasi gap dalam struktur sosial, maklum mantan sosialis, semua sama suka sama rata. Ada banyak gereja khatolik orthodok yang bisa dikunjungi, ciri khasnya ada kubah dengan salib emas diatapnya, selain itu ada 2 bangunan istana yang wajib dikunjungi; Gediminas Castle dan Tarakai Island Catle. Istana yang pertama terletak di tengah kota di atas bukit, sedangkan yang kedua terletak di luar kota dan di tengah danau.

 

 

Ramadhan musim panas, minoritas, dan baltik adalah kombinasi yang tepat untuk menguji iman dan taqwa, 19 jam tepatnya. Selama 10 hari di Vilnius hanya satu kali saya melihat perempuan berhijab, dan tidak satupun kulit hitam, mungkin karena negara ini bukan tujuan refugee jadi sulit menemukan saudara-saudara timur tengah, bahkan teman saya juga berpesan, negara ini masih cukup rasis. Pengalaman saya di moda transportasi umum dan ruang publik membuktikan, semua mata seperti tertuju ke saya, antara tertarik dan kaget — ini orang panas-panas kenapa pakai tudung kepala? — mungkin begitu pikiran di benak mereka. Tapi saya tidak begitu peduli, selain itu saya juga senang menjadi pusat perhatian, ehem.

DSC_0443

Kunjungan singkat di Lithuania membuka mata pikiran saya, tentang negeri yang berkutat dengan indentitas, tentang eksistensi kebarat-baratan dan tentang usaha berkembang dari sokongan dana negara-negara tetangga yang sejahtera.

Posted in Eropa, Jalan-Jalan | 4 Comments

Benua Biru di Penghujung Tahun 2016

“Happy easter, Wenty! Where are you going this (long) weekend?”,-

“I have no plan, but I should finish my group work and thesis research design, and you?”,-

“Well, we are going to …. (some places in Europe),-

Cuplikan percakapan dengan teman asal the republic of cyprus ini mendorong saya untuk melanjutkan catatan perjalanan selama di Eropa. Tulisan ini akan mendeskripsikan secara singkat perjalanan saya dan suami pada liburan musim dingin; Desember 2016. Pada penghujung tahun tersebut, kami mengunjungi 4 negara, 7 kota: Italia (Roma, Vatikan, Milan), Yunani (Thessaloniki dan Athens), Budapest dan Berlin.

Saat membuat itinerary kami tidak menentukkan lokasi mana yang akan kami kunjungi, ‘kiblat’ kami adalah skyscannerfrom netherlands to everywhere, kemudian kami memilih kota (selain Eropa Utara, karena kawasan ini akan dikunjugi pada musim panas 2017) yang biaya pesawatnya paling murah.

Roma dan Vatikan, 25 – 27 Desember 2016 

Sepanjang perjalanan, imajinasi saya berkelana ke masa sekolah dasar, saat itu setiap siswa harus menghapal 7 keajaiban dunia, sayangnya saya tidak memiliki buku pengetahuan umum (RPUL) seperti kebanyakan siswa lainnya, tapi saya punya atlas dunia, yang kemudian membimbing saya untuk memimpikan lokasi-lokasi yang jauh dari jangkauan. Di kota ini, ada satu keajaiban dunia; Colloseum sebagai simbol kompetisi, kesenangan dan penderitaan.

IMG_6453

Kami tidak berniat untuk masuk kedalam ‘gedung’ bersejarah ini, jadi kami hanyak berkeliling, ada patung kuda dan lambang perdamaian dunia ‘Arch de Triump‘, dan ada banyak sekali orang asia! Selain Colloseum, kami juga mengunjungi sederet lokasi turisitik; Roman Forum, Trevi Vountain, Campidoglio Square, Patheon, Piazza Novona, Campo de Flori, dan Ponte Fabricio. Perjalanan hari itu cukup padat, untungnya lokasi wisata di kota ini terpusat, sehingga tidak menghabiskan dana untuk gonta-ganti moda transportasi.

IMG_6553

Somewhere in Rome

Melihat Pope Francis ceramah secara langsung di St. Peter Basilica adalah tujuan kami berikutnya, sayangnya hari itu bukan jadwal beliau pidato. Kami memutuskan untuk berkeliling 3 jam di Museum Vatikan, hingga akhirnya keputusan ini juga yang membuat kami berkomitmen untuk tidak mengunjungi museum lainnya di Eropa, terutama yang isinya penuh dengan patung. Setelah berjam-jam berkeliling Vatikan, kami kembali menuju kota untuk berkunjung ke rumah 2 teman baik, hal ini yang kemudian menjadi added value dari sebuah perjalanan, bertambahnya teman dan kerabat. Pasangan Itali ini kemudian berjanji untuk membalas kunjungan kami ke keluarga mereka dengan liburan ke Indonesia, deal!

IMG_6813

St. Peter Basilica – Vatican

 

Milan, 28 – 29 Desember 2016

Tujuan utama kami ke Milan adalah San Siro, saya pribadi bukan penggemar bola, namun sayang, jika sudah ke Milan tapi tidak silaturrahmi ke lokasi impian para Milanisti dan Internisti ini. Ternyata, semua pernak-pernik bola disana (atau mungkin seluruh dunia) itu mahal harganya, untung saya tidak suka bola, dan lebih beruntungnya, suami saya adalah penggemar Persib bukan klub-klub bola eropa — haha.

IMG_7004

Milan tidak seramai Roma, saya pribadi lebih suka kota ini, tepat lain yang sempat kami kunjungi, antara lain; Dumo di Milano, Galleria Victono Novecento, Castello Sforzesco, dan Parco Sempione. Sayonara kami ditutup dengan menikmati China Town, sebelum melanjutkan perjalanan ke lokasi peradaban tua eropa, Yunani.

Thessaloniki, 30 – 31 Desember 2016

Kami terdampar disebuah kota kecil pinggir pantai Yunani, nama airportnya bagus: Macedonia. Kedatangan kami ke kota ini seperti Vasco da Gama yang berasumsi sudah sampai Daratan Hindia, kenyataannya hanya sampai Kalkuta, karena tujuan utama kami adalah Athens. Seharian kami keliling pantai, bahasa menjadi batasan kami, karena di lokasi ini semua petunjuk jalan dan informasi dalam aksara yunani, berupa sederetan simbol-simbol fisika. Selain itu, sangat sulit mencari orang yang bisa berbahsa inggris. Meskipun demikian, Thessaloniki punya lokasi wisata kota yang bisa dikunjungi, seperti; Roman Forum (mungkin ada keterkaitan sejarah dengan Roma), White Tower, dan Aristotles Square.

Athens, 31 Desember 2016 – 2 Januari 2017

Yunani merupakan salah satu negara berkembang di Eropa, kami masih melihat dampak krisis ekonomi global, bertebaran para homeless di sudut jalan kota dan jobless usia produktif banyak terlihat menghabiskan waktu sia-sia di pusat kota, lebih dari itu kami melihat banyak pengemis di beberapa lokasi. Dari paras, mereka ‘asli’ eropa, bukan kulit hitam ataupun para refugee. Awalnya kami berharap di pusat kota ada kegiatan seru akhir tahun, sayangnya yang kami temui adalah pusat kota yang mati, seakan tidak ada foya-foya akhir tahun, bahkan kami tidak menemukan kembang api ataupun perayaan lain khas tahun baru. Akhirnya kami berkesimpulan bahwa tahun baru tidak lewat Yunani, dan memutuskan untuk menghabiskan akhir tahun dalam kamar penginapan.

IMG_7244

Acropolis adalah lambang peradaban tua di Eropa, kemegahannya sangat terasa saat beberapa pentunjuk jalan berlabel European Heritage Label selalu diakhiri dengan kalimat Europe starts here!. Sayangnya saat itu kami tidak bisa masuk melihat Parthenon karena libur tahun baru. Tidak jauh dari lokasi epik ini, kami mengelilingi kota dan menjumpai beberapa lokasi wisata, seperti: ErechtheionTempel of Olympian Zeus, Plaka Neighborhood, dan Ancient Agora of Athens. Jika ada kesempatan untuk kembali berkunjung ke kota ini, saya pribadi memilih untuk membaca lebih dulu sejarahnya, sehingga saat melihat beragam artefak sejarah, bertambah pula ilmu dan pengetahuan.

Budapest, 2 – 5 Januari 2017

Ibukota Hungaria ini lebih megah saat malam hari, cahaya kuning yang digunakan untuk menyinari setiap gedungnya membuat setiap ornamen terlihat ‘mahal’ dan berkilau.

IMG_7475

Hungarian Parliament

Budapest menjadi kota bersejarah untuk kami berdua, karena di kota ini kami melihat salju untuk pertama kalinya. Saat orang-orang masuk restoran atau kafe saat hujan salju, kami memilih untuk ‘mandi salju’, foto-foto dan merekam sejumlah fenomena, maklum segala yang pertama selalu berkesan. Tidak lebih dari 30 menit, kami mulai kedinginan; ok sajlu memang asik, tapi dingin. Sejak saat itu, dari yang awalnya selalu menanti hujan salju, menjadi: “ini salju kapan sih berhentinya, udah dong ah dingin”.

IMG_7577

Budapest juga bersejarah untuk kami, karena kota ini sangat murah jika dibandingkan kota-kota lain yang sudah kami kunjungi. Makanan murah, souvenir murah, apa-apa murah, karena mereka masih menggunakan mata uang HUF bukan euro. Kota ini juga yang membuat kami berfikir dua kali untuk beli ini itu di kota-kota eropa lainnya, seakan menjadi standard harga. Lokasi wisata yang sempat kami datangi di Buda dan Pest, antara lain: Hungarian Parliament, Heroes Square, Vaci Ultra Steet, Chain Bridge, Buda Castle, Opera House, Szent Istvan Bazilika, dan Market hall.

IMG_7506

Berlin, 5 – 7 Januari 2017

Saat SMA, Hitler dan BJ Habibie adalah dua tokoh yang menginspirasi saya untuk bermimpi kuliah di Jerman. Beberapa hal saya lakukan untuk mewujudkan impian ini, salah satunya, belajar serius untuk bisa kuliah di ITB, karena saat itu saya yakin kalau mau dapat beasiswa kuliah di Jerman, saya harus jadi Insinyur. Meskipun, impian itu akhirnya tidak tercapai, Allah menggantinya dengan kesempatan berbeda, yang lebih seru dan asik.

IMG_7585

German Parliament

Hujan salju berhari-hari menemani perjalanan kami di Berlin. Tidak banyak yang kami lakukan di kota ini, karena kami mulai bosan melihat keseragaman lokasi wisata di Eropa; centrum, cathedral, arch de triumph dan castle, itu lagi itu lagi. Jadi, perjalanan kami di Berlin tanpa tujuan yang pasti, meskipun demikian kami sempat mendatangi lokasi penting di Berlin, seperti: German Parliament, Brandenburg Gate, dan Holocoust and Jewish Memorial.

Setelah 14 hari jalan-jalan, akhirnya kami kembali ke Belanda. Kembali menjalani rutinitas harian, sembari menunggu datangnya 11 hari berikutnya, untuk kembali berkeliling kota-kota di Eropa. Pada tulisan berikutnya, akan berisi tentang kenangan kami selama 11 hari, menghabiskan hari-hari di Daratan Andalusia dan satu kota di Afrika, mencicipi romantisme sejarah Islam di Eropa dan Afrika.

Intermezzo sebagai penutup: “suatu hari perjalanan kami akan ditentukan berdasarkan perputaran globe, teknisnya sederhana, salah satu dari kami akan memejamkan mata kemudian memutar bola dunia, dalam hitungan 10 detik, jari telunjuk kami akan berhenti pada suatu titik yang akan menjadi lokasi liburan kami berikutnya! Bagaimanapun caranya, kami harus berusaha untuk meninggalkan jejak di lokasi tersebut, karena tujuan hidup tidak lain adalah untuk merealisasikan impian dan menciptakan kebahagian.”

Musim Semi di Wageningen, 14 April 2017.

Posted in Eropa, Jalan-Jalan | 2 Comments